
"Hah? Apakah kamu serius, Mr Owl?"
James yang awalnya marah menjadi bingung. Dia kemudian menatap ke arah Adam dengan ekspresi aneh sekaligus curiga.
"Ada apa?" tanya Adam tak acuh.
"Aku sudah bilang kalau bocah itu hanya Chuunibyou ... kenapa kamu masih ingin memeriksanya? Apakah kamu tidak mempercayai kemampuanku, Mr Owl?"
"Bukannya aku tidak percaya. Namun kemampuan yang kalian semua bangkitkan tidak ada hubungannya dengan hal-hal yang berkaitan dengan roh jahat.
Jika itu melawan manusia atau binatang bermutasi, kalian cukup berguna. Sedangkan melawan anomali semacam roh jahat ... jujur, kalian tidak berguna."
Mendengar ucapan Adam, mereka semua tampak malu. Meski demikian, James terlihat tidak ingin mengalah sama sekali.
"Lupakan, Mr Owl. Biarkan kasus ini ditutup."
"Kamu tidak bisa egois seperti itu, James." Adam menggeleng ringan. "Aku tidak peduli apakah kamu iri atas pencapaianku atau takut aku merebut posisimu ... aku harus menerima tugas ini."
"..."
"Aku tidak ingin posisi atau uang itu. Hal semacam itu tidak ada gunanya bagiku. Kamu harus ingat ... alasan kenapa aku bergabung dalam Departemen Misteri."
Mendengar ucapan Adam, James yang awalnya diliputi rasa cemburu dan iri langsung tersadar. Setelah memikirkannya baik-baik, memang sosok pemuda bertopeng itu sama sekali tidak peduli dengan banyak hal. Tidak ingin namanya tertulis, juga tidak terlihat kekurangan uang.
"Maaf ..." James yang agak emosi menghela napas panjang.
Sementara mereka berdua saking berbicara, tiga orang lain memandang ke arah Adam dengan ekspresi bingung. Mereka juga bertanya-tanya dalam hati, kenapa sampai orang seperti Adam yang tidak kekurangan uang masuk Departemen Misteri.
"Tidak apa-apa." Adam menggelengkan kepalanya. Merasakan tatapan yang lainnya, dia bertanya, "Ada apa?"
Setelah agak ragu, Douglas mengangkat tangannya sebelum bertanya.
"Jika boleh tahu, kenapa sosok anda bergabung dalam Departemen Misteri seperti ini, Mr Owl?"
Adam memandang ke arah Douglas sejenak. Dia kemudian bersandar di kursinya sambil memejamkan mata.
"Tidak seperti kalian yang benar-benar murni baik, aku ini seorang pembunuh. Jika aku bergabung, seluruh kesalahanku dimaafkan karena alasan menjalankan tugas.
Itulah alasannya."
"Anda pintar membuat lelucon, Mr Owl." Douglas menggeleng ringan dengan senyum di wajahnya.
"Mr Owl serius ..."
Mendengar ucapan James, yang lainnya terkejut. Mereka langsung menatap Adam dengan ekspresi rumit. Tidak menyangka bahwa sosok yang terlihat sopan dan lembut itu sebenarnya pembunuh.
"Kalian pasti tahu kasus tentang pertarungan kelompok geng di bangunan terbengkalai itu, kan?"
"Jangan bilang ..."
"Ya. Mr Owl yang melakukannya. Dia membantai para gangster itu."
"Tapi mereka memiliki jumlah banyak, bahkan membawa senjata api." Douglas masih tidak ingin percaya.
"Aku bersaksi. Aku pernah melihat sosok Mr Owl yang cepat, sulit ditangkap. Selain itu, dia benar-benar bisa menghindari atau menangkis peluru dengan pedang di tangannya."
__ADS_1
Mendengar perkataan James membuat yang lainnya semakin terkejut. Mereka tidak menyangka sosok Adam yang awalnya hanya mengaku sebagai Kultivator bisa sekuat itu.
Mereka pikir Adam hanyalah ahli beladiri, tetapi ternyata bukan hanya bela diri ... melainkan juga bisa mengurus hal-hal yang tidak bisa diatasi dengan logika.
"Namun, kenapa Mr Owl harus dianggap bersalah? Bukankah pihak lain itu imigran gelap, bahkan penjahat?"
"Kalian cepat atau lambat akan mengenal sikap para pejabat itu."
Tidak menunggu James menjawab, Adam langsung berkata dengan nada tak acuh.
"Mereka menganggar Mr Owl sebagai ancaman," ucap James sambil menggelengkan kepala.
"Ancaman?" tanya Carole yang bingung.
"Ya. Hampir semua orang yang memiliki kemampuan dicatat dan ditandai dengan tingkat bahaya tertentu. Tentu saja beberapa orang yang berhasil bersembunyi tidak termasuk.
Mr Owl sendiri memilih untuk bergabung meski identitasnya belum diketahui. Menurut peraturan, kami tidak bisa memaksa dirinya untuk mengungkap identitas.
Jadi apakah Mr Owl masih muda atau sudah tua, laki-laki atau perempuan, dan penampilan lainnya ... aku sendiri belum pernah melihatnya."
"..."
Yang lainnya langsung memandang ke arah Adam dengan ekspresi terkejut.
"Intinya, aku menginginkan tugas itu. Kamu tidak keberatan kan, Ketua?"
"Tidak." James sudah tidak memikirkan cemburu dan hal-hal lainnya. "Namun jangan kecewa jika itu tidak sesuai dengan apa yang kamu bayangkan."
"Tenang saja. Aku sebenarnya hanya ingin melihat untuk memastikannya saja. Aku bahkan berharap aku hanya terlalu banyak berpikir."
"Kalau begitu aku akan beristirahat di kamar, kamu bisa memberikan alamat beserta informasi lainnya nanti atau besok."
"Mr Owl?" panggil James.
"Ada apa?"
Adam yang hendak naik ke lantai dua menoleh ke belakang.
"Apakah anda juga akan mulai tinggal di sini?"
"Tidak." Adam menggeleng ringan. "Aku akan berada di sini setiap senin sampai jum'at dari pagi sampai petang. Kembali ke rumahku sendiri ketika malam."
"Baiklah kalau begitu ..."
Melihat bahwa tidak ada lagi yang bertanya, Adam kembali ke kamarnya.
***
Keesokan harinya.
Di sebuah rumah besar yang tampak cukup megah.
Melihat itu, Adam menghela napas panjang. Dia masih ingat sewaktu berbicara dengan Jennifer dan Bella di pagi hari. Mereka berdua tampaknya agak tidak senang karena dirinya mulai sibuk bekerja.
Mengetahui bahwa dia akan libur dua hari dan masih pulang di malam hari membuat mereka merasa cukup lega. Meski tidak ada waktu di mana mereka menghabiskan sore bersama, paling tidak mereka masih bertemu setiap harinya.
__ADS_1
"Apakah anda Mr Owl?"
Seorang wanita berpakaian pelayan bertanya.
"Ya." Adam menjawab singkat.
"Tuan dan Nyonya telah menunggu anda."
"Baik."
Mengikuti pelayan itu, Adam sampai di ruang tamu tempat pasangan suami-istri telah menunggu. Mereka cukup muda, kelihatannya masih berada di awal tiga puluhan.
"Perkenalkan, saya Owl. Karena rekan saya tidak terlalu mengerti perihal mistis, saya yang datang untuk menggantikan mereka."
"Apakah kamu juga berpikir putra kami gila dan memiliki gejala psiko?"
"Saya tidak bisa memastikannya sebelum melihat dengan mata kepala saya sendiri."
Mendengar ucapan Adam, pasangan suami-istri tersebut saling memandang. Ekspresi dingin dan bermusuhan di wajah mereka kelihatannya agak mereda.
Jelas, itu karena perdebatan antara mereka dengan pihak James. Adam sama sekali tidak mempermasalahkannya.
"Apa yang ingin anda minum terlebih dahulu, Mr Owl? Teh? Kopi? Jus? atau yang lainnya?" ucap sang suami.
"Tidak perlu." Adam menggeleng ringan. "Bisakah saya langsung bertemu dengan putra anda? Semakin cepat, semakin baik. Saya tidak ingin terlalu menunda."
Meski agak terkejut, lelaki itu langsung menjawab, "Baik."
Pasangan suami-istri itu kemudian mengantar Adam ke kamar putra mereka.
Masuk ke dalam kamar, Adam melihat sebuah ruangan dengan warna biru muda. Terlihat beberapa rak berisi mainan, ada juga ranjang dengan seprai berwarna biru tua dengan gambar-gambar roket serta bintang.
Selain itu, terlihat sosok bocah kecil yang sedang bermain robot mainan di sana. Dia memiliki rambut cokelat cerah dan iris biru bagai langit. Melihat ibu dan ayahnya datang bersama orang asing, dia tampak tidak puas.
Mengabaikan ekspresi bocah itu, Adam malah langsung bertanya.
"Kalau boleh saya tahu, bagaimana bisa tangan kanan putra anda sampai seperti itu?"
"Kenapa anda tahu kalau yang sakit adalah tangan kanan putra kami? Apakah rekan anda telah memberitahu anda?"
Melihat ke arah sepasang suami-istri yang menatapnya agak aneh, Adam sedikit terkejut.
"Apakah kalian tidak bisa melihatnya?"
"Maksud anda?" tanya lelaki itu.
"Tangan kanan putra anda ..."
"Kenapa? Bukankah itu terlihat biasa saja?" Lelaki itu berkata dengan nada bingung.
Mendengar itu, mata Adam menyempit. Pemuda itu kemudian berkata dengan tenang.
"Di mata saya, tangan putra anda ... hitam legam seperti dicelupkan ke dalam tinta."
>> Bersambung.
__ADS_1