Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Kenalan Lama


__ADS_3

note : karena bab sebelumnya terasa begitu pendek, saya menambahnya. agar tidak bingung, kalian bisa baca bab sebelumnya. terima kasih~


---


"I–Ini ..."


Lei Na menjadi gugup. Gadis itu merasa agak bingung. Tidak menyangka setelah mencari banyak cara, ternyata obat penawar bisa ditemukan semudah ini.


Meski tidak yakin bisa langsung menyembuhkan guru mereka, keduanya yakin bahwa guru akan menjadi lebih baik. Lagipula, Lei Fan dan Lei Na tahu bahwa pencapaian Mr Owl dalam pembuatan pil itu sangat baik.


Jika mereka tahu, sejak awal keduanya pasti akan langsung menemui Mr Owl. Keduanya benar-benar tidak menyangka ...


Mr Owl yang tampak dingin dan ganas itu memiliki sisi yang begitu baik!


"Terima kasih banyak, Mr Owl!"


Berbeda dari Lei Na yang kebingungan, Lei Fan lebih lugas. Dia langsung berterima kasih sambil membungkuk hormat. Tidak munafik atau mencari-cari alasan untuk menyanjung.


Melihat keduanya, Adam tersenyum.


"Sama-sama."


***


Malam harinya.


Ring! Ring! Ring!


Dalam perjalanan pulang, Adam yang sedang mengemudi mendengar ponselnya berdering. Melirik bahwa itu adalah nomor yang tidak dia kenal, pemuda itu memilih untuk mengabaikannya.


Akan tetapi, meski telah diabaikan, nomor itu terus menghubungi dirinya. Hal itu membuat Adam merasa agak aneh. Pada akhirnya, dia memilih untuk menepi di tempat tanpa ada tanda larangan untuk berhenti.


Adam kemudian mengangkat telepon dan bertanya.


"Halo?"


Mendengar suara penelepon, Adam mengangguk. Pada awalnya, pemuda itu terkejut. Namun setelah mendengar cukup lama, dia akhirnya membalas.


"Kalau begitu aku akan pergi ke sana."


Setelah itu, Adam menutup telepon. Kemudian menyalakan mesin mobilnya, dan pergi ke lokasi tujuan.


Berkendara tidak terlalu lama, Adam akhirnya sampai di Cafe Starlight. Ya. Cafe miliknya sendiri.


Di dekat jalan depan cafe, tampak sosok gadis yang berdiri dengan ekspresi agak kosong di wajahnya.


Adam berhenti di dekat gadis itu, lalu berkata.

__ADS_1


"Naik dulu. Kita akan membahasnya di jalan."


Melihat ke arah Adam, gadis itu awalnya agak ragu. Setelah beberapa saat, dia akhirnya naik lalu duduk di kursi co-pilot. Setelah menutup pintu dan memakai sabuk pengaman, mobil pun kembali melaju.


"Di Rumah Sakit mana?"


Mendengar pertanyaan Adam yang tiba-tiba, gadis itu tampak terkejut. Pada saat itu, suara pemuda itu kembali terdengar.


"Aku yakin kamu tidak akan berbohong untuk masalah penting semacam itu, Yui. Di mana ibumu dirawat sekarang?"


"A-Anu ... Bos ..."


"Ada apa?"


"Ibu saya mengalami kecelakaan kerja, dan pabrik tempat beliau bekerja tidak mau bertanggung jawab. Biaya yang diperlukan untuk operasi sangat mahal, jadi ...


Bahkan jika saya meminjam, mungkin ... mungkin saya tidak bisa segera melunasinya?"


"..."


Mendengar itu, Adam menghela napas panjang. Dia tahu apa yang dipikirkan gadis itu, tetapi sama sekali tidak berniat untuk membahasnya. Sebaliknya, pemuda itu malah berkata.


"Di mana ibumu dirawat? Kita bisa membahas hal itu nanti. Yang terpenting sekarang adalah memastikan kalau ibumu baik-baik saja, kan?"


Mendengar ucapan Adam, Yui merasa agak rumit. Melirik ke sosok pemuda tampan dan kaya itu, dia tidak menyangka kalau bosnya benar-benar mau meminjaminya uang.


"En. Ibu saya dirawat di ..."


Adam segera pergi menuju ke rumah sakit tempat ibu Yui dirawat.


***


Hampir tengah malam.


"Semuanya telah diurus."


Setelah membayar untuk biaya operasi dan rawat inap, Adam berkata kepada Yui.


Gadis itu mengangguk ringan. Dia merasa agak lega, tetapi juga merasa cukup tertekan. Setelah ditotal, biaya perawatan yang dianggap paling baik itu melebihi 150.000 dollar aliansi. Ditambah biaya kehidupan sehari-hari yang dia pinjam dari Adam, Yui berhutang 200.000 dollar aliansi kepada pemuda itu.


Meski bagi Adam tidak terlalu banyak. Namun bagi Yui dan orang-orang kelas bawah dengan penghasilan rendah, memerlukan waktu 2-3 tahun untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.


Itupun jika mereka terus menabung, hidup secara minimalis dan berhemat.


Jika meminjam dari bank, Yui jelas tidak bisa melakukannya karena perlu jaminan dan suku bunganya terlalu besar. Sedangkan meminjam ke orang-orang itu, gadis itu tidak cukup bodoh karena tahu dirinya pasti akan ditipu ... bahkan juga dimanfaatkan.


Melihat ke arah Adam yang masih tampak tenang, Yui segera membungkuk hormat.

__ADS_1


"Terima kasih banyak atas bantuan anda, Bos!"


Uhuk! Uhuk!


Pura-pura batuk, Adam melirik Yui dengan senyum masam.


"Aku tahu kamu senang, Yui. Namun kamu tidak perlu terlalu antusias. Lagipula, ini di depan umum."


Ya. Meski itu sudah malam, Adam masih merasa tidak berdaya dan agak canggung jika Yui berterima kasih dengan nada bersemangat seperti itu.


Yui yang sadar juga langsung memalingkan wajahnya. Gadis itu jelas merasa malu.


"Untuk uang itu, aku akan memotong separuh gaji bulananmu sampai hutang terlunasi.


Kamu bisa tenang. Aku tidak akan menambahkan bunga atau semacamnya. Hanya saja, kamu harus bekerja di cafe lebih lama, dan mungkin tidak bisa pindah bahkan setelah lulus."


Mendengar ucapan Adam, Yui mengangguk. Meski terdengar agak merugikan, dia juga tahu pemuda itu melakukannya agar dirinya tidak lari dengan hutang. Lagipula, jika dirinya keluar ... belum tentu dia akan mendapatkan pekerjaan lebih baik dan bisa segera melunasi hutang.


Tersenyum lembut ke arah Adam, Yui dengan tulus berkata.


"Terima kasih banyak, Bos."


"Sama-sama."


Adam mengangguk ringan.


Meski sekarang pemuda itu bisa mendapatkan banyak uang dengan mudah, dia tidak akan begitu bodoh untuk langsung memberi Yui uangnya. Lagipula, pemuda itu juga mendapatkan uangnya dengan cara bekerja.


Selain itu, akan terasa aneh jika dirinya memberi uang Yui secara cuma-cuma. Bahkan terlihat mencurigakan. Dalam segi manapun, itu tidak akan terlihat baik.


Yui pasti akan menduga bahwa dirinya memiliki maksud tersembunyi atau semacamnya. Jadi memberinya pinjaman tanpa bunga dan tanpa batas waktu pembayaran sudah sangat baik. Jika lebih, itu malah akan menjadi buruk.


"Kalau begitu, kamu bisa menemani ibumu. Kamu boleh libur bekerja selama tiga hari. Semoga dalam waktu tersebut, ibumu telah membaik.


Apapun yang terjadi, kamu harus menghubungi setelah tiga hari. Kita bisa memutuskan tindak lanjut nanti."


Setelah mendengar perkataan Adam, Yui akhirnya memilih pamit untuk segera menemui ibunya.


Melihat sosok gadis yang menghilang di kejauhan, Adam menghela napas.


"Tampaknya beberapa kenalan sedang dalam masalah akhir-akhir ini."


Mengucapkan itu, mata Adam menyempit. Dia diam-diam berpikir.


Hanya saja ... semuanya jelas tidak sesederhana itu.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2