
Adam kemudian mengambil batu kelabu yang tampak aneh itu, kemudian deskripsi batu muncul di benaknya.
[ Abyss Jade ]
Sebuah giok yang dirumorkan dibawa oleh iblis dari neraka. Sangat disukai oleh makhluk tipe hantu, zombie, dan sejenisnya. Salah satu bahan yang digunakan untuk meningkatkan Spirit Beast tipe yang disebutkan naik ke tingkat silver.
...
Melihat deskripsi item tersebut, ekspresi Adam tampak rumit. Dia senang menemukan item yang terbilang ‘baik’, tetapi juga tertekan karena benda itu tidak bisa digunakan untuk Nix. Namun dia juga tampak puas. Alasannya adalah …
Pemuda itu mendapat drop yang berlimpah dari monster yang nyaris membunuhnya!
Adam memasukkan Abyss Jade ke dalam slot inventory miliknya lalu membuka panel status.
...***...
[ Spirit Hunter System ]
Name : Adam Bladefield
Level : Bronze Spirit (High)
Cultivation Technique : Golden Sun and Silver Moon
Battle Skill : Autumn Sword (competent)
Other Skill : -
Spirit Beast : Black Chicken (Mid-Bronze)
Beast Skill : Suzaku’s Cry (Bronze)
Item Bag : Spirit Bead (bronze) x16, Abyss Jade (silver) x1
...***...
“Lima belas Spirit Bead! Benar-benar panen yang memuaskan!”
Adam tampak puas. Tentu saja, jika disuruh melawan makhluk seperti itu lagi, dengan kekuatannya yang sekarang … dia akan menolak dengan senyum di wajahnya. Pemuda itu tahu alasan dirinya bisa menang adalah karena dorongan adrenalin dan keberuntungan. Adam masih tidak ingin bermain-main dengan hidupnya sendiri.
Karena penasaran, Pemuda itu menyentuh bangkai monster itu. Apa yang mengejutkan adalah bagaimana System miliknya mendeteksi.
[ Mutated Catfish Carcass ]
Bangkai dari Ikan Lele Bermutasi. Bisa dikonsumsi secara langsung atau dikombinasikan untuk membuat berbagai jenis ramuan.
...
__ADS_1
Adam menatap sosok monster itu dan tercengang.
“Ini … benar-benar ikan lele? Apakah system bercanda kepadaku? Bagian mana yang mirip dengan ikan lele!” seru Adam dengan ekspresi tidak puas.
Meski begitu, Adam masih bersyukur karena bangkai itu termasuk item dan bisa dimasukkan ke dalam inventory miliknya. Setelah memasukkannya, pemuda itu melihat kata ‘Mutated Catfish Carcass (bronze) x1’ di kolom Item Bag.
Melihat ke arah Nix yang linglung, Adam tiba-tiba berkata dengan senyum di wajahnya.
“Kamu telah berusaha. Untuk hari ini … tidak ada latihan. Selain itu, kamu boleh makan apapun yang kamu mau.”
Mendengar suara Adam yang lembut sambil memandang wajah tampannya, Nix langsung tercengang. Dia menoleh ke kiri dan kanan dengan wajah konyol, tidak percaya Bos kejam itu bersikap baik kepadanya.
‘Apakah Tuan Nix ini sedang bermimpi? Tidak ada latihan yang membuat cakar dan paruh mati rasa? Tidak ada diet dan makan sepuasnya?
Apakah Bos kejam ini melukai kepalanya ketika bertarung dengan monster jelek itu? Ya, maaf mengatakanmu jelek, Bung. Tuan Nix berhutang budi padamu!
Yakinlah! Daripada dijadikan sup, Tuan Nix akan menyuruh Bos kejam memajang bangkaimu.’
Sementara Adam tampak senang, Nix yang memiliki konflik dalam hati juga tampak bahagia. Keduanya berjalan bersama menuju mobil sebelum kembali ke apartemen. Ya, bukan cafe, tetapi apartemen yang jarang pemuda itu tinggali.
Di tempat parkir gedung apartemen.
Adam yang baru keluar dari mobil langsung menjadi pusat perhatian banyak orang. Berbeda dari biasanya, orang-orang menatapnya dengan ekspresi kaget, kagum, bahkan ngeri
Hal itu disebabkan karena pakaian pemuda itu robek di beberapa tempat. Bahkan bekas luka yang terlihat seperti tusukan atau sayatan tampak di tubuhnya yang seperti ukiran batu giok.
“Apakah orang itu mafia? Pertarungan antar kelompok?”
“Lihat ekspresinya. Dengan bekas luka seperti itu, dia masih tak acuh. Benar-benar terlalu ganas!”
“Dari kelompok mana dia? Auranya sudah sangat berbeda dengan orang biasanya. Aku harap Bos tidak berurusan dengan kelompok pemuda itu,” ucap salah satu orang berpakaian layaknya gangster.
“...”
Sementara itu, Adam yang terlihat tak acuh sebenarnya mengeluh dalam hati.
Ugh! Benar-benar memalukan! Lain kali, ketika berburu … aku harus memastikan membawa pakaian ganti!
Sampai di apartemen miliknya, Adam segera mandi lalu berganti pakaian. Berubah dengan pakaian santai, kaos longgar dan celana pendek warna hitam, pemuda itu berbaring di sofa ruang keluarga untuk bersantai.
Pada saat itu, Adam juga mengeluarkan sosok Nix dari lautan jiwanya. Si ayam yang baru keluar dari lautan jiwa tampak bingung. Benar-benar merasa aneh karena ada di lingkungan yang baru.
Melihat debu yang agak tebal di mana-mana karena jarang Adam tinggali, Nix menatap sosok tuannya dengan heran. Tidak menyangka bahwa tuannya suka ‘membangun sarang’ di banyak tempat. Seolah menyadari sesuatu, si ayam menatap tuannya dengan ekspresi terkejut.
‘Bos jahat itu … suka bermain dengan betina yang berbeda-beda? Satu betina setiap sarang? Berarti … tiga betina?’
Jika Adam yang berbaring malas itu tahu yang sedang dipikirkan oleh Nix, pemuda itu pasti sudah membuat Nix menjadi sup ayam ginseng. Tentu saja pemuda itu memiliki beberapa rumah atau bangunan yang bisa dianggap sebagai aset miliknya.
__ADS_1
Tanah dan rumah, Adam lebih menyukai itu daripada uang. Namun bukan berarti dia tidak memiliki tabungan berupa uang di dalam rekeningnya. Membeli rumah untuk menyembunyikan wanita? Alasan macam apa itu!
Ring! Ring! Ring!
Ketika Adam hampir tertidur, pemuda itu dikejutkan dengan bunyi ponselnya. Melihat kalau itu dari nomor yang tidak dikenal, dia agak bingung. Adam mengangkat telepon, menjawab dengan ekspresi mengantuk.
“Halo?”
“Halo, Adam. Apakah kamu ada waktu?”
Mendengar suara Jennifer, sudut bibir Adam berkedut. Dia hampir lupa telah memberikan nomor teleponnya kepada wanita itu. Menghela napas dalam hati, pemuda itu menjawab lemah.
“Aku senggang. Ada apa, Jennifer?”
“Jangan lupakan janjimu. Malam minggu, kita akan makan malam bersama, kan? Kamu tidak akan lupa, kan?”
“Tentu saja aku tidak lupa. Ada masalah lain?” Adam yang lelah dan mengantuk berkata dengan nada malas.
“Suaramu terdengar seperti orang kelelahan? Apakah cafe sangat sibuk hari ini?”
“Tidak tahu.” Adam membalas santai. “Aku sama sekali tidak pergi ke cafe hari ini.”
“Lalu, kenapa kamu lelah? Jangan bilang, kamu malah pergi bersama gadis lain!”
“...”
Adam terdiam sejenak. Melihat Jennifer seperti harimau betina yang diinjak ekornya, pemuda itu sedikit bingung harus merespon bagaimana. Pada akhirnya, dia berkata jujur.
“Aku mengunjungi sungai itu lagi dan berjaga semalaman. Aku baru pulang belum lama ini.”
“Eh? Kamu pergi ke sana sendirian? Bukankah itu berbahaya? Jangan terlalu memaksakan diri.”
Mendengar suara Jennifer yang awalnya seperti harimau menjadi lembut seperti kucing, Adam benar-benar tidak tahu harus berkomentar bagaimana.
Wanita ini … suasana hatinya benar-benar mudah berubah.
“Kalau begitu segera istirahat. Jangan lupa makan, nanti malam aku akan menelepon lagi.”
Adam ingin berkata kalau Jennifer tidak perlu menelepon lagi, tetapi yang terucap di mulutnya hanya kata. “Baik.”
“...”
Tut tut tut …
Setelah mendengar suara telepon terputus, Adam menghela napas lega. Ketika hendak menoleh, dia melihat Nix yang memandangnya dengan tatapan menghina.
‘Membuat sarang di mana-mana tetapi masih takut kepada si betina. Bos yang kejam, kamu sungguh sia-sia … ya, sungguh sia-sia!’
__ADS_1
>> Bersambung.