
"Kumpulkan semua orang ..."
Adam langsung memberi perintah dengan dingin.
"Eh???"
"Kumpulkan semua orang, Matt."
Adam melirik ke arah Matt dengan ekspresi dingin.
Merasakan tatapan Adam, Matt merinding. Dia langsung memberi hormat sembari menjawab.
"Siap, Ketua!"
Setelah mengatakan itu, Matt langsung berbalik pergi. Dia segera menelepon anggota yang ada di jauh dan segera mencari yang ada di dekat.
Sementara itu, Adam sibuk merapikan dokumen di atas mejanya. Dia memutuskan untuk menunda masalah Darkblood Moth sejenak, lagipula, Bloodlust Axe benar-benar datang untuk mengacaukan dirinya.
Adam tidak mungkin hanya diam melihat rencananya dihancurkan begitu saja.
Dua jam kemudian.
Melihat hampir semua anggota kecuali yang dalam tugas penting berkumpul, Adam mengangguk. Maju ke depan orang-orang itu, pemuda itu akhirnya berkata.
"Yah ... terima kasih atas kedatangan kalian."
Adam menatap orang-orang itu sejenak untuk memberi mereka penghargaan.
"Tidak perlu banyak kata-kata karena aku tidak punya banyak waktu untuk melakukan drama.
Bloodlust Axe mencoba membuat masalah di area kekuasaan kita. Jadi aku akan tanya ..."
Pada saat itu, tekanan mengerikan muncul dari tubuh Adam. Menindas orang-orang yang menatapnya. Membuat mereka tampak kaget dan takut.
"Apakah kalian memilih bersembunyi seperti pengecut atau berperang melawan mereka?"
"..."
Orang-orang diam. Mereka saling memandang dengan cemas. Salah satu anggota akhirnya memberikan diri untuk mengangkat tangan dan menjawab.
"Saya ingin melawan mereka, Ketua."
"Saya juga."
"Saya ikut!"
"Saya ..."
"..."
Melihat mereka, Adam yang biasanya tenang berteriak.
"AKU TIDAK DENGAR GUMAMAN KALIAN! JAWAB AKU, BERSEMBUNYI SEPERTI PENGECUT ATAU PERGI BERPERANG?!"
"PERGI BERPERANG!!!"
Orang-orang menjawab serempak. Mendengar jawaban itu, Adam mengangguk. Memiliki ekspresi serius di wajahnya, dia langsung memberi perintah tegas.
__ADS_1
"Besok malam, area Barat Kota B akan dibersihkan total! Kelompok kecil, sedang, besar, atau kelompok dari luar ...
Aku ingin mereka bubar atau pergi!
Gunakan cara lama, ambil bokken (pedang kayu) dan pukul mereka! Usir mereka semua dari halaman rumah kita!
Tentu saja, jika mereka menggunakan cara kejam ... apakah kalian tahu apa yang harus dilakukan???"
Adam menyeringai, sepasang mata biru memancarkan kilau misterius. Tampak begitu dingin dan kejam.
Terdorong oleh ekspresi dan perkataan Adam, para anggota Wings of Freedom berteriak serempak.
"BUNUH!!!"
Mendapatkan jawaban yang dia inginkan, Adam bertepuk tangan.
"Jika mereka meminta cara lembut, kita akan bersikap lebih sopan. Jika mereka meminta cara keras, kita akan bersikap lebih kejam.
Kami, Wings of Freedom tidak menyukai masalah!
Namun, kami, Wings of Freedom juga tidak takut masalah!"
"OOOHHH!!!"
Para anggota Wings of Freedom langsung bersorak kegirangan. Mereka tampak bersemangat, benar-benar siap untuk menyapu seluruh area Barat Kota B.
Langsung mempercepat gerakan ekspansi mereka!
***
Malam di hari berikutnya.
Malam ini, kelompok kecil dan menengah, serta beberapa kelompok dari luar area barat yang menjadi pengamat benar-benar dikejutkan oleh gerakan ganas yang dibuat oleh Wings of Freedom.
Mereka terkejut karena gerakan itu sangat mencolok, tetapi benar-benar tidak ada pihak atas yang mencoba menghentikannya. Selain itu, Jade Dragon dan kelompok kuat dari area lain juga membiarkannya. Seolah hanya ingin tahu apa yang ingin dilakukan Wings of Freedom.
Sementara banyak anggota mulai melakukan pembersihan besar-besaran, Adam dan banyak anggota inti berada di perbatasan area barat dan selatan. Mereka tampaknya siap bertempur dengan Bloodlust Axe kapan saja.
"ADAAAMMM!!!"
Raungan penuh kemarahan terdengar dari kejauhan. Banyak mobil dan motor bergegas menuju perbatasan. Di mobil paling depan, tampak sosok Raul yang marah.
Mobil dan motor berhenti tepat di perbatasan. Di seberang jalan, tepatnya di area barat, tampak lebih dari lima puluh orang pemuda babak belur. Mereka semua berbaring di tanah, banyak yang menangis, bahkan ada yang tidak sadarkan diri.
Tidak jauh di belakang mereka, ada sebuah kursi. Di sana, sosok Adam duduk. Tampak sekitar lima puluh orang berdiri rapi di belakangnya.
Menopang dagu, Adam melirik ke seberang jalan dengan tatapan tak acuh.
"Oh, itu kamu ... Raul?"
"ADAAAMMM!!!"
"Begitu emosional?"
Adam menggeleng ringan dengan ekspresi tak acuh.
"Untuk apa kalian datang ke tempat ini? Maaf, kunjungan ke 'rumah kami' sedang ditutup karena adanya renovasi. Jadi ...
__ADS_1
Sebaiknya kalian kembali."
"BERANINYA KAMU MELAKUKAN HAL SEMACAM ITU KEPADA BAWAHANKU, ADAM!!!"
Momentum Raul membuat banyak anggota Wings of Freedom terkejut. Namun mereka langsung tenang ketika mendengar suara tak acuh Adam.
"Didik anak-anakmu agar tidak merusak halaman tetangga sembarangan. Setiap orang pasti tidak suka jika rumahnya dikacaukan, kan?
Jadi jangan kira hanya karena kami penduduk baru, kami hanya akan diam jika rumah kami dikacaukan."
Setelah mengatakan itu, Adam berdiri dari tempat duduknya. Melemaskan otot-otot lehernya, pemuda itu kemudian melanjutkan.
"Apakah kalian tidak terima? Jika benar, apa yang ingin kalian lakukan? Bertempur dengan cara lama? Atau ingin mengambil resiko melibatkan polisi, menggunakan senjata api dengan cara baru?
Katakan ... Apa yang kalian inginkan?"
"..."
Melihat Raul dan bawahannya ragu, Adam membuka kedua tangannya lalu berteriak.
"Takut? Jika takut, lebih baik pulang dan tidur nyenyak! Mendapatkan area barat???
Kalian bisa mendapatkannya di mimpi kalian masing-masing!"
"KAMU BERLEBIHAN, ADAM!!! JANGAN BERMAIN DI LUAR ATURAN!"
"Bermain di luar aturan? Kalian, para penjajah munafik sudah berlebihan, kan? Sekali lagi aku bertanya ...
Apakah kalian berani maju atau tidak?
Ah! Sebelum itu, aku akan memberi peringatan ramah. Jika berani, cobalah maju melewati batas. Percaya atau tidak ..."
Angin dingin berhembus menerpa Raul dan bawahannya. Dengan ekspresi dingin di wajahnya, momentum Adam langsung naik ke level lain. Menatap ke arah Raul dan bawahannya seolah predator yang menatap mangsanya, pemuda itu berkata.
"AKU AKAN MEMBUNUHMU!"
Bulu kuduk Raul dan orang-orangnya langsung berdiri. Tanpa sadar, mereka mundur satu langkah.
Pada saat itu juga, wajah Raul merasa terbakar karena malu dan marah. Dia benar-benar malu karena ditakuti oleh pemuda yang dia anggap sebagai bocah baru!
"KAMU ... BERANINYA KAMU ..."
Menatap ke arah Adam dengan ekspresi ganas, Raul berteriak.
"HABISI MEREKA!!!"
Melihat Raul dan bawahannya bergegas melewati batas dan bergegas menuju ke arahnya, Adam tersenyum. Karena mereka ingin bertarung dengan cara lama menggunakan pipa besi dan senjata dingin lain, pemuda itu juga berniat untuk meladeninya.
Adam bertepuk tangan ringan lalu berkata dengan nada tak acuh.
"Cara lama, ambil senjata kalian dan bersiap bertempur ...
Aku ingin pulang dan tidur sebelum larut malam."
Mendengar ucapan Adam, para anggota Wings of Freedom langsung menarik bokken (pedang kayu) bersamaan lalu berseru serempak.
"YA, PAK!!!"
__ADS_1
>> Bersambung.