
Keesokan harinya, jam makan siang.
Di sebuah kafe, Bella duduk bersama dengan Tina dan Nina. Tiga gadis cantik yang duduk bersama jelas langsung menarik perhatian banyak orang, membuat mereka tertarik untuk berbicara atau meminta nomor kontak.
Mengabaikan tatapan orang-orang, Tina dan Nina menatap ke arah Bella dengan ekspresi serius.
"Jadi, apakah Lulu terlibat dengan sekelompok orang jahat?" tanya Nina.
"Benar."
Bella mengangguk serius. Meski tidak bisa menutupi semuanya, dia dengan cerdas menutupi hal-hal tentang Kultivator menggunakan hal lain. Ya ... menutupinya dengan urusan gangster, dan semacamnya.
"Aku tahu itu! Jelas Lulu adalah gadis baik! Dia pasti ditipu!" ucap Tina.
Sebagai pemimpin kelompok kecil dan yang paling mengenal ketiga temannya, Tina tidak percaya kalau orang-orang yang dia kenal akan bisa mengkhianati mereka begitu saja. Meski saling membagi kepentingan, tetapi Tina selalu yakin ... mereka masih lebih baik daripada para perempuan munafik itu.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak mungkin terlibat dengan hal-hal semacam itu, kan?" tanya Nina.
"Apakah kamu tidak tahu, Nina? Pangerannya Bella, Kak Adam itu adalah lelaki yang kuat!"
"Lelaki kuat?"
Nina memikirkan sosok Adam yang tampak tinggi, tampan, dan keren. Tanpa sadar, gadis itu menelan ludah.
"Gulp!"
Plak!
Tina langsung memukul kepala gadis itu. Setelah itu, dia menegaskan.
"Apa yang kamu pikirkan? Maksudku, ingat puluhan orang yang dia bawa kemarin? Jelas ... identitas Kak Adam tidak biasa!
Aku tahu dia adalah pemimpin kelompok tertentu. Namun aku tidak tahu, kalau kelompok yang dia pimpin begitu kuat."
Tina berkata dengan tatapan memuja. Tampaknya gadis itu menyukai lelaki macho yang bisa bertarung dan cukup ganas. Bukan tipe lembut yang terbilang kurang menantang.
"Kamu yang berbicara tidak jelas ..." gumam Nina sambil mengelus kepalanya dengan ekspresi tidak puas.
"Apa kamu bilang???" tanya Tina.
Melihat keduanya telah membaik dan bercanda, Bella tersenyum. Ekspresinya kemudian berubah menjadi lebih serius.
"Aku pasti akan menyelamatkan Lulu, Teman-teman."
Ucapan Bella langsung membuat kedua gadis yang bertengkar itu terkejut. Mereka kemudian menatap ke arah Bella.
"Kami tahu kalau penampilanmu berubah, Bell. Tapi ..."
Tina dan Nina saling memandang.
Berbeda dengan biasanya, Bella tidak lagi tampil begitu lembut. Dia memakai celana jins hitam, kaos dan jaket hitam sedikit besar. Dia juga memakai sepatu boots, bahkan rambutnya diikat ke belakang. Tampak menunjukkan tempramen gadis 'dingin dan kuat', tetapi bagi Tina dan Nina yang sudah lama mengenal Bella ...
Mereka menganggap gadis itu berpura-pura. Tidak terlalu yakin, kerena bagi mereka Bella adalah gadis paling polos dan lemah di antara mereka berempat (termasuk Lulu).
__ADS_1
"Apakah tidak cocok?"
Bukannya marah, Bella malah tampak malu. Yang mengajarinya berpenampilan seperti itu adalah Jennifer. Menurut Jennifer, selain lebih nyaman untuk bergerak dan mudah untuk bertarung ... penampilannya tampak keren. Namun ketika melihat reaksi kedua temannya, Bella menjadi agak malu.
"Bukannya tidak cocok. Hanya saja, kami sudah terlalu mengenalmu Bell ..."
Tina dan Nina tertawa.
Setelah berbincang sejenak, mereka kemudian membayar lalu pergi ke luar. Namun baru berjalan beberapa meter, ada tiga lelaki yang menghadang jalan mereka. Satu di antara mereka memiliki tubuh besar dengan rambut dicat warna kuning. Tampak mencolok!
"Hai manis, bagaimana kalau pergi karaoke bersama?" ucap salah satu pria itu.
Melihat modus mereka, Tina langsung mendengus dingin.
"Kami tidak mengenal kalian. Nina, Bell ... ayo pergi."
Setelah mengatakan itu, Tina langsung berbalik pergi. Namun saat itu, lelaki bertubuh besar itu memegang pergelangan tangan Tina.
"Kita bisa berkenalan di sana, kan?" ucap lelaki itu dengan senyum ganas.
"Lepaskan atau aku akan berteriak!"
"Hehehe ... kalian tidak tahu, di sini adalah area kelompok Blood Blade kami. Bahkan jika minta tolong, tidak akan ada yang membantu kalian.
Kalian pasti tidak tahu, Blood Blade kami—"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Bella tiba-tiba meraih tangan lelaki itu. Gadis itu langsung meremas kuat tangannya, membuat pegangannya kepada Tina dilepaskan. Bella lalu memutar tangan pria itu, melepaskannya ... kemudian membuat gerakan menyapu dengan kakinya.
Belum sempat kedua temannya merespon, Bella langsung memegang tangan Tina dan Nina yang terkejut sambil berkata.
"Ayo pergi!"
Ketika sadar, mereka bertiga langsung buru-buru pergi. Mereka masih takut ketiga orang tadi memanggil teman-temannya.
Hanya saja, ketiganya tidak tahu. Tidak jauh dari sana, ada mobil hitam yang terparkir sedari tadi. Empat lelaki dengan jas hitam keluar dari mobil dan menghampiri ketiga pria tadi. Salah satu dari mereka menyalakan rokok.
Mengembuskan asap rokok, dia tidak bisa tidak berkata.
"Teknik sapuan tadi benar-benar bagus, seperti yang diharapkan dari pacar Ketua. Tampaknya tidak hanya dimanjakan, tetapi Nona Bella dilatih dengan baik."
Melihat empat orang yang baru saja tiba, pria kekar yang baru bangkit menatap mereka dengan marah.
"Siapa kalian berempat? Beraninya kalian ikut campur masalah Blood Blade. Apakah kalian—"
BRUAK!
Salah satu lelaki berjas hitam langsung memukul wajah pria kekar itu. Sementara itu, pria dengan rokok di mulutnya mengembuskan asap rokok ke wajah dua teman pria kekar itu.
"Blood Blade apa? Kenapa aku belum pernah mendengarnya?"
Ketika mereka berdua hendak menjawab, mereka melihat sebuah logo dua sayap perak bersilangan di jas keempat pria itu. Saat itu juga, ekspresi mereka langsung tampak pucat.
"Kalian ... Kalian dari Wings of Freedom!"
__ADS_1
Melihat ke arah ketiga orang yang ketakutan, pria itu membuang puntung rokok lalu menginjaknya. Sudut bibirnya naik ke atas ketika berkata.
"Segera bereskan, aku tidak ingin dipukuli Kak Brock karena lalai menjalankan tugas."
"Baik!"
Tiga pria berjas hitam lain menjawab bersamaan.
Sementara itu, Bella telah naik mobilnya dengan dua temannya. Mereka segera pergi dari tempat itu.
"Seharusnya kita sekarang aman, kan?"
Bella bertanya dengan ekspresi ragu. Melihat kaca spion depan, dia melihat dua temannya tampak terkejut.
"Gerakan apa tadi, Bell? Kamu benar-benar bisa berantem?" tanya Tina.
"Wuzz wuzz! Tiba-tiba pria besar itu jatuh. Kamu keren, Bell." Nina menambahkan.
Bukannya bangga, wajah Bella malah merah karena dipuji. Gadis pendiam itu benar-benar merasa tidak terlalu percaya diri. Jika itu Jennifer, wanita itu pasti membusungkan dadanya sambil berkata,
'Siapa dulu? Aku!'
Sebaliknya, Bella malah tampak malu-malu. Dia agak linglung, ingin mengalihkan topik pembicaraan tetapi tidak bisa.
"Apakah Kak Adam yang mengajarimu, Bell?" tanya Tina.
"Iya, Kak Adam yang mengajarkannya."
Ketika membahas Adam, Bella menjadi lebih tenang. Tampaknya rasa malunya sedikit berkurang. Melihat dua temannya kagum dengan Adam, dia merasa ikut senang dan cukup bangga untuk kekasihnya itu.
Hanya saja, Bella tidak tahu, kedua temannya memang sengaja mengalihkan perhatian agar dia tidak malu lagi.
***
Di markas Wings of Freedom.
"Kerja bagus."
Duduk di kursinya, Adam berkata sebelum menutup telepon. Meletakkan ponselnya di atas meja, dia kemudian melihat tumpukan dokumen yang telah dibagi sesuai dengan kelompok masing-masing.
Memegang amplop coklat dengan beberapa lembar kertas penting yang berhubungan dengan kasus pembunuhan di Kota, ekspresinya berangsur-angsur menjadi dingin.
"Akhirnya menemukan petunjuk ..."
Sekali lagi mengambil ponselnya, pemuda itu segera menghubungi Randy dan Brock.
Ketika terhubung, dia langsung berkata dengan nada dingin.
"File sudah dikirim, periksa dengan cermat, lakukan dengan baik ...
Dalam misi ini, aku tidak mentolerir sedikit pun kesalahan."
>> Bersambung.
__ADS_1