
"Jadi ... kapan terakhir kali korban terlihat?"
Berhadapan dengan seorang petugas polisi, Adam langsung bertanya dengan ekspresi tenang. Sama sekali tidak terlihat terburu-buru.
Dia dan ketiga rekannya sekarang berada di dusun tak jauh dari tempat Nam tinggal. Karena kasus itu melibatkan sebuah kecamatan dengan beberapa desa dan dusun di dalamnya, lingkup pencarian mereka sebenarnya cukup luas.
Belum lagi, jarak antara desa satu dengan desa lainnya berjauhan. Terpisah dengan ladang atau hutan. Hal yang membuat lingkup pencarian Departemen Misteri menjadi lebih tidak terkendali.
Hal itu juga yang membuat Adam merasa orang-orang di atas kurang waras karena meminta mereka untuk mengurus kasus semacam ini. Dalam kasus pelacakan atau pencarian, lebih banyak personel jelas membantu.
Jika itu hanya masalah kerasukan, rumah berhantu, dan semacamnya ... Adam tentu tidak keberatan. Sedangkan kasus kali ini, dia merasa orang-orang di atas terlalu melebih-lebihkan kemampuan Departemen Misteri.
"Lapor, korban terakhir kali terlihat jam satu siang sebelum pergi untuk mencari kayu bakar."
Sang kapten memberi hormat kepada Adam sambil melapor. Melihat ke arah sosok dengan setelan dan topeng tengkorak berwarna hitam itu membuat dirinya merasa agak gugup. Belum lagi aura di sekitarnya yang membuat sang kapten merasa sedang menghadapi binatang buas yang berbahaya.
"Ada informasi lebih detail?" tanya Adam.
"Nama korban adalah Macy, wanita berusia 28 tahun. Selain mengurus sawah, biasanya wanita itu memang pergi ke hutan dekat desa untuk mencari kayu bakar.
Suaminya pergi ke Kota D dan pulang setiap 1 atau 2 bulan sekali. Memiliki seorang putra berusia 4 tahun. Dia tinggal bersama dengan ibunya. Sementara ayahnya telah meninggal.
Macy terakhir kali dilihat tidak jauh dari sungai yang tak terlalu jauh dari desa."
"Hm ..."
Adam menyentuh dagu, mencoba berpikir dengan informasi seadanya. Setelah beberapa saat, dia menatap ke arah petugas polisi.
"Bisakah aku memanggilmu Komandan Sam?"
"Ya, Pak!" Kapten Sam memberi hormat.
"Senang rasanya seorang Komandan seperti kamu mau untuk mengurus masalah ini." Adam mengangguk. "Kepolisian cabang kecamatan ini ... memiliki berapa jumlah anggota?"
"Kami memiliki jumlah anggota 45 orang, Pak!"
"Bisakah kamu mengerahkan 15 tenaga kerja untuk membantu kasus ini?" tanya Adam.
"Ini ..." Sam tampak agak ragu.
"Tentu saja, diluar jam kerja, para petugas akan mendapat 'bonus' yang sesuai."
"Apakah 15 orang tidak kurang, Pak? Untuk kasus seperti ini, kami bisa mengirimkan 20-25 petugas untuk memeriksa."
Sam memberi hormat dengan ekspresi serius di wajahnya. Melihat itu, sudut bibir Adam berkedut. Jelas pria paruh baya itu awalnya tampak enggan, tetapi sekarang malah sebaliknya.
"Kalau begitu aku ingin 20 orang. Pastikan catat nama dan identitas mereka dengan benar. Aku ingin mereka datang dalam waktu kurang dari satu jam."
"Siap, Pak!"
__ADS_1
Melihat Sam yang segera pergi dengan ekspresi serius di wajahnya, James langsung menghampiri Adam.
"Apakah itu baik-baik saja? Bagaimana kalau pihak atas tidak ingin memberi mereka 'bonus' seperti yang kamu janjikan, Mr Owl?"
"Kalau begitu aku akan membayar mereka secara pribadi."
"..."
James terdiam. Dia hampir lupa kalau pemuda di depannya itu adalah tiran lokal. Hampir bisa melakukan semuanya dengan cepat dan lancar dengan uang sebagai pelicin.
"Huuh ... seharusnya kami tahu itu," ucap James sebelum menghela napas panjang. "Ngomong-ngomong ... apakah kamu benar-benar berniat membawa bocah itu, Nam untuk kembali ke Kota B, Mr Owl?"
"Memangnya ada apa?" Tidak menjawab, Adam balik bertanya.
"Tidak apa-apa. Hanya saja, bukankah itu merepotkan?"
"Bahkan jika itu anak-anak, seseorang dengan kemampuan khusus harus diperhatikan, Mr James."
"Bukankah para Kultivator tidak bisa menjadi kuat atau memiliki kemampuan khusus tanpa latihan?"
James tampak bingung. Menurut informasi, tidak seperti beberapa kasus spesial dimana seseorang memiliki kemampuan khusus dan aneh, para Kultivator harus.
"Memang. Namun ..."
"Ada apa, Mr Owl?"
"Bukan berarti Nam tidak akan bergabung dengan sekte atau ... menjadi Kultivator Jahat."
Carole yang sedari tadi diam akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat tangannya.
"Ada apa, Nona Carole?" tanya Adam.
"Apakah ... Kultivator Jahat itu benar-benar berbahaya?"
Mendengar itu, Adam memandang ke arah Carole. Mengamati wanita itu beberapa waktu, dia menjawab dengan nada berat.
"Mereka adalah tipe yang bisa mengorbankan nyawa setiap orang untuk mencapai apa yang mereka inginkan.
Apakah itu berbahaya atau tidak ... kalian bisa menilainya sendiri."
Ucapan Adam langsung membuat suasana menjadi lebih berat dan agak suram. Karena ketiganya juga tahu. Cepat atau lambat, mereka akan berhadapan dengan para Kultivator jahat atau organisasi jahat yang terdiri dari pengguna kemampuan khusus.
***
Satu jam kemudian.
"Hormat kepada Petugas Owl!"
Sam memimpin dua puluh petugas polisi untuk berbaris dan memberi hormat secara bersamaan.
__ADS_1
Adam berdiri di depan mereka semua dengan kedua tangan di belakang punggungnya. Tatapannya menyapu para petugas polisi, membuat mereka menjadi gugup.
"Senang bertemu kalian, para petugas polisi yang terhormat.
Di sini aku akan menyampaikan pesan singkat kepada kalian. Kalian pasti sudah mengetahui situasinya dari Komandan Sam. Ya ... kalian akan melakukan pencarian di area yang sudah aku tandai dan tentukan. Ini bukan permainan, jadi aku berharap kalian bisa serius.
Tidak peduli apa, bahkan jika harus melihat setiap inchi ..."
Adam menatap para petugas polisi dengan tatapan dingin. Menggunakan skill Suzaku's Cry, dia berteriak lantang.
"AKU INGIN PETUNJUK TENTANG PARA KORBAN DITEMUKAN!!!"
Para polisi langsung berdiri tegap dan memberi hormat serempak.
"Ya, Pak!!!"
Melihat pemandangan itu, para warga menatap sosok Adam dengan takjub. Sementara itu, James yang berdiri di dekat mobil menoleh ke arah Carole dan Jasmine.
"Bukankah seharusnya aku yang berdiri di sana dan mengatakan semua itu? Aku masih ketua dari Departemen Misteri, kan?"
"Mungkin ... anda kurang karisma, Ketua?"
Carole memiringkan kepalanya. Sementara itu, Jasmine yang pendiam menepuk pundak lelaki itu sambil menggelengkan ringan. Menatapnya dengan ekspresi kasihan.
Hal itu membuat sudut bibir James berkedut.
Beberapa waktu kemudian, barisan dibubarkan dan para polisi segera pergi menuju tempat di mana Adam menyuruh mereka memeriksanya. Pemuda itu kemudian menghampiri ketiga rekannya.
"Jika mereka sudah menggeledah area dekat hutan, apa yang harus kita lakukan, Mr Owl?" tanya James.
Adam mengingat Mutated Catfish yang pernah dia lawan. Makhluk semacam itu bisa memancing lawan dengan cara unik dan aneh. Bahkan tidak bisa diduga atau diperkirakan jika belum pernah menghadapi atau mengalami hal semacam itu.
Melihat ke arah James yang agak linglung, Adam mengangkat sudut bibirnya.
"Kita akan berenang."
Satu jam kemudian, di pinggir sungai yang tampak luas dengan perairan tenang.
"Apakah aku benar-benar harus melakukan ini?"
Berdiri di samping Adam yang masih memakai setelan hitam, James telah menanggalkan pakaian dan hanya menyisakan celana pendek.
"Tentu saja kamu bisa tenang, Mr James. Selama makhluk itu benar-benar muncul, aku akan segera menyelamatkan dirimu."
Mendengar ucapan Adam, James menggigil. Dia tidak tahu apakah itu karena angin dingin dari sungai yang menerpanya, atau dari kedalaman lubuk hatinya. Satu hal yang ada dalam benaknya.
Aku tidak dikorbankan, kan? Ini sama sekali bukan pengorbanan heroik atau hal-hal semacam itu, kan?
Melihat ke arah Adam yang masih tenang, James mengutuk dalam hati.
__ADS_1
Bukankah kita rekan? Bagaimana kamu bisa begitu kejam, Bung!
>> Bersambung.