Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Seperti Biasanya


__ADS_3

Selesai sarapan bersama Bella, Adam duduk linglung. Dia sedang memikirkan banyak hal seperti untuk segera menaikkan level para Spirit Beast ke tingkat silver, mencaritahu tentang Blue Mist Jewelry, mencari penjahit profesional yang tidak terlalu terkenal untuk membuat pakaian, dan sebagainya.


“A-Anu … Sayang?”


Mendengar ucapan Bella, Adam tersadar dari lamunannya. Pemuda itu bertanya dengan senyum di wajahnya.


“Ada apa, Bell?”


“S-Satu ruangan itu … kalau satu ruangan itu tidak dipakai, bolehkah aku menggunakannya?”


“Hm?” Adam memiringkan kepalanya. “Untuk apa, Bell?”


Selain kamar yang Adam gunakan sebagai ruang latihan, masih ada satu ruang lagi yang tidak terpakai di apartemennya. Ya … malah menjadi seperti gudang tempat alat tak terlalu penting dan tidak dibutuhkan berada.


“I-Itu …” Bella tampak agak malu. “Aku … aku ingin membeli mesin jahit dengan uang yang kamu berikan, boleh?”


“Eh??? Jangan bilang …” Adam menatap wajah Bella lekat-lekat. “Jangan bilang kamu sama sekali tidak menggunakan uang yang aku berikan itu.”


Mendengar ucapan Adam, Bella menjadi agak panik. Dia memalingkan wajahnya, berkata dengan gugup.


“Semua uang kuliah telah dibayar. Kamu juga telah mengantar dan menjemputku. J-Jadi aku tidak perlu menggunakan itu, Sayang.”


“Bagaimana dengan makan siang?” Adam mengangkat alisnya.


“Aku … Aku membawa bekal. Jadi tidak apa-apa.”


“Sarapan selalu habis. Lalu kamu membawa bekal dari mana?” tanya Adam.


“Aku … Aku menyisihkan sedikit setelah memasak, a-apakah tidak boleh?”


“Bukannya tidak boleh.” Adam menghela napas. “Kamu pasti membawa terlalu sedikit. Kalau ingin membawa bekal, bawalah lebih banyak. Aku tidak ingin kamu kelaparan, apalagi sampai jatuh sakit, okay?”


“Itu …”


“Ini perintah mutlak, jadi kamu tidak boleh menolak.”


Bella melihat ke arah Adam lalu menunduk. Dia merasa hangat dalam hatinya karena pemuda itu begitu baik dan perhatian terhadap dirinya.


“T-Terima kasih, Sayang.”


“Kamu tidak perlu berterima kasih.” Adam menggeleng ringan. Mengingat sesuatu yang penting, dia langsung bertanya, “Kamu bisa menjahit dan membuat pakaian, Bell?”


“T-Tidak sebagus desainer atau penjahit profesional, t-tapi aku masih bisa melakukannya.” Bell mengangguk pelan.

__ADS_1


“Kalau begitu beli mesin jahit yang lengkap. Mesin jahit jarum tunggal, jarum ganda, mesin obras, mesin overdeck, mesin kancing, dan mesin jahit kulit.”


Mendengar semua yang Adam sebutkan, Bella tertegun. Dia memang tertarik dengan menjahit, tetapi karena keadaan, dulu dia hanya sempat belajar menggunakan mesin jahit jarum tunggal dan obras. Sedangkan yang lainnya, gadis itu sebenarnya ingin belajar tetapi tidak memiliki kesempatan.


“S-Sayang, itu terlalu lengkap. Aku tidak bisa menggunakan semuanya.” Bella berkata dengan ekspresi tanpa daya.


“Maaf,” ucap Adam dengan ekspresi bersalah. “Aku hanya terlalu bersemangat. Aku tidak memaksamu untuk melakukan semuanya. Maaf kalau aku tiba-tiba berkata seperti itu.”


“T-Tidak, Sayang. Kamu tidak salah. Aku sebenarnya ingin belajar, tetapi dulu … kamu pasti tahu. Ya, jadi aku merasa membeli terlalu lengkap itu sia-sia.”


“Kamu serius, Bell?” tanya Adam.


Melihat ke arah Adam, Bella merasa malu. Dia mengangguk ringan.


“Kalau begitu kita harus membeli semuanya. Setelah kamu belajar, aku akan memesan satu set pakaian.”


“En?” Bella memiringkan kepalanya. Memikirkan sesuatu, dia akhirnya bertanya, “Boleh aku mengatakan sesuatu, Sayang?”


“Katakan saja.”


“Sebenarnya, aku mengingat sesuatu setelah kamu membeli pakaian mahal untukku.


Aku pernah ingat, ada paca teman sekelasku yang membeli jaket bermerek dengan harga lima ribu dollar aliansi. Namun ada orang lain yang kelihatannya ingin, tetapi enggan membeli dengan harga yang begitu mahal.


Pada akhirnya, orang itu mencari penjahit yang cukup hebat. Dia pergi ke kota lain, membeli bahan, dan membuat jaket dengan bahan serta bentuk yang sama. Ditambah menginap di hotel, orang itu menghabiskan seribu dollar aliansi secara keseluruhan. Biar pun lebih, itu hanya lebih sedikit.


“Eh??? Jadi selama ini kamu berpikir seperti itu? Padahal, aku berpikir para gadis lebih suka merek terkenal atau semacamnya.”


“Mungkin aku agak aneh, Sayang. Aku merasa, selama kualitas itu sama … kenapa tidak memilih yang lebih terjangkau?” ucap Bella dengan senyum lembut.


Melihat ekspresi lembut di wajah Bella, Adam tersenyum.


“Sebenarnya aku berpikiran sama. Kalau begitu, aku akan membelikan kamu semua mesin jahit itu serta bahannya. Kamu boleh meminta untuk membeli bahan apa saja.


Kamu ingin belajar membuat apa dan membutuhkan apa, katakan saja. Selama itu bukan barang ilegal atau terbatas, aku akan mengusahakannya.”


Melihat ke arah Adam, Bella merasa terharu.


“Terima kasih telah mendukungku, Sayang.”


“Bukankah itu karena aku ingin dibuatkan pakaian gratis olehmu, Bell?” Adam terkekeh.


Meski yang dikatakan Adam benar, Bella masih merasa tersentuh. Lagipula, selain untuk dirinya sendiri, gadis itu juga sangat ingin kekasihnya memakai pakaian yang dia buat.

__ADS_1


Hal itu akan membuat Bella merasa lebih dihargai, bangga, dan bahagia. Melihat ke arah Adam yang sepertinya menantikan dirinya. Gadis itu menjadi lebih bertekad.


Aku harus melakukan yang terbaik untuk Kak Adam.


...***


...


Sore harinya setelah menjemput Bella dari kampus.


Sampai di apartemen, Adam mendengar ponselnya berdering. Melihat identitas penelepon, pemuda itu langsung mengangkatnya.


“Ada apa, Jennifer?”


“Apakah Bella sudah pulang?”


“Kami baru saja tiba. Ada apa? Apakah kamu ingin datang sekarang?”


“Bukan apa-apa. Aku kira kamu akan berusaha menyembunyikannya. Kalau begitu … sampai jumpa nanti.”


Beep … beep … beep …


Mendengar suara telepon diputus begitu saja, sudut bibir Adam berkedut. Dia kemudian menghela napas panjang. Menggeleng ringan, dia memutuskan untuk istirahat sebentar sebelum memasak bersama dengan Bella.


Gadis itu berkata bahwa dirinya akan mengurus semuanya, tetapi Adam bersikeras untuk membantu. Pada akhirnya, Bella hanya bisa berterima kasih karena bantuan pemuda itu.


Malam harinya.


Bel akhirnya berbunyi. Adam membuka pintu dan melihat Jennifer yang tampak kelelahan dengan lingkaran hitam di sekitar matanya datang.


“Kamu terlihat kelelahan. Kenapa tidak beristirahat di apartemen kamu saja?”


Jennifer mendongak. Melihat Adam yang masih segar dan tampak menawan, entah kenapa dia merasa jengkel. Wanita itu masuk setelah melepas sepatunya. Namun ketika berada di samping Adam, dia dengan sengaja menginjak kaki pemuda itu sebelum masuk ke ruang tamu.


“Permisi.”


Di ruang tamu, Bella menyambut Jennifer dengan senyum lembut di wajahnya.


“Selamat datang.”


“...”


Adam melihat interaksi keduanya lalu menatap ke arah kakinya yang diinjak oleh Jennifer. Meski tidak sakit, pemuda itu merasa agak terhina. Melihat polisi cantik itu, dia menghela napas.

__ADS_1


Seperti biasanya, wanita itu benar-benar terlalu berlebihan!


>> Bersambung.


__ADS_2