
“M-Maafkan kami, Tuan Adam.”
Mendengar Archie berkata demikian, Adam hanya menggeleng ringan. Sama sekali tidak marah. Pemuda itu hanya tidak ingin menjelaskan terlalu banyak. Lagipula, dirinya sendiri belum terlalu paham dengan kehidupan para Kultivator (Spiritualist).
“Kalian tidak perlu minta maaf. Kalau begitu, aku akan menyimpan liontin ini.”
Adam mengambil liontin giok abu-abu lalu memasukkannya ke kantong. Dia kemudian berdiri dari tempat duduknya sebelum berkata.
“Karena masalah sudah selesai, aku akan kembali terlebih dahulu.”
“Bagaimana jika makan malam di sini, Tuan Adam? Kami telah merepotkan anda sampai anda tidak sempat makan malam.”
“Terima kasih atas tawaran anda, Nyonya Emily. Namun saya harus menolak karena pasti ada yang telah menunggu saya di rumah.”
Archie dan Emily saling memandang.
“Kalau begitu kami tidak akan menunda anda lagi, Tuan Adam.” Archie berkata sopan. “Terima kasih banyak atas bantuan anda.”
“Sama-sama.”
Melihat sosok Adam yang pergi dengan mobilnya, Archie dan Emily yang mengantar sampai pintu kembali saling memandang. Mereka berdua kemudian masuk ke dalam rumah.
“Menurutmu … apakah yang dikatakan Tuan Adam benar, Archie?” tanya Emily.
“Seharusnya benar.” Archie mengangguk. “Aku telah membawamu ke beberapa rumah sakit, tetapi setelah pemeriksaan menyeluruh … hasilnya nihil.”
“Bagaimana mungkin makhluk menjijikkan seperti itu bisa mengendalikan orang? Benar-benar mirip parasit aneh dalam film zombie. Mengerikan …” ucap Emily.
“Aku tidak tahu bagaimana caranya. Yang jelas, itu berbahaya.”
Mendengar ucapan suaminya, Emily mengangguk.
“Ngomong-ngomong … apakah kamu benar-benar percaya kalau Tuan Adam adalah kultivator seperti dalam cerita-cerita dongeng tersebut?”
“Aku percaya.” Archie menatap ke arah istrinya. “Meski bukan seorang kultivator, pemuda itu jelas seorang ahli seni bela diri.”
Melihat ekspresi suaminya yang begitu serius, Emily juga langsung mempercayainya.
...***...
Beberapa jam kemudian, dalam apartemen milik Adam.
“Apakah sudah menunggu lama?”
Melihat Adam yang baru saja tiba, Bella menggeleng ringan. Gadis itu malah tersenyum lembut sebelum berkata.
“Terima kasih sudah mau pulang, Kak Adam. Namun … makanannya sudah dingin. Aku akan memanaskannya terlebih dahulu.”
“Tidak perlu.”
Meletakkan sepatunya, Adam dengan santai pergi ke kamar mandi untuk mencuci kaki dan tangannya. Kembali ke dapur, dia segera duduk di sebelah Bella.
__ADS_1
“Apakah harimu menyenangkan, Bell? Atau ada sesuatu yang ingin kamu katakan?”
“...”
Melihat ekspresi Bella yang sedikit berubah, Adam menatapnya lekat-lekat sebelum bertanya dengan lembut.
“Apakah ada masalah? Coba cerita kepadaku.”
“I-Itu … tidak apa-apa.” Bell menggeleng ringan.
“Katakan padaku, Bell.”
Mendengar ucapan dan merasakan tatapan Adam, Bella merasa tidak nyaman. Gadis itu kemudian menjelaskan dengan suara pelan.
“Saya … saya merasa kurang nyaman. Akhir-akhir ini, banyak gadis yang mulai menyebarkan gosip tentang saya menjadi nyonya kecil.”
Mendengat itu, Adam tertegun. Dia kemudian berkata, “Aku sudah bilang. Jika kamu setuju, aku lebih memilih menikahimu.”
“Bukan.” Bella menggeleng ringan. “Bukan itu masalahnya. Saya sama sekali tidak keberatan dengan sebutan itu. Namun Albert dan beberapa bawahannya menjadi lebih sering mengganggu saya. Bertanya berapa banyak satu malam untuk melayani mereka, dan … dan-”
“Cukup. Tidak perlu kamu jelaskan lagi.”
Adam memeluk lembut tubuh Bella. Membuat gadis itu tenggelam dalam dekapannya.
“Saya … saya hanya melakukan itu dengan anda, Kak Adam. Apakah anda percaya?” tanya Bella pelan.
“Tentu aku percaya. Bukankah aku mengambil yang pertama?” Adam tersenyum.
“T-Tapi mungkin anda berpikir aku akan melakukan hal buruk di luar. Melakukan hal buruk bersama dengan orang lain. Melakukan …”
“Aku percaya kepadamu, Bell. Kamu selalu pulang tepat waktu, selalu fokus pada pembelajaran, dan aku juga percaya … kamu bukan gadis seperti itu. Jika kamu seperti itu, kamu tidak akan bercerita kepadaku.
Selain itu, waktu pasti akan mengungkap segalanya. Meski menyembunyikan bangkai, cepat atau lambat baunya pun akan tercium juga.”
“Terima kasih sudah mempercayai saya,” ucap Bell dengan lembut.
“Itu sudah tugasku.”
Setelah berpelukan sebentar, akhirnya Bell meminta Adam untuk segera makan.
Usai makan dan gadis itu mulai mencuci piring, Adam pergi ke ruang latihan lalu mengeluarkan ponselnya.
“Ada apa, Senior?”
Suara Shawn terdengar dari telepon.
“Sejak aku menjadi ketua Wings of Freedom, aku jarang menggunakan kekuasaanku, kan?”
“Eh? Itu benar, Senior? Apakah kamu memerlukan kami mencari atau menemukan seseorang?”
“Aku perlu kalian untuk mengurus beberapa bocah. Jika tidak bisa juga tidak apa-apa … aku akan mengurusnya sendiri.”
__ADS_1
Mendengar suara dingin Adam, Shawn merasa gugup dan buru-buru menjawab.
“Tidak perlu. Hanya beberapa bocah, sebutkan saja namanya, Senior. Anda tidak perlu turun tangan sendiri.”
“Bagus.”
Setelah memberi informasi tersebut, Adam menutup telepon lalu menelepon nomor lain.
“Black Mamba.”
“Saya di sini, Tuan Adam.”
“Kamu sempat bilang masih memiliki hutang budi, kan?” tanya Adam.
“Iya. Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuan Adam.”
“Aku ingin kamu berurusan dengan beberapa orang. Aku tidak memiliki cukup waktu dan tenaga untuk melakukan banyak hal.”
“Bisnis semacam itu, anda bisa menyerahkannya kepada kami. Haruskah kami memotong kaki atau tangannya?”
Mendengar itu, Adam mengangkat sudut bibirnya.
“Memotong itu berlebihan. Tidak perlu terlalu kejam. Pukul, patahkan satu kaki, dan beberapa jari tangan mereka.”
“Berikan saja kami namanya.”
“Bagus.” Adam mengangguk. “Aku berhutang budi kepadamu. Jika ada beberapa masalah, jangan sungkan untuk menghubungiku.”
“Terima kasih, Tuan Adam!”
Adam tidak tahu, ucapannya itu membuat Archie menjadi bersemangat. Orang itu bahkan langsung meminta beberapa orang untuk mencari orang-orang yang Adam sebutkan.
Bahkan jika Adam tahu, dia tidak akan peduli.
Keluar dari ruang latihan, Adam melihat kalau Bella selesai mencuci piring. Dia menghampiri gadis itu lalu memeluknya dari belakang. Pemuda itu kemudian berkata dengan lembut.
“Hari ini dilarang untuk melanjutkan jahitan.”
“Kenapa, Kak Adam?” tanya Bella dengan bingung. “Apakah anda tidak puas dengan buatan saya? Maaf, saya-”
“Bukan itu.”
Adam langsung menyela. Dia tidak menyangka Bella benar-benar langsung berpikir seperti itu.
“Apa yang kamu buat bagus dan nyaman. Hanya saja, kamu terlihat lelah. Kamu perlu istirahat. Temani aku, kita duduk untuk bersantai bersama.”
Merasakan dekapan hangat Adam, Bella bersandar di dada pemuda itu. Menemukan sosok yang lembut dan begitu baik, gadis itu merasa sangat bahagia.
“Baik,” ucap Bella singkat.
Apa yang Bella tidak tahu, seseorang yang dia anggap sangat lembut dan baik itu … sebenarnya telah mengirim beberapa orang untuk mematahkan kaki para pemuda yang mencoba mengganggunya.
__ADS_1
>> Bersambung.