Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Apakah Aku Mengenalmu?


__ADS_3

Di ruang makan dalam apartemen Adam.


“Apakah kamu yang memasak semua ini? Seperti dugaanku, kamu luar biasa, Bella.”


Jennifer tampak terkejut ketika melihat berbagai hidangan di atas meja. Benar-benar sangat menggugah selera baik dari segi visual atau aromanya.


“K-Kak Adam membantu saya membuat semua ini,” ucap Bella dengan suara pelan, tampak agak malu.


Kare belum terbiasa, Bella cukup kewalahan dengan sikap Jennifer yang antusias. Selain berada di dekat Adam, gadis itu memang masih menjaga jarak dengan orang lain.


Meski telah mencoba membantu Bella, pemuda itu akhirnya menyerah. Selain karena sikap tertutup Bella yang berlebihan, Adam tidak ingin memaksa gadis itu dan malah membuatnya menjadi lebih takut, bahkan trauma.


“Cukup, Jennifer. Jangan menggoda Bella. Mari makan terlebih dahulu sebelum membahas yang lainnya.”


“Hmph!” Jennifer mendengus dingin, tetapi masih menurut.


Ketiga orang itu pun akhirnya makan malam bersama.


Pada saat Jennifer memasukkan sepotong daging ke mulutnya, ekspresi terkejut tampak di wajah polisi cantik itu.


“Stew ini sangat enak. Mungkin lebih baik daripada di hotel berbintang. Kamu benar-benar luar biasa, Bella.”


“M-Maaf, tapi … tapi yang membuat stew itu adalah Kak Adam, Petugas Jennifer.”


Jennifer yang awalnya makan dengan ekspresi penuh kenikmatan tiba-tiba diam dengan wajah stagnan. Dia menoleh ke arah Adam yang sedang menikmati makanannya. Melihat pemuda tampan itu tersenyum lembut, sudut bibir Jennifer berkedut.


“Hmph! Setelah dirasa, ternyata hanya sedikit lebih baik daripada masakan rumah biasanya.”


“...”


Melihat bagaimana Jennifer enggan mengakui masakannya enak, Adam hanya menggeleng ringan. Merasa agak lucu ketika melihat gadis itu mencoba mengelak.


Ketiganya melanjutkan makan. Setelah makan dan mencuci piring, ketiganya duduk di ruang keluarga.


“...”


Adam melirik ke arah dua perempuan yang hanya diam itu. Merasakan situasi canggung tersebut, dia menghela napas panjang. Pemuda itu tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya.


“Aku akan pergi ke luar sebentar,” ucap Adam secara tiba-tiba.


“E-Eh?” Jennifer langsung berdiri dan hendak menghalangi pemuda itu. “Kamu mau ke mana?”


“Ada urusan. Kamu tinggal di sini untuk menemani Bella dulu.”


“Tapi-”

__ADS_1


Mengabaikan Jennifer yang hendak mengeluh, Adam menoleh ke arah Bella dengan senyum lembut di wajahnya.


“Aku berangkat dulu.”


“Hati-hati di jalan, Kak Adam.” Meski terlihat enggan, Bella akhirnya masih membiarkan Adam pergi.


Adam memakai sepatu lalu mengambil coat sebelum pergi meninggalkan apartemen. Ketika hanya tersisa dua orang dalam apartemen, suasana menjadi lebih canggung daripada sebelumnya.


Sementara itu, Adam yang telah turun ke tempat parkir langsung menelepon seseorang.


“Apakah kamu sibuk, Renald?”


“K-Kak Adam? A-Aku tidak sibuk sama sekali.”


“Bagaimana kalau bersantai di Golden Grass? Atau kamu punya saran lain? Aku belum sempat berterima kasih kepadamu atas yang terjadi sebelumnya.”


“A-Aku tidak sibuk! B-Baik! Kita bisa akan bertemu di Golden Grass.”


“Kalau begitu aku akan menunggumu di sana.


Setelah mengucapkan itu, Adam menutup telepon. Dia kemudian masuk ke dalam mobilnya. Pemuda itu tersenyum santai. Alasan dirinya pergi sangat jelas, Adam ingin memberi waktu untuk keduanya.


...***


...


“Maaf malah mengajakmu datang ke tempat ini, Renald.”


Duduk saling berhadapan, Adam tersenyum minta maaf kepada pemuda di depannya. Di depan keduanya terlihat dua gelas mocktail dan beberapa camilan.


Renald sendiri sangat gugup. Dia melihat ke arah sosok Adam lalu bar yang begitu ramai. Tidak seperti di siang hari, tempat kecil bergaya retro iitu sangat ramai di malam hari.


“Kamu tidak salah, Kak Adam. Aku malah merasa sangat senang karena kamu undang. Aku tidak pernah keluar seperti ini sebelumnya.”


“Hm?” Adam menatap sosok Renald dengan ekspresi terkejut.


Memang, ketika tidak memakai seragam polisi, pemuda itu benar-benar tampak seperti anak baik yang tidak pernah keluar malam. Belum lagi ketika melihat Renald yang gugup di sekitar banyak orang, Adam hanya bisa menghela napas ketika melihat itu.


“S-Seperti yang kamu duga, karena gugup di depan banyak orang, aku … aku tidak memiliki teman. Aku berharap bisa mendapatkan teman setelah masuk ke akademi kepolisian, tetapi sampai lulus dan mulai bertugas … aku masih tidak memiliki teman.”


“...” Adam hanya diam dan mendengarkan.


“Memang, banyak orang yang ramah kepadaku, tetapi mereka masih membatasi diri dan terlihat agak enggan. Mungkin mereka hanya ingin mencari muka di depan ayahku atau merasa tak enak jika harus mengabaikanku.”


“...”

__ADS_1


“Namun kamu berbeda, Kak Adam. Kamu benar-benar memperlakukan aku orang normal seperti pada umumnya. Kamu sangat baik.”


Bukankah kamu memang normal? Bagian mana yang baik dari hal semacam itu?


Melihat Renald yang melihatnya seperti sedang melihat idola membuat Adam menggeleng ringan. Melihat pemuda yang penuh harap itu, dia akhirnya menjelaskan.


“Mungkin itu karena aku diasuh di panti asuhan sejak kecil, jadi aku tidak pernah membedakan orang-orang. Selain itu-”


“Yo! Lihat dua pria cantik itu, datang ke bar malam hari hanya untuk minum mocktail. Hahaha! Lebih baik kamu pulang dan minum susu, Bung!”


Seorang lelaki kira-kira seusia dengan Adam tetapi memiliki tubuh berotot penuh tato layaknya pegulat menghampiri Adam dan Renald. Orang itu tampak garang dengan rambut yang dipangkas pendek layaknya seorang tentara. Dia memakai kaos lengan pendek berwarna hitam dengan gambang tengkorak di tengahnya.


“Kamu seharusnya tidak mengganggu mereka, Brock. Mungkin mereka adalah pasangan mesra atau semacamnya.”


Seorang pria dengan pakaian biru yang tampak glamor dengan riasan wajah berlebihan berdiri di dekat pria kekar bernama Brock itu.


Mendengar ucapan pria yang berdandan glamor itu, Brock mendengus dingin.


“Apakah mereka juga tipe menjijikkan seperti kamu, Randy? Cih! Membuatku mual.”


“Tidak sopan! Memilih cinta juga hak asasi manusia,” balas lelaki glamor bernama Randy itu. “Juga, aku sudah bilang berapa kali? Panggil aku Ran, Kepala otot!”


Keduanya berdebat sebentar. Sesaat kemudian, suara lain terdengar.


“Kalian seharusnya tidak mengganggu pelanggan baru seperti itu, Brock … Randy.”


“Ah! Ternyaka kamu sudah tiba, Kak Shawn.” Randy berkata dengan nada agak centil, membuat Brock yang disampingnya mendengus dingin.


“Aku hanya merasa mereka tidak cocok untuk bocah cantik seperti mereka berdua.”


Sosok lelaki tampan berambut pirang yang disisir ke belakang dengan kedua telinga penuh tindik berjalan ke arah mereka dari kejauhan. Orang itu memakai jas dan celana panjang berwarna perak dengan kemeja hitam di dalamnya. Di tangan kanannya, dia membawa segelas wine.


Lelaki bernama Shawn itu tersenyum agak sombong ketika berjalan mendekat.


“Ya … meski tidak terlalu cocok, seharusnya-”


Shawn tiba-tiba terdiam ketika sampai di depan Adam dan Renald.


“K-Kamu kan … Senior Adam?”


Mendengar namanya disebut, Adam menoleh dengan ekspresi santai. Dia terlihat begitu santai dan tak acuh sambil menyesap segelas mocktail di tangannya. Pemuda tampan itu memiringkan kepalanya dengan ekspresi aneh.


“Apakah aku mengenalmu?”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2