
"Hey, Elbert! Kenapa kamu diam saja di sana?"
Sosok lelaki dengan pakaian lusuh berdiri di tempatnya sambil memegang bola. Elbert memiliki paras cukup tampan, dengan rambut cokelat dan mata biru bak safir. Dia menatap ke arah sebuah rumah besar. Di sana, tampak sosok gadis cantik yang sedang duduk sambil membaca buku.
"Hey! Kenapa kamu hanya melamun?!"
Sosok bocah gemuk berjalan menyusul Elbert yang mengambil bola. Melihat sosok temannya yang melamun, dia melihat ke arah Elbert sedang menatap.
Ketika melihat sosok gadis cantik itu, wajah bocah gendut menjadi agak buruk. Dia langsung menyeret Elbert pergi dari sana dengan sekuat tenaga.
"Jaga pandanganmu, Elbert! Gadis itu adalah Nona Melly. Dia adalah putri pejabat kota, petani seperti kita tidak boleh menatapnya dengan cara seperti itu!"
Setelah menyeret Elbert menjauh, bocah gemuk itu terengah-engah.
Elbert yang tersadar dari lamunannya menatap ke arah bocah gemuk lalu bertanya dengan nada polos.
"Bukankah gadis itu cantik, Bob?"
Mendengar pertanyaan Elbert, bocah gendut bernama Bob itu tercengang.
"Nona Melly memang cantik, tetapi dia jelas anak pejabat kota. Sama sekali tidak cocok untuk kita, yang hanya seorang petani. Kamu juga harus tahu itu, Elbert."
"Jadi namanya Melly ..." gumam Elbert yang terpesona, sama sekali tidak menggubris ucapan Bob.
"Menyerahlah, Elbert. Impian berlebihan itu pasti hanya akan menyakitimu."
"Sepertinya aku jatuh cinta, Bob."
"Elbert, kamu—"
"Bukankah itu bodoh karena menyerah sebelum mencoba?"
"..."
__ADS_1
Melihat Bob yang tercengang, Elbert tersenyum cerah lalu berkata.
"Setidaknya aku akan mencoba untuk mendekatinya, Bob. Lelaki tidak boleh menyerah pada impiannya!"
Sejak saat itu, Elbert akhirnya mencoba mendekati dan mengenal sosok gadis cantik yang bernama Melly.
***
Hampir setengah tahun berlalu begitu saja.
Setiap hari, Elbert akan mendekati rumah mewah itu. Berusaha untuk mencari perhatian, dan kesempatan untuk berbicara kepada Melly. Namun hasilnya nihil.
Elbert benar-benar diabaikan!
Tidak sampai suatu sore, sebuah kejadian merubah segalanya.
Sosok Melly yang jarang keluar dari rumah pergi untuk membeli buku. Karena ayah dan ibunya tidak memiliki waktu, dia memilih untuk membeli sendiri. Pada saat kembali, gadis yang tidak bersalah itu dikejar oleh beberapa anjing liar. Dia yang sama sekali tidak pernah mengenal dunia luar benar-benar ketakutan.
Saat itu juga, kebetulan Elbert melihatnya. Dia mengusir para anjing liar, menjadi penyelamat putri kecil yang polos itu.
"Lain kali cobalah untuk tidak membawa makanan seperti itu ketika keluar. Para anjing di tempat ini kelaparan dan sangat berbahaya.
Bau semacam itu akan menarik perhatian mereka. Apakah kamu mengerti?"
Mendengar ucapan Elbert, Melly yang terisak terus mengangguk. Mengerti kalau dirinya telah melakukan kesalahan.
"Aku akan mengantarmu kembali."
Tidak berani menyentuh, apalagi menggandeng tangan Melly, Elbert mengantar gadis itu pulang sampai rumahnya. Namun, gadis itu benar-benar tidak berbicara sepatah kata dalam perjalanan.
Pada akhirnya, mereka pun sampai di rumah Melly.
Elbert yang selesai mengantar sosok gadis itu pun berbalik untuk pergi. Lagipula, dia merasa tidak ada gunanya untuk tinggal di sana. Bocah itu takut dikira telah mengganggu Melly, jadi dia ingin segera pergi!
__ADS_1
"T-Tunggu ..."
Mendengar suara lembut dari belakang, Elbert menoleh.
Melihat ke arah Melly, Elbert memiringkan kepala dengan ekspresi bingung.
"Ada apa?" tanya Elbert.
"Nama!"
"Hah?!" Elbert tampak bingung.
"S-Siapa namamu!" ucap Melly dengan ekspresi gugup.
Melihat Melly bertanya namanya, Elbert tercengang. Dia tidak menyangka gadis yang dingin itu benar-benar menanyakan namanya.
Dengan senyum di wajahnya, Elbert akhirnya berkata.
"Kamu harus mengingatnya, namaku Elbert!"
"Elbert ..." gumam gadis itu. "Namaku Melly. T-Terima kasih sudah membantu dan mengantarku, Elbert."
"Sama sekali tidak masalah!"
Elbert tertawa dengan ekspresi bahagia di wajahnya. Menatap ke arah Melly, dia kemudian melanjutkan.
"Sudah hampir gelap. Aku akan kembali."
"B-Baik!"
Pada saat itu, keduanya akhirnya berkenalan.
Hanya saja, Elbert dan Melly tidak tahu. Dari balik jendela lantai dua rumah, tampak sosok yang sedang memandang mereka dengan ekspresi tak acuh. Namun ...
__ADS_1
Matanya tampak begitu dingin ketika melihat mereka berdua.
>> Bersambung.