Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Janji Yang Harus Ditepati


__ADS_3

Melihat punggung Randy, Brock tiba-tiba mengingat punggung seorang anak kecil di sebuah gang sempit dan gelap.


Brock tampak ragu. Dia ingin tetap berada di sini, tetapi Randy jelas menyuruhnya untuk pergi. Dia ingin melakukan sesuatu, tapi,


Pria itu takut pada dirinya sendiri.


'Haruskah ... haruskah aku melakukannya?'


Brock menatap ke arah Lefitto dan Raitto dengan ekspresi rumit.


***


Bertahun-tahun yang lalu, sebuah gang sempit di pinggiran Kota D.


Seorang bocah gemuk dengan baju penuh tambalan meringkuk di tanah. Di sekitarnya, tampak beberapa anak lain yang memukul dan menendang bocah itu.


"Dasar sampah!"


"Ya! Beraninya dia pergi ke tempat kita dan merebut hak kita!"


"Bodoh! Dasar tidak berguna!"


"..."


Beberapa anak terus menendang dan memukul bocah itu. Hanya saja, bocah itu masih meringkuk di tanah. Dia sama sekali tidak berteriak, apalagi membalas. Bocah itu hanya diam seperti sebongkah batu.


Begitulah suasana di kota yang tampak makmur dari luar.


Di balik megahnya gedung-gedung tinggi, sangat banyak orang yang mengais makanan di tempat sampah untuk sekadar mengisi perut.


Kota D memang terkenal sebagai kota industri. Itu juga yang menyebabkan banyak pekerja menghabiskan waktu mereka secara monoton. Bangun tidur, sarapan, berangkat kerja, pulang kerja, makan malam, tidur, dan besok mengulangi hal yang sama.


Di balik terkenalnya Kota D sebagai kota industri, banyak juga yang mengenalnya sebagai kota penuh tekanan.


Pekerja menghabiskan hari-hari mereka untuk mengulang hal yang sama. Mencari uang untuk bertahan hidup. Sementara di kalangan bawah, mereka bahkan lebih sadis daripada di kota-kota lainnya.


Anak-anak akan berebut wilayah untuk mengemis dan mencari makanan sisa. Lelaki dewasa banyak yang mencuri dan melakukan hal-hal lainnya. Sedangkan wanita yang tumbuh di tempat seperti itu, mereka biasanya menjadi bunga penghias malam ...


Sebuah nama yang indah, tetapi memiliki arti sebaliknya.


Puas memukuli bocah itu, anak-anak lain segera pergi meninggalkannya sendiri di tanah. Saat anak-anak pergi, sosok anak kecil menghampirinya.


Melihat ke arah bocah yang meringkuk di tanah, dia tidak bisa tidak bertanya.


"Kenapa kamu tidak membalas mereka? Tubuhmu lebih besar, seharusnya kamu juga lebih kuat daripada anak-anak lainnya."


Mendengar pertanyaan tersebut, bocah itu bangkit dari tanah. Menepuk kotoran yang menempel di baju penuh tambalan, dia melihat anak yang berbicara dengannya.


Di depan bocah gemuk itu, tampak seorang anak yang tampak manis. Dia memakai pakaian yang jauh lebih baik daripada pakaian para gelandangan. Hanya dengan sekilas, tidak ada yang tahu apakah anak itu laki-laki atau perempuan.


Bocah gemuk itu memiringkan kepalanya dan bertanya.


"Kamu ... laki-laki?"


"Eh??? Sudah jelas aku laki-laki! Kenapa kamu menanyakan itu!


Aku laki-laki! Aku bahkan bisa membuktikannya!"


Bocah itu berseru dengan nada kesal. Dia tampak siap membuktikan bahwa dirinya adalah laki-laki.


"..."


Melihat ke arah bocah gemuk dengan ekspresi bodoh di wajahnya, anak itu merasa tak berdaya. Dia mengulurkan tangannya sambil berkata.


"Randy ... Namaku Randy! Siapa namamu?"


"Brock."


Brock kecil membalas dengan nada ogah-ogahan. Dia tampak tidak nyaman di dekat Randy kecil.


"Kenapa kamu dipukuli, Brock?"

__ADS_1


"Karena aku mengambil tempat biasa anak-anak itu mengemis."


"Kamu tidak berasal dari daerah sini? Dimana kamu tinggal, Brock?"


"Aku tidak punya rumah, jadi aku berpindah-pindah."


"Kalau begitu, mampirlah ke rumahku."


Randy kecil berkata dengan senyum bersemangat di wajahnya.


"Kamu ... tidak takut aku berbohong dan menipumu?"


Mendengar pertanyaan Brock kecil, Randy memiringkan kepalanya.


"Kata ibu, aku bisa melihat sifat seseorang dari matanya. Aku rasa ... kamu sama sekali tidak jahat."


"..."


Melihat bagaimana Brock masih diam, Randy kecil kembali bertanya.


"Bagaimana?"


"Baik."


Randy yang mendengar persetujuan dari Brock tersenyum. Dia kemudian berkata.


"Ikuti aku, Brock!"


Mengikuti Randy, mereka akhirnya tiba di sebuah rumah kecil yang sangat sederhana. Bahkan tampak kumuh. Namun ketika masuk, Brock terkejut melihat tempat yang rapi.


Karena Brock kecil tidak tahu barang-barang mewah, baginya, barang-barang lama di rumah Randy sudah dianggap mewah bagi orang-orang dari tempat kumuh.


"Apakah ini tidak apa-apa?" Brock berkata dengan nada ragu.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku ... mungkin orang tuamu akan marah jika aku di sini."


"Ayahmu?"


"Aku tidak punya," ucap Randy dengan nada polos.


"Maaf."


"Tidak apa-apa."


Randy pergi ke dapur untuk mengambil segelas air putih dan sepotong roti keras. Dia kemudian datang menghampiri Brock sambil berkata.


"Makanlah."


"Ini ..."


"Sudah kubilang, makanlah."


"Terima ... terima kasih."


Brock menerima dengan agak ragu. Setelah mengendus dan menggigit sedikit untuk memastikan tidak ada yang salah, bocah itu memutuskan untuk memakannya.


Randy duduk tidak jauh dari Brock. Bocah itu menopang dagu dan mulai bercerita.


"Tahukah kamu, Brock? Ibuku adalah wanita yang bekerja di rumah bordil. Aku sendiri tidak memiliki ayah.


Meski kehidupanku sedikit lebih baik daripada kamu, ini juga tidak menyenangkan.


Anak-anak dari keluarga normal akan menganggapku hal kotor dan tidak pantas untuk berteman dengan mereka. Sedangkan anak-anak dari tempat kumuh seperti kamu biasanya ingin berteman untuk memanfaatkan aku. Jadi aku tidak setuju. Namun, aku tahu kamu berbeda.


Randy berkata dengan nada cerdas. Menatap ke arah Brock, bocah itu akhirnya berkata.


"Maukah kamu jadi temanku, Brock?"


Brock kecil merasa rendah hati. Setelah beberapa saat, dia menjawab dengan nada ragu.

__ADS_1


"Maaf, Randy, aku sama sekali tidak pantas untuk berteman denganmu."


"Katakan saja, kamu mau atau tidak!"


Randy kecil berkata dengan nada kesal.


Melihat ke arah Randy yang kesal, Brock akhirnya menjawab.


"Aku ... aku mau."


Sejak saat itu, Randy dan Brock mulai berteman.


Setiap hari Brock akan datang ke rumah Randy. Dia diberi roti dan air. Sebagai gantinya, bocah itu membantu Randy untuk membersihkan dan merapikan rumah.


Pada awalnya Randy enggan, dia merasa Brock tidak perlu melakukannya. Namun karena Brock memaksa, dia akhirnya setuju.


Satu bulan kemudian, ibu Randy kebetulan bertemu dengan Brock. Bukan hanya tidak marah, wanita itu bahkan meminta Brock untuk tinggal di rumah dan menemani Randy. Sejak saat itu juga, hubungan keduanya menjadi semakin dekat.


Mereka tumbuh bersama dengan baik. Bahkan jika apa yang Brock makan dan kenakan tak sebaik Randy, dia sangat bersyukur karena bisa makan dan tinggal di sebuah rumah hangat daripada membusuk entah dimana.


Hanya saja, semua itu tidak berjalan begitu lama.


Dua tahun sejak Randy dan Brock berteman, kabar duka tiba. Ibu Randy meninggal karena sebuah permainan yang dilakukan oleh pelanggan. Hanya saja, karena pelanggan itu memiliki latar belakang kuat, hal itu diurus dengan mudah. Tidak hanya tidak ditangkap, pria itu bahkan tidak didenda.


Akan tetapi, kejadian itu membuat perubahan besar dalam hidup Randy dan Brock.


Satu bulan setelah ibu Randy meninggal, sosok yang mengaku kerabat datang. Orang-orang itu berkata akan mengasuh Randy, tetapi pada kenyataannya, mereka hanya mengambil rumah, lalu mengusir Randy dan Brock.


Bahkan jika rumah kecil di tempat kumuh, bangunan seperti itu masih memiliki harga di Kota D yang serba mahal.


Dipukuli sampai sekarat dan diusir dari rumah mereka, kehidupan Randy dan Brock menjadi sengsara. Mereka kelaparan, sering berebut makanan dengan anak lain atau bahkan kucing liar!


Melihat rumah kecil dari kejauhan, Randy dan Brock bersumpah akan merebut kembali rumah mereka.


Mengandalkan satu sama lain, Randy dan Brock terus tumbuh. Mereka melewati satu per satu rintangan. Mereka bahkan sering dipukuli oleh para preman. Saat itu, sosok Randy yang akan selalu berdiri di depan dan melindungi Brock layaknya seorang kakak.


Tidak tahu berapa lama waktu berlalu, keduanya mulai terbiasa dengan hidup semacam itu. Entah sengaja atau tidak, mereka sama sekali tidak pernah membahas masa lalu, ibu Randy, atau rumah itu.


Keduanya membiarkan semuanya berlalu begitu saja. Berjalan mengikuti angin yang membawa mereka pergi.


***


Melihat punggung Randy, Brock menggertakkan gigi. Dia berjalan maju melewati lelaki feminim itu.


"Apa yang kamu lakukan, Brock?"


Randy bertanya dengan nada kesal.


"Kita seharusnya tidak mati di sini. Lagipula, ada janji-janji yang belum kita tepati."


Mengatakan itu, Brock melepaskan jas dan kemejanya. Dia kemudian melemparkannya ke depan Randy.


"Apa yang kamu lakukan, Brock!"


Randy kembali berteriak.


"Aku memang bodoh, Randy. Namun, aku tahu apa yang aku harus lakukan."


"Kamu—"


"Maaf jika selama ini aku menyembunyikan sesuatu darimu, Randy. Namun, tolong berjanjilah, jika aku kehilangan kewarasan dan tidak bisa kembali ..."


Senyum tulus muncul di wajah Brock yang polos.


"Kamulah yang harus membunuhku."


Setelah mengatakan itu, Brock langsung melihat ke depan. Tubuhnya tiba-tiba membengkak. Dia tampak lebih tinggi, tubuhnya menjadi semakin berotot. Otot-otot besar itu tampak sekeras batu.


Mata Brock memerah. Menggertakkan gigi sambil mencoba menjaga kewarasannya, pria itu menatap ke arah Lefitto dan Raitto dengan sengit. Dia kemudian berkata dengan nada datar.


"Jadi ... mari kita mulai babak berikutnya."

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2