
Tiga hari setelah Adam mendapatkan informasi tentang rumah berhantu.
Di sebuah cafe indah tak jauh dari apartemen Adam tinggal, dua sosok duduk saling berhadapan.
"Apakah anda benar-benar berniat membeli bangunan itu, Tuan?"
Mendengar pertanyaan itu, Adam tidak bisa tidak menatap sosok yang duduk berhadapan dengannya.
Di depan Adam, tampak sosok lelaki paruh baya gempal dengan wajah yang berminyak. Dia memiliki rambut yang dipotong seperti jamur dalam game Mario Bros. Dia juga mengenakan pakaian formal yang tampak usang. Bajunya begitu ketat seolah kancing bisa lepas kapan saja.
Pertama kali melihatnya, banyak yang akan mengira lelaki paruh baya itu dari kalangan bawah. Bahkan Adam juga sempat berpikir demikian.
Adam sangat terkejut melihat lelaki itu untuk pertama kali. Lagipula, dilihat dari mana saja. Lelaki itu sama sekali tidak tampak seperti pemilik rumah mewah yang dijual.
Begitu pula sebaliknya. Tampaknya lelaki paruh baya itu juga meragukan apakah Adam mampu membeli rumahnya atau tidak.
"Ya ... sebaiknya anda tidak menilai hanya karena saya masih muda, Pak."
"Hahaha!" Pria paruh baya itu menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi canggung. "Maafkan saya, Tuan. Lagipula anda tampak begitu muda. Benar-benar tidak menyangka bahwa anda akan menjadi begitu menjanjikan."
Mendengar ucapan pria paruh baya itu, Adam hanya menggelengkan kepalanya.
"Lalu kapan kita pergi ke lokasi?"
"Lebih cepat lebih baik," jawab pria paruh baya itu secara langsung.
"Kalau begitu kita akan pergi ke sana setelah ini."
"Baik."
Setelah berbincang-bincang sejenak, mereka berdua kemudian menikmati kopi sebelum akhirnya pergi menuju lokasi.
***
Jam 13.00 di hari yang sama.
Sosok Adam berdiri sambil melihat sebuah rumah di depannya. Jika dilihat dalam segi baiknya, itu adalah sebuah rumah tiga lantai (belum termasuk loteng) bergaya Eropa yang luas dan megah. Tidak hanya itu, terdapat juga lahan luas di sekitar rumah. Sebuah rumah yang masih longgar bahkan jika ditempati sebuah keluarga besar.
Sedangkan di sisi buruk, rumah itu sendiri tampak mengerikan dan suram. Taman tak terawat, cat sudah mengelupas, dinding menjamur, dan banyak bagian yang perlu diganti. Seperti bagian-bagian rumah yang terbuat dari kayu, serta genteng yang perlu diganti seutuhnya.
'Lagipula ... tempat ini masih dianggap sebagai salah satu dari tujuh bangunan paling mengerikan di Kota B.'
Pikir Adam sebelum akhirnya menghela napas. Dibandingkan dengan foto, rumah ini benar-benar tampak begitu mengerikan.
Adam melirik ke lelaki paruh baya tersebut sebelum akhirnya berkata.
"Jika kondisinya seperti ini, bukankah saya masih perlu banyak merenovasi rumah dan menghabiskan lebih banyak uang, Pak.
Bagaimana jika harganya—"
"Tidak mungkin, Tuan. Itu hanya 100 juta dollar aliansi. Harga itu cocok dengan harga luas tanah. Lagipula, jika bangunan dihitung ...
Untuk rumah yang hampir setara dengan mansion ini ... tampaknya masih bisa dijual dengan harga 1 miliar dollar aliansi."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, pria paruh baya menghela napas panjang sebelum melanjutkan.
"Jika bukan karena rumor buruk yang beredar, jelas rumah ini akan dijual lebih dari 1 miliar dollar aliansi.
Hanya 100 juta dollar aliansi, apakah menurut anda masih begitu mahal, Tuan?"
Mendengar hal itu, Adam mengangguk. Memang, membelinya hanya dengan harga tanah bisa dibilang sangat murah. Namun, pemuda itu masih memikirkan sebuah kejanggalan. Dia tersenyum misterius ketika memandang pria paruh baya yang menjual properti tersebut.
"Lalu, kapan kita akan melakukan transaksinya, Pak?"
Pria paruh baya itu melirik ke arah Adam. Melihat ke arah pemuda yang masih tertarik itu, matanya berbinar. Dia kemudian segera berkata.
"Saya bisa mengurusnya dalam tiga hari, Pak."
Mendengar itu, Adam mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau begitu mari bertemu tiga hari kemudian."
***
Tiga hari kemudian, di sebuah ruang pribadi restoran.
"Bagaimana dengan perjanjian ini, Pak?"
Melihat kontrak tersebut, Adam mengangguk ringan. Tampaknya tidak terlalu begitu spesial, tetapi masih ada beberapa hal aneh di sana.
Di antaranya adalah permasalahan untuk pengembalian properti. Jika Adam berniat mengembalikan properti, hal itu masih bisa dilakukan, tetapi hanya akan ada pengembalian 50% dana.
Ada juga perjanjian untuk tidak membongkar rumah dengan alasan menghormati leluhur dan hal-hal aneh semacamnya. Intinya, rumah masih boleh direnovasi ... tetapi tidak boleh untuk dirobohkan.
Hanya dengan penjelasan tersebut, Adam tahu bahwa pria paruh baya tersebut sama sekali bukan orang baik. Jelas, dia menjual rumah dengan harga murah karena yakin akan dikembalikan kepada dirinya.
Dengan perjanjian tersebut, bisa dikatakan pria paruh baya itu mendapatkan 50 juta dollar aliansi tanpa melakukan apa-apa. Sebuah penipuan terselubung!
Menggunakan uang 50 juta dollar, sebenarnya Adam bisa membeli rumah yang terbilang besar dan baik di Kota B. Hanya saja, dia masih tergiur untuk mendapatkan properti tersebut.
Menurut Adam, jika direnovasi serta dirawat dengan baik ... rumah yang hampir sebesar dan semewah mansion tersebut pasti layak dengan harga 2-3 miliar dollar aliansi.
Mendapatkannya dengan harga 100 juta dollar aliansi? Itu jelas hanya satu per dua puluh harga aslinya!
Adam menatap ke arah lelaki paruh baya itu sebelum bertanya.
"Seluruh proses balik nama dan sebagainya, bisakah kita menyelesaikan dalam waktu kurang tujuh hari?"
Mendengar pertanyaan Adam, pria paruh baya tersebut tertawa terbahak-bahak dalam hatinya. Dia benar-benar merasa beruntung karena masih ada 'manusia polos' yang terjebak dengan tipuannya. Padahal, sudah ada beberapa korban sebelumnya. Bahkan reputasi buruk tentang dirinya sudah tersebar cukup luas di kalangan pebisnis Kota B.
"Tentu saja bisa, Tuan!" jawab pria itu dengan ekspresi hormat.
"Kalau begitu buat sedikit perubahan dalam kontrak, lalu kita selesaikan ini?"
Adam tersenyum ramah.
"Hahaha! Sesuai dengan keinginanmu, Tuan!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, mereka berdua pun akhirnya membuat kesepakatan.
***
Tujuh hari kemudian, malam.
Adam yang menyelesaikan seluruh prosedur pembelian merasa puas karena akhirnya memiliki properti mewah. Dia merasa puas bisa membelinya.
Selain itu, Adam juga berterima kasih kepada pengurus sebelumnya. Mereka mengingatkan pemuda itu bahwa lelaki paruh baya penjual properti sebenarnya adalah penipu. Namun setelah Adam menjelaskan niatnya dan menyorot perjanjian baru, para akhirnya para pengurus tersebut bisa dia yakinkan.
Akan tetapi, mereka terus mengingatkan bahwa nyawa lebih baik daripada uang. Hal itu membuat Adam merasa bahwa tidak semua pegawai pemerintahan itu busuk di dalam.
"Setelah satu tahun, aku akan bebas merubah atau menjualnya lagi."
Mengatakan itu, Adam kemudian tertawa dengan ekspresi bahagia di wajahnya.
"Tampaknya anda benar-benar sedang gembira, Kak Adam?"
Mendengar suara itu, Adam melihat ke arah Bella yang selesai mencuci piring. Tersenyum lembut, dia pun berkata santai.
"Hehehe. Ini hanya kejutan kecil, tidak perlu kamu pusingkan."
"Selama anda bahagia," ucap Bella tulus.
"Tampaknya Jennifer semakin sibuk akhir-akhir ini," ucap Adam sebelum menghela napas panjang.
"Memang." Bella mengangguk ringan. Menatap ke arah Adam, dia bertanya dengan penuh keraguan. "Kalau boleh tahu ... apa yang ada dalam kotak itu, Kak Adam?"
Mendengar ucapan Bella, Adam menatap ke arah kotak kayu hitam di atas meja.
Tidak menutup-nutupi sama sekali, Adam dengan santai berkata.
"Ini adalah benda yang aku pesan dari Lei Fan dan Lei Na."
Mengatakan itu, Adam membuka penutup kotak kayu.
Setelah terbuka, tampak empat benda yang ada di dalamnya.
Sebuah katana, dua belati kembar, dan sebuah topeng tengkorak setengah wajah.
Keempat benda tersebut didominasi dengan warna merah darah. Ya ... keempatnya adalah benda yang Adam suruh buat dengan menggunakan berbagai jenis bahan dari Catfish Carcass dan berbagai bagian tubuh Rose Pattern Blood Spider.
Ditambah dengan berbagai logam dan bahan khusus. Senjata indah, lengkap dengan topeng sebagai bonus pun akhirnya terselesaikan.
"Bukankah itu indah?"
Adam tersenyum ketika mengambil katana.
Menarik sedikit keluar dari sarungnya, tubuh katana merah yang berkilau dingin membuat sudut bibir Adam terangkat.
Memikirkan 'rumah baru' miliknya, pemuda itu kemudian bergumam.
"Karena senjata selesai ditempa, lebih baik untuk mencobanya ... kan?"
__ADS_1
>> Bersambung.