
"Jimmy Bulbie ..."
Suara dingin, tak acuh, dan membawa perasaan mengancam terdengar di gang sepi.
Sosok Jimmy yang berjalan tiba-tiba berhenti. Dia melirik sekeliling dengan curiga. Namun, apa yang bisa dia lihat adalah tempat-tempat gelap dan kotor, kecuali beberapa titik terang dimana ada lampu tua dengan warna kuning menyala.
"Mungkinkah aku terlalu banyak minum? Sebaiknya aku tidak terlalu banyak lembur."
Ketika hendak berjalan, pria paruh baya itu tiba-tiba merasakan sakit di pundak, lengan, dan betisnya.
Entah kapan, Jimmy melihat beberapa benang merah darah yang tampak tajam menembus kulit dan menyayat beberapa bagian tubuhnya. Menoleh ke sumber benang merah, dia mendengar suara langkah kaki.
Tidak lama kemudian, Jimmy melihat sosok lelaki dengan pakaian serba hitam dan mengenakan topeng iblis berwarna merah.
Lelaki itu berjalan ke arahnya dengan tangan kiri terangkat. Di kelima ujung jari, beberapa benang merah muncul dengan cara aneh, karena tidak memakai alat apapun.
Benang merah itu tiba-tiba ditarik, kembali lalu menghilang di tangan lelaki bertopeng merah tersebut.
"Kamu ... Siapa???"
Jimmy bertanya dengan ekspresi heran ketika dia jatuh berlutut di tanah. Tubuhnya berdarah, merasa lebih lemah, bahkan sulit digerakkan.
'Racun ... apakah benang itu masih beracun?'
Jimmy menatap ke arah lelaki yang terus berjalan ke arahnya.
Berhenti dua meter di depannya, lelaki itu tiba-tiba membuka mulutnya.
"Hanya lelaki yang ingin mendengar pengakuan dosamu."
Mendengar itu, Jimmy tertegun sejenak. Beberapa saat kemudian, dia menatap ke arah pria bertopeng merah dengan heran.
"Apakah kamu sedang berpura-pura? Masalah? Apakah kamu orang yang disewa untuk memukuliku? Siapa orangnya?
Kenapa mereka berusaha menyakitiku? Apa salahku?"
Adam yang mengenakan topeng merah menatap ke arah Jimmy yang duduk di tanah dengan beberapa luka berdarah dengan ekspresi jijik. Memandang lelaki paruh baya tersebut, dia matanya semakin menyempit. Ekspresinya semakin dingin ketika niat membunuh muncul begitu saja.
__ADS_1
"Jangan bilang kamu telah melupakan kejadian tiga puluh tahun yang lalu, Jimmy!"
Adam langsung meraih kerah pria paruh baya itu dan mengangkat tubuhnya menggunakan tangan kiri dengan mudah.
"Gadis bernama Guren ... Teman-teman yang mati terbakar ... Jangan bilang kamu telah melupakan mereka semua, JIMMY BULBIE!!!"
Mendengar ucapan Adam, tubuh Jimmy bergetar. Pupil matanya menyusut, dan ekspresi aneh muncul di wajahnya. Hanya dalam beberapa saat, pria paruh baya itu tiba-tiba tertawa.
"Jadi begitu ... Jadi begitu ... Guren ... Gadis itu bahkan tidak melepaskan satu orang pun setelah tiga puluh tahun.
Apakah kamu utusan dari Neraka, Tuan? Apakah kamu datang menjemputku untuk pergi menemui mereka?
Hah ... Tiga puluh tahun ... Setelah tiga puluh tahun lebih, mereka pasti iri karena keberuntunganku. Ketika mereka berada di alam lain, aku malah pergi ke kota lain, bahkan menikah dan memiliki anak!"
Air mata tumpah di wajah Jimmy Bulbie. Ekspresi kesakitan tampak di wajahnya ketika lelaki itu mengingat kejadian lampau yang telah berlalu.
"Tuan Utusan ... Seharusnya kamu datang lebih awal, kan? Kenapa kamu datang setelah tiga puluh tahun?
Apakah kamu berencana menyiksaku? Membuatku gila dan merasa bersalah ketika memikirkan apa yang terjadi tiga puluh tahun lalu?
"..."
Bruk!
Adam menjatuhkan Jimmy ke tanah. Dia tiba-tiba menatap ke arah pria paruh baya yang tampak gila dengan ekspresi aneh. Pemuda itu mulai ragu, apakah lelaki di depannya sedang berpura-pura, atau sebenarnya ada sesuatu dibalik kisah tak terungkapkan tersebut.
"Jimmy, katakan padaku—"
"Ayah!!!"
Suara teriakan menyela ucapan Adam. Menoleh ke sumber suara, Adam melihat sosok remaja berusia kira-kira 16 atau 17 tahun. Dia memiliki penampilan agak mirip dengan Jimmy, dalam sekali lihat ... Adam tahu kalau remaja tersebut adalah putra sulung dari Jimmy. Hanya saja, rambut remaja itu diwarnai dengan warna pirang yang tidak natural.
"Beraninya kamu melukai dan mencoba merampok ayahku, B-jingan!"
Remaja itu langsung bergegas ke arah Adam dan mencoba untuk memukulnya.
Sebagai tanggapan, Adam langsung mengulurkan tangan kirinya. Dia langsung mengincar kepala remaja itu, lalu menyentil tepat di tengah dahinya dengan keras.
__ADS_1
Bruk!
Remaja itu langsung jatuh lalu berguling-guling di tanah. Meski tampak ringan, remaja itu merasa kalau kepalanya dipukul dengan tongkat baseball secara langsung. Dia langsung merasa pusing dan tidak fokus.
"Hentikan!"
Jimmy memegang kaki Adam dengan ekspresi putus asa.
"Keluargaku sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini! Jika kamu ingin melukai atau membawaku pergi, lakukan saja! Jangan libatkan keluarga dan anak-anakku!"
"..."
Remaja itu berusaha bangkit sambil memegangi kepalanya. Mendengar ucapan ayahnya, dia melihat sosok Adam. Pada saat itu, dia sadar kalau lelaki bertopeng merah yang tampak misterius itu datang untuk balas dendam.
Remaja itu menggertakkan gigi sebelum berteriak keras.
"Jadi kamu orang yang mencoba membalas dendam! Sama dengan orang-orang yang datang beberapa tahun lalu! Apa yang kalian inginkan?! Memeras keluarga kami seperti dulu?! Berhenti memuntahkan omong kosong, B-jingan!
Sudah aku bilang, ini bukan salah ayah! Kenapa kalian tidak percaya kalau ayahku sakit dan tinggal di rumah ketika kebakaran itu terjadi?!
Apakah kalian menyalahkannya hanya karena dia satu-satunya orang di kelas yang selamat?! Jangan bercanda denganku, B-jingan!"
Bruk!
Sekali lagi Adam menyentil dahi remaja itu. Langsung membuatnya pingsan di tempat.
Pemuda itu kemudian menatap ke arah Jimmy dengan ekspresi aneh. Setelah beberapa saat, dia akhirnya menghela napas panjang lalu berkata.
"Anggota Departemen Misteri, Blood Owl."
Adam memperkenalkan diri. Melihat ke arah Jimmy yang menatap dirinya dengan heran, dia menambahkan.
"Aku memiliki tugas untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya telah terjadi di SMA Blue Rose 30 tahun yang lalu. Kamu telah melarikan diri beberapa tahun yang lalu dan diduga sebagai tersangka. Namun, aku juga tidak ingin main hakim sendiri, jadi ...
Maukah kamu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi 30 tahun yang lalu, Jimmy Bulbie?"
>> Bersambung.
__ADS_1