
Dalam ruang tamu rumah kepala desa.
Setelah perkenalan singkat, yang tidak perlu dijelaskan, Adam mengunjungi rumah kepala desa dan berniat untuk menanyakan informasi.
"Maaf karena hanya bisa menyajikan hidangan seadanya, Tuan-tuan."
Melihat teh hangat serta beberapa camilan khas desa, Adam sama sekali tidak merubah ekspresinya.
"Terima kasih atas keramahan anda, Kepala Desa. Kami datang kemari untuk melapor kepada anda dan meminta informasi terbaru terkait wabah aneh yang menyerang warga desa.
Kalau tidak salah, mereka memiliki gejala demam dan kulit mereka memburuk, kan? Apakah ada hal lainnya?
Saya sampai lupa, bagaimana cara penularannya?"
Melihat ke arah Adam yang begitu tenang, bertanya tanpa nada sombong atau rendah hati membuat kepala desa diam-diam mengangguk. Dia mengira kalau petugas yang datang akan menjadi sombong atau semacamnya.
"Selain kulit mereka memburuk, keringat yang keluar dari tubuh mereka benar-benar berbau busuk.
Sedangkan untuk penyebarannya, mereka menyebar melalui ludah, darah, dan berbagai cairan lain. Jadi ketika merawat mereka, kami harus mengenakan sarung tangan karet. Kami juga tidak boleh menggunakan peralatan yang digunakan oleh pasien."
"Tidak menyebar lewat udara, kan?"
"Tidak, Pak."
"Mungkinkah mereka keracunan makanan? Apakah mereka memakan sesuatu yang aneh sebelumnya?"
"Hmmm ..." Kepala desa berpikir cukup keras sebelum tiba-tiba tersadar. "Jamur. Kebanyakan warga desa kami sebelumnya memetik jamur dan memakannya. Namun, anehnya ... sebagian orang baik-baik saja? Kami juga merasa kalau jamur itu tidak beracun."
"Merasa? Apakah kalian tidak yakin?"
"Ah! Itu ... ada tetua desa yang tahu banyak. Beliau juga memetik dan memakan jamur tersebut. Jadi seharusnya tidak ada masalah dengan jamurnya."
"Benarkah?"
"Memang seperti itu, Pak."
Mendengar itu, Adam mengangguk ringan.
"Di mana kalian menemukan jamur tersebut? Apakah spesies yang masih bisa kalian kenali?"
"Kami tidak mengenali jenis jamur tersebut, Pak. Namun rasanya benar-benar enak. Juga, bisa menambah vitalitas. Uhuk! Uhuk!"
Menyadari kalau ada wanita di antara petugas khusus, kepala desa langsung batuk. Lelaki tua itu tampak agak malu. Melihat kalau Adam dan rekan-rekannya masih tenang, dia melanjutkan.
"Sedangkan untuk lokasi keberadaan jamur tersebut, mereka ada di sebuah goa yang baru saja ditemukan karena tanah runtuh. Lokasinya dalam hutan selatan desa."
"Hmmm ..."
Kata lubang persembunyian membuat Adam tanpa sadar mengingat tempat dimana dia menemukan Rose Pattern Blood Spider. Tempat yang sengaja disembunyikan, dan memiliki pemiliknya tersendiri.
__ADS_1
Menghubungkan beberapa hal, Adam tersenyum.
"Terima kasih atas informasinya, Kepala Desa. Kalau begitu, maukah anda mengantar kami ke tempat orang-orang dikarantina?"
"Eh???"
"Karena kami harus membuat laporan lengkap saat melakukan penyelidikan, kami juga ingin memeriksa kondisi orang-orang yang keracunan tersebut."
Kepala desa menatap sosok Adam dengan ekspresi kagum. Tidak menyangka kalau ada pegawai pemerintahan yang begitu serius dalam bekerja. Sama sekali tidak meninggalkan detail kecil!
"Kalau begitu tolong ikuti saya, Pak!"
Adam mengangguk ringan lalu menatap ke arah teman-temannya.
"Kalian tinggal di sini dan beristirahat terlebih dahulu. Setelah aku kembali, kita akan pergi ke hutan."
Adam kemudian menatap ke arah kepala desa.
"Maaf merepotkan anda, tapi tidak apa-apa, kan?"
"Suatu kehormatan bagi saya, jika bisa membantu kalian, Pak."
"Kalau begitu tolong."
Setelah itu, Adam dan kepala desa pergi keluar dari rumah. Langsung menuju ke tempat karantina.
***
Dalam pemeriksaan sebelumnya, apa yang dikatakan oleh kepala desa sama sekali tidak bohong. Semua warga yang sakit ternyata pernah makan jamur sebelumnya. Tubuh mereka demam, dan kulit mereka tampak buruk. Baunya juga tidak sedap.
Hanya saja, ada hal kecil yang terlewat karena tidak mencurigakan jika dibandingkan mereka yang telah memakan jamur aneh. Itu juga penyebab kenapa sebagian orang tidak sakit padahal telah memakan jamur.
'Sengatan serangga, kah?'
Pikir Adam ketika mengingat bekas luka orang-orang yang dikarantina.
Melihat ke arah teman-temannya yang bersantai di ruang tamu, Adam langsung berkata.
"Persiapkan diri kalian. Waktunya untuk berangkat."
Mendengar ucapan Adam, kelima orang itu berdiri dan bersiap. Namun mereka semua memandang ke arah sosok bertopeng merah itu. Melihat pemuda itu mengangguk, mereka cukup terkejut, karena dalam waktu singkat ketua mereka telah menemukan petunjuk penting.
Adam kemudian menatap kepala desa lalu berkata.
"Terima kasih atas keramahan anda, Kepala Desa."
"Terima kasih kembali, Pak!"
Setelah berpamitan, Adam pergi sambil membawa keranjang bambu yang dia minta dari kepala desa. Dia juga mengambil empat toples dari mobil. Karena mereka memang membawa beberapa benda, mempersiapkan beberapa kemungkinan.
__ADS_1
Adam kemudian pergi bersama rekan-rekannya, kecuali Glenn yang memilih menjaga mobil karena takut pergi ke hutan.
Adam dan teman-temannya melewati jalan setapak. Mereka terus pergi, dan akhir sampai di tempat dengan vegetasi lebih padat. Rerumputan lebih tinggi, dan pepohonan semakin banyak.
"Jadi, apakah kamu menemukan sesuatu, Mr Owl?"
Mendengar pertanyaan James, Adam yang terus berjalan ke depan menjawab dengan tenang.
"Kemungkinan besar, penyebabnya adalah manusia."
"Hah? Manusia?"
"Ya. Jika aku tidak salah, seharusnya ada Kultivator yang dengan sengaja menanam jamur tersebut.
Tentu saja, karena tidak memiliki waktu untuk terus menjaga jamur, dia menggunakan sejenis serangga beracun untuk menjaga tempat itu.
Setelah memeriksa orang-orang yang dikarantina, aku tahu mereka disengat oleh serangga."
"Bukankah itu berarti warga yang salah?"
"Aku tidak akan menyangkalnya, tetapi itu juga sifat manusia, kan?
Mereka akan tamak akan sesuatu yang berharga. Ya ... meski aku merasa jamur yang mereka sebutkan tidak seberharga itu. Namun yang membuatku penasaran ...
Tampaknya Kultivator tersebut tidak hanya memelihara jamur. Karena jamur, meski menambah vitalitas, tidak akan terlalu berharga bahkan jika itu cukup langka."
"Lalu? Apakah kita akan menggali harta karun atau semacamnya, Mr Owl?"
"Menggali harta karun dan menaruhnya dalam keranjang bambu? Apakah kepalamu baik-baik saja, James?"
"..."
"Kami datang untuk memetik jamur, okay?"
"Lalu, apa yang kamu sebutkan tadi?"
"Itu hanya perkiraan. Aku bahkan belum melihat jamurnya. Mungkin saja Kultivator itu memang kekurangan uang?
Meski tidak begitu mahal, ada beberapa jamur dengan harga luar biasa kan. Jamur matsutake misalnya? Mungkin jamur sejenis itu yang dia tanam.
Ya ... meski cukup sulit jika berkultivasi hanya dengan mengandalkan uang dari jamur."
"..."
Melihat teman-temannya diam, Adam juga tidak lagi banyak bicara karena ... mereka akhirnya tiba di lokasi yang ditunjukkan.
"Tempat suram, jauh di dalam hutan, bahkan berlumpur dan cukup kotor. Pantas saja para petugas sebelumnya tidak ingin datang."
Adam terkekeh, menunjukkan rasa jijik terhadap orang-orang yang memakan uang kotor itu. Menatap sebuah goa sebesar sarang Rose Pattern Blood Spider sebelumnya, pemuda itu berkata.
__ADS_1
"Waktunya memetik jamur, Teman-teman!"
>> Bersambung.