
Keesokan paginya.
Dalam ruangan latihan di apartemen Adam. Di rak khusus yang ditutupi kaca tebal yang berada di sudut ruangan, terlihat wadah kaca yang berisi telur Darkblood Moth. Di wadah lain juga terlihat Darkblood Cocoon.
Karena makhluk hidup tidak bisa dimasukkan ke dalam Items Bag, setelah mendapatkannya Adam akan menyimpannya di sana.
Adam sebenarnya bisa saja menghancurkan mereka untuk mendapatkan beberapa Spirit Bead (bronze). Namun karena jumlahnya sedikit, dia merasa agak hambar. Jadi pemuda itu memilih untuk menyimpannya untuk melakukan beberapa tes.
Di ruang makan, sosok Adam duduk sambil menikmati kopinya sementara Bella sibuk memasak.
“Aku pulang.”
Membuka pintu apartemen, Jennifer yang masih memakai seragam polisi kembali. Mungkin karena sering melakukan misi dengan Adam dan mampir, dia sudah menganggap apartemen itu sebagai rumahnya sendiri. Bahkan dia membawa beberapa pakaian dan barang pribadi miliknya ke apartemen Adam.
Melihat sosok Jennifer, Adam dengan santai bertanya.
“Bagaimana keadaan orang itu?”
Mendengar pertanyaan Adam, sudut bibir Jennifer berkedut.
“Masih bisa diselamatkan, tetapi beberapa tulangnya retak. Apakah kamu bisa memukulnya lebih pelan, Adam?”
“Tidak ada hal aneh di organ dalam?” Tidak menjawab, Adam malah balik bertanya.
“Keracunan …” jawab Jennifer sambil tersenyum pahit. “Namun dia masih bisa diselamatkan setelah operasi. Sekarang dalam masa penyembuhan.”
“Apakah orang itu sudah sadar?”
Mendengar pertanyaan itu, Jennifer menggeleng ringan.
“Kerja bagus. Kamu tampak lelah. Segera mandi dan beristirahat.”
“Baik.”
Mendengar ucapan Adam, Jennifer langsung setuju. Ketika Adam semalam langsung kembali, dia dan Renald harus mengantar buronan menuju RS sebelum akhirnya melaporkan semua kejadian. Setelah itu mereka masih harus menunggu kabar tentang kondisi buronan tersebut dan menghubungi keluarga yang bersangkutan.
Pagi harinya Jennifer dan Renald baru kembali. Tidak seperti Jennifer yang masih kuat, pemuda itu bahkan memilih untuk tidur di RS terlebih dahulu karena terlalu lelah.
Melakukan penyelidikan, melihat hal-hal menjijikkan, dan mengurus buronan. Semua itu membuat mereka lelah secara fisik dan mental.
“Sebelum beristirahat, pastikan meminum pil yang aku siapkan.”
“Baik!”
Suara Jennifer terdengar sebelum disusul dengan suara aliran air di kamar mandi.
Beberapa jam kemudian.
Membuka matanya, Jennifer yang sedang berbaring di ranjang melihat bahwa masih jam sembilan pagi. Namun, tubuhnya benar-benar sudah pulih sepenuhnya.
Melihat sosok Adam yang kembali setelah mengantar Bella, Jennifer segera menghampiri lalu memeluknya.
“Berikan aku pil itu lagi, Adam.”
“Tidak bisa.”
Adam langsung menjawab singkat.
__ADS_1
“Kamu benar-benar pelit.”
“Masalahnya bukan karena pelit, tetapi benda itu dibuat dengan banyak campuran herbal berharga dan cara khusus. Karena keterampilanku juga belum terlalu baik, aku tidak bisa membuatnya dengan cepat.”
“Tapi kamu dan Bella selalu minum satu sebelum tidur!”
“Memang.” Adam menjawab jujur.
“Lalu mana bagianku?”
“Tidak ada.” Adam menggeleng ringan.
“Itu tidak adil! Kamu memperlakukan kami dengan cara berbeda!”
“Bukannya itu tidak adil. Bella memerlukan banyak perbaikan fisik dan letihan yang lebih keras, sementara kamu memiliki fisik yang lebik bagus. Aku hanya melakukan secukupnya. Bukan menyamakan keduanya, tetapi memberi sesuai yang dibutuhkan.
Belum lagi, jika kamu membawanya ke mana-mana. Bukankah itu berbahaya? Bagaimana kalau identitasku terungkap? Bagaimana kalau aku menjadi buronan internasional karena keserakahan orang-orang itu?
Kamu mau bertanggung jawab?”
“T-Tapi …”
Melihat Jennifer yang tertekan, Adam menghela napas panjang.
“Kamu sebenarnya bukan dari Kota B, kan?”
“En.” Jennifer mengangguk.
“Karena kamu menyewa apartemen, lebih baik kamu tinggal bersama dengan kami saja. Masih ada ruangan yang tidak digunakan, jadi-”
“Apa kamu menyuruhku tidur sendiri sementara kalian berdua bersama?!”
Jadi kamu bisa memiliki ruanganmu sendiri untuk menyimpan berkas sekaligus ruang belajar dan semacamnya.”
“...”
Menyadari dirinya terlalu cemburu, Jennifer merasa agak malu.
“Lalu apa hubungannya dengan keadilan?” tanya Jennifer.
“Selama kamu tinggal di sini, aku bisa mengawasi. Meski tidak bisa memberi pil setiap hari, paling tidak aku bisa menjamin memberi tiga kali dalam satu minggu.
Mulai bulan depan, kamu juga bisa mendapatkan satu per hari.”
“Benarkah?” tanya Jennifer.
“Benar.”
“Lalu … aku juga bisa berkultivasi?” bisik Jennifer.
“Jenn …”
“Aku tahu … aku tahu.”
Jennifer menyeringai. Setelah berpikir beberapa saat, wanita itu akhirnya memutuskan untuk pindah dan tinggal bersama Adam. Oleh karena itu, dia meminjam mobil Adam untuk mengemasi barang di apartemennya sementara pemuda itu membersihkan kamar.
Sore harinya setelah menjemput Bella, Adam yang melihat apartemen miliknya yang awalnya kosong dan sepi menjadi ramai dan agak berantakan menghela napas panjang. Diam-diam pemuda itu berpikir.
__ADS_1
Sepertinya kami harus mengatur ulang kembali barang-barang dalam apartemen di akhir pekan.
Malam harinya.
Duduk saling berhadapan, Adam menatap sosok Jennifer dengan ekspresi serius.
“Sebenarnya aku ingin menanyakan ini sedari awal.”
“Ada apa, Adam?” Jennifer tampak gugup.
“Apakah kamu tahu di mana para polisi menyimpan barang bukti yang ditemukan dalam kasus orang gila ini?”
“Aku tahu.” Jennifer memiringkan kepala, tampak agak bingung. “Memangnya ada apa?”
“Kamu harus mengambil liontin, cincin, atau anting yang terbuat dari batu giok abu-abu yang unik dan misterius.”
“Adam … kamu tahu, mencuri barang bukti itu-”
“Aku tahu itu salah. Namun, ini sangat penting. Hal itu sebenarnya berhubungan dengan makhluk-makhluk aneh yang aku sebut Darkblood Caterpillar sebelumnya.”
“Kenapa kamu tidak membicarakan ini sebelumnya?”
Mendengar ucapan Adam, Jennifer mengangkat alisnya. Tampak sedikit marah dan tidak puas.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan? Menuntut toko penjual perhiasan tampa bukti yang jelas?” tanya Adam.
“Itu …”
“Aku memiliki fungsi sendiri untuk menggunakan perhiasan itu.”
Jennifer tampak bimbang. Melihat ekspresi serius di wajah Adam, wanita itu menghela napas panjang.
“Aku akan mencoba bertanya apakah barang bukti yang sudah tidak berguna itu sudah dikembalikan atau disita. Jika disita … aku akan mencoba membelinya.
Tentu saja, kamu harus menyiapkan uangnya.”
“Baik,” ucap Adam dengan senyum lega di wajahnya.
“Kamu sering membantuku dalam misi. Paling tidak, aku bisa membantumu dalam hal ini.”
Melihat Jennifer yang pura-pura marah, Adam tersenyum lembut. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan dan diinginkan wanita itu.
...***...
Siang di hari berikutnya.
Ring! Ring! Ring!
Di lantai dua Kafe Starlight, Adam yang mendengar ponselnya berbunyi segera mengangkatnya.
“Ada apa, Jenn?”
“Maaf Adam, tapi keempat barang bukti itu … hilang!”
Mendengar itu, Adam sedikit terkejut, tetapi langsung tenang. Pemuda itu langsung menyimpulkan.
Itu berarti … ada mata-mata dari pelaku yang bersembunyi di dalam kepolisian!
__ADS_1
>> Bersambung.