
"Tenanglah, Alexia."
Adam langsung menghentikan Alexia yang tampak menjadi lebih liar.
"Aku tidak tahu kenapa kamu mengatakan itu. Kamu mungkin telah melihatku, atau mungkin kamu berpikir aku mirip dengan seseorang yang pernah kamu sukai. Namun ...
Aku bukanlah mereka. Jadi, janganlah kamu memikirkan hal semacam itu. Kamu wanita yang cantik dan baik, jangan terjebak dengan orang lain hanya karena orang itu tanpa sengaja membuatmu tertarik.
Kamu harusnya berpikir lebih jernih, karena itu juga menyangkut masa depanmu. Apakah kamu mengerti?"
Adam menatap ke arah Alexia. Wanita itu akhirnya berhenti dan menundukkan kepala. Tampaknya sudah bisa berpikir dengan jernih dan lebih tenang daripada sebelum.
"Sudah aku putuskan!"
Melihat ekspresi tegas Alexia, Adam mengangguk puas.
"Bagus!" ucap Adam.
"Kamu adalah lelaki yang pantas menikah denganku!"
"Maaf?"
Adam langsung tercengang.
"Penampilan bagus, memiliki sesuatu yang aku suka, kuat, tetapi juga lebih baik dan jauh bisa diandalkan. Aku sudah memutuskannya!
__ADS_1
Aku akan terus mengejarmu, Mr Owl! Ayo menikah!"
"Anu ... bisakah ini dianggap sebagai proposal menikah? Sebuah lamaran?"
Menatap wanita cantik di depannya, Adam merasa otaknya berjalan lebih lambat daripada biasanya.
Meski tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang jenius, Adam percaya kalau otaknya masih di atas rata-rata. Jadi, entah bagaimana dia menjadi lebih bingung.
Mungkin wanita di depannya memang cerdas, atau IQ wanita di depannya tiba-tiba turun menjadi 0, sehingga Adam tidak bisa memahami apa yang dimaksud olehnya.
Alexia tiba-tiba membuang kopi di tangannya. Dia juga langsung memegang tangan Adam dengan ekspresi penuh kasih, benar-benar membuat pemuda itu bingung dengan apa yang sedang terjadi.
"Ah! Jadi kamu di sini, Alexia!!! Tunggu ... Apa yang sedang kamu lakukan!"
Suara marah menyela mereka.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kamu ada di sini, Amy!"
Keduanya saling memandang dengan tajam. Meski mereka tidak memiliki kemampuan elemental, Adam merasa ada sebuah percikan ketika tatapan mereka saling bertemu dan beradu.
"Kalian berdua, tolong jangan bertengkar."
Adam menasihati dengan lembut. Dia kemudian menatap ke arah Alexia dengan tatapan lembut.
"Terima kasih atas perasaanmu, Alexia. Namun seperti yang aku bilang, aku sudah memiliki kekasih. Aku tahu kamu tidak peduli itu, tetapi pasti keluargamu juga akan peduli.
__ADS_1
Selain itu, kita belum terlalu saling mengenal. Jadi aku tidak bisa menerimamu. Kamu tahu, kita harus menumbuhkan perasaan dan tidak begitu terburu-buru. Kamu adalah wanita yang baik, pasti akan ada lelaki yang lebih pantas untukmu."
"Meski langka, mungkin memang ada lelaki yang lebih baik daripada dirimu di luar sana, Mr Owl. Namun ... aku lebih suka padamu!
Ayo menikah! Lalu tumbuhkan perasaan setelah menikah!
Selama kita bersama lebih lama, kita pasti akan saling mengerti! Jadi kita tidak perlu ragu. Bahkan jika tidak cocok, kita bisa bercerai setelah itu. Paling tidak, kita telah mencoba, kan?"
PLAK!!!
Suara tamparan terdengar. Amy menatap ke arah Adam, lalu ke arah Alexia yang jatuh ke lantai.
"Tolong hargai dirimu sendiri, Alexia. Pernikahan bukanlah permainan. Kamu tidak bisa mengatakan hal semacam itu seolah-olah bukan hal yang penting."
Alexia bangkit. Bukannya marah, dia tiba-tiba memeluk leher Adam dan mencium pipinya.
"Kalau begitu, selama kamu tidak meninggalkanku, aku akan selalu bersamamu, Mr Owl ... Bukan! Sayang!"
Amy tercengang. Adam sendiri lebih tercengang.
Dia melihat ke arah Alexia yang menatapnya. Pemuda itu merasa kalau melihat gambar hati di mata wanita tersebut. Membuatnya semakin bingung dan merasa aneh.
'Menjadi lebih bersemangat ketika ditampar? Pasti ada yang salah dengan kepala wanita ini!'
Pada saat Amy dan Adam merasa agak bingung serta otak mereka berjalan dengan lambat, suara dingin terdengar.
__ADS_1
"Kamu benar-benar membuat Mr Owl kerepotan ... Alexia."
>> Bersambung.