Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Burung Kenari Dalam Sangkar


__ADS_3

“Oleh karena itu, aku membencimu … tidak. Lebih tepatnya aku iri kepadamu, Bella.”


Lulu menatap ke arah Bella dengan senyum pahit. Ekspresinya tampak pucat. Sebelum dia akhirnya menunduk sembari mulai terus bergumam.


“Kenapa ada yang menyelamatkamu di saat kritis, sementara aku tidak? Kenapa kamu bisa melangkah keluar dari jalan gelap dan suram, sementara aku tidak? Kenapa kamu merasakan cinta dan kasih sayang, sementara aku tidak?


Seharusnya kamu jatuh oleh Albert …


Seharusnya kehidupanmu dihancurkan oleh kerabatmu …


Seharusnya kamu juga tenggelam lebih dalam …


Seharusnya kamu menjadi seperti diriku …”


“...”


Mendengar ucapan Lulu, Adam sama sekali tidak membalas. Dia hanya duduk di sana dengan tenang. Tidak terlihat menghina, tidak terlihat berbelas kasih, hanya … tampak tidak merasakan apa-apa.


Sementara itu, Bella bangkit dan hendak menghibur Lulu. Namun ketika gadis itu mengulurkan tangan, Lulu benar-benar langsung menampiknya.


PLAK!


“Aku tidak butuh rasa kasihan darimu, Bella! Aku tidak seperti dirimu … bukan seorang putri yang menunggu untuk diselamatkan!”


“S-Saya …”


“Cukup! Tinggalkan saja aku sendiri! Semua ini tidak akan merubah apa-apa!”


“...”


Bella hendak mengatakan sesuatu tetapi Adam langsung menghalanginya. Pemuda itu menariknya mundur sebelum berdiri. Dia kemudian mengeluarkan sebuah amplop berisi cukup banyak uang serta sebuah kartu nama lalu meletakkannya di atas meja depan Lulu yang sedang menunduk.


Uang itu sendiri sebenarnya adalah uang yang biasanya Adam kirimkan ke panti asuhan setiap bulannya. Biasanya pemuda itu akan mengirim uang setiap akhir bulan. Dia tidak akan melupakan akarnya hanya karena dia telah memanjat ke tempat yang lebih tinggi.


Adam hanyalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan oleh panti asuhan. Pemuda itu tidak akan pernah melupakan itu. Melupakan semua yang dia alami dan dirinya perjuangkan sehingga berdiri seperti sekarang ini.


“Aku tidak tahu apakah itu akan merubah hidupmu. Paling tidak, kamu tidak akan kesulitan makan ketika berada tinggal di asrama perempuan. Juga, kamu bisa menghubungi nomor itu.


Aku memang tidak bisa menjadi ‘Pangeran’ yang selalu menyelamatkan para ‘Putri’. Namun, jika hanya memberi pekerjaan sekadar untuk makan dan menabung, atau memberi tempat untuk berteduh dari hujan … aku masih bisa melakukannya.


Aku tidak tahu apakah itu akan membuatmu bahagia. Setidaknya, kamu akan menjadi ‘manusia’, karena kami tidak pernah menganggap manusia sebagai ‘benda’ yang bisa digunakan dan diganti kapan saja.”


“...”


Setelah mengatakan itu, Adam menarik Bella yang linglung untuk pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Usai Adam pergi, Lulu melirik ke arah amplop uang dan kartu nama di depannya. Menggertakkan gigi, gadis itu kemudian menggebrak meja sebelum terisak. Terisak sendirian dalam ruangan yang sepi dan gelap.


***


“Apakah anda tidak berniat menyelamatkan Lulu, Kak Adam?”


Dalam mobil yang menuju kembali ke apartemen, Bella menatap ke arah Adam yang menyetir dengan ekspresi tenang.


“Aku bukan seorang pahlawan yang mampu menyelamatkan semua orang, Bella.”


“...”


Mendengar ucapan Adam, Bella menggigit bibir. Dia tahu dirinya cukup beruntung memiliki ‘happy end’ setelah banyak cerita sedih yang harus dia alami. Namun gadis cantik itu juga tahu, tidak semua cerita harus berakhir dengan ‘happy end’ karena juga ada cerita yang berakhir dengan ‘bad ending’.


“Aku tidak bisa menjadi pahlawan. Namun aku sudah mengulurkan tangan. Apakah Lulu akan meraih dan mencoba percaya, atau menampik karena merasa dunianya tidak bisa berubah lebih baik … itu tergantung keputusannya sendiri.”


Melihat ke arah Adam yang menghela napas panjang, Bella mengerti. Tidak seperti dirinya yang beberapa kali mendapat uluran tangan yang membuanya bisa naik ke permukaan, sebaliknya … tangan yang Lulu raih malah menarikannya ke tempat yang lebih dalam dan gelap.


Tidak mempercayai orang lain … mungkin itu adalah ‘hal terbaik’ yang bisa dipikirkan Lulu.


“Saya mengerti, Kak Adam.” Bella mengangguk lembut.


“Bella …”


“Aku menjagamu dengan semua yang aku bisa.”


Bella terkejut ketika mendengar itu. Melihat Adam yang masih fokus ke jalan tanpa merubah ekspresinya, gadis itu merasa jantungnya berdegup kencang. Menunduk dengan rona merah di pipinya, dia menjawab dalam hati.


Tolong terus jaga saya … Kak Adam.


***


Beberapa hari berlalu, bulan telah berganti.


Seperti kesepakatan sebelumnya, Adam yang telah menyiapkan 120 pil gizi datang ke bangunan terbengkalai untuk menemui Lei Fan. Anehnya, setelah menunggu cukup lama dia sama sekali tidak melihat murid dari Sekte Thunder Fang itu datang.


Tidak tahu kenapa Lei Fan tidak datang, Adam memutuskan untuk kembali. Namun sebelum dirinya pergi, suara mobil yang familiar terdengar di telinganya.


Jarang sekali dia datang terlambat.


Adam menghela napas dalam hati. Dia kemudian pergi ke tempat biasa untuk menunggu kedatangan Lei Fan. Setelah menunggu beberapa saat, pemuda itu mendengar langkah kaki mendekat.


Ketika Adam melihat sosok yang datang, mata pemuda itu menyempit.


Sosok itu tiba-tiba bergegas ke arahnya dengan cepat. Mencabut pedang di pinggangnya, sosok itu langsung menyerang Adam.

__ADS_1


Adam juga langsung menarik katana miliknya dengan ekspresi tak acuh.


Klang!


Suara logam berbenturan terdengar. Setelah tabrakan, Adam masih diam di tempatnya sementara sosok itu mundur beberapa langkah.


“Begitu kuat …”


Suara indah seperti lonceng terdengar di telinga Adam. Pada saat itu, dia lebih memperhatikan sosok itu.


Rambut hitam panjang, tubuh ramping dengan kulit seputih salju, ekspresi dingin di wajah yang begitu menawan. Mengenakan hanfu berwana hitam dengan garis ungu, itu adalah sosok wanita yang luar biasa cantik.


“Menyerang begitu melihat seseorang … kelihatannya nona ini tidak mendapat pendidikan yang baik.” Adam berkata dengan nada tak acuh.


Mendngar ucapan Adam, sosok wanita itu memandangi sosok lelaki berpakaian hitam dengan syal dan topeng merah itu. Mengingat sesuatu, wanita itu tiba-tiba menggertakkan gigi dengan ekspresi dingin. Tampak sangat marah.


Tidak mengatakan sepatah kata, wanita itu tiba-tiba bergegas ke arah Adam dengan cepat.


“Thirteen Thunder Fangs … gerakan ke-2.”


Melihat bagaimana sosok wanita itu langsung membidik lehernya dengan dengan pedang yang diselimuti energi ungu.


Benar-benar tidak segan, kah?


Melihat ke arah wanita yang menyerangnya, Adam tampak dingin. Pemuda itu langsung menyerang dengan kekuatan murni. Tanpa teknik indah, tanpa energi Qi yang kuat karena … dia yakin wanita itu masih terlalu lemah dibandingkan dengan dirinya.


KLANG!


Sosok wanita itu terhuyung mundur beberapa langkah lalu menatap sosok Adam dengan ekspresi terkejut. Tidak menyangka bisa mengalahkannya dalam konfrontasi hanya dengan tenaga murni saja.


“Kamu siapa? Kenapa aku belum pernah mendengar dirimu?”


Wanita itu bertanya dengan ekspresi kaget, benar-benar bingung.


Sementara itu, Adam menyarungkan katana miliknya dengan agak enggan. Meski senjatanya itu termasuk ‘mahal’, tetapi jelas lebih buruk daripada senjata milik kultivator. Belum lagi yang dilapisi dengan energi Qi.


Meski menang dengan kekuatan fisik, Adam benar-benar melihat bilah katana benar-benar sedikit cuil. Ya … bukan aus, tetapi benar-benar rompal sedikit di tepinya. Hal itu membuatnya benar-benar sakit hati.


Melihat ke arah wanita yang merusak katana miliknya, Adam berkata dengan dingin.


“Dunia begitu luas. Memangnya seekor ‘kenari dalam sangkar’ bisa mengetahui segalanya … tentang dunia yang luas dan penuh dengan misteri ini?”


Mendengar bagaimana Adam mengejeknya dengan cara yang lebih halus, wanita itu menatap pemuda bertopeng itu dengan penuh kebencian.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2