
Bahkan jika wanita itu cantik, Adam sama sekali tidak tertarik mencoba berhubungan dengan makhluk dari alam lain. Dia tidak memiliki minat untuk menjalin hubungan cinta dua dunia atau hal-hal semacamnya. Namun kelihatannya, beberapa orang di sana masih menganggap 'Dia' sebagai penyihir atau semacamnya.
Pada saat itu, sosok pria yang menaiki Lamborghini Aventador berdiri lalu berjalan mendekati wanita yang mengenakan gaun hitam itu. Melihat sosok wanita cantik yang melayang di depannya, bukannya takut, pria itu malah tertawa.
"Kamu bisa hentikan itu, Cantik. Tidak peduli apa trik yang kamu mainkan, jangan berharap lolos dari Crimson Wolf Gang. Mungkin aku akan mempertimbangkan opsi lain jika kamu mau menemaniku malam ini."
"..."
Mendengar itu, Adam benar-benar terdiam. Dia sudah melihat banyak orang kurang waras. Namun dibandingkan pria itu, mereka tampak lebih waras.
Penampilan pucat, melayang di udara, tidak memiliki napas atau detak jantung ... itu jelas bukan manusia. Ditambah lagi dengan ekspresi kosong dan tatapan yang begitu hampa itu, Adam benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa mempertanyakan sesuatu dalam hatinya.
Apakah pria ini mengidap necrofilia?
Necrofilia, sebuah kelainan yang membuat penderitanya memiliki keinginan melakukan 'hal itu' dengan mayat. Adam sendiri tidak tahu bagaimana hal semacam itu bisa menjadi menarik bagi para penderita kelainan itu. Lagipula ... dia yakin tubuh hangat, lembut, ditambah suara merdu pasti lebih baik daripada tubuh dingin, kaku, dan suasana sunyi yang mencekam.
Wanita itu menunduk lalu menatap pria dari Crimson Wolf Gang. Dia kemudian mengulurkan kedua tangannya untuk menyentuh bagian kanan dan kiri pipi pria itu.
"Apakah itu jawabanmu?" tanya wanita itu dengan suara merdu dan lembut.
Merasakan sensasi lembut dan dingin yang membelai pipinya, pria itu tampak mabuk.
"Tentu saja, jika kamu ingin selamat, ikut pergi bersamaku malam ini."
Wanita cantik itu menunduk, mendekatkan wajahnya ke arah pria itu seolah ingin menciumnya. Pada saat pria itu menutup matanya, wanita itu membuka mulutnya. Namun ... apa yang terjadi di depan mata orang-orang bukanlah adegan romantis cinta beda dunia.
Mulut wanita itu robek sampai telinga. Membuka mulutnya lebar-lebar, semua orang melihat taring-taring tajam di mulut makhluk itu. Bahkan jika diperhatikan dengan saksama, itu malam mirip dengan mulut penyu yang tampak mengerikan.
Klak! Bruk!
Suara tulang yang terpisah lalu benda jatuh bergema di ruangan. Sebuah tubuh tanpa kepala kejang di lantai. Darah merah menggenang ketika tubuh itu terus berkedut dan berhenti bergerak setelah beberapa saat.
Kriuk! Kriuk! Kriuk!
Suara makhluk yang sedang mengunyah kepala manusia seperti keripik pedas ditambah aliran darah yang bercampur cairan menjijikkan yang menetes dari mulutnya ke lantai kayu membuat orang-orang mual. Bahkan beberapwa wanita yang tidak kuat langsung pingsan. Anak-anak yang berpikir 'Dia' adalah wanita cantik dan baik yang mau mengajak mereka bermain mulai terisak. Mereka merasa ketakutan dan tak berdaya.
Detik demi detik berlalu dengan begitu lambat. Suara mengerikan ditambah dampai visual membuat para pemain merasa sudah tak berdaya dan pasrah. Akhirnya, setelah memakan satu tubuh utuh dari ujung kepala sampai ujung kaki, 'Dia' kembali ke bentuknya yang normal. Makhluk itu bahkan mengusap noda di bibirnya dengan sapu tangan hitam seolah sedang selesai makan malam di restoran bintang 3.
Wanita itu kemudian menunjuk anak pria tadi lalu berkata dengan nada lembut dan tulus.
__ADS_1
"Kemarilah, Nak. Mulai sekarang kamu adalah putraku~"
Pada saat wanita itu melambaikan tangannya, putra pria dari Crimson Wolf Gang itu menangis. Wanita itu tidak memedulikannya. Tidak bergerak dari tempatnya, wanita itu malah mengangkat rok panjangnya.
Tanpa sadar para laki-laki melihat ke arah itu, tetapi ekspresi mereka langsung berubah semakin pucat. Bukannya ada paha putih mulus dan indah, di sana tampak sebuah ruangan aneh. Bagian dalam rok itu adalah dinding daging berwarna hitam, terus bergerak seperti cacing yang menggeliat. Tidak hanya itu, pada dinding daging terlihat beberapa anak kecil yang dijejalkan di sana. Digantung dengan cara yang aneh.
Dua dari mereka masih utuh, tetapi jelas sudah tak bernyawa. Sebagian lainnya telah membusuk di mana tampak makhluk-makhluk putih yang menggeliat dalam daging mereka. Sedangkan sisanya ... ya, hanya tersisa kerangka dan pakaian mereka.
Tiba-tiba beberapa sulur aneh berwarna hitam muncul dari sana. Sebelum Adam sempat merespon, putra pria tadi tiba-tiba terikat dan langsung diseret masuk begitu saja. Melihat wanita yang menurunkan kembali roknya, pemuda itu menghirup napas dingin.
Adam melirik ke sosok pria yang memakai setelan hitam. Pria itu baru mengeluarkan pistol, tetapi jelas juga terlambat karena mereka agak lengah. Tidak menyangka kejadian semacam itu akan terjadi secara tiba-tiba.
Pada saat itu, wanita cantik dengan gaun hitam langsung menoleh ke arah Adam. Pemuda itu secara refleks langsung mengeluarkan kertas jimat.
"Jimat Es pelindung!"
Sebuah cahaya biru muda langsung melindungi Adam serta dua orang, Kevin dan Thomas yang di belakangnya.
PYARR!!!
Seolah cermin tipis yang dipukul dengan batu, cahaya pelindung itu hancur oleh tangan wanita bergaun hitam. Wanita itu kemudian melihat ke arah telapak tangannya yang terluka. Dia kemudian menatap ke arah Adam sambil memiringkan wajahnya. Ya ... wajah normal yang teramat cantik.
"..."
Mendengar itu, Adam langsung menarik bokken dan bersiap bertarung kapan saja.
"Kamu tidak ikut bermain? Bukankah kamu seharusnya juga ikut? Kamu adalah 'wali' bocah itu. Kamu tidak boleh kabur, kan?"
"..."
Melihat Adam yang diam saja, wanita itu semkin mendekat ke arah pemuda bertopeng putih itu.
"Kamu akan menepati janji yang kamu buat, kan?"
"Tentu saja ... Liez akan menepati janjinya."
Wanira bergaun hitam itu, tidak ... Liez semakin mendekati Adam sambil mengulurkan tangannnya.
"Apakah kamu tahu jawabannya? Apakah kamu ingin menjawab sekarang?"
__ADS_1
Semua orang memandang ke arah Adam dengan ekspresi gugup. Bukannya langsung membuat jawaban, pemuda itu malah kembali bertanya.
"Jika jawabanku benar. Apakah kamu akan bertanya pertanyaan berbeda kepada mereka?"
"Tentu merubah pertanyaannya. Liez itu adil ... jad Liez tidak akan melakukan hal seperti itu."
"Kalau begitu bagaimana kalau kita bertaruh?"
"Bertaruh?"
"Ya." Adam mengangguk tenang.
Mendengar ucapan Adam, yang lainnya merasa pemuda bertopeng putih itu gila. Dalam waktu seperti ini, dia benar-benar masih ingin bertaruh dengan roh jahat itu.
"Apa yang ingin kamu pertaruhkan?"
Mendengar pertanyaan Liez, Adam mengangkat sudut bibirnya. Di depat tatapan tercengan semua orang, dia tertawa sebelum berkata.
"Nyawa kami semua."
Mendengar apa yang Adam ucapkan, Liez memiringkan kepalanya. Meski ekspresi di wajahnya sama sekali tidak berubah, Adam tahu bahwa wanita bergaun hitam itu tertarik dengan penawarannya.
"Apa yang kamu pikirkan?!"
"Kenapa kamu tiba-tiba melibatkan kami dengan sengaja!"
"Ya! Kamu seharusnya tidak memiliki hak untuk melakukannya."
"..."
Mendengar protes demi protes itu, Adam sama sekali tak acuh. Sebaliknya, dia berkata dengan nada acuh.
"Nyawa kalian juga berada di ujung tanduk. Aku akan memberi kalian pilihan. Bertaruh denganku ... atau bertaruh sendiri?"
Pada saat itu, tidak menunggu yang lainnya menunggu. Dia berkata dengan nada tak acuh.
"Tentukan pilihan kalian ... sekarang."
>> Bersambung.
__ADS_1