
Sekitar jam 22.00 lebih, Adam pergi apartemen miliknya.
Sosok Adam mengenakan setelan serba hitam seperti biasa. Mengenakan coat panjang berwarna hitam. Di sisi kiri dan kanan pinggang yang tertutup oleh coat, dua belati tersimpan.
Sedangkan pedang dan topeng miliknya? Karena merupakan item yang bisa disimpan dalam inventori System, dia jelas memilih untuk menaruhnya di sana.
Alasan Adam menyimpan dua belati di luar karena lebih mudah digunakan. Juga bisa menjadi penutup. Lagipula, akan menjadi terlalu aneh dan mencurigakan jika dia langsung mengeluarkan senjata dari kekosongan. Jadi pemuda itu menyiasati hal tersebut dengan beberapa trik kecil.
Adam kemudian pergi menuju ke lokasi dengan mobilnya.
Seperti biasa, beberapa blok dari lokasi, Adam memarkir mobil. Dia mengenakan topeng merah miliknya lalu pergi menuju ke lokasi dengan skill Shadow Stealth miliknya.
Sekitar jam 23.00, Adam akhirnya tiba di 'rumah baru' miliknya.
Hanya saja, semua tidak berjalan begitu lancar seperti apa yang Adam harapkan. Di sana, tampak empat pemuda yang tidak lebih tua darinya.
Tampaknya mereka adalah mahasiswa universitas yang sedang bersenang-senang. Lebih tepatnya, sedang melakukan uji nyali.
Mereka berlima juga membawa perlengkapan seperti kamera, dan sebagainya. Tampaknya mereka adalah Anchor yang melakukan live streaming uji nyali.
Melihat mereka, Adam tidak bisa tidak mengangkat alisnya.
Berbeda dengan SMA Blue Rose, rumah sakit jiwa terbengkalai, dan beberapa tempat angker di Kota B yang merupakan fasilitas publik ... rumah ini adalah properti milik pribadi. Jadi seharusnya mereka tidak boleh melakukannya tanpa izin pemiliknya.
'Sepertinya si celengan babie itu benar-benar melanggar perjanjiannya.'
Mengingat pria paruh baya gempal itu, Adam mendengus dingin. Namun dia langsung menjadi lebih tenang ketika dirinya mengingat bahwa dia akan segera mendapatkan keuntungan lebih dari satu miliar dollar aliansi.
Sebenarnya Adam sendiri tidak terlalu kesal dengan perbuatan keempat mahasiswa tersebut. Namun dia merasa agak tidak nyaman. Entah kenapa, pemuda itu mengingat kejadian di SMA Blue Rose.
Memang, uang yang mereka dapatkan dari hasil live streaming mungkin bisa dibilang cukup banyak. Hanya saja, jika mereka harus menuju ke tempat berbahaya ... uang tersebut masih tidak lebih berharga daripada nyawa mereka sendiri.
Menghela napas panjang, Adam akhirnya memutuskan untuk tidak ikut campur dengan urusan mereka. Walaupun pemuda itu memberitahu mereka untuk pergi, dia tahu bahwa mereka akan menolak. Jadi dia akan mengabaikan mereka.
Melakukan urusan mereka masing-masing.
Mengabaikan keempat mahasiswa tersebut, Adam dengan mudah menghilang dengan skill Shadow Stealth. Dia kemudian melompati tembok dan masuk ke area taman depan rumah.
Baru saja menginjakkan kaki ke area taman, Adam langsung mencium aroma yang tidak enak. Baunya seperti kayu busuk yang terendam air, serta bau jamur yang memuakkan.
Adam kemudian melihat daun yang menumpuk dan busuk setelah akumulasi beberapa tahun di bawah kakinya. Pemuda itu menghela napas panjang sebelum mengeluh dalam hati.
'Area taman depan, perlu pembersihan menyeluruh.'
Melihat ke arah pohon-pohon yang tidak terawat dan juga semak belukar, Adam menggeleng ringan.
'Tampaknya cabang-cabang pohon juga perlu dikurangi dan semak perlu dihilangkan.'
__ADS_1
Pikir Adam ketika dia terus berjalan ke depan menuju ke arah rumah.
Beberapa saat kemudian, pemuda itu pun akhirnya sampai di depan rumah. Melihat ke rumah yang suram, Adam mengelus dagu.
'Tembok perlu digosok terlebih dahulu sebelum dicat ulang.'
Bukannya ketakutan, Adam benar-benar datang seperti sedang melakukan kunjungan biasa.
Dia mendorong pintu depan terbuka. Pada saat dia masuk, pintu langsung terbanting keras. Menutup lalu terkunci.
Sama sekali tidak takut, Adam malah mengamati sekitar. Dia terus mengamati penampilan rumah ini, apa yang perlu diperbaiki, dan sebagainya.
Pemuda itu menarik napas dalam-dalam ketika memeriksa kejanggalan di sekitar. Anehnya, pada saat pintu tertutup dan terkunci ... dia sama sekali tidak dapat merasakan apa-apa.
Ekspresi Adam yang awalnya santai menjadi lebih serius. Karena pemuda itu tidak bisa mendeteksi, itu berarti musuh adalah tipe aneh yang tidak dia ketahui atau ... makhluk dengan tingkat berada di atas dirinya.
"Mari berkeliling lantai pertama terlebih dahulu," gumam Adam.
Setelah mengatakan itu, Adam mulai berkeliling dengan ekspresi waspada. Kedua tangannya selalu siap untuk menarik kedua belati yang ada di pinggangnya.
Akan tetapi, setelah memeriksa setiap ruangan di lantai pertama, Adam sama sekali tidak menemukan keanehan apapun. Pada akhirnya, dia sampai di dapur.
Melihat ke halaman belakang rumah yang cukup luas dan ditumbuhi rumput tinggi dan semak, Adam tanpa sadar malah fokus ke sebuah bangunan kecil di sana. Tampaknya sebuah gudang kecil tempat keluarga sebelumnya menyimpan peralatan berkebun.
Hanya saja ... Adam merasa itu cukup janggal dan aneh.
Meyakinkan diri, Adam kemudian pergi keluar dari rumah. Langsung menuju ke halaman belakang. Namun dia langsung terkejut ketika menginjakkan kakinya di halaman belakang. Itu karena ...
Ya. Dibandingkan dengan halaman depan rumah dimana suara jangkrik dan berbagai serangga yang masih terdengar, halaman belakang benar-benar terlalu sunyi.
Menarik napas dalam-dalam, tatapan Adam fokus ke sebuah gudang kecil. Kedua tangannya memegang erat gagang belati sambil terus melangkah maju menuju ke bangunan kecil itu.
Semakin dekat ... Adam merasa agak kedinginan, tetapi terus berjalan mendekat.
Setelah jarak kurang dari tiga meter, Adam memilih untuk berhenti. Dia menatap ke arah pintu tersebut dengan ekspresi serius di wajahnya.
'Lebih baik didobrak saja.'
Pikir Adam ketika melihat ke arah pintu tua tersebut.
Mengambil ancang-ancang, Adam kemudian bergegas maju dan hendak menendang pintu. Namun saat itu juga, pintu gudang terbuka lebar.
Adam langsung terkejut ketika melihat sebuah sabit besar penuh karat muncul dari dalam kegelapan, benar-benar langsung diarahkan menuju ke lehernya.
Klang!
Adam langsung menangkis sabit tersebut dengan belatinya, lalu melompat mundur beberapa meter. Sabit berkarat itu kembali ke dalam kegelapan.
__ADS_1
Adam sendiri cukup terkejut karena merasakan mati rasa di pergelangan tangannya. Padahal, dia yang sekarang sudah jauh lebih kuat daripada ketika pertama kali pergi ke SMA Blue Rose!
Beberapa saat menunggu sambil mengamati apa yang ada dalam gudang kecil tersebut, Adam mengernyitkan dahi. Bahkan dengan mata yang bisa melihat dalam gelap, pemuda itu masih tidak bisa melihat apa yang ada di dalam sana.
Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara melengking seperti engsel pintu tua yang perlu diberi oli. Terdengar juga suara beberapa benda yang diseret di tanah.
Pada akhirnya ... sosok itu pun keluar dan menampakkan wujudnya.
Tampak sosok humanoid yang memakai pakaian tukang kebun khas abad pertengahan, lengkap dengan topinya. Hanya saja, meski dibilang 'humanoid' ... sosok itu sendiri sebenarnya terdiri dari akar-akar tanaman aneh yang saling melilit dan membentuk wujud seperti manusia.
Hanya saja, makhluk itu memiliki empat lengan panjang sampai tanah. Juga, tampak beberapa benda khas 'perkebunan' di setiap tangannya.
Sebuah sabit, gunting besar, kapak, dan ... sebuah pot.
Tiga tangan terseret di tanah sementara satu tangan memegang pot di depan tubuhnya.
Makhluk itu sama sekali tidak memiliki wajah. Bahkan setiap bagian tubuhnya terus bergerak dan berdenyut dengan cara yang aneh. Namun fokus Adam ada pada pot yang dipegang erat oleh makhluk tersebut.
Di sana, tampak sebuah bunga aneh. Adam mengatakan aneh, karena bunga tersebut mirip dengan bunga matahari, tetapi ukurannya lebih kecil. Bunga itu sendiri sebesar telapak tangan dengan kelopak berwarna merah.
Yang lebih aneh adalah ...
Tempat dimana biji berada, tampak beberapa mata yang memandang ke arah Adam. Beberapa mata tersebut memandang ke arah Adam dengan penasaran sebelum akhirnya 'berkedip' secara bergantian. Benar-benar membuat kulit kepala Adam mati rasa.
"Sepertinya mulai sekarang aku akan alergi ketika makan kuaci," gumam Adam dengan senyum pahit di wajahnya.
Pemuda itu kemudian mencengkeram erat gagang belati di kedua tangannya. Benar-benar bersiap untuk bertarung kapan saja. Namun, sosok roh jahat yang berwujud tumbuhan aneh itu sama sekali tidak menyerang Adam.
"..."
Melihat makhluk itu hanya berdiri di depan pintu gudang kecil, Adam merasa bingung. Belum lagi bunga matahari aneh dalam pot yang terus menatapnya dan berkedip seperti anak yang penasaran, hal itu benar-benar membuat pemuda itu bingung harus melakukan apa.
Adam merasa kalau makhluk itu tampaknya sedikit mengangkat 'kepala'. Dia pun ikut melirik ke atas.
Di langit, tampak bulan purnama bersinar terang. Juga tampak jutaan bintang indah yang cemerlang di angkasa.
'Dia ... hanya menatap langit malam dalam diam?'
Pikir Adam ketika melihat makhluk tersebut. Pada saat itu ...
"ARGH! TOLONG! TOLOOONG!!"
Suara jeritan keras terdengar. Benar-benar membuat Adam yang hampir melamun langsung tersadar. Dia menatap ke sumber suara yaitu rumah, lalu kembali menatap ke arah gudang kecil.
Agak ragu, Adam akhirnya berlari menuju ke rumah.
Menyempatkan untuk melirik ke belakang, dia benar-benar melihat sosok makhluk itu tetap berdiri di sana dalam diam.
__ADS_1
Sama sekali tidak berencana menunda, apalagi menyerang Adam!
>> Bersambung.