Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Menyesal Telah Memilihmu!


__ADS_3

Beberapa hari berlalu begitu saja, Adam akhirnya kembali ke kota B!


Dua hari berangkat, tiga hari tinggal, dan dua jari pulang. Adam menghabiskan total waktu satu minggu dalam perjalanan tersebut.


Tentu saja, karena mampir di kota perbatasan antara dua daerah, Adam membawa pulang beberapa oleh-oleh. Selain membawakannya untuk kedua kekasihnya, dia juga membawakan oleh-oleh untuk pegawai Cafe Starlight.


Berkata kalau dia pulang dari liburan.


Lagipula, sebagian dari mereka adalah teman Adam ketika masih di panti asuhan. Dia juga ingin membangun citra bos baik hati, agar membuat para pegawainya lebih betah dan bersemangat dalam bekerja.


Tentu saja, dia juga mengirim cukup banyak ke panti asuhan.


Sebenarnya Adam ingin membawa oleh-oleh untuk Nicholas, tetapi pria itu benar-benar masih bersemangat tinggal di Kota D. Sama sekali tidak ingin pulang!


'Benarkah dia menemukan pacar di sana?'


Tidak ingin memikirkan itu, Adam menggelengkan kepalanya.


Pada akhirnya, Adam memikirkan seseorang dan membawa jatah oleh-oleh kepada orang itu. Ya, dia hanya tidak ingin mengirimnya ke ayah Nicholas, karena pria paruh baya itu sudah terlalu kaya.


Sebuah mobil berhenti di pinggir jalan.


"Aku ada di depan rumahmu."


Setelah mengatakan itu, Adam menutup telepon lalu keluar dari mobil. Dia melihat rumah cukup tua, tetapi tampak bersih dan terawat di depannya.


Pintu rumah terbuka dan sosok wanita cantik keluar dari rumah.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Nak Adam?"


"Membawakan kamu oleh-oleh."


Adam berkata santai sambil berjalan menuju ke arah Hikari.


Wanita itu agak terkejut ketika menerima oleh-oleh dari Adam. Dia menatap pemuda itu dengan ekspresi rumit. Namun sebelum berbicara, Adam langsung berkata.


"Aku pergi untuk perjalanan bisnis, ya ... sekaligus liburan. Kalau begitu aku akan kembali."


"Tunggu!"


Melihat Adam berbalik untuk pergi, Hikari memanggil.


"Iya?"


Adam berhenti berjalan dan menoleh ke arah Hikari.


"Masuk terlebih dahulu, aku akan membuatkan kamu teh."


"Hah?"


Mendengar ucapan Hikari, Adam sedikit terkejut. Pemuda itu memikirkan sesuatu sebelum akhirnya berkata.


"Apakah kamu tidak takut tetangga salah paham dan berbicara buruk tentangmu?"


"Jika kamu tidak ingin mereka membicarakan aku, seharusnya kamu tidak mengantarku pulang atau datang membawa oleh-oleh.


Kamu bisa menitipkan oleh-oleh kepada Yui di tempat kerja, kan?"


"..."


Melihat Adam diam, Hikari kembali berkata.


"Masuk saja."


Setelah berpikir singkat, Adam akhirnya memutuskan untuk mampir terlebih dahulu.


"Permisi," ucap Adam ketika memasuki rumah.


Melihat punggung Hikari, pemuda itu segera menjelaskan.


"Aku juga telah menyiapkan untuk Yui di Cafe. Namun aku membagi semuanya dengan merata.

__ADS_1


Aku tidak ingin para pegawai lain merasa pilih kasih jika aku memberi Yui lebih banyak."


Setelah mendengarkan Adam, wanita itu kemudian berkata dengan lembut.


"Duduk dulu."


"Baik."


Duduk di kursi, Adam melihat sekeliling. Dinding memiliki cat yang telah memudar. Di sana tampak beberapa foto yang dipajang. Foto muda Hikari dengan mendiang ibunya, foto Yui dan Hikari ... dari Yui TK sampai SMP.


Ya. Meski hanya foto kelulusan, setidaknya masih ada beberapa kenangan.


"Silahkan diminum," ucap Hikari.


Melihat teh panas yang masih mengepul, Adam tidak banyak bicara.


"Kamu seharusnya tidak perlu repot-repot membawakan aku oleh-oleh."


Mendengar ucapan Hikari, Adam berkata dengan ekspresi lembut di wajahnya.


"Maaf membuatmu dalam masalah."


"Bukan itu ..." Hikari menghela napas panjang. "Kamu pengusaha muda yang tampan dan kaya, bahkan memiliki dua pacar. Seharusnya kamu tidak dekat-dekat dengan wanita tua sepertiku. Itu akan membuatmu dalam masalah."


Melihat ke arah Hikari, Adam tersenyum.


"Aku tidak takut masalah."


Mendengar itu, Hikari tertegun. Namun sebelum dia sempat merespon, pemuda itu sekali lagi bertanya.


"Apakah kamu sudah mendapatkan pekerjaan?"


Hikari menghela napas.


"Jika sudah, apakah aku akan duduk di rumah di siang hari seperti ini?"


"Mungkin saja bekerja di restoran pada malam hari?"


"..."


"Intinya, aku belum mendapatkan pekerjaan. Kenapa? Ingin aku bekerja di Cafe milikmu juga?


Kamu tahu itu tidak mungkin, kan? Rasanya pasti canggung, baik untukku atau Yui. Mungkin gadis itu juga akan malu jika bekerja dengan ibunya."


Melihat ke arah Hikari yang tersenyum masam, Adam menggelengkan kepalanya.


"Yui tidak akan malu, tetapi aku tidak ingin menawarkan kamu untuk bekerja di Cafe Starlight."


Mendengar Adam, Hikari langsung menjadi waspada.


"Jangan bilang—"


"Tidak." Adam menggelengkan kepalanya. "Aku ingin menawarkan pekerjaan lain."


"Pekerjaan lain?"


"Ya. Meski tidak banyak, aku memiliki saham dalam beberapa bisnis di daerah B.


Aku bisa meminta mereka untuk memasukkan kamu. Membiarkan kamu bekerja di sana.


Hotel tidak mungkin ... karena aku tidak ingin. Sedangkan restoran, apakah kamu mau mencoba bekerja di sana?"


"Restoran? Itu restoran normal, kan? Aku tidak perlu memakai pakaian aneh atau semacamnya?"


"Tentu saja restoran normal."


Adam menghela napas karena wanita itu benar-benar waspada terhadap dirinya.


"Atau kamu mau bekerja di perusahaan? Ayah sahabatku memiliki perusahaan, dan gajinya juga lebih besar."


"Tidak perlu. Aku akan bekerja di restoran saja."

__ADS_1


"Ya." Adam mengangguk. "Meski kebanyakan malam, aku akan memilihkan yang siang untukmu. Aku akan menghubungi mereka, dan memberimu kabar setelah itu."


Setelah mengatakan itu, Adam meminum teh lalu bangkit dari tempat duduknya.


"Kalau begitu aku akan pulang."


Seolah mengingat sesuatu, Adam menambahkan.


"Tiga hari kemudian seharusnya kamu sudah mulai bekerja, jadi bersiaplah.


Karena kamu baru saja sembuh, seharusnya lebih banyak beristirahat. Namun kamu bisa tenang, pekerjaan itu pasti tidak akan begitu melelahkan."


Selesai mengatakan itu, Adam pergi. Sebelum keluar dari pintu, suara Hikari terdengar.


"Terima kasih banyak atas segalanya, Adam."


Mendengar itu, Adam hanya tersenyum sebelum pergi.


***


Keesokan harinya, Adam keluar kota untuk pergi ke rumahnya.


Alasan dia melakukannya karena ingin melakukan evolusi Spirit Beast. Karena setiap lompatan level, pasti akan ada perubahan khusus.


Dalam rumahnya, seorang pemuda dan seekor ayam saling memandang.


"Karena kamu partner pertama sekaligus memiliki kekuatan ofensif cukup, aku memilihmu, Nix.


Apakah kamu paham?"


Nix si ayam membuat gerakan menepuk dada dengan sayapnya. Seolah berkata,


'Serahkan semuanya kepadaku.'


Melihat si ayam sombong, Adam menghela napas panjang. Dia merasa, ayam bau itu akan menjadi lebih sombong jika telah menjadi Suzaku yang sebenarnya.


Memasukkannya semua item dan Spirit Bead yang dibutuhkan, Adam kemudian memutuskan untuk membuat Nix berevolusi.


Setelah seluruh bahan diserap oleh Nix, tubuh ayam itu melayang di udara dan berputar beberapa waktu.


Nix menutup matanya, tampaknya sangat bersemangat karena sesuatu. Tiba-tiba ...


Cahaya keemasan langsung menerangi seluruh ruangan.


Adam yang cukup sensitif terhadap cahaya karena penglihatannya langsung menutup mata dan berpaling.


Hampir satu menit kemudian, cahaya akhirnya padam.


Adam langsung melihat ke arah Nix yang menyelesaikan transformasi. Pemuda itu langsung tertegun melihat perubahan si ayam yang 'luar biasa'.


'Emas!'


Itu adalah kaya yang dipikirkan oleh Adam ketika melihat Nix untuk pertama kali.


Setelah evolusi, seluruh bulu ayam itu berubah menjadi warna emas. Warna hitam sebelumnya benar-benar menghilang. Kecuali wajah, paruh, dan cakar yang berwana hitam ... yang lain berwarna emas.


Ya! Hal itu langsung membuat sudut bibir Adam berkedut.


"Ayam emas berwajah hitam???!"


Mengatakan itu, Adam tidak bisa tidak berteriak dalam hati.


'Keluar kau, System K-parat! Bagian mana dari ayam ini yang mirip Suzaku atau Phoenix?!


Dia hanya seekor ayam berwajah hitam!'


Adam menatap ke arah Nix yang mengangkat kepalanya dengan ekspresi bangga. Tampaknya merasa puas dengan bulu berwarna emas miliknya.


Hak itu membuat Adam semakin tidak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa mengeluh dalam hati.


'Omong kosong suci! Aku benar-benar menyesal telah memilihmu untuk berevolusi!'

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2