
Duduk di ruang tamu yang agak sempit, Adam dan tiga orang lainnya melihat ke arah pria paruh baya yang duduk di seberang mereka.
Kepala desa jelas tahu bahwa mereka adalah 'agent' dengan pangkat lebih tinggi dari polisi setempat yang mereka takuti. Jelas, pria paruh baya itu memperlakukan Adam serta tiga rekannya dengan ramah dan hormat.
"Silahkan diminum tehnya, Para petugas terhormat."
"..."
Sementara James tampak agak bangga, Carole dan Jasmine saling memandang. Mereka masih agak kurang nyaman dengan sebutan yang terlalu tinggi seperti itu. Mereka hanya warga sipil yang memiliki kemampuan khusus, jadi merasa tidak pada tempatnya.
Ketika ketiganya hanya diam, Adam melihat ubi manis yang dikukus. Melihat beberapa hidangan di atas meja, pemuda itu tersenyum lembut.
Teh murah, ubi kukus, dan beberapa snack yang dibeli pada acara-acara khusus. Ya ... karena mereka harus berhemat untuk hidup.
Meski terlihat tidak menarik. Dibandingkan dengan hidangan atau camilan mewah yang disajikan oleh orang-orang kota, hal seperti ini lebih tulus. Karena mereka memang menjamu tamu dengan apa yang mereka bisa.
Adam tanpa ragu mengambil sepotong ubi kukus lalu menggigitnya. Setelah beberapa saat mengunyah lalu menelannya, pemuda itu bergumam pelan.
"Ya ... sungguh bernostalgia."
Pada saat Adam kecil dan berada di panti asuhan, dia dan anak-anak lainnya menanam ubi jalar di halaman belakang panti asuhan. Daunnya mereka gunakan untuk membuat sayur bening.
Apabila mereka kehabisan tepung atau beras, mereka akan makan ubi itu. Hal yang bisa membuat mereka tidak kelaparan.
Kenyang? Tentu tidak karena sedikit makanan harus terus dibagi. Paling tidak, mereka tidak terlalu kelaparan. Hal sesederhana itu membuat mereka menjalani hidup penuh dengan rasa syukur.
"M-Maafkan kami karena tidak bisa menjamu para petugas khusus dengan baik. Kami—"
"Ini sudah lebih dari cukup. Makan makanan seperti ini tidak akan membuat kami mati."
Adam langsung berkata santai. Sama sekali tidak merasa bahwa hal seperti itu tidak pantas dimakan atau gengsi lainnya.
Ucapan Adam membuat James dan dua lainnya terkejut. Mereka merasa bingung dalam hati dan pikiran.
Apakah ini masih tiran lokal yang menghabiskan ratusan ribu dollar aliansi tanpa berkedip? Benar-benar masih mau memakan makanan tradisional?
"I-Ini ..."
"Aku serius." Adam menggeleng ringan. "Kalian tidak perlu berkecil hati hanya karena tidak memberi makanan mewah atau semacamnya. Hal ini telah menunjukkan ketulusan kalian, dan itu sudah cukup."
"Terima kasih, Mr Owl ... terima kasih!"
Kepala desa merasa lega. Pria paruh baya itu menatap Adam dengan ekspresi penuh syukur.
"Seharusnya kami yang berterima kasih."
Adam berkata santai. Mengambil segelas teh hangat lalu meminumnya, dia kemudian melanjutkan.
__ADS_1
"Jadi ... apa yang sebenarnya terjadi di sekitar daerah ini?"
Mendengar ucapan Adam, kepala desa akhirnya sadar alasan kenapa para 'petugas khusus' sampai datang ke desa mereka. Merubah ekspresinya menjadi lebih serius, pria paruh baya itu menjelaskan.
"Anak-anak, orang tua, dan wanita ... banyak dari mereka menghilang secara misterius."
"Kami sudah mendengar itu." Adam menggeleng ringan. "Sampai sekarang, menurut data terbaru ... berapa banyak? Di area mana mereka sering menghilang? Waktu? Hal-hal spesifik lainnya?"
"Itu ... setelah dipikir-pikir, hampir semua korban hilang di sekitar sungai besar."
"Sungai besar?" tanya Adam.
"Ya. Sungai besar yang melewati beberapa desa di daerah sekitar."
Mendengar itu, Adam mengelus dagu. Pada saat itu, seorang wanita paruh baya yang merupakan istri kepala desa masuk keluar dari dalam rumah dan membungkuk sopan kepada Adam dan tiga rekannya.
"Maafkan saya, Sayang, tapi ... kelihatannya mereka benar-benar harus menemui Nam."
"Nam?" Adam memiringkan kepalanya dengan penasaran.
"Sudah aku bilang, itu hanya rumor. Hilangnya beberapa orang itu jelas tidak ada hubungannya dengan Nam!"
"Siapa sosok yang bernama Nam ini?" tanya Adam.
"Itu—"
"Dia adalah anak kecil yang tinggal di rumah pinggir desa, Petugas Owl. Orang-orang bilang dia suka berkeliaran di sekitar sungai dan berbicara sendiri.
Sepertinya dirinya ada hubungannya dengan hantu air."
"Hanya karena kebanyakan dari mereka hilang di area sungai, bukan berarti—"
"Bawa kami menemui anak bernama Nam ini."
Mendengar itu, ekspresi wajah kepala desa agak pucat. Dengan nada agak tertekan, dia berkata lembut.
"Meski banyak yang menyalahkan Nam, dia hanya anak kecil, Petugas Owl. Dia—"
"Aku hanya ingin menemuinya. Jika benar-benar tidak bersalah, kami tidak akan menangkapnya. Aku berjanji, jika dia benar-benar tidak bersalah ...
Bahkan polisi atau pihak militer tidak akan berani menangkapnya."
"..."
Mendengar ucapan Adam yang cukup mendominasi, kepala desa menjadi agak terkejut. Dia memang tidak punya pilihan. Namun sebelum dirinya menjawab, suara James terdengar.
"Mr Owl sama sekali tidak sombong. Bahkan jika dia menganggap orang bersalah dan membunuhnya di tempat, tidak akan ada yang berani menyalahkan dirinya.
__ADS_1
Hanya melindungi anak kecil. Kamu bisa mempercayai Mr Owl."
"..."
Melihat kepala desa dan istrinya yang menjadi lebih hormat serta cukup takut, sudut bibir Adam berkedut.
"Tenang. Aku sama sekali tidak membunuh orang secara acak."
"..."
Mendengar konfirmasi bahwa Adam memang pernah membunuh seseorang, kepala desa dan istrinya tampak pucat.
"Tolong bawa kami menemui anak itu. Sisanya biar kami yang mengurusnya."
Melihat bagaimana James bertindak sembrono dan tidak profesional di depan orang-orang desa, Adam merasa agak tidak puas. Sepertinya James masih cukup membedakan kasta orang dan cara memperlakukan mereka. Hal yang harus diperbaiki, khusunya sebagai agen yang mewakili Departemen Misteri dan pemerintahan.
"James ... perhatikan nada bicaramu."
Adam berkata dengan tenang, tetapi aura tak terlihat yang terpancar darinya membuat James benar-benar tutup mulut. Sadar bahwa dirinya telah melakukan kesalahan lagi.
"Tolong antar kami menemui anak itu, Kepala Desa. Kamu tidak perlu takut kepada kami.
Sebagai petugas, kami hanya menjalankan tugas. Tidak kurang, tidak lebih."
Setelah berpikir cukup lama, kepala desa akhirnya menghela napas panjang.
"Tolong ikuti saya."
***
Dengan arahan kepala desa, mereka sampai di pinggir desa. Di sana terlihat rumah kayu yang tidak terlalu besar. Tampak cukup sederhana, dan sedikit jauh dari rumah penduduk desa lainnya.
"Apakah kamu ada di dalam, Nam? Ada yang datang untuk mencari kamu."
Kepala desa berkata dengan suara yang keras. Beberapa saat kemudian, balasan terdengar dari belakang rumah.
"Tunggu sebentar, Paman! Saya akan segera datang!"
Setelah beberapa waktu, sosok bocah kira-kira seusia anak SD kelas 2 atau 3 muncul. Bocah itu berpakaian cukup kasar, bahkan bisa dibilang compang-camping. Dia memiliki rambut hitam, iris hitam, dan kulit cokelat.
Nam tampak kurus dibandingkan dengan anak-anak normal. Akan tetapi, bocah itu memiliki ekspresi ramah dan senyum hangat di wajahnya. Tampak cukup dewasa dibandingkan rekan-rekannya.
Sementara yang lain berpikir bahwa itu hanyalah bocah ramah biasa, Adam malah sedikit terkejut. Itu karena dia merasakan hal yang tidak seharusnya dirasakan dari orang normal. Pemuda itu tidak bisa tidak mempertanyakan dalam benaknya.
Ini ... energi Qi???
>> Bersambung.
__ADS_1