Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Telah Terselesaikan


__ADS_3

"SMA Blue Rose??? Apa yang Yui lakukan di tempat seperti itu?"


Mendengar ucapan Adam, Hikari malah menjadi bingung. Meski begitu, dia tahu bahwa pemuda itu tidak membohongi dirinya.


"Aku tidak tahu, Hikari. Mungkin ... mengunjungi tempat saudari neneknya?"


Perkataan Adam membuat Hikari mengerutkan kening.


Tentu saja, wanita itu tahu kisah dimana saudari ibunya meninggal karena bunuh diri. Ibunya dulu juga sering mengirim bunga ke tempat itu semasa hidupnya.


"Yui seharusnya tidak mengenal Bibi, karena aku sendiri juga tidak mengenalnya."


"Mungkin dia ingin berbagi masalah. Karena tidak ada teman yang bisa dia percaya, gadis itu pergi ke sana?"


"Kenapa tidak ke makam neneknya?"


"Mungkin karena cukup ramai, tidak tenang untuk bercerita?"


"..."


Mendengar Adam membalas setiap pertanyaannya, Hikari menghela napas.


"Apakah kamu tidak tahu jawaban yang pasti?"


"Tidak. Sebagai ibunya, kamu bahkan tidak tahu. Belum lagi aku ..."


Adam menggelengkan kepalanya.


"Kamu benar ..."


Hikari bergumam dengan ekspresi tertekan. Setelah beberapa saat, dia akhirnya memutuskan.


"Mari bawa Yui ke Rumah Sakit. Namun bisakah kamu membayarnya terlebih dahulu? Aku akan menggantinya setelah—"


"Tidak perlu!"


Suara dingin langsung menyela Hikari.


Menoleh ke sumber suara, Adam dan Hikari melihat Yui yang berjalan sambil memegangi dinding. Ekspresinya tampak pucat, dan dia tampak begitu lelah.


"Kamu sudah sadar, Yui!"


Hikari langsung bangkit dari tempat duduknya dan mendekati putrinya. Namun saat itu, Yui malah berteriak.


"Jangan mendekat! Aku tidak butuh bantuanmu!"


"Tapi Yui—"


"Aku bilang jangan mendekat!"


Yui berteriak. Dia kemudian menatap ke arah Adam. Melihat sosok pemuda tampan itu, ekspresinya menjadi semakin rumit.


"Aku tidak menyangka kalau kamu lelaki seperti itu ... Kak Adam!


Padahal kamu tampak begitu baik. Kamu juga memiliki pasangan cantik seperti Petugas Jennifer! Namun ternyata kamu sama dengan para pria hidung belang itu!


Kamu penipu! Penipu yang lebih berbahaya karena tidak terlihat dari sampulnya!"


"..."


"Kamu juga, Ibu! Ternyata selama ini kamu berbohong kepadaku!

__ADS_1


Bukankah kamu selalu menyuruhku untuk menjadi gadis baik? Tapi kamu sendiri malah melakukan hal-hal kotor semacam itu!


Awalnya aku senang melihatmu bahagia setelah sembuh. Namun ketika kamu kembali larut, ketika ada oleh-oleh yang begitu banyak dan mahal ...


Aku mulai curiga. Dan ternyata semua itu benar.


Kamu ... Kamu benar-benar menggoda Bos putrimu sendiri, padahal usia kalian terpaut jauh!


Apakah kamu senang bisa memanfaatkan Kak Adam?! Berapa banyak dia membayar kamu untuk menemaninya?!


Itu karena hutang? Kamu tidak percaya kalau putrimu bisa melakukannya sendiri lalu menjual tubuhmu? Atau ... kamu memang sering melakukannya?


Lagipula, kamu memang tampak awet muda dan cantik!"


"..."


"Setelah aku memikirkannya. Aku beberapa kali sakit dan masuk rumah sakit saat SD dan SMP.


Aku tidak tahu dari mana kamu mendapatkan uangnya. Apakah kamu juga menjual ketika butuh, lalu bertingkah baik dan polos ketika tidak butuh?


Lagipula ... Aku tidak punya ayah, kan?! Bahkan kamu tidak pernah menikah!"


PLAK!


Bukannya Hikari, tetapi Adam yang menghampiri dan langsung menampar mulut Yui.


"Kamu tidak boleh berbicara kepada ibumu seperti itu, Yui."


"KAMU SEHARUSNYA DIAM, ORANG LUAR!"


Yui berteriak pada Adam dengan ekspresi marah. Air mata memenuhi wajahnya.


"Kamu harus diam sebentar ... Yui!"


"Sudah ... HENTIKAN!"


Hikari berteriak dengan wajah berlinang air mata.


"Kalian berdua diam dulu."


Adam berkata dengan dingin. Meski awalnya agak enggan, karena situasi mulai di luar kendali, pemuda itu langsung memaksa ibu dan anak itu pergi ke ruang keluarga.


Adam kemudian menyuruh Hikari bercerita. Bahkan memaksanya untuk menceritakan semua masa lalunya dan apa yang telah terjadi sampai sekarang.


Pemuda itu juga menyuruh Yui bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi akhir-akhir ini.


Setelah mereka berdua bercerita, Adam akhirnya paham situasinya.


Ya ... semuanya disebabkan oleh salah paham, karena dirinya.


Lagipula, hidup di lingkungan pertemanan yang toxic (beracun, suka mengatai atau menghina seseorang tanpa memandang diri sendiri) membuat gadis seperti Yui, yang tidak memiliki ayah menjadi target.


Hal itu membuatnya tertekan. Dia telah menahannya sejak kecil, tetapi melihat sesuatu yang janggal pada ibunya, gadis yang pikirannya mulai dicemari oleh teman-temannya itu jelas memikirkan banyak kemungkinan buruk. Dan akhirnya menuju ke arah salah paham yang mungkin bisa menghancurkan keluarga mereka.


"Sebenarnya begini ..."


Setelah Hikari dan Yui bercerita, Adam mengisi celah gelap yang membuat keduanya saling curiga dengan ceritanya. Tentu saja, kali ini dia jujur menceritakan kisah yang bersangkutan dengan mereka berdua.


Setelah semua salah paham diselesaikan, Adam menghela napas lega.


Sementara itu, Hikari menatap ke arah Yui.

__ADS_1


"Maafkan ibu, Yui, karena ibu tidak bisa menjadi yang terbaik untukmu. Kamu juga mendapatkan banyak masalah karena ibu."


"Hiks! Hiks! Hiks!"


Yui yang telah mendengar semuanya akhirnya terus menangis sambil memeluk ibunya.


"Maafkan Yui, Ibu. Yui benar-benar tidak tahu. Yui tidak tahu kalau ibu telah mengalami hal berat seperti itu dalam membesarkan Yui.


Sekarang Yui sudah dewasa, jadi tolong berbagilah cerita dengan Yui. Jangan menanggungnya sendiri."


"..."


Hikari memeluk putrinya dengan lembut. Menghapus air mata di wajah gadis itu, dia berbisik.


"Terima kasih, Yui."


Adam yang melihat keduanya hanya bisa tersenyum lembut.


"Apakah kalian baik-baik saja sekarang?"


Mendengar ucapan Adam, Hikari dan Yui melihat ke arahnya.


"Ini salahmu, Kak Adam! Seharusnya kamu tidak memperlakukan setiap perempuan dengan baik."


"Ya. Kebaikanmu malah membuat banyak kesalahpahaman."


"..."


Melihat keduanya protes, Adam hanya diam.


"Belum lagi, ibu tadi bilang kamu menawarinya untuk jadi yang ke-3? Apakah kamu begitu tidak tahu malu, Kak Adam?"


"Tidak ada hukum yang melarang, kan? Bukankah kamu juga tahu hidup ibumu berat? Bukankah akan baik kalau aku bisa membuatnya bahagia?


Atau ... kamu cemburu?"


"Hmph!"


Melihat Adam menggodanya, Yui mendengus dingin.


"Kamu benar-benar tidak tahu malu, Kak Adam. Aku menyesal telah mengagumimu sebelumnya."


"Ya ... aku memang b-jingan beruntung. Tidak seperti perempuan lain, aku juga bingung karena mereka benar-benar mau membagi cinta.


Padahal aku tahu kalau hal itu berat. Ya, aku bahkan tidak mau melihat salah satu wanitaku dekat dengan laki-laki lain.


Itu egois, bukan?"


"Sangat Egois!" ucap Hikari dan Yui bersamaan.


Mendengar jawaban mereka, Adam terkekeh.


"Ya ... Begitulah diriku."


Adam berkata santai.


Hikari dan Yui saling memandang, sebelum akhirnya menghela napas panjang.


Mengabaikan ekspresi keduanya, Adam hanya merasa lega dalam hatinya. Karena ...


Salah paham telah terselesaikan!

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2