Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Masih Harus Membawa Beban


__ADS_3

“Apakah anda tahu, Spiritualist dari aliran mana yang lebih sering dan menggunakan pedang kayu sebagai senjata mereka?”


Mendengar ucapan Clara, pria yang dipanggil dengan sebutan Tuan Lei itu tampak terkejut. Mengelus dagu, dia tampak berpikir. Setelah cukup lama diam, Tuan Lei akhirnya berkata singkat.


“Sebenarnya, baik pendeta tao atau onmyoji adalah pengguna pedang kayu yang baik. Ada banyak sekte atau kuil, jadi aku tidak tahu yang mana.


Contohnya Sekte Thunder Fang kami. Selain pengguna pedang, ada pengguna tombak, belati, atau bahkan ahli jimat. Ya … bagian-bagian seperti itu sama sekali bukan rahasia, jadi tidak apa-apa kalian mendengarnya.


Kemungkinan besar, kebanyakan pengguna pedang adalah pendeta tao. Meski ada onmyoji yang menggunakan pedang, kebanyakan dari mereka lebih fokus ke kertas jimat dan beberapa segel unik.


Kenapa anda menanyakan hal tersebut, Nona Clara? Pernahkah anda bertemu kultivator lain sebelumnya?”


Mendengar ucapan Tuan Lei, ayah dan ibu Clara memandang ke arah putri mereka. Keduanya tampak begitu terkejut. Tidak menyangka kalau putri mereka telah bertemu dengan kultivator lain.


“Saya tidak perlu menyembunyikannya. Dalam kasus di SMA Blue Rose, saya tanpa sengaja bertemu dengan kultivator lainnya. Hanya saja, berbeda dengan anda …


Kelihatannya dia lebih membaur dengan orang-orang biasa.”


“Hmmm …”


Mengelus dagu, Tuan Lei tampak berpikir keras. Dia kembali bertanya.


“Apakah kamu tahu kira-kira dia berusia berapa?”


“Sekitar 21 atau 22 tahun … mungkin?” Clara tampak bingung.


“Tidak perlu bingung. Kultivator biasanya menghabiskan waktu mereka untuk berlatih. Saya sendiri sudah mulai berlatih sejak usia 13 tahun. Sepuluh tahun lamanya!


Jangan kira menjadi kultivator itu mudah. Perlu kerja keras dan kesabaran dalam menempuh jalan ini.”


Melihat ke arah Tuan Lei, orang tua Clara tampak kagum. Sedangkan Clara, gadis itu sendiri tampak agak ragu. Dia ingin bercerita tentang beberapa roh jahat yang ditemuinya, tetapi tidak jadi karena merasa cukup ragu.


“Dari usianya dan penampilannya, mungkin dia bukan kultivator tingkat tinggi. Lagipula, berkultivasi memerlukan banyak waktu. Seperti saya, meski sudah berlatih selama sepuluh tahun, saya masih berada di ranah Spiritualist bintang 8.”


Meski diucapkan dengan rendah hati, jelas ketiga orang lainnya melihat kebanggaan di mata Tuan Lei. Jelas, di antara rekan-rekannya, pencapaiannya cukup luar biasa.


“Seperti yang diharapkan dari Tuan Lei, benar-benar jenius dari Thunder Fang. Benar-benar mencapai langkah secepat itu di usia yang masih muda.”


Mendengar pujian dari Ayah Clara, Tuan Lei yang sadar bahwa pria paruh baya itu sama sekali tidka mengerti level hanya menggeleng ringan sebelum menghela napas panjang.

__ADS_1


“Jalanku masih panjang. Saya ingin segera mencapai tingkat Spiritualist Master, tetapi saya sendiri tahu … perlu bertahun-tahun kesabaran untuk mencapai tingkat itu.”


Mendengar banyak penjelasan dari Tuan Lei, Clara mengangguk sebelum berkata dengan hormat.


“Terima kasih atas penjelasannya, Tuan Lei.”


“Tidak masalah. Sama sekali bukan masalah besar. Karena saya baru tiba sore ini, saya berencana untuk beristirahat lalu mulai mencari pengalaman besok. Apakah tidak apa-apa?”


Tuan Lei berkata kepada ayah dan ibu Clara. Keduanya saling memandang lalu mengangguk. Mereka kemudian memanggil pelayan untuk mengantar Tuan Lei ke kamar tamu.


Setelah sosok Tuan Lei pergi, Ayah Clara memandang putrinya.


“Kenapa kamu tidak pernah menceritakan itu, Clara?”


“Anda tidak bertanya, Ayah.”


Clara menjawab dengan nada tak acuh. Gadis itu kemudian bangkit dari tempat duduknya sebelum melangkah pergi sembari berkata.


“Karena tidak ada urusan lain, saya pergi.”


“Clara, kamu-”


...***...


Malam di hari berikutnya.


“Maaf sampai merepotkan anda seperti ini, Nona Clara.”


Di dalam sebuah mobil Maserati GranTurismo berwarna biru, sosok Tuan Lei memandang ke arah Clara yang sedang menyetir. Melihat gadis cantik itu, dia hanya bisa menghela napas dalam hati.


Jangan terbawa suasana, Lei Fan! Kultivasi itu penting! Jika terlalu banyak membuang energi, kamu akan tertinggal dan tidak bisa mengejar wanita itu!


Pria itu membayangkan sosok wanita secantik peri. Tanpa sadar, tangannya terkepal erat. Matanya penuh dengan tekad.


Alasan kenapa Lei Fan turun gunung adalah untuk menambah wawasan tentang dunia. Selain itu, gurunya ingin dia menambah pengalaman. Memiliki peringkat baik di antara rekannya belum tentu menjadi yang terbaik di dunia luar.


Sebagai salah satu sosok yang menonjol di antara rekan-rekannya, Lei Fan agak meremehkan dunia luar. Menurutnya, orang yang disebutkan oleh Clara sebelumnya adalah kultivator bebas.


Selain tanpa latar belakang sekte, kuil, atau gereja di belakangnya … biasanya para kultivator semacam itu tidak memiliki level tinggi karena banyak kekurangan. Kurang ilmu, kurang nutrisi untuk latihan, kurang waktu, dan banyak kekurangan lainnya.

__ADS_1


Menurut dugaan Lei Fan. Sosok yang disebutkan oleh Clara paling banter berada di level Spiritualist bintang 3. Paling banyak, bintang 4 atau 5. Memang, lebih baik daripada orang normal, tetapi Lei Fan tidak menaruh sosok semacam itu dalam pikirannya.


Setelah mengemudi cukup lama, akhirnya mobil itu sampai di sebuah gedung yang belum selesai dibangun. Beberapa hari yang lalu, kecelakaan yang menewaskan pekerja konstruksi terjadi di sana.


Memang, beritanya hanya beberapa hari yang lalu. Namun Clara tahu, sudah hampir dua minggu sejak kejadian janggal terjadi. Ada beberapa kecelakaan kerja di sana, tetapi pekerjaan masih tetap dilanjutkan dan berita berhasil ditutup.


Alasan kenapa Clara tahu itu karena ayahnya adalah pemilik perusahaan jasa konstruksi yang bertanggung jawab untuk pembangunan gedung tersebut.


“Benar-benar aura yang kuat,” gumam Lei Fan yang melihat lokasi konstruksi.


“Apakah semua ini ada hubungannya dengan hal-hal jahat, Tuan Lei?”


Mendengar pertanyaan Clara, Lei Fan mengangguk. Dia kemudian berkata dengan nada serius.


“Anda bisa pergi terlebih dahulu dan datang lagi setelah fajar. Atau, saya juga bisa meminta penjaga untuk mengirim kembali. Jadi-”


“Saya ingin ikut.”


“EH?”


Mendengar ucapan Clara yang tegas, Lei Fan tampak kaget. Dia tidak menyangka kalau sosok gadis itu akan menjadi sangat keras kepala. Benar-benar seperti anak sapi yang baru lahir, bahkan tidak takut pada harimau!


“Tidak bisa. Itu terlalu berbahaya.”


“Saya tetap ingin ikut,” ucap Clara tegas. “Saya bisa melindungi diri sendiri.”


Setelah mengucapkan itu, Clara mengeluarkan jimat pelindung yang diberikan oleh Lei Fan sebelumnya.


“Jimat itu paling-paling hanya bisa menghentikan satu serangan! Kamu bahkan hanya membawa satu jimat. Aku tidak bisa memberimu lagi.”


“Tidak apa-apa. Jika terlalu berbahaya, setelah menahan serangan dengan jimat, saya akan lari.”


“...”


Tidak bisa lagi mengingatkan Clara yang keras kepala, Lei Fan akhirnya memutuskan untuk membawanya. Mereka berdua kemudian pergi untuk menemui satpam yang bertugas di sana. Setelah itu, Lei Fan dan Clara masuk ke lokasi proyek konstruksi.


Baru tiba di lokasi, Lei Fan merasakan hawa dingin di punggungnya. Melihat Clara yang tampak biasa saja, pria itu tersenyum pahit. Dia bahkan merasa agak tertekan.


Di tempat berbahaya seperti ini … kenapa aku masih harus membawa beban?

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2