Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Azure Cloud Stream


__ADS_3

"Apa yang kamu bilang?"


Dalam sebuah ruangan gelap, sosok lelaki tua dengan tubuh kurus yang mengenakan setelan baju kuno berwarna hitam tampak marah. Dia menatap sosok yang berlutut di depannya dengan ekspresi marah.


Jika Adam dan rekan-rekannya di sini, mereka akan mengenal sosok yang berlutut di depan lelaki tua itu karena ...


Dia adalah istri dari kepala desa.


"Kamu bilang Rose Pattern Blood Spider telah dibunuh? Makhluk itu berada di alam Spiritualist Master! Tidak mungkin orang biasa mampu membunuhnya!"


"T-Tapi yang melakukannya sama sekali bukan orang biasa, Tuan. D-Dia ... dia tampak sangat berbahaya."


"Sampah! Aku sudah menunggu hampir tujuh tahun untuk ini! Kamu bilang pria itu membunuh dan membakar habis semua sarang laba-laba itu?"


"S-Sepertinya dia memindahkan beberapa telur untuk dibawa sebagai sampel bersama dengan bangkai makhluk itu. Juga ..."


"Ada apa lagi?!" seru pria tua itu.


"Bocah itu, Nam. Dia dibawa pergi oleh pria misterius itu."


Plak!


Lelaki tua itu langsung menampar wanita di depannya sampai jatuh ke tanah. Dia menggertakkan giginya, tampak benar-benar tidak terkendali.


"Benar-benar sampah! Aku meminta kamu merawatnya dengan hati-hati seperti bocah biasa!


Kamu sendiri juga tahu, dibandingkan dengan Rose Pattern Blood Spider ... bocah itu lebih penting."


Setelah mengatakan itu, lelaki tua berpakaian hitam mencengkeram pundak kirinya. Jika diperhatikan baik-baik, dia telah kehilangan lengan kirinya.


Menarik napas dalam-dalam, lelaki tua itu berusaha untuk tenang.


"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, selain membunuh wanita itu, aku akan membuat putranya mengalami rasa sakit yang mengerikan.


Kemudian, bocah itu akan disuling sebagai pil darah untuk memperkuat tubuhku sendiri. Namun sekarang ... semuanya malah menjadi kacau karena kebodohan wanita ini."


Setelah mengatakan itu, lelaki tua dengan pakaian kuno berwarna hitam menatap sosok yang tergeletak di lantai dengan niat membunuh.


***


Sementara itu, di markas Departemen Misteri.


"Selamat datang di rumah barumu, Nam."


Turun dari mobil, Adam langsung memperkenalkan Nam kepada rumah barunya. Lebih tepatnya, markas Departemen Misteri cabang Kota B yang akan menjadi tempat dia tinggal mulai sekarang.

__ADS_1


"Wow ... benar-benar besar."


Nam yang selalu tinggal di desa pegunungan tampak kagum. Pertama kali dia masuk kota dan melihat gedung pencakar langit, bocah itu merasa sedang dalam mimpi. Dia juga tidak akan menyangka akan tinggal di rumah sebesar itu.


"Akhirnya kamu tiba, Mr Owl."


Mendengar ucapan James, Adam menghampiri pria itu lalu menepuk pundaknya.


"Terima kasih atas kerja kerasnya. Untuk makan malam, kamu bisa memesan apapun yang kamu mau. Ya ... bukan hanya kamu, tetapi semua penghuni markas."


Adam berkata santai. Melihat yang lain memandangnya seolah memastikan sesuatu, dia menambahkan.


"Tentu saja, aku yang akan membayarnya."


Mendengar itu, yang lainnya tampak senang.


Setelah itu, Adam mengajak Nam untuk berkeliling rumah terlebih dahulu. Kemudian membawa bocah itu ke kamar barunya. Meski awalnya James menolak untuk membuka kamar karena Nam bukan anggota dari Departemen Misteri, semuanya akhirnya berjalan lancar setelah negosiasi.


Ya ... Adam membayar kamar untuk muridnya itu.


Walaupun Nam adalah muridnya dan Adam bisa membuat bocah itu tidur di kamarnya ketika malam, dia sendiri belum sepenuhnya mempercayai bocah itu.


Untuk sekarang, Nam akan tinggal di kamar yang agak usang. Adam sudah memesan jasa renovasi kamar lewat James, tetapi baru bisa dimulai besok. Jadi anak itu harus bertahan satu malam.


Setelah beristirahat sebentar, Adam mengajak Nam untuk pergi ke ruang belajar dan kerja miliknya (yang dulunya adalah perpustakaan kecil). Di sana bocah itu memandang sekeliling dengan penasaran.


"Buku-buku itu terlalu rumit untuk kamu pelajari sekarang. Untuk minggu ini, kamu membiasakan diri dengan lingkungan sekitar terlebih dahulu. Mulai minggu depan, pelajaran akan dimulai ... begitu juga latihanmu."


"Saya mengerti, Guru!" jawab Nam tanpa penolakan.


"Meski Qi dalam tubuhmu akan tumbuh perlahan dengan berjalannya waktu karena menyerap energi Qi di sekitar secara pasif, bagiku, sekarang bukan waktunya kamu berlatih Qi.


Apakah kamu tahu alasannya?"


Mendengar pertanyaan Adam, Nam menggelengkan kepalanya dengan polos.


"Saya tidak tahu, Guru."


"Itu karena kondisi fisikmu. Kamu masih muda dan aku merasa melatih energi Qi akan terlalu berlebihan untuk sekarang. Jadi, untuk sekarang dan tiga tahun ke depan ... kamu akan berlatih fisik.


Tentu saja, kamu juga harus pergi ke sekolah setelah belajar pengetahuan dasar. Setelah lulus SD dan kondisi fisikmu lebih baik, aku akan mengajarimu berlatih energi Qi."


"Murid ini mengerti, Guru."


Nam tampaknya tidak terlalu memperdulikan latihan fisik atau energi Qi. Sebaliknya, bocah itu tampak sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah dan menuntut ilmu.

__ADS_1


Benar-benar berbeda dengan anak zaman sekarang yang masih saja malas sekolah padahal semua keinginannya sudah dituruti.


Pikir Adam sambil menggelengkan kepalanya. Pada saat itu, suara Nam kembali terdengar.


"Anu ... Guru?"


"Ada apa?" tanya Adam.


"Saya ingin memberi sesuatu kepada anda, Guru."


"En?"


Bocah itu kemudian mengeluarkan sebuah buku tua yang setiap lembar halamannya terbuat dari kulit yang tidak diketahui.


[ Azure Cloud Stream ]


Sebuah metode pemurnian energi Qi tipe angin dan air. Salah satu buku panduan dari sekte tertentu. Jika dipraktekkan secara ekstrem, dapat mencapai ketinggian Gold Spirit (High).


...


Melihat buku panduan khusus mirip dalam novel wuxia atau semacamnya, Adam tertegun. Dia kemudian menatap Nam.


"Ini?"


"Buku ini adalah peninggalan ibu saya, Guru. Karena saya tidak bisa membaca, saya tidak tahu itu apa.".


"Kenapa kamu memberikannya kepadaku?"


"Karena sebelum ibu meninggal, beliau berpesan untuk menjaga buku ini dan tidak menunjukkannya kepada siapapun ... kecuali orang yang benar-benar bisa dipercaya."


"..."


Melihat bocah yang ternyata lebih cerdas daripada perkiraannya, Adam tertegun. Dia kemudian memikirkan hal-hal aneh.


Ibu meninggal secara aneh? Memulai latihan Kultivasi? Menjadi kuat dan memulai balas dendam?


Bukankah itu yang dilakukan oleh tokoh dari beberapa novel yang aku baca di kehidupan sebelumnya?


Melihat Nam yang cukup heroik, Adam menghela napas panjang. Benar-benar tidak menyangka bahwa akan mengambil murid dengan latar belakang misterius seperti dalam cerita klasik.


Sebagai guru, bukankah aku akan menjadi target dari orang-orang yang mengincar Nam? Sepertinya aku harus berlatih lebih giat lagi.


Pikir Adam dengan senyum pahit di wajahnya.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2