
James yang awalnya santai langsung siaga ketika melihat Adam yang tampak serius. Pria itu langsung menodongkan pistol ke arah musuh. Dia melihat anak kecil yang kurus dengan ekspresi agak bingung.
Mungkinkah bocah ini sebenarnya roh jahat? Hantu? Reinkarnasi Raja Iblis?
Melihat ke arah James dan Adam, Carole serta Jasmine juga tampak siaga. Sementara itu, kepala desa terkejut dan tampak khawatir.
"Berhenti menodongkan senjata seperti itu, Mr James."
James melihat Adam mengangkat tangan kirinya, mengisyaratkan bahwa semuanya dalam kendali.
Sosok pemuda dengan topeng tengkorak berwarna hitam yang tampak misterius sekaligus mengerikan itu berjalan ke arah anak kecil bernama Nam tersebut.
"Nama kamu Nam, kan? Perkenalkan ... aku agen khusus dengan code Blood Owl. Tiga kakak lainnya itu adalah rekanku, Flame Imp, Oni, dan Siren."
"Owl?"
Bocah itu memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung. Sama sekali tidak tampak berbahaya.
"Ya. Kami di sini untuk memeriksa apakah kamu berhubungan dengan makhluk jahat yang menculik para warga desa."
Mendengar ucapan Adam, Nam langsung menggelengkan kepalanya. Dia buru-buru berkata.
"Saya sama sekali tidak tahu itu."
"Meski para warga menganggap kamu anak aneh? Anak terkutuk? Atau semacamnya?"
"Mungkin karena saya memang aneh?" Nam tampak agak bingung.
"Bocah itu memanggil dirinya sendiri aneh, itu mencurigakan." James mengelus dagu.
Mengabaikan James, Adam berkata dengan nada tenang.
"Di mana orang tua kamu, Nam? Bisakah—"
"Maafkan saya, Petugas Owl. Orang tua Nam ... mereka sudah meninggal."
Mendengar ucapan kepala desa, ekspresi Adam dan ketiga rekannya langsung stagnan. Mereka semua langsung menatap pria paruh baya itu dengan tatapan menyalahkan.
Keempat orang itu langsung menatap ke arah Nam. Menyadari bahwa bocah itu masih tersenyum, mereka cukup terkejut. Tidak menyangka bahwa bocah kecil seperti dirinya benar-benar sudah memilki hati yang begitu tegar.
"Maafkan aku, Nak. Aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Adam lembut.
"Tidak apa-apa, Kakak Petugas. Saya sudah terbiasa." Nam tersenyum ramah.
"Bisakah kamu mengulurkan tanganmu, Nam?"
Anak bernama Nam itu agak bingung, tetapi masih mengulurkan tangannya.
Adam memegang tangan anak itu. Merasakan telapak tangan kasar yang seharusnya tidak dimiliki anak kecil, dia menghela napas panjang. Pemuda itu kemudian merasakan sesuatu lalu ekspresinya menjadi lebih serius.
"Bisakah aku dan ketiga kakak lainnya mampir ke dalam rumahmu, Nam?"
__ADS_1
"Kalian ingin datang?"
Mata Nam langsung berbinar, kelihatannya senang ada yang mau datang mengunjungi dirinya.
"Kalau itu boleh." Adam berkata lembut.
Meski bersemangat, Nam masih menatap ke arah kepala desa. Kelihatannya meminta izin kepada lelaki paruh baya itu.
"Kelihatannya kamu memiliki hubungan khusus dengan kepala desa, Nam?" tanya Adam secara langsung.
"Itu ...."
Nam tampak kebingungan. Terlihat mencoba menyembunyikannya, tetapi malah tampak jelas di wajah bocah itu.
"Dia adalah keponakan saya, Petugas Owl. Ayahnya adalah adik saya."
Mendengar ucapan kepala desa, Adam dan tiga lainnya tampak curiga.
"Lalu kenapa kamu membiarkan keponakanmu sendiri hidup seorang diri di pinggir desa!"
Bukan Adam, tetapi James yang awalnya tampak tidak terlalu peduli langsung berjalan ke arah kepala desa dan memegang kerah baju lelaki paruh baya itu.
Nam langsung berlari melewati Adam. Bocah itu menarik pakaian James sambil memohon.
"Tolong lepaskan Paman! Paman sama sekali tidak bersalah. Dia selalu membantu saya."
Melihat ke arah Nam yang mencoba melindungi pamannya, James melepaskan kepala desa dengan ekspresi enggan.
"Bagaimana kalau masuk dan membahas semuanya di dalam?"
Melihat ke arah Adam, yang lainnya akhirnya mengangguk lembut.
***
Beberapa jam kemudian.
"Jadi begitu ..."
Mendengarkan penjelasan dari kepala desa, Adam berkata dengan ekspresi pengertian.
Menurut cerita dari kepala desa, ayah Nam adalah seorang petani biasa. Suatu hari dia menolong seorang wanita yang hanyut di sungai. Ya, wanita itu adalah ibu Nam.
Wanita itu kehilangan ingatannya. Ibu Nam adalah wanita teramat cantik. Akan tetapi banyak yang tidak menyukai dirinya karena wanita itu sangat pendiam dan tidak banyak berinteraksi dengan warga desa.
Kepala desa, adiknya, dan beberapa pemuda desa membangun rumah di pinggiran desa. Tentu saja, meski wanita itu pendiam, dia masih berterima kasih kepada mereka.
Awalnya banyak warga, khususnya untuk para gadis desa yang merasa bahwa kecantikan itu akan mengganggu mereka. Namun setelah beberapa bulan, semua orang mulai terbiasa.
Banyak pemuda yang mencoba mengejar wanita itu, tetapi akhirnya yang memenangkan hati wanita itu adalah ayah Nam.
Nama Nam sebenarnya diambil dari kata 'namu' yang berarti pohon. Tentu, dengan nama itu mereka berharap putra mereka seperti pohon yang bisa bermanfaat bagi orang-orang dan lingkungan di sekitarnya.
__ADS_1
Hanya saja, sebuah kecelakaan terjadi pada saat Nam berusia tiga tahun. Kedua orang tua anak itu meninggal dunia. Karena kondisi aneh ketika meninggal, mereka berdua dianggap terkena kutukan atau hal semacamnya.
Akhirnya, anak itu harus hidup sendiri. Tentu saja, sebagai paman, meski banyak yang melarang dirinya untuk merawat Nam karena alasan 'kutukan', kepala desa masih merawat dan membantu keponakannya itu.
Kutukan ... kah?
Pikir Adam ketika melihat ke arah Nam. Bocah kecil dan kurus itu balik menatap ke arah Adam. Mengedipkan matanya dengan ekspresi penasaran. Tampaknya masih agak bingung dan heran dengan penampilan Adam.
"Bisakah aku berbicara dengan Nam sendiri, Pak kepala desa?"
"Ini ..." Kepala desa tampak ragu.
"Tenang saja, Mr Owl tidak akan memperlakukan Nam dengan buruk."
James segera mendukung Adam. Carole dan Jasmine juga mengangguk lembut.
Setelah beberapa saat berpikir, pria paruh baya itu mengangguk.
"Baiklah."
Mendengar itu, Adam merasa cukup puas.
"Kalau begitu kalian ikut bersama kepala desa untuk kembali atau berkeliling desa untuk mencari informasi."
"Baik!" jawab tiga orang lainnya serempak.
James merasa ada yang salah. Dia adalah ketua, tetapi jelas yang memimpin misi ini malah Adam. Tidak ingin banyak berpikir, pria itu menggelengkan kepalanya.
Setelah mereka pergi, hanya tersisa Adam dan Nam yang berada di dalam rumah kayu itu.
"Katakan padaku ... di mana kamu belajar untuk mengumpulkan energi Qi, Nam?"
Mendengar ucapan Adam, Nam tampak bingung.
"Qi???"
"Ya."
Adam mengulurkan tangannya. Energi Qi yang dia ubah menjadi atribut angin menyelimuti tangan kanannya. Pemuda itu kemudian berkata lembut.
"Kamu bisa melihatnya, kan? Ada hal seperti itu di dalam tubuhmu."
"Benarkah? Apakah saya juga memiliki energi seperti itu?"
Melihat Nam yang takjub, Adam menarik kembali energi Qi di tangannya. Pemuda itu merasa aneh. Namun setelah berpikir cukup lama, dia tiba-tiba merasa terkejut.
Adam kemudian kembali mengamati Nam dari atas ke bawah. Setelah berpikir keras, dia akhirnya memutuskan.
"Apakah kamu mau menjadi muridku, Nam?"
Mendengar ucapan Adam, mata Nam langsung terbelalak.
__ADS_1
>> Bersambung.