
Di ruang tamu kediaman Thomas.
"Apakah anda yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja, Mr Owl?"
Melihat Thomas dan istrinya yang khawatir, Adam menghela napas.
"Seharusnya tidak akan ada masalah lagi. Seperti yang saya bilang sebelumnya, Kevin menerima kutukan."
"Apakah anda telah menemukan solusinya, Mr Owl?"
"Belum." Adam menggeleng ringan. "Namun saya juga sedang mencoba mencari solusi. Kemungkinan besar, malam ini saya akan bertemu dengan 'Dia' yang telah membuat putra kalian seperti itu."
Mendengar ucapan Adam, pasangan suami-istri itu saling memandang dnegan cemas.
"Apakah anda tidak bisa tinggal di sini untuk sementara, Mr Owl? Saya takut sesuatu akan terjadi kepada Kevin jika anda pergi."
Thomas memegang kedua pundak Adam, tampak menjadi agak bingung dan lebih cemas.
"Tidak ada masalah tentang biaya. Saya akan mengganti rugi jimat, sementara anda tinggal saya akan memberi dua puluh ... tidak! Lima puluh ribu per hari sampai Kevin benar-benar sembuh."
"Tapi Sayang—"
"Tidak ada kata tapi. Kita tahu apa yang kita hadapi itu sesuatu yang aneh dan tidak bisa kita tangani.
Belum lagi, aku tidak mengenal orang lain kecuali Mr Owl. Bahkan jika memanggil orang lain, aku takut mereka hanya bisa melontarkan omong kosong tanpa memiliki solusi.
Aku tahu Mr Owl berbeda. Pasti ... dia pasti akan menyembuhkan Kevin. Uang itu sepadan."
Thomas langsung menyela istrinya. Kevin adalah anak satu-satunya dan mungkin akan menjadi satu-satunya.
Thomas memiliki perusahaannya sendiri. Namun karena sibuk dan tidak bisa menjaga kesehatannya dengan baik, pada saat Kevin berusia 5 tahun, dia mengalami impotensi.
Kevin sekarang sudah berusia 7 tahun, jadi sudah dua tahun Thomas menderita dan merasa semakin tertekan karena tidak kunjung sembuh.
Thomas sangat khawatir dengan Kevin. Meski dirinya mencintai istrinya, pria itu ingin Kevin, putranya yang mewarisi perusahaan miliknya kelak.
Tidak peduli berapa banyak yang harus dibayar, Thomas ingin Owl tinggal. Bahkan jika sosok bertopeng itu tinggal selama satu bulan, dia masih sanggup membayarnya.
50.000 dollar aliansi x 30 \= 1.500.000 dollar aliansi.
Ditambah jimat seharga 500.000 dollar, 2 juta dollar aliansi harus dia bayar.
Uang sebanyak itu ... Thomas tidak terlalu peduli.
"Tolong lepaskan tangan anda, Mr Thomas."
Mendengar ucapan dingin Adam, Thomas tersadar dari lamunannya. Pria itu segera melepaskan cengkraman tangannya lalu mundur dengan ekspresi menyesal.
"Maafkan saya, Mr Owl. Saya benar-benar merasa sangat khawatir."
Melihat seorang ayah yang khawatir pada putranya, Adam menghela napas panjang.
"Hanya satu malam." Adam berkata lembut.
Pemuda itu sebenarnya ingin tinggal di Departemen Misteri untuk beberapa hari. Bukannya Adam tidak ingin pulang, dia hanya tidak ingin membawa 'tamu' tidak diundang ke rumahnya.
Adam sendiri juga mengkhawatirkan keselamatan Jennifer dan Bella jika dirinya kembali.
"Benarkah?" tanya Thomas dengan nada senang.
"Benar."
Pada saat itu, suara kecil terdengar dari kejauhan dan semakin mendekat.
__ADS_1
"Apakah Paman Owl benar-benar akan menginap?"
Melihat ke arah bocah yang berjalan ke arahnya dengan agak terhuyung-huyung membuat Adam tersenyum di balik topengnya.
"Ya. Aku akan tinggal di sini malam ini."
"Bagus!" ucap Kevin dengan nada bersemangat.
"Jangan terlalu bersemangat, Nak. Kamu harus beristirahat."
Ibu Kevin berkata dengan lembut. Berbeda dengan Thomas dan Kevin yang senang dengan keberadaan Owl, wanita itu kelihatannya agak tidak nyaman setelah mendengar Adam akan menginap.
Adam merasa itu normal. Lagipula, dia memiliki penampilan seperti penjahat bertopeng sekarang. Jadi jika keberadaannya membuat tidak nyaman, dia berpikir hal semacam itu sama sekali tidak aneh.
Setelah itu, Thomas sendiri yang mengantar Adam menuju ke kamar tamu.
Melihat kamar yang cukup luas, rapi, dan bersih membuat Adam mengangguk ringan.
"Karena kamarku rusak, nanti malam aku akan tidur di kamar tamu bersama Paman Owl." Kevin berkata dengan nada ceria.
"..."
Adam tercengang. Pemuda itu menginginkan privasi. Namun melihat Kevin yang menatapnya dengan mata penuh bintang membuatnya enggan untuk menolak.
"Nanti kamu tidur bersama ayah dan ibu, Kevin."
"Tapi—"
"Tapi kenapa?" Thomas mengerutkan kening.
"Aku ingin Paman Owl mengisahkan cerita-ceritanya!" ucap Kevin dengan ekspresi keras kepala.
"..."
Bukankah aku lebih mirip penjahat atau tokoh misterius? Pahlawan ... mirip dari bagian mana?
"Mr Owl ..." panggil Thomas dengan senyum minta maaf.
"Tidak apa-apa," jawab Adam singkat.
"Benarkah? Apakah tidak apa-apa?" tanya Kevin.
"Ya." Adam mengangguk ringan.
Melihat ayah dan anak yang tampak bahagia, Adam hanya bisa menghela napas panjang.
***
Malam harinya.
"Ya ... rasanya kurang nyaman."
Adam yang selesai mandi duduk di tepi ranjang kamar tamu. Karena dia tidak membawa pakaian ganti, pemuda itu memakai kembali memakai pakaiannya.
Bedanya, sekarang dia menggantung coat miliknya serta melepas sepatu. Ya ... Pemuda itu juga kembali memakai kaos kaki dan sarung tangannya.
Mengenakannya topeng, Adam tersenyum pahit ketika melihat pesan dari Jennifer dan Bella yang marah sekaligus khawatir.
Entah kenapa aku malah ingin pulang ...
Pikir Adam ketika mengingat kedua wanitanya.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
"Masuk," ucap Adam singkat.
Pintu terbuka dan sosok Kevin kecil masuk ke dalam kamar. Bocah itu mengenakan piyama anak berwarna biru dengan gambar bintang-bintang berwarna kuning.
"Apakah kamu sudah makan?"
"Sudah, Paman." Kevin mengangguk. Dia tampak lebih baik daripada sebelumnya. "Bolehkah aku bertanya, Paman?"
"En? Ada apa?"
"Apakah benar, para Kultivator seperti Paman hidup selama ribuan tahun?"
"..."
Sejak kapan seorang bocah kelas 2 SD memikirkan kehidupan?
Mendengar pertanyaan Kevin membuat Adam tercengang.
"Kami memang hidup lebih lama daripada manusia pada umumnya, tetapi tak sampai ribuan tahun."
Setidaknya itu yang Adam pikirkan. Dengan kondisi fisiknya, pemuda itu menduga bahwa rentang usianya pasti lebih dari seratus tahun. Tentu saja, kecuali dia terbunuh tanpa sengaja sebelum waktu.
"Itu berarti temanku berbohong," ucap Kevin dengan ekspresi cemberut.
"Jangan berpikir demikian, Kevin. Temanmu hanya tidak tahu.
Menurut buku yang dia baca atau cerita yang dia dengar, para Kultivator berusia begitu lama. Dia hanya belum bertemu dengan Kultivator asli."
"Kenapa dia tidak bertemu dengan Kultivator asli, Paman?"
"Karena Kultivator asli itu sangat jarang."
"Lalu kenapa aku bisa bertemu denganmu, Paman?"
"Mungkin karena nasib dan keberuntungan?" ucap Adam tenang.
"Jadi begitu ..." Kevin yang sepertinya tidak mengerti hanya mengangguk seperti burung pelatuk.
Hal itu membuat Adam menggelengkan kepalanya. Sama sekali tidak berniat menjelaskan lebih banyak.
"Paman, ceritakan tentang dunia Kultivasi!"
"Tapi itu rahasia ..."
"A-Aku bisa menyimpan rahasia."
Kevin tampak bingung, tetapi mencoba keras kepala.
"Baiklah. Kalau begitu bersiap tidur, Paman akan menceritakan sebuah cerita."
"Benarkah?"
"Benar."
Kevin yang mendengar itu tampak bersemangat. Setelah bocah itu berbaring di tempat tidur dan memakai selimut, Adam pun bercerita tentang dunia Kultivator.
Ya ... lebih tepatnya cerita Legend of Condor Heroes dari kehidupan sebelumnya.
Melihat Kevin tertidur pulas, Adam menghela napas panjang. Dia kemudian duduk dalam posisi lotus sambil bermeditasi, dan menunggu.
Tengah malam, Adam membuka mata dengan ekspresi serius di wajahnya. Karena pada saat itu, dia mendengar suara aneh di dalam rumah.
Suara yang begitu samar di tengah malam yang sunyi.
__ADS_1
>> Bersambung.