
Sore harinya.
“Apakah belum ada kabar sama sekali?”
Mendengar pertanyaan Adam, Jennifer menggelengkan kepalanya. Kabar yang mereka tunggu jelas tentang munculnya beberapa orang gila secara tiba-tiba dan membahayakan keselamatan umum.
Akan tetapi, kali ini benar-benar senyap. Tidak ada informasi sedikit pun.
“Benar-benar tidak ada hal yang terkait dengan kasus seperti sebelumnya, Adam. Mungkinkah sebagian perhiasan itu tidak memiliki efek yang sama?”
“Seharusnya semuanya memiliki kegunaan yang sama.”
“Lalu kenapa tidak ada informasi sedikit pun?” Jennifer tampak ragu.
“Aku menduga ada dua alasan. Pertama, itu karena mata-mata kepolisian memiliki jabatan lebih tinggi dari kamu dan meredam informasi sebelum sampai ke telinga kamu. Bahkan menyelesaikannya secara diam-diam.
Terakhir, pemilik barang-barang itu adalah tokoh ternama dan memiliki kedudukan tinggi. Ketika ada sesuatu yang aneh terjadi pada korban, mereka langsung mengamankannya dan menyembuhkannya secara pribadi.”
“...”
Jennifer meragukan kemungkinan pertama, tetapi tidak mengucapkannya. Sedangkan kemungkinan terakhir, itu lebih cocok. Sepertinya memang itu alasan sampai sekarang tidak ada informasi yang terdeteksi.
“Apakah kamu memiliki ide lain daripada menunggu, Jennifer?”
Mendengar pertanyaan Adam, Jennifer menggeleng ringan. Tidak mungki untuk mengetuk pintu orang-orang yang tinggal di pusat kota satu per satu hanya karena alasan yang tidak jelas. Hal itu mengganggu privasi dan kenyamanan publik.
Ring! Ring! Ring!
Pada saat itu, ponsel Jennifer berdering.
“Siapa?” tanya Adam.
Melihat penelepon, Jennifer langsung menjawab, “Renald.”
“Lalu kenapa kamu tidak menjawabnya Jennifer?” tanya Adam dengan ekspresi agak bingung.
Menghela napas panjang, Jennifer akhirnya memutuskan untuk menjawab telepon.
“Ada apa, Renald?”
“Senior Jennifer, ada yang mencari anda.”
“Aku bilang, aku tidak ingin bertemu-”
“Orang ini berbeda dari yang sebelumnya. Apakah kamu yakin untuk mengusirnya, Senior Jennifer?”
“Siapa?” tanya Jennifer.
“Salah satu pengusaha berpengaruh dari Kota B. Pria itu datang dengan seorang lelaki berpakaian hanfu. Kelihatannya ingin menanyakan persoalan Mr Owl.”
“Suruh mereka-”
Sebelum menyelesaikan ucapannya, Adam menggeleng ringan kepada Jennifer. Mengerti yang dimaksud oleh pemuda itu, dia mengganti kalimatnya.
“Suruh mereka menunggu. Aku akan segera datang ke kantor.”
__ADS_1
“Baik.”
Setelah menutup telepon, Jennifer menatap sosok Adam lalu bertanya dengan heran.
“Rekan satu perguruan? Sekte?”
“Bukan.” Adam menggeleng ringan. “Kamu ingat obat yang aku simpan di ruang latihan? Kemungkinan orang itu adalah yang memberiku obat. Temui mereka, jika pria yang mengenakan hanfu itu bernama Lei Fan, kemungkinan besar dia tidak akan datang untuk mencari masalah.”
“Apakah kamau yakin?” tanya Jennifer.
“Bawa Killa pergi bersamamu.”
“Baik!”
Melihat ekspresi serius di wajah Adam, Jennifer mengangguk. Wanita itu kemudia berpamitan sebelum pergi bersama dengan Killa. Adam juga menyuruhnya membawa sesuatu yang ... cukup penting.
Ketika mereka pergi, Bella keluar dari dapur sebelum bertanya kepada Adam.
“Apakah semuanya baik-baik saja, Kak Adam?”
Adam yang mendengar pertanyaan Bella langsung menatap gadis itu sembari tersenyum lembut.
“Tentu saja mereka akan baik-baik saja.”
...***...
Beberapa waktu kemudian, dalam kantor polisi.
“Akhirnya kamu tiba, Senior Jennifer.”
Melihat sosok Jennifer dan Killa yang masuk ke dalam ruangan, Renald merasa lega.
“Maaf membuat kalian menunggu lama.”
“Sama sekali tidak,” ucap Paul.
Sementara Paul menjawab, Clara juga ikut mengangguk. Sementara itu, Lei Fan malah fokus ke arah Killa.
“Apakah anda tidak apa-apa, Tuan Lei?”
Pertanyaan dari Paul menyadarkan Lei Fan dari lamunannya.
“Tidak. Sama sekali tidak apa-apa.” Lei Fan menggeleng ringan.
Jennifer duduk di kursinya. Melihat empat orang yang memandangnya, dia langsung ke intinya.
“Saya dengar kalian mencari saya. Apakah ada yang bisa saya bantu?”
Pada saat itu, Paul langsung melirik ke arah Lei Fan.
“Nona Jennifer, kan? Saya dengar anda akrab dengan Senior Owl. Apakah anda tidak keberatan untuk memberitahu saya keberadaan Senior Owl?”
“En?”
Jennifer melihat ke arah Lei Fan. Mengetahui kalau lelaki itu lebih tua dari kekasihnya tetapi masih memanggilnya Senior membuatnya merasa agak canggung. Namun dia dengan tegas berkata.
__ADS_1
“Saya tidak mengenal Owl.”
“Saya sarankan anda memberitahu identitasnya atau-”
“Atau apa, Mr Paul? Anda berani mengancam polisi?”
Mata Jennifer menyipit. Dari awal sudah tidak menyukai sikap sombong pria paruh baya itu.
“Kamu-”
“Cukup, Mr Paul! Jangan membuat masalah!”
Lei Fan yang biasanya lembut marah kali ini. Dia benar-benar tidak suka sikap Paul. Namun karena dirinya sedang ada di Kota B dan ayah Paul adalah dermawan yang membela gurunya, Lei Fan memilih untuk menutup mata.
Lei Fan mengalihkan pandagannya ke arah Jennifer lalu memberi hormat dengan tulus.
“Maafkan kekasaran kami, Petugas Jennifer. Saya tidak peduli identitas Senior Owl. Apa yang sebenarnya ingin saya tahu adalah … apakah anda memiliki cara untuk menghubungi Senior?”
“Aku memang memiliki cara. Bagaimana mungkin Owl membantuku dalam misi jika tidak bisa menghubungi dirinya?”
“Lalu … bisakah anda membantu saya menghubunginya?”
“Tergantung.” Jennifer berkata dengan nada tak acuh. “Ngomong-ngomong … apakah nama anda Lei Fan?”
“Bagaimana anda tahu?” tanya Lei Fan dengan bingung.
“Lei Fan dari Sekte Thunder Fang?”
“Jadi itu benar-benar senior Owl yang itu.”
Menyadari bahwa Owl mengenalnya, Lei Fan yakin kalau Owl yang membantu polisi memang Senior Owl yang menolongnya.
“Ngomong-ngomong … ada yang harus aku sampaikan kepada anda.”
“Apa itu?” tanya Lei Fan.
Jennifer meletakkan satu kantong kecil berisi pil gizi dan tiga jimat di atas meja. Melihat itu, Lei Fan tampak bingung.
“Apa maksud dari semua ini, Petugas Jennifer?”
“Owl memintaku untuk mengembalikannya kepadamu. Namun karena aku benar-benar sibuk, tidak ada waktu untuk mencari anda.”
“Ini …”
“Owl bilang, hal itu lebih berguna untuk anda daripada untuk dirinya. Selain itu, dia juga berkata telah menerima rasa terima kasih anda yang tulus.”
“Jadi begitu …”
Sementara keduanya berbicara, Paul dan Clara menatap pil gizi dan jimat di atas meja. Pandangan mereka khususnya fokus ke jimat di atas meja. Satu jimat bisa berharga lima ratus ribu dollar aliansi. Itu harga pasti, bahkan tidak ada pasar untuk membeli.
Sedangkan pil itu sendiri, satu pil berharga sepuluh ribu dollar aliansi. Sama dengan jimat, terlalu banyak konsumen yang ingin tetapi tidak ada barang.
Renald sendiri malah tampak linglung. Tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
Jika Adam tahu bahwa benda yang dia anggap ‘sampah’ ternyata sangat berharga dan bernilai jutaan. Dia pasti marah dan menganggap dirinya bodoh. Pemuda itu pasti lebih memilih untuk berganti profesi menjadi ahli jimat dan potion daripada tetap menjadi pengusaha.
__ADS_1
Lagipula … keuntungannya benar-benar terlalu besar!
>> Bersambung.