
Keesokan harinya.
Sebuah mobil Maserati Ghibli melaju dengan santai melewati gerbang universitas. Mobil tersebut pergi menuju ke tempat parkir sebelum akhirnya berhenti. Setelah mesin mati, pintu mobil terbuka dan sosok wanita cantik keluar dari sana.
Bella mengenakan pakaian cukup simpel, tetapi tertutup dan elegan. Wanita itu mengambil tasnya. Dia berencana segera pergi ke kelas, tetapi tidak menyangka bertemu dengan teman-temannya secara kebetulan.
"Pagi Bell!"
Melihat sosok Tina, Bella membalas dengan ekspresi lembut.
"Selamat pagi, Tina ... Nina."
Sosok Nina yang sedang memakan sandwich melambaikan tangannya ke arah Bella sebagai jawaban. Mereka bertiga kemudian melihat sebuah sepeda motor Kawasaki Ninja 250 terbaru dengan warna hitam pekat lewat dan segera berhenti di tempat parkir motor.
Pada saat sosok itu membuka helm, ketiga wanita itu terkejut mendapati bahwa pengendaranya adalah wanita yang mereka kenal, Lulu.
Selesai memarkir motornya, Lulu yang memakai jaket hoodie hitam kebesaran, memakai celana jins hitam, dan sepatu boots berjalan ke arah mereka.
"Selamat pagi, Lulu." Bella menyapa terlebih dahulu.
"Pagi Lulu!" tambah Tina.
"..." Nina yang masih sibuk makan melambaikan tangannya.
"Pagi."
Lulu menjawab dengan tenang. Wanita pendiam itu tampak berbeda dengan biasanya. Sejak dibantu oleh Adam, dia masih pendiam. Namun daripada memiliki kesan wanita depresi, sekarang dia tampak dingin dan sengaja menjauhi orang-orang. Tampak jijik dengan mereka.
"Mari pergi ke kelas," ucap Tina.
"Baik." Bella membalas.
"..." Nina dan Lulu hany mengangguk dan terus mengikuti mereka berdua.
"Omong-omong, apakah kamu kalian memiliki kenalan lain?"
__ADS_1
Tina tiba-tiba membuat pertanyaan. Meski berkata "kalian", tetapi jelas di arahkan kepada Bella.
"Apakah kamu sudah putus lagi dengan pacarmu, Tina?"
"Jangan menekankan kata Lagi! Lagipula, orang itu adalah b-jingan. Benar-benar ingin memanfaatkanku secara cuma-cuma, mimpi besar!" ucap Tina.
"Yah ... Siapa yang tidak tahu kalau kamu hobi berjualan."
Nina yang selesai makan berkata dengan nada bosan.
"Hmph! Bukankah kamu sama saja?"
"Aku berbeda, Tina. Aku sama sekali tidak pacaran dengan mereka. Aku hanya menjual jasa, tidak seperti seseorang yang berkata mencari pacar, padahal kenyataannya tidak lebih baik dari menjual jasa."
"Aku benar-benar ingin punya pacar, kamu tahu? Hanya saja, seleraku agak tinggi. Kaya, tidak terlalu tua, dan tidak loyo!"
"Itu terlalu tinggi. Banyak jika ada, mungkin kamu hanya berakhir menjadi nyonya."
"Aku tidak keberatan," ucap Tina tanpa malu.
"Kenapa kamu begitu pesimis. Apakah masih memikirkan ucapan orang-orang itu?
Hanya karena ini jalan yang kita pilih, bukan berarti kita salah, kan?
Kita sama sekali tidak terlahir dari keluarga berada. Memang, banyak gadis yang menginginkan cinta tulus atau semacamnya. Namun, sama sekali tidak ada yang salah dengan apa yang kita kejar.
Jika kita tetap seperti gadis pada umumnya, kita akan lulus setelah 4 tahun. Setelah itu, kita akan bekerja dengan gaji beberapa ratus dollar aliansi per bulan. Itupun kita sulit mencari pekerjaan. Bahkan jika lebih baik, itu beberapa ribu dollar per bulan.
Kami menginginkan kosmetik mahal, jam tangan, tas, pakaian, mobil, dan rumah di kota. Bahkan setelah bertahun-tahun, kita belum tentu bisa membelinya, kan? Jadi apa salahnya kita menjual diri?
Hanya karena para lelaki itu berkata kita wanita murahan?
Asal kamu tahu, bukankah itu lucu ... mereka menuntut wanita untuk bersikap patuh, baik, polos, manis, dan semacamnya. Sedangkan mereka sendiri tidak sempurna, memiliki banyak kesalahan, tetapi juga memaksa untuk menerima mereka apa adanya atas nama cinta! Naif!
Wanita baik, untuk lelaki baik. Begitu pula sebaliknya! Bukankah begitu?
__ADS_1
Jika ingin memiliki pasangan baik, seharusnya mereka bekerja keras, memperbaiki diri, dan memperbaiki hidup mereka sendiri. Bukannya malah menyalahkan para wanita seperti kami."
"Kamu benar-benar emosional, Tina. Namun kamu benar. Untuk mendapatkan wanita cantik dan baik, mereka seharusnya bekerja lebih keras. Jika tidak, mereka seharusnya juga bisa menerima wanita biasa yang mau menerima mereka apa adanya.
Sedangkan wanita seperti kami. Jangan bicara soal cinta. Bukankah kita hanya mengejar uang karena itu yang membuat kita bahagia?"
Sebagai wanita dengan latar belakang buruk, Nina berkata apa adanya. Paling tidak dia merasa bahwa dirinya dan teman-temannya tidak munafik seperti beberapa wanita cantik yang berpura-pura baik, padahal sama-sama busuk seperti mereka. Bahkan lebih parah karena suka menggerogoti dan merusak para lelaki baik lalu meninggalkannya ketika kekayaannya tidak tersisa.
"Tentu saja, ada juga pengecualian."
Mendengar ucapan Tina, Nina langsung melirik ke arah Bella. Mereka tidak bisa tidak merasa iri. Namun mereka juga senang karena gadis baik itu mendapat lelaki yang luar biasa.
Bella yang ditatap hanya bisa sedikit menunduk dengan rona merah di pipinya.
Pada saat mereka bercanda, Lulu yang biasanya diam tiba-tiba berkata.
"Setelah pulang kuliah, apakah kalian ada waktu? Jika ada, maukah maukah kalian pergi ke kontrakan baruku?"
Ucapan Lulu langsung membuat ketiga wanita itu terkejut. Tina langsung merangkul Lulu dan tersenyum.
"Tentu saja, sebagai teman, kami akan mampir! Kamu juga ikut kan, Bella?"
Bella merasa agak ragu, tapi setelah beberapa saat, dia akhirnya menjawab.
"Hanya sebentar."
"Bagus!" ucap Tina.
Dengan demikian, mereka akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah kontrakan Lulu.
Hanya saja, mereka tidak tahu bahwa mereka sedang diawasi dan ditunggu.
Di luar gerbang kampus, tampak sebuah mobil hitam. Di dalam mobil, tampak sosok yang tampak kekar dan identik. Jika Adam di sini, pemuda itu pasti mengenal mereka.
Gin dan Kin dari Jade Dragon!
__ADS_1
>> Bersambung.