Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Keluarga Bulbie


__ADS_3

Hampir satu jam sejak pertemuan Adam dengan Jimmy dan putranya. Sekarang, pemuda itu duduk di ruang tamu rumah pria itu.


Adam duduk dengan tenang di sofa tua. Tatapannya sempat menyapu seluruh ruangan, tetapi kembali ke arah secangkir teh yang masih mengepul di depannya.


Rumah Jimmy Bulbie tidak bisa dibilang mewah, tetapi juga tidak begitu buruk. Itu adalah rumah minimalis, ukurannya tidak besar, tetapi tampak rapi. Cat berwarna putih memang terlihat kusam, tetapi tidak tampak jamur atau sarang laba-laba di sana. Rumah itu jelas sering dibersihkan.


Adam juga sempat melirik ke beberapa foto di atas meja. Di antara mereka, ada sebuah foto keluarga beranggotakan empat orang. Pemuda itu melihat Jimmy, istri, putra, dan putrinya. Mereka tersenyum cerah, membuatnya merasa agak bersalah karena berniat untuk langsung membunuh pria tersebut. Namun ...


Adam sendiri juga mengetahui sesuatu. Jika Jimmy benar-benar musuh, bahkan jika ada keluarga di belakangnya, pemuda itu tetap harus melakukan apa yang harus dia lakukan. Merasa kasihan itu pasti, tetapi bukan berarti Adam akan terus memberi toleransi.


'Mungkinkah ... keluarga sederhana dan tampak baik seperti mereka benar-benar melakukan kejahatan semacam itu?


Mungkinkah itu amarah? Dendam? Atau ... diperintahkan oleh orang lain?'


Memikirkan semua itu, Adam tidak bisa tidak menghela napas panjang.


"Maaf membuat anda menunggu, Tuan Blood Owl."


Dari dalam rumah, Jimmy keluar sambil dibantu oleh wanita paruh baya. Wanita itu mengenakan pakaian sederhana. Rambut cokelat lurus panjang tergerai. Dia memiliki ekspresi lembut di wajahnya, tetapi wanita itu tampak begitu kurus dan lemah. Bahkan, selain cincin emas sederhana di jari manis, Adam tidak melihat perhiasan lain di tubuhnya.


Wanita itu sama sekali tidak marah. Dia membantu Jimmy berjalan. Wanita itu tampak sabar ketika membantu suaminya duduk di sofa.


"Tidak apa-apa."


Setelah mengatakan itu, Adam merasakan tatapan yang diarahkan kepadanya. Melirik ke sumbernya, dia melihat sosok remaja yang mengintipnya. Selain itu, ada sosok gadis berusia kira-kira lima atau enam tahun. Gadis itu juga mengintipnya dengan sepasang mata bulat dengan tatapan penasaran.


Gadis kecil itu sedikit takut melihat topeng tengkorak merah yang menutupi wajah Adam. Namun dia berusaha tetap tenang, penasaran kenapa lelaki aneh seperti itu datang ke rumahnya.


"Maaf jika kami tidak bisa menjamu anda dengan baik, Tuan Blood Owl."


"Mr Owl ..."


"Maaf???"


"Mereka biasanya memanggilku Mr Owl. Jadi kamu juga bisa memanggilku dengan cara yang sama."


"Kalau begitu, Tuan ... maksud saya, Mr Owl. Apakah anda benar-benar datang untuk mencaritahu kebenaran dibalik kebakaran SMA Blue Rose 30 tahun yang lalu?"


"Benar." Adam mengangguk.


"Meski orang-orang telah melupakannya?"


"Meski orang-orang telah melupakannya, bukan berarti dosa itu juga lenyap bersama dengan kenangan mereka."


"Dosa ... kah?"


"Aku tidak ingin berkata apakah orang itu bersalah atau tidak, karena aku juga memiliki banyak kesalahan. Bahkan tanganku sendiri sama sekali tidak bersih. Hanya saja ...


Aku hanya ingin mengungkapkan kebenaran yang seharusnya memang terungkap."


"Kakak, kenapa Paman itu berkata tangannya kotor? Jarang mencuci tangan?"

__ADS_1


"Sssttt ..."


"..."


Adam, Jimmy, dan Nyonya Bulbie menoleh. Melihat ke arah gadis kecil yang bertanya kepada kakaknya dengan nada polos, ekspresi Jimmy dan istrinya tampak agak buruk. Lebih tepatnya, khawatir.


"Adik kecil, kemarilah."


Adam berbicara dengan ramah.


Gadis kecil itu menatap ke arah kakak, ayah, dan ibunya. Melihat mereka semua mengangguk, dia berjalan ke arah Adam dengan ekspresi penasaran dan sedikit takut.


"H-Halo, Paman!" sapa gadis kecil itu dengan suara lembut.


Melihat penampilan gadis kecil yang lebih mirip dengan ibunya, tetapi juga tampak kurus, Adam tersenyum lembut.


"Siapa namamu, Adik kecil?"


"Nama saya Caca, Paman."


"Nama yang lucu, seperti orangnya."


"Hehehe ... terima kasih, Paman."


"Apakah Caca percaya pada sihir?"


"Sihir???" Gadis kecil itu memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung.


"Benarkah? Apakah Paman masih bisa melakukan sulap?"


"Lihat tangan Paman."


Adam yang telah melepas coat menggulung lengan bajunya. Dia menunjukkan tangan kosong di depan Caca. Pemuda itu kemudian menjentikkan jari di depan wajah gadis kecil itu. Pada saat itu juga, tangan yang awalnya kosong tiba-tiba memegang manik hitam kecil.


"Wow! Benar-benar sulap!" ucap gadis kecil itu dengan ekspresi takjub.


Caca kemudian membuat gerakan mengendus. Dia merasa kalau manik di depannya memiliki aroma yang sangat baik.


"Ini sejenis permen, apakah kamu ingin memakannya?"


Mendengar pertanyaan itu, Caca melihat ke arah keluarganya. Melihat kalau mereka ragu, dia juga semakin ragu.


"Tenang saja. Ini adalah sejenis pil gizi, sama sekali bukan racun. Aku sering mengonsumsinya."


Mengatakan itu, Adam melemparkan pil itu ke dalam mulutnya. Setelah itu, entah dari mana pemuda itu mengeluarkan pil yang sama.


Jimmy dan keluarganya akhirnya mengangguk. Mereka tidak tahan melihat Caca yang ngiler karena ingin makan 'permen' tersebut.


Adam dengan santai memberi satu kepada Caca. Dia meletakkannya ke atas telapak tangan gadis itu, lalu bertanya.


"Apakah kamu sudah belajar berhitung, Caca?"

__ADS_1


"Ibu telah mengajari Caca berhitung, Paman!"


"Kalau begitu, Paman akan bertanya ... berapa 47 dikurangi 30?"


"Itu ..." Caca tampak berpikir keras. Setelah beberapa waktu, dia menatap ke arah Adam dengan ragu. "Umm ... Tujuh belas?"


Adam mengulurkan tangannya lalu mengelus kepala gadis kecil itu.


"Gadis pintar. Benar-benar cerdas."


Melihat Caca tertawa bahagia, Adam berhenti mengelus kepala gadis kecil itu lalu mengeluarkan dompetnya.


Pemuda itu kemudian mengeluarkan satu lembar uang 100 dollar aliansi lalu memberikannya kepada Caca.


"Paman???"


Caca memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung. Dia sama sekali tidak pernah memegang uang sebanyak itu dalam hidupnya (karena dia masih kecil).


"Hadiah dari Paman." Adam tersenyum. "Pergi bersama dengan kakakmu untuk membeli sesuatu."


"Bolehkah Caca menerimanya?"


"Tentu saja." Adam menatap ke arah kakak Caca. "Ajak adikmu berbelanja. Beli juga beberapa kebutuhan sehari-hari."


"Y-Ya, Pak!" Pemuda itu menatap ke arah adiknya. "Ayo membeli cokelat susu favoritmu, Caca."


Memegang uang kertas di tangannya, gadis kecil itu sama sekali tidak langsung berlari kegirangan. Sebaliknya, dia tersenyum cerah ke arah Adam sambil berkata.


"Terima kasih banyak, Paman!"


"Pergilah ..."


Melihat Caca pergi dengan kakaknya, Adam masih tersenyum lembut.


"Maaf membuat anda kerepotan Mr Owl. Uang itu—"


"Anggap saja hadiah kecil untuk Caca. Kamu tidak perlu memikirkannya."


Mendengar ucapan Adam, Jimmy merasa bersyukur. Namun ketika mengingat bahwa Adam adalah orang dari organisasi pemerintahan, dia menjadi semakin ragu.


"Ada apa?" tanya Adam.


"Maaf jika pertanyaan saya menyinggung anda, Mr Owl."


"Katakan ..."


Menatap ke arah Adam dengan ekspresi ragu, Jimmy akhirnya bertanya.


"Mr Owl. Apa yang akan terjadi jika saja ... orang yang berhubungan dengan kasus kebakaran 30 tahun lalu adalah pejabat dan memiliki kekuatan dalam pemerintahan?"


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2