Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Rembulan Biru


__ADS_3

Note :


Karena bab sebelumnya terasa begitu pendek, Author telah edit dan menambahnya. Agar bisa membaca lebih jelas, tolong baca ulang chapter 176. Terima kasih.


---


Melewati lapisan cahaya merah, Adam tiba-tiba tertegun di tempatnya.


Melihat dimana dia sekarang, pemuda itu merasa tidak percaya. Tubuhnya tiba-tiba sedikit gemetar. Menggertakkan gigi, Adam menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.


"Jadi ini alasan kenapa Melly berkata kalau dirinya tidak yakin bisa keluar."


Adam menatap ke depan. Di mana ada sebuah lorong yang begitu panjang.


Lorong itu tampak begitu aneh karena memiliki langit-langit yang begitu tinggi. Seluruh tembok, lantai, bahkan langit-langit berwarna merah darah.


Apa yang membuat Adam merasa agak pucat adalah hal-hal yang menempel pada dinding dan langit-langit. Tampak akar-akar tak terhitung jumlahnya pada dinding lorong. Akar-akar tersebut juga berwarna merah darah.


Jika hanya itu, Adam tidak akan kaget. Namun melihat banyak 'orang' yang dijerat oleh akar-akar dengan wajah penuh kesakitan membuat pemuda itu merasa bahwa teman ini benar-benar sangat berbahaya.


Adam melihat jelas bahwa selain menjerat, akar-akar tersebut menggali ke dalam daging orang-orang itu. Belum lagi, dia jelas melihat kalau mereka masih sadar dan tidak sepenuhnya mati.


'Sebuah peternakan yang digunakan untuk memeras energi dari jiwa-jiwa yang malang!'


Pikir Adam ketika melihat pemandangan di depannya.


"Belum terlambat untuk kembali, Adam."


Mendengar suara dari belakangnya, lebih tepatnya dari balik tirai cahaya merah membuat Adam menggelengkan kepalanya.


Pemuda itu melihat ujung lorong yang kira-kira hanya 100 meter jauhnya. Di sana tampak sebuah pintu, yang kemungkinan besar akan mengantarnya kembali ke dunia asli. Adam memejamkan mata lalu menghirup napas dalam-dalam sebelum mengembuskan perlahan.


"Maaf, Melly. Aku benar-benar tidak bisa tinggal dalam ruang hitam itu."


Membuka matanya, tatapan Adam menjadi semakin tajam. Mengambil ancang-ancang, pemuda itu langsung bergegas menuju ke arah pintu.


Ekspresi Adam langsung berubah ketika baru berlari beberapa saat. Kekuatan, kecepatan, dan tubuhnya tampaknya melemah. Tidak hanya itu, dia juga melihat lusinan akar yang bergegas menuju ke arahnya.


Karena sudah maju, Adam sama sekali tidak berniat untuk mundur. Meski tidak memiliki fisik seperti sebelumnya, pemuda itu jelas masih menguasai banyak trik yang dia pelajari.


Berlari, melompat, menghindar, backflip ... Adam terus berlari sambil menghindari lusinan akar yang mencoba menyerangnya.


Semakin ke depan, Adam melihat semakin banyak akar yang mencoba menyerangnya. Orang-orang pada dinding juga mulai berkurang.


Ke depan ... terus ke depan ...


Adam yang sama sekali tidak berani lengah sedikit pun. Selain jumlah akar yang semakin banyak, dia jelas merasakan kalau ritme serangan menjadi lebih cepat.


Menggertakkan gigi, Adam terus berlari ke depan. Ketika sampai setengah jalan, pemuda itu sudah tidak bisa melihat orang di dinding. Jelas, selain dirinya, sama sekali tidak ada yang bisa berlari sejauh ini.


'Sudah setengah jalan lebih! Aku—'


Jleb!


Ekspresi Adam berubah ketika salah satu akar menusuk kaki kirinya. Karena kecepatannya, pemuda itu langsung berguling-guling di lantai dengan ekspresi kesakitan.


Adam menggertakkan gigi, aliran darah mengalir dari bibirnya.

__ADS_1


Mendongak ke atas, Adam melihat ratusan akar yang melesat ke arahnya. Pada saat itu, dia tiba-tiba berpikir ...


'Jadi begitu ... sejak awal ... jalan ini sama sekali tidak bisa dilewati, kah?'


Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!


Ujung akar-akar yang tajam menusuk kaki, tangan dan perut Adam. Menghindari organ vital, tetapi jelas masih terasa sangat menyakitkan.


"Ggggrrrhhh ..."


Merasakan akar-akar yang merobek kulit dan menggali dagingnya, Adam menggertakkan gigi. Dia berusaha meronta, tetapi gerakannya benar-benar dihentikan. Pemuda itu merasa ususnya dicabik-cabik, darahnya diserap oleh akar tersebut.


Adam merasa kesadarannya mulai menghilang. Namun pemuda itu juga tahu bahwa jika kehilangan kesadaran ...


Semuanya akan berakhir di sini!


'YANG BENAR SAJA! JENNIFER DAN BELLA SUDAH MENUNGGUKU! NAM JUGA SEDANG MENUNGGU! AKU BAHKAN BELUM MEMBALAS SI AYAM KONYOL!


AKU SAMA SEKALI BELUM BOLEH ...'


Adam meraung dalam hati. Namun, meskipun dia telah menahan. Pada akhirnya ...


Kesadarannya benar-benar tenggelam dalam kegelapan.


***


"Ggggrrrhhh ..."


Mendengar geraman yang dipenuhi dengan nada sakit dan kemarahan, Melly yang berada di anak tangga terakhir berjongkok. Melingkarkan tangannya di kaki, benar-benar tampak ketakutan.


Melly tiba-tiba memegangi kepalanya dengan ekspresi tertekan.


Gadis itu tiba-tiba mengingat beberapa orang yang datang sebelumnya. Mereka semua benar-benar tidak bisa lepas dari tempat itu. Tidak sepenuhnya mati, tetapi tidak bisa melarikan diri.


Memikirkan orang-orang yang kebanyakan sombong dan kejam, Melly sama sekali tidak peduli.


Melly tiba-tiba mengingat kenangan singkat bersama dengan Adam. Meski hanya beberapa jam, dia merasa kalau pemuda itu sangat baik dan tulus.


Dari seluruh ingatan sejak tinggal dalam ruang gelap, Melly merasa kalau perbincangan singkat dengan Adam adalah sesuatu yang paling berarti. Berbeda dengan orang-orang yang datang dan marah, lalu mencoba bertarung atau memiliki pemikiran kotor terang dirinya ...


Adam benar-benar berbeda!


Melly berpikir kalau pemuda itu telah memperlakukan dirinya dengan tulus, dan hanya ingin pulang ke tempat asalnya.


Sama sekali tidak ada pemikiran lain.


"Aku ... Aku ..."


Melly menggigil ketakutan. Air mata tumpah memenuhi wajahnya.


Gadis itu tiba-tiba berdiri. Dia mengusap air matanya, lalu berjalan melewati tirai cahaya merah dengan ekspresi penuh dengan ketegasan.


Masuk ke dalam lorong merah, Melly langsung berlari ke depan. Gadis itu terus berlari ke depan. Dan anehnya, sama sekali tidak ada akar yang menyerangnya. Namun dia sama sekali tidak memedulikan hal itu.


Sampai pada jarak sekitar 70 meter, Melly melihat ratusan akar yang menikam Adam.


Ya ... tidak melilit, tetapi seperti tombak yang menikam hampir seluruh bagian tubuhnya!

__ADS_1


"KEMBALIKAN!!!"


Melly berteriak dengan ekspresi putus asa. Dia bergegas menuju ke arah Adam, tangan kecilnya mencoba menarik akar dengan sekuat tenaga, tetapi sia-sia.


"AKU BILANG, KEMBALIKAN!!!"


Menjerit sambil meraung putus asa, gadis itu mencoba menarik akar yang menusuk Adam.


Berusaha sekuat tenaga, akhirnya Melly menarik satu akar yang menusuk tubuh Adam.


"HIKS ... HIKS ..."


Melly menangis, ekspresi sedih dan enggan tampak di wajahnya. Melihat kedua telapak tangannya sobek dan dipenuhi luka, gadis itu menggertakkan gigi.


"Bertahanlah! Kamu bilang kamu ingin pulang, kan! JADI BERTAHANLAH, ADAM!"


Dengan tangan berlumuran darah, Melly kembali meraih satu akar dan berusaha menariknya.


Terus ... Melly menahan rasa sakitnya sambil terus mencoba menarik satu per satu akar yang menembus tubuh Adam.


Ketika belasan akar telah dicabut, Melly jatuh berlutut. Tangannya benar-benar sudah tidak bisa digunakan untuk membantu Adam.


Pada saat dia menangis putus asa, Melly melirik ke arah Adam dan terkejut.


Entah sejak kapan ... pemuda itu telah membuka matanya.


"Biru ... Rembulan Biru???"


Melly bergumam pelan, ekspresi terkejut tampak di wajahnya.


Gadis itu melihat kalau ekspresi Adam tampak begitu datar dan tak acuh. Mata birunya tampak berkilat dengan cahaya dingin. Benar-benar seperti rembulan biru yang begitu indah dan langka.


Meski tampak indah, melihat tatapan itu ... Melly tiba-tiba menggigil ketakutan.


Memiliki ekspresi tak acuh di wajahnya, Adam menggerakkan tangan kirinya.


Crack! Crack! Crack!


Beberapa akar yang menusuk tangan kirinya tiba-tiba patah.


Dengan ekspresi datar, pemuda itu kemudian mencabut satu per satu akar yang menusuk tangan kanannya. Dia kemudian mencabut yang menusuk perut, dan kedua kakinya.


Anehnya ... akar-akar yang awalnya ganas dan tampak agresif itu benar-benar sama sekali tidak bergerak sedikit pun!


Adam berdiri dengan lambat, tetapi sangat santai. Pemuda itu kemudian menatap ke arah Melly yang menggigil ketakutan dengan ekspresi datar di wajahnya.


Melly mendongak ke atas, hanya untuk melihat sepasang mata indah ... tetapi juga dingin, memandang dirinya dengan tak acuh.


Mengingat banyak kenangan dalam pikirannya, gadis itu bergumam.


"Jadi begitu ... Adam ... Kamu ..."


Melly menatap mata Adam dengan senyum lembut.


"Salah satu dari mereka."


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2