
Setelah mandi pagi dan makan sarapan yang dikirim ke kamar tamu, Adam keluar kamar untuk menemui Thomas dan keluarganya.
Keluar dari kamar, Adam menuju ke ruang keluarga. Sampai di sana, pemuda itu sempat terdiam sejenak ketika melihat istri Thomas.
Wanita pirang cantik dengan tubuh layaknya model tampak begitu pendiam. Dia memiliki ekspresi tenang. Tampak begitu polos dan tidak bersalah.
Sungguh tidak disangka ...
Pikir Adam tanpa terlalu memperhatikan wanita itu. Dia kemudian duduk di sofa dengan tenang.
"Apakah anda benar-benar harus kembali, Mr Owl?" tanya Thomas.
"Ya. Paling tidak aku harus mempersiapkan diri."
"Tidak bisakah saya meminta orang lain untuk mengambil alat-alat anda di Departemen Misteri?"
"Tidak. Benda-benda itu bukan untuk mainan, Mr Thomas ... tolong mengerti itu."
"Maafkan saya, Mr Owl."
"Tak apa ..." Adam menggeleng ringan.
"Paman Owl akan kembali, kan?"
Mendengar Kevin yang tampak begitu tidak nyaman, Adam mengangguk dengan senyum lembut di balik topengnya
"Aku akan kembali untuk menyelesaikan kasus ini. Jadi kamu bisa segera pergi bermain dengan teman-teman kamu lagi, Kevin."
"Terima kasih, Paman Owl!"
"Ini sudah tugasku."
Setelah bercakap-cakap sebentar, Adam kemudian kembali ke Departemen Misteri cabang Kota B.
***
Beberapa waktu kemudian.
Setelah sampai di markas mereka, Adam langsung dihampiri oleh James dan yang lainnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak kembali kemarin? Apakah kamu langsung pulang, Mr Owl? Kami sangat penasaran," ucap James.
"Memang ada anomali, bahkan yang sangat sulit dipecahkan. Semalam aku menginap di sana."
"Kasus apa itu? Apakah kamu sudah menyelesaikannya, Mr Owl?"
"Jangankan menyelesaikan, aku malah terkena tanda kutukan." Adam menghela napas setelah mengatakan itu.
"..."
Yang lainnya saling memandang. Tampak heran dan merasa cukup aneh.
"Apakah kamu serius, Mr Owl?" tanya James.
"Aku serius. Bahkan tadi ada korban yang merupakan anak dan ibunya yang meninggal di malam yang sama."
"Maksud anda ..." ucap Douglas dengan ekspresi bingung.
"Korbannya bukan hanya Kevin, tetapi juga teman-temannya."
"Kasus sebesar itu?" tanya James dengan ekspresi terkejut.
"Kenapa? Apakah kamu berpikir kami akan menjadi beban?" tanya James.
"Kamu ... Tidak. Kalian bukan bagian permainan."
Adam melepas sarung tangan kanannya. Lalu menunjukkan punggung tangannya kepada James dan lainnya.
"Apakah kalian melihat sesuatu di punggung tanganku?" tanya Adam.
Mendengar pertanyaan pemuda itu, sebagian langsung bingung karena mereka tidak bisa melihatnya.
Jasmine yang biasanya diam dan tenang mengangkat tangannya. Gadis itu kemudian menulis sesuatu di papan kecil yang selalu dia bawa.
'Apakah itu seperti angka 3 dengan warna merah darah?'
Melihat tulisan dari Jasmine, Adam cukup terkejut. Pemuda itu kemudian mengangguk lembut.
"Aku kaget kamu juga bisa melihatnya, Jasmine. Benar, ini adalah tanda kutukannya.
__ADS_1
Aku adalah bagian permainan yang 'Dia' buat. Jadi, aku akan mencoba menyelesaikannya dengan caraku sendiri. Oleh karena itu, kalian tidak perlu ikut campur.
Ini terlalu berbahaya. Bukan hanya nyawa orang lain, tetapi nyawa kalian dipertaruhkan."
Mendengar ucapan Adam, yang lain menjadi cukup gugup. Mereka tidak menyangka kalau semuanya begitu rumit dan berbahaya. Lagipula, mereka semua awalnya orang biasa dan tidak pernah menganggap hal-hal semacam itu nyata.
"Lalu ... Apakah ada yang bisa kami bantu?" tanya James.
"Tolong atasi kasus lain selama aku sibuk mengurus ini. Bahkan jika aku menyelesaikan kasus ini, aku juga ingin libur sebentar.
Maksudku ... aku hanya ingin berada di markas dan tidar terus turun tangan ke lokasi. Kasus ini terlalu berat dan melelahkan."
Mendengar bagaimana Adam menghela napas, yang lainnya saling memandang. Mereka mengangguk ringan. Sadar bahwa Adam juga bisa lelah dan agak tertekan, mereka masih menganggap pemuda itu sebagai manusia.
"Serahkan sisanya kepada kami. Selama itu bukan kasus yang berhubungan dengan roh, kami pasti akan menanganinya dengan mudah." James berkata dengan ekspresi penuh percaya diri.
Melihat itu, Adam tersenyum pahit. Dia kemudian berkata dengan nada agak tertekan.
"Tidak bisakah kita mencari anggota yang bisa diandalkan untuk masalah roh jahat selain aku?"
"Bukannya aku tidak mau, Mr Owl. Kami tidak bisa." James tersenyum pahit. "Merekrut orang-orang seperti kalian sama sekali tidak mudah. Jika bukan karena sedikit terpaksa, kalian semua pasti cukup enggan dengan untuk masuk organisasi ini."
"..."
Melihat yang lainnya hanya diam, James melanjutkan.
"Jika mudah, mungkin mereka tidak akan memilih aku sebagai kapten."
Mendengar pengakuan James, yang lainnya tanpa sadar mengangguk. Menurut mereka, dibandingkan James, Adam lebih cocok sebagai ketua. Namun mereka juga tahu bahwa pemuda itu terpaksa untuk ikut ke dalam Departemen Misteri.
Bukan hanya Adam, mereka sendiri juga seperti itu. Khususnya Carole dan Douglas. Keduanya memerlukan cukup banyak uang. Sebaliknya, mereka sekarang tidak memiliki pekerjaan tetap.
Pada akhirnya, mereka bisa ikut masuk ke dalam Departemen Misteri karena kemampuan unik mereka. Setiap orang memiliki alasan masing-masing, jadi mereka tidak saling menyalahkan satu sama lain.
Ya ... Setiap seorang memiliki alasan mereka masing-masing. Tidak perlu menyalahartikan satu sama lain.
Pikir Adam ketika merasakan suasana agak tertekan di antara mereka semua.
>> Bersambung.
__ADS_1