
Kedua pasang mata saking memandang sejenak. Meski samar, keduanya tampak cukup terkejut.
Adam tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan mantan rekan kerja, Carole dan Jasmine di sini. Meski sempat terkejut, dia langsung melanjutkan pembicaraannya dengan Jennifer dan Bella, sama sekali tidak tampak mencurigakan.
Di sisi lain, Carole juga segera bertingkah normal. Akan tetapi, Jasmine yang cukup sensitif langsung menarik sudut pakaiannya. Wanita itu menoleh ke arah Jasmine, langsung membaca apa yang tertulis di papan tulis kecil.
(Apakah kamu mengenalnya, Kak Carole?)
"Tidak," ucap Carole singkat.
(Lalu, kenapa kamu sempat menatapnya dengan pandangan seperti itu?)
"..."
Carole agak bingung ketika harus menjawab bagaimana. Menelan harga diri, wanita itu berbisik lirih.
"Dia ... Dia terlihat tampan. Aku jarang melihat lelaki setampan itu, bahkan di tv."
(Apakah kamu menyukainya?)
"..."
Melihat Carole yang diam, Jasmine langsung menulis kata-kata lain.
(Kamu harus melihat kalau lelaki itu datang dengan dua wanita, Kak Carole. Jelas, dia tidak baik! Serigala jahat yang harus diwaspadai!)
"..."
Melihat ke arah Jasmine yang memandangnya dengan ekspresi tegas, tapi malah tampak lucu, Carole bingung harus menangis atau tertawa. Merasa tak berdaya, wanita itu mengelus kepala gadis di depannya. Merasa berterima kasih karena Jasmine telah peduli dan khawatir kepada dirinya.
Tentu saja, Jasmine yang diperlakukan seperti anak kecil marah. Dia menatap ke arah Carole sambil menggembungkan pipinya.
"Sudah, sudah ... mari segera beli bunga lalu kembali."
Sementara keduanya saling berbicara, Adam sesekali melirik ke arah keduanya secara diam-diam.
__ADS_1
Sebagai Kultivator, meski masih pemula, Jennifer dan Bella melihat gerakan yang dilakukan oleh Adam. Meski awalnya ragu, semakin lama ... mereka menjadi lebih yakin.
"Setelah gadis universitas dan petugas polisi, apakah kamu mencoba mengejar wanita kantor atau gadis di bawah umur, Sayang???"
Jennifer bertanya dengan senyum di wajahnya. Hanya saja, daripada menawan, senyumannya tampak agak mengerikan. Hal tersebut langsung membuat Adam merasa agak canggung.
"Apakah menurutmu aku orang yang seperti itu, Jenn?"
Mendengar pertanyaan Adam, Jennifer dan Bella memberi tatapan kosong. Namun, artinya juga sangat jelas. Ya, mereka percaya kalau Adam memang lelaki semacam itu!
"Huh! Jika tidak diawasi, aku takut kamu bahkan akan menggoda ibu rumah tangga atau gadis kecil!" Jennifer mendengus dingin.
"..."
Adam tersenyum masam. Dia tidak menyangka kalau dicap seperti itu oleh kekasihnya. Belum lagi, karena karakter tegas Jennifer ... wanita itu benar-benar berbicara semacam itu di depan umum!
Beberapa pelanggan, bahkan penjaga toko menatap mereka. Tampaknya sangat senang telah melihat drama.
Menghela napas panjang, Adam akhirnya berkata.
Tanpa menunggu jawaban penjaga toko, Adam langsung mengalihkan pandangannya ke arah Jennifer.
"Untuk kamu ... kita akan membicarakannya nanti, di rumah."
Adam langsung berkata dengan tegas.
***
Malam harinya.
Di ranjang, Adam bersandar dengan ekspresi santai. Sementara itu, Bella dan Jennifer meringkuk di ranjang dengan tubuh tertutup selimut. Keduanya tampak lelah karena Adam benar-benar marah dan 'menghukum' mereka setelah pulang.
Jennifer memeluk lengan Adam sambil bertanya dengan ekspresi mengantuk di wajahnya.
"Jadi, mereka adalah mantan rekan kerjamu, Sayang?"
__ADS_1
"Bukankah sebagai petugas polisi, kamu juga pernah bertemu dengan mereka?"
Adam bertanya dengan nada skeptis.
"Hehehe ... Selain kasus dan kamu, aku tidak memperhatikan hal lainnya."
"..."
Adam tersenyum masam. Dia melirik ke arah Bella yang telah tertidur. Pemuda itu kemudian mengecup kening Jennifer.
"Kamu lelah, jadi tidur saja. Ingat jangan terlalu curiga ..."
"En~" Jennifer tersenyum patuh. "Aku mencintaimu, Adam."
Mendengar itu, ekspresi Adam berangsur-angsur menjadi lebih lembut.
"Aku juga mencintaimu, Jennifer."
Setelah menemani keduanya sampai tertidur pulas, Adam keluar dari ranjang pada tengah malam. Berganti pakaian, pemuda itu langsung mengambil telepon.
"Ya, ini aku Shawn."
"..."
"Ada sesuatu yang perlu kalian segera lakukan."
"..."
Selesai memakai pakaian dan bersiap, ekspresi Adam menjadi semakin serius. Dia mengingat wajah Carole dan Jasmine yang tampak kuyu. Sepertinya mereka, para anggota Guild Dark Wings telah mendapatkan banyak tekanan karena apa yang telah dia perbuat.
Hal itu membuat Adam menghela napas.
Memiliki ekspresi agak menyesal di wajahnya, pemuda itu berkata dengan nada serius.
"Aku ingin detail tentang hal-hal yang terjadi di Kota B dalam waktu satu bulan ini. Aku memberi kalian waktu dua jam untuk menyiapkan semuanya."
__ADS_1
>> Bersambung.