
Tindakan Linda menjadi lebih parah ketika hendak meraih topeng yang menutupi wajah Adam.
Sebagai refleks, Adam langsung menangkap pergelangan tangan Linda sebelum akhirnya dia mengetuk ringan belakang leher wanita itu. Dia langsung melihat ke arah Thomas.
“Apa yang anda lihat, Mr Thomas? Tidak bisakah anda membawa istri anda untuk kembali ke kamarnya? Tidak mungkin saya yang melakukannya, kan?”
Mendengar ucapan Adam, Thomas tersadar dari lamunannya.
“M-Maaf telah membuat anda kerepotan. Mr Owl.”
“Sama sekali bukan masalah.”
Setelah Adam melihat Thomas yang membawa istrinya pergi, pemuda itu akhirnya menghela napas lega. Dia tidak menyangka bahwa otaknya bisa memikirkan hal buruk semacam itu.
“Apakah kamu baik-baik saja, Paman Owl?”
Suara bocah itu menyadarkan Adam. Pemuda itu kemudian mengelus kepala dan mengacak-acak rambut Kevin.
“Aku tidak apa-apa.”
“Apakah Ibu juga baik-baik saja, Paman Owl?”
“Ya. Dia hanya pingsan. Lebih baik seperti itu karena ibumu kurang tidur. Dia memerlukan waktu untuk beristirahat.”
“Baguslah kalau begitu!” seru Kevin dengan senyum polos di wajahnya.
Melihat dunia dengan cara yang begitu sederhana, terkadang aku iri dengan kepolosan anak-anak.
Pikir Adam dengan senyum lembut di balik topengnya.
Anak-anak akan marah jika tidak suka dan tertawa jika suka. Mereka melakukannya sesuai dengan apa yang sedang mereka rasakan. Tidak ada banyak tipu daya, tidak ada banyak kelicikan, tidak ada banyak keinginan tersembunyi di balik sebuah senyuman … semua apa adanya.
“Apakah ada sesuatu yang berubah, atau mungkin hal aneh yang terjadi ketika aku pergi, Kevin?”
Mendengar pertanyaan Adam, Kevin memiringkan kepalanya dengan rambut acak-acakan. Penampilannya yang agak bingung itu tampak agak lucu, membuat Adam ingin tertawa.
“Agak banyak?” ucap Kevin dengan bingung.
“Benarkah?” Adam sedikit terkejut.
“Benar, Paman! Aku sama sekali tidak berbohong! Semua orang di rumah tampaknya ketakutan dan tertekan. Khususnya ibu … entah kenapa dia sering gelisah.”
__ADS_1
“...”
Mendengar itu, Adam mengangguk.
“Kelihatannya ‘Dia’ benar-benar membuat orang-orang takut.”
“En.” Kevin mengangguk polos.
“Ngomong-ngomong … kenapa kamu tidak takut ketika membicarakan ‘Dia’ bersamaku, Kevin?”
“Kenapa aku harus takut, Paman?” tanya Kevin.
“Bukankah ‘Dia’ itu menakutkan? Ngomong-ngomong … apakah kamu bisa memberitahu aku? Aku sangat penasaran.”
“Kamu lucu, Paman!” Kevin tertawa. “Tentu saja ‘Dia’ sama sekali tidak menakutkan. Lagipula, ‘Dia’ memiliki penampilan-”
Sebelum selesai mengucapkan semuanya, sosok kecil Kevin tiba-tiba roboh. Adam yang menangkapnya tampak terkejut dengan kejadian yang begitu tiba-tiba itu. Melihat hidung Kevin yang mimisan dan ekspresi pucat di wajah bocah itu, dia mengutuk dalam hati.
Bagaimana aku bisa melupakannya! Makhluk itu terlalu licik, tidak mungkin meningalkan celah seperti mengizinkan anak-anak menggambarkan penampilannya.
Adam menggertakkan gigi. Meski tidak tahu wujud sepenuhnya makhluk itu, yang pemuda itu yakini … ‘Dia’ kelihatannya tidak menakutkan. Bahkan tidak bisa menakuti anak-anak.
Mungkinkah ‘Dia’ itu kelinci abu-abu?
Adam segera memindahkan Kevin ke sofa. Dia kemudian mengambil kotak P3K yang kebetulan terlihat di sana. Dia membersihkan sisa darah di hidung Kevin.
“Apakah kamu tidak apa-apa, Kevin?” tanya Adam lembut.
“Saya tidak apa-apa, Paman Owl. Maaf Paman, aku lupa kalau aku tidak boleh membicarakan penampilannya.”
“Sama sekali tidak masalah.”
Adam berkata dengan nada yang begitu santai. Dia sama sekali tidak menganggap semua itu masalah. Pemuda itu sama sudah mengatahui beberapa petunjuk. Dia juga telah menebak beberapa bagian dari teka-teki itu. Sisanya … menunggu permainan dimulai.
***
Malam harinya.
Membuka matanya, Linda melihat langit-langit kamarnya.
“Kamu akhirnya sadar, Linda. Seharusnya kamu mengetahui kesalahan apa yang telah kamu perbuat.”
__ADS_1
Mendengar ucapan Thomas, Linda yang agak linglung tiba-tiba mengingat apa yang dia perbuat sebelumnya.
Mengingat bagaimana dirinya menyerang sosok Owl tanpa rasa bersalah sedikit pun, dia menjadi pucat. Dalam lubuk hati wanita itu, dia sebenarnya tahu bahwa hanya sosok Owl yang sekarang bisa mereka andalkan.
Pada saat Thomas pergi ke Departemen Misteri, Linda tahu bahwa suaminya membawa kabar buruk. Menurut yang dikatakan pria itu, para anggota Departemen Misteri yang lain sama sekali tidak bisa mengatasi masalah-masalah yang berhubungan dengan roh jahat atau makhluk semacam itu.
Para anggota Departemen Misteri yang lain berkata bahwa mereka hanya beberapa orang yang memiliki kemampuan khusus. Tugas mereka sebenarnya adalah untuk mengurus perbuatan jahat yang dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan khusus lainnya.
Jika itu dikatakan sebelumnya, Linda tidak akan memercayai hal semacam itu. Akan tetapi setelah mengalami hal yang begitu aneh, dia mau tidak mau akhirnya memercayai berita itu.
Linda dan suaminya merasa tertekan karena satu-satunya orang yang bisa mereka andalkan tiba-tiba menghilang begitu saja. Thomas sendiri juga telah menghubungi beberapa kenalan bisnis dan mencoba menyewa orang yang mengaku sebagai pendeta tao atau exorcist, tetapi mereka hanyalah penipu.
Di hari pertama Owl menghilang, mereka menjadi lebih dan lebih panik. Belum lagi di hari kedua dan ketiga … tekanan berat membuat Linda semakin tidak karuan. Bukan hanya tekanan itu, dia juga merasa tertekan karena ingin melampiaskan diri tetapi tidak bisa.
Sudah dua tahun dirinya memuaskan dirinya sendiri. Dia tidak ingin berkhianat kepada suami yang telah menyayangi dia dan anak mereka, Kevin.
Linda sendiri berharap Thomas bisa sembuh dan memulai hubungan kembali hubungan harmonis seperti sedia kala. Meski dinafkahi penuh secara material, wanita tetap saja juga ingin dinafkahi secara batin.
Pada saat itu, Linda yang duduk di atas ranjangnya menunduk sambil melihat kedua tangannya. Wanita itu tiba-tiba teringat ketika memukul dan menyentuh Adam.
Tubuh yang terlatih seperti itu … aroma yang mengingatkan hutan yang menenangkan itu …
Mengingat sensasi itu, tanpa sadar Linda menelan saliva. Pandangannya menjadi agak buram.
***
Sementara itu, Adam sedang menemani Kevin di kamarnya yang sudah diperbaiki.
Pemuda itu tiba-tiba merinding. Dia kemudian menoleh ke kiri dan kanan dengan ekspresi curiga.
“Perasaan apa ini? Apakah ‘Dia’ akhirnya datang?” gumam Adam.
Pemuda itu melihat ke arah Kevin yang telah tertidur lalu ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 23.56 … hampir tengah malam dengan curiga. Seharusnya itu belum waktunya, tetapi anehnya, dia tiba-tiba merinding begitu saja.
Setelah menunggu beberapa waktu tetapi tidak ada perubahan sama sekali, pemuda itu menghela napas panjang. Dia tampak agak bingung, tetapi juga lega.
Menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul 00.00 membuat Adam menjadi sedikit gugup. Pada saat jarum yang menunjukkan menit berpindah, pukul 00.01 … listrik tiba-tiba padam begitu saja.
Pada saat itu juga, Adam langsung tampak sangat serius. Dengan mata dingin yang mengamati kegelapan yang menyelimutinya, dia berbisik pelan.
“Kalau begitu … kita mulai gamenya.”
__ADS_1
>> Bersambung.