
Malam harinya.
Jennifer membuka pintu kamarnya. Namun saat itu, dia terkejut melihat sosok Bella yang juga menyelinap keluar dari kamarnya.
"Mau ke mana, Bell?"
Mendengar pertanyaan Jennifer, Bella tampak agak panik. Dengan ekspresi agak malu, dia menjawab.
"Ke kamar mandi, Saudari Jennifer."
"..."
Melihat ke arah Bella yang malu-malu, Jennifer tertegun. Dia hanya bisa menghela napas sembari mengeluh dalam hati.
'Benar-benar terlalu polos! Tidak cocok untuk berbohong sama sekali!'
Melihat Bella yang berjalan ke kamar mandi, Jennifer langsung menghentikannya. Dia memegang tangan wanita itu lalu berkata.
"Kamu juga ingin menyelinap ke kamar Adam, kan?"
"..."
Sadar kalau dirinya telah ketahuan, Bella mengangguk dengan ekspresi malu di wajahnya.
Mereka berdua sebenarnya agak menyesal karena menyuruh Adam tidur sendiri. Padahal, lelaki itu sudah mempersiapkan hal-hal yang baik untuk mereka.
Rumah, pakaian baru, bahkan membuat pesta kecil-kecilan tetapi mewah untuk merayakan kepindahan mereka. Ya ... meski hanya dirayakan oleh mereka bertiga.
Bella dan Jennifer kemudian berjalan mengendap-endap menuju ke kamar Adam. Berniat untuk memberi pemuda itu kejutan.
Sampai di depan pintu kamar, mereka berdua saling memandang dengan senyum di wajah mereka. Menghitung mundur dari angka lima, mereka kemudian membuka pintu kamar. Namun, Bella dan Jennifer langsung terdiam di tempat mereka dengan ekspresi terkejut karena ...
Adam benar-benar tidak ada di kamar tidur utama!
Bella dan Jennifer saling memandang dengan ekspresi bingung di wajah mereka.
Setelah itu, mereka akhirnya mencari di seluruh rumah. Lantai tiga, kecuali pintu yang dikunci, mereka telah mencarinya. Bahkan mereka telah mengetuk pintu kamar tersebut tetapi sama sekali tidak ada tanggapan.
Bella dan Jennifer kemudian mencari di lantai dua. Kamar-kamar kosong, ruang belajar, ruang musik, ruang santai, dan ruangan lainnya. Tetap saja tidak ada.
Setelah mencari di seluruh rumah, hasilnya benar-benar nihil!
Pada saat itu, Bella menghela napas panjang.
"Lelah?" tanya Jennifer dengan ekspresi bingung.
Normalnya, mereka seharusnya tidak kelelahan bahkan jika harus berkeliling rumah beberapa kali. Lagipula, mereka berdua telah terlatih dengan baik.
"Tidak, Saudari Jennifer."
"Lalu?"
"Hanya saja ..."
Bella melihat ke sekelilingnya. Melihat interior rumah dan perabotan mahal di mana-mana, wanita itu tersenyum masam.
"Rumah indah seperti Istana, bahkan dalam mimpi saya ... saya tidak pernah memimpikannya apalagi mengharapkannya."
Mendengar itu, Jennifer tersenyum lembut sambil mengangguk.
"Memang, siapa akan menyangka lelaki yang biasanya begitu santai dan berpenampilan sederhana itu benar-benar sekaya ini? Jika tidak melihatnya sendiri, aku pasti tidak akan percaya.
Bukankah Adam malah mirip dengan lelaki putih kecil yang dibesarkan oleh janda kaya?"
__ADS_1
"Saudari Jennifer ..."
Mendengar itu, Bella tidak bisa tidak tersipu. Dia mengingat momen ketika dirinya mengusulkan untuk menjadi nyonya kecil Adam. Tipe wanita pemuas yang dibayar, tetapi sama sekali tidak memiliki hubungan nyata.
"Jika tebakanku benar, pasti maniak itu pasti sedang sibuk meracik obat di rumah kayu."
Mengabaikan Bella yang malu, Jennifer menggertakkan gigi. Tampak tidak puas, ingin menyeret pemuda itu lalu memukulnya.
Jennifer kemudian mengajak Bella menuju ke rumah kayu. Namun sampai di sana ...
Adam masih tidak ditemukan!
Melihat Adam tidak ada di mana-mana, Jennifer tampak geram. Dia mendengus dingin sebelum berkata.
"Jangan bilang, karena tidak puas tidur sendiri ... dia benar-benar pergi ke luar untuk mencari wanita lain?!"
Mendengar ucapan Jennifer, Bella tampak agak pucat.
"Saudari Jennifer, tidak mungkin Kak Adam melakukan itu, kan?"
"Apanya yang tidak mungkin? Tidak memilih satu. Ada kita berdua. Bukankah wanita ke tiga, empat, atau lima masih mungkin???"
"..."
Meski jumlah itu terlalu banyak baginya, Bella melihat ke halaman belakang indah lalu rumah mewah seperti kediaman para bangsawan itu. Entah bagaimana, dia merasa kalau Adam memang masih mampu membesarkan lima istri dan beberapa selir.
Mengingat Adam begitu baik kepada para perempuan yang tersakiti dan dalam masalah, Bella benar-benar merasa kurang aman.
"Kamu benar-benar ketakutan, Bell."
Jennifer terkekeh ketika menepuk punggung Bella. Meski agak marah, dia benar-benar tidak menyangka akan membuat wanita itu begitu ketakutan.
"Kita belum mengecek garasi, kan? Mungkin dia di sana?"
Mereka berdua kemudian pergi ke garasi, dan terkejut ketika melihat sosok Adam berdiri tenang sembari mengelus mobil dengan lembut.
Sudut bibir Jennifer berkedut. Dia segera menghampiri Adam. Pemuda itu menoleh dan bertanya dengan nada agak bingung.
"Kalian belum tidur?"
"..."
Bukannya ucapan, tetapi yang menjadi jawaban adalah gigitan Jennifer.
"Hey! Tunggu! Apa-apaan ini, Jenn? Kenapa kamu menggigit begitu keras? Aw! Permainan seperti itu sama sekali tidak menyenangkan!"
"..."
Beberapa menit kemudian, Jennifer mengangguk puas sementara Adam menatap ke arah kedua wanita dengan ekspresi aneh. Tangan dan lehernya penuh dengan bekas gigitan. Benar-benar merasa tak berdaya.
"Jadi, jelaskan kenapa kamu berada di sini, Adam?"
"Jadi begini ..."
Adam mulai menjelaskan rencananya. Hal itu benar-benar membuat kedua wanita merasa aneh.
"Bukankah mobil ini masih bagus? Kamu tidak ingin menggunakannya?"
"Kamu tidak ingin mobil baru?"
"Tentu saja aku juga suka mobil mahal, tapi ... bukankah itu boros?"
"Anggap saja, rumah lebih baik dengan mobil yang lebih baik. Ya ... kebetulan aku sedang tidak kekurangan uang. Tentu saja, aku tidak akan mengeluarkan seluruh tabunganku."
__ADS_1
Bella dan Jennifer saling memandang. Setelah beberapa saat berbicara, mereka akhirnya juga setuju.
"Kalau begitu kita akan pergi membeli mobil besok."
***
Siang di hari berikutnya, dalam Showroom mobil terbesar di Kota B.
Tampak banyak sales cantik yang sebagian sedang menunggu pelanggan dan sebagian melayani pelanggan. Bahkan tampaknya tempat tersebut memang hanya mempekerjakan para wanita cantik dengan tubuh indah untuk menarik para pelanggannya.
Melihat kedatangan Adam dan kedua wanita, mata para wanita langsung berkilat tajam. Tampaknya beberapa dari mereka mulai berebut tetapi akhirnya sosok wanita yang tampak glamor dengan riasan tebal yang merupakan senior di sana langsung menghampiri Adam dan kedua wanita.
Melihat ekspresi sombong wanita itu dan tatapannya yang agak buas, Adam menggelengkan kepalanya. Meski agak tertarik dengan wanita dewasa, pemuda itu sama sekali tidak akan senang terhadap jenis wanita yang menatap laki-laki dengan mata seperti itu. Seolah selama ada uang, dia akan membuka kakinya.
Mengabaikan wanita itu, Adam melihat sosok sales yang tampak agak menyendiri. Atau lebih tepatnya ... dikucilkan oleh teman-temannya. Padahal, dari penampilannya dia lebih menawan.
Adam dengan ekspresi tak acuh menunjuk ke arah gadis itu sembari berkata.
"Bisakah kamu mengantar kami bertiga berkeliling?"
Melihat ke arah Adam yang tiba-tiba menghampiri dan berbicara kepadanya, gadis itu terkejut sejenak. Namun dia cepat sadar, lalu segera berkata dengan cara profesional.
"Tolong ikuti saya, Tuan Muda."
Melihat mangsanya dibawa pergi, wanita dengan make up tebal itu cemberut. Merasa agak senang dengan sikap Adam ataupun juniornya.
"Paling-paling, hanya membeli mobil murah untuk dibawa pergi ke kantor."
Tidak memedulikan wanita itu, Adam bersama kedua wanitanya mengikuti gadis itu berkeliling dan melihat berbagai mobil dari berbagai merek.
Sekitar satu jam kemudian, gadis cantik itu menatap ke arah Adam dengan ekspresi tidak berdaya.
Adam terlalu banyak bertanya tentang berbagai jenis mobil mahal, tetapi pada akhirnya, mereka kembali tanpa mencobanya. Meski merasa agak sia-sia, gadis itu masih melakukannya dengan profesional.
Melihat gadis yang agak bingung tersebut, Adam tersenyum.
Para sales wanita lain menatap ke arah gadis tersebut dengan ekspresi mengejek. Tampaknya mentertawakan usahanya yang sia-sia.
Pada saat itu, Adam tiba-tiba melihat ke arah sosok yang dia kenal.
"Tina?"
Bukan Adam, tetapi Bella yang berkata. Wanita itu melihat sosok Tina, satu dari beberapa temannya. Salah satu gadis nakal di universitas tempat dia belajar.
Sosok Tina juga melihat ke arah Bella.
"Bella?"
Adam melihat kalau sosok Tina sama sekali tidak datang dengan paman paruh baya terakhir kali. Sebaliknya, dia datang bersama dengan sosok pemuda tampan dengan kalung, cincin, dan jam tangan emas.
Pemuda itu awalnya tampak tak acuh, tetapi ketika melihat ke arah Bella dan Jennifer, matanya berbinar.
Tentu saja, Bella dan Jennifer merasakan tatapan pemuda itu. Bella bersembunyi di balik Adam, dan Jennifer malah mendengus dingin.
Sebelum pemuda itu sempat bicara, suara dingin Adam tiba-tiba terdengar.
"Tolong jaga pandangan anda, Kawan. Jangan suka menatap kekasih orang dengan tatapan sembrono atau ..."
Pemuda yang menoleh ke arah Adam tiba-tiba menggigil. Dia merasakan aura dingin dari tatapan yang diarahkan kepadanya. Hendak menjawab, suara dingin kembali terdengar.
"Mungkin kamu harus kehilangan mata itu."
>> Bersambung.
__ADS_1