Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Hujan Akan Segera Datang


__ADS_3

Ketika hampir fajar, Adam kembali ke rumahnya.


Karena fisiknya, pemuda itu jelas tidak akan lelah hanya karena tidak tidur semalaman, bahkan dia akan baik-baik saja jika tidak tidur beberapa hari. Ketika tiba, dia langsung pergi mandi.


Setelah mandi dan berganti pakaian santai, dia pergi menuju dapur. Di sana, pemuda itu telah melihat Bella yang sedang memasak. Sedangkan Jennifer? Tentu saja wanita itu masih tidur nyenyak.


Bella jelas tahu bahwa Adam baru saja pulang. Melihat pemuda itu duduk di kursi, dia segera berjalan mendekat sambil membawakan secangkir kopi hitam. Meletakkannya di atas meja depan Adam, gadis itu tersenyum lembut.


"Apakah perjalanannya menyenangkan, Kak Adam?"


"Tidak juga. Aku membunuh ular itu tanpa sengaja, padahal sebelumnya aku berniat untuk bermain."


Adam menghela napas panjang. Dia kemudian menyesap kopi hitam dengan ekspresi tenang. Memejamkan mata sejenak untuk menikmati rasanya, pemuda itu mengangguk puas.


Meletakkan kembali cangkir ke atas meja, Adam menatap ke arah Bella yang sedang memotong sayuran.


"Omong-omong, aku tidak sengaja bertemu dengan Lei Fan dan Lei Na di sana."


Mendengar ucapan Adam, gerakan Bella tiba-tiba berhenti. Menoleh ke arah pemuda itu, dia bertanya dengan nada agak khawatir.


"Apakah kalian mengalami gesekan atau semacamnya?"


Apa yang membuat Bella khawatir jelas bukan tentang keselamatan Adam. Sebaliknya, dia khawatir kalau pemuda itu akan menjadi tertekan karena harus bertarung dengan teman-temannya sendiri. Sama yang dia rasakan ketika harus bertarung dengan Lulu.


Melihat ke arah Bella, Adam menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Sebaliknya, tampaknya hubungan para kultivator dan orang biasa semakin renggang karena apa yang aku perbuat.


Selain tidak marah, tampaknya beberapa sekte mendukung tindakanku. Bahkan, mereka memberiku undangan untuk tinggal dan berlatih dengan tenang di sana.


Tentu saja aku menolaknya. Namun, tampaknya mereka masih sangat membutuhkan pil-pil yang aku buat. Jadi aku akan punya sedikit perkejaan sambilan.


Omong-omong, apakah kamu ingin membeli sesuatu, Bell?"


Adam menopang dagu. Melihat ke arah Bella yang tampak lega bahwa dia tidak apa-apa, hatinya merasa hangat. Selain itu, dia juga merasa aneh. Biasanya, para wanita suka berbelanja atau menginginkan sesuatu. Namun, Bella dan Jennifer sama sekali tidak seperti itu. Khususnya Bella, jika bukan Adam yang membelikannya, gadis itu tampaknya tidak berkata bahwa dirinya menginginkan sesuatu.


"Bukankah sebelumnya kamu sudah membelikan aku dan Saudari Jennifer mobil, Kak Adam? Uang sebanyak itu, tampaknya kamu memerlukan waktu untuk mengumpulkannya kembali. Jadi tidak perlu boros, kami sudah sangat senang karena perhatianmu, Kak Adam."


"Sayang?" panggil Adam.


"Iya, Kak Adam? Ada apa?"


"Tampaknya aku telah bilang kepada kalian kalau aku masih memiliki cukup banyak tabungan. Selain itu, aku sama sekali tidak menggunakan uang Wings of Freedom.


Aku tahu mana hak milikku, dan mana yang tidak. Jadi, jangan khawatir, okay? Jika kamu ingin sesuatu, katakan saja."


"Sebenarnya, mungkin aku dan Saudari Jennifer memiliki satu keinginan yang sama."


Melihat ekspresi ragu-ragu di wajah Bella, Adam langsung berkata.


"Katakan saja, Bella. Aku tidak akan marah, okay?"


"Jika bisa, bisakah kamu menyisakan sedikit lebih banyak waktu untuk kami, Kak Adam?


Aku tahu kalau kamu sibuk dan pulang larut. Kami masih menghabiskan waktu malam bersama. Namun, akhir-akhir ini, kamu semakin sibuk.


Kalau boleh, bisakah kamu tidak bepergian di akhir pekan kecuali sangat perlu. Kami ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu.


Ah! Maaf! Maksudku, kami tahu kamu sibuk mengurus Wings of Freedom dan banyak hal lain. Jadi—"


"Baiklah."


Adam langsung menyela Bella. Melihat ke arah gadis yang gugup itu, dia tersenyum masam.


'Gadis ini.'


Adam akhirnya sadar. Bahkan jika pemuda itu mencoba melakukan yang terbaik, dia masih melupakan beberapa hal penting padahal sangat sederhana.


Dalam hati, Adam sudah menganggap Bella dan Jennifer sebagai istrinya sendiri. Namun, karena hubungan mereka belum resmi, tampaknya dia bersikap agak seenaknya dan kurang bertanggung jawab. Meski pemuda itu mencoba untuk mendukung semua kebutuhan mereka berdua, pada kenyataannya, dia begitu tidak peka.


Adam melupakan hal penting, yaitu waktu yang mereka seharusnya habiskan untuk bersama-sama.

__ADS_1


"Maafkan kecerobohanku. Mulai minggu depan, aku akan menemani kalian setiap hari Minggu. Kita akan pergi jalan-jalan bersama atau sekadar bersantai di rumah bersama.


Kecuali ada beberapa hal yang sangat mendesak, Aku akan menemani kalian."


"Jangan minta maaf, Kak Adam. Kami tahu kamu sibuk. Itu tidak masalah. Sebaliknya, kami merasa bersalah jika mengganggumu."


"Bukankah kamu seharusnya mengatakan hal lain, Bella?"


Mendengar ucapan Adam, Bella kembali menoleh ke arah pemuda itu dengan wajah merah.


"Terima kasih, Sayang."


Melihat ekspresi lucu Bella, Adam merasa ingin memakannya. Namun, tampaknya situasi sedang tidak begitu baik, jadi pada akhirnya pemuda itu menekan dorongannya.


"Ada apa ini? Begitu ramai?"


Sosok Jennifer yang masih mengenakan piyama dan tampak mengantuk muncul di dapur. Melihat ke arah Adam, lalu ke arah Bella, dia berkata.


"Kamu tidak boleh menjahili Bella, Sayang. Selain itu, kenapa kalian tampaknya begitu senang? Benar-benar bersenang-senang tanpa diriku?"


"Cuci muka terlebih dahulu, Jenn."


"Tsk. Aku tahu, aku tahu."


Jennifer pergi ke kamar mandi sebentar sebelum kembali ke dapur. Mengambil kursi lalu duduk di dekat Adam, dia bertanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Jadi begini ..."


Adam mulai menjelaskan.


Mendengarkan penjelasan Adam, Jennifer tampak begitu puas. Dia bahkan maju lalu memeluk lembut pemuda itu.


"Kamu yang terbaik, Sayang."


Melihat Jennifer yang begitu bersemangat, Adam tersenyum. Seolah mengingat sesuatu, pemuda itu akhirnya berkata.


"Seperti rumah dekat perkebunan itu?"


"Tidak." Adam menggelengkan kepalanya. "Kalau bisa, aku ingin membeli bukit kecil yang cukup terpencil."


"Eh? Bukit?"


Jennifer dan Bella bertanya bersamaan dengan ekspresi terkejut di wajah mereka.


"Ya. Aku ingin membangun rumah tradisional di atasnya. Selain itu, membangun kolam koi cukup besar.


Sedangkan lahan bukit sendiri, aku memerlukan yang subur karena berencana aku tanami herbal yang sulit tumbuh atau ditemukan di pasaran. Dengan begitu, paling tidak, kita memiliki pasokan herbal stabil untuk membuat pil di masa depan."


"Tunggu, tunggu, tunggu!"


Jennifer langsung menyela.


"Apa?" tanya Adam sambil memiringkan kepalanya.


"Kami tidak fokus dengan apa yang kamu lakukan, okay? Yang lebih penting, kamu benar-benar ingin membeli sebuah bukit? Serius?"


"Kamu aneh, Jenn." Adam menggeleng ringan. "Apakah aku tampak bercanda sekarang?"


"Tidak. Namun, bisakah kamu lebih berekspresi, Sayang? Ini uang yang besar, kenapa rasanya kamu seperti menggunakan uang receh untuk membeli jajan di pinggir jalan?


Huh! Jangan bilang kamu juga ingin membeli sebuah pulau kecil di laut pasifik dan membangun pangkalan rahasia di sana."


Jennifer mencibir. Namun ketika melihat ekspresi terkejut di wajah Adam, dia dan Bell tercengang.


"Bagaimana kalian tahu?"


Melihat ke arah Adam, Bell terdiam. Bahkan Jennifer, wanita itu langsung merasa kebingungan.


"Apakah kamu benar-benar serius ingin melakukan hal itu, Sayang?"

__ADS_1


"Itu masih terlalu jauh, mari lupakan saja untuk sekarang."


Memiliki ekspresi terkejut di wajahnya, Adam langsung bangkit dari kursinya.


"Hari ini adalah waktunya untuk memberi makan para laba-laba kecil. Aku pergi dulu!"


Melihat sosok Adam yang telah menghilang dari tempatnya, Jennifer dan Bella saling memandang dengan ekspresi tidak percaya.


Pada akhirnya, mereka hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Terkadang, mereka merasa kalau cara mereka dan Adam melihat dunia itu berbeda.


Bahkan terlalu berbeda!


***


Siang harinya, mansion besar milik Mr Donaldson.


"Oh, Mr Adam, temanku!"


Pria paruh baya gemuk itu membuka kedua tangannya. Dia menyambut kedatangan Adam dengan sangat senang. Karena bagi pria tersebut, pemuda di depannya adalah keuntungan besar.


Angsa bertelur emas yang sebenarnya!


"Maaf merepotkan Anda, Mr Donaldson."


"Tentu saja tidak." Mr Donaldson langsung menggelengkan kepalanya. "Mari masuk."


"Baik."


Duduk di ruang tamu. Mereka langsung masuk pada mode bisnis.


"Jadi, apa yang anda perlukan dariku, Mr Adam?


Omong-omong, selamat karena telah memenangkan Golden Dew. Eh? Apakah anda berencana untuk menjual Golden Dew, Mr Adam?"


Melihat ekspresi bersemangat Mr Donaldson, meski agak kasihan, Adam langsung menyiram harapan membara dalam kepala pria paruh baya itu dengan kenyataan sedingin air es.


"Maaf, Mr Donaldson. Saya sama sekali tidak memiliki niat untuk menjual Golden Dew. Selain itu, saya datang untuk urusan lain."


"Sungguh disayangkan." Mr Donaldson tampak enggan. "Jadi, bisnis apa yang membawamu dayang kemari, Mr Adam?"


"Sebenarnya, saya ingin membeli tanah. Anda bisa membantu saya kan, Mr Donaldson?"


Mendengar permintaan Adam, mata Mr menjadi cerah. Lagipula, tampaknya kali ini dia juga akan menghasilkan banyak uang!


"Tentu saja bisa. Tempat seperti apa yang kamu butuhkan? Lokasi tengah kota? Desa? Pinggir pantai?"


"Aku ingin membeli sebuah bukit. Jika ada, di tempat yang cukup terpencil."


"Maaf?" tanya Mr Donaldson.


"Aku bilang, aku ingin membeli sebuah bukit."


Ucapan Adam membuat Mr Donaldson terdiam sejenak. Memiliki ekspresi penuh keraguan, dia bertanya kepada pemuda itu.


"Kamu tidak akan berencana membuat tempat itu sebagai pangkalan rahasia atau semacamnya, kan?"


"Ide menarik. Sayangnya aku tidak menggunakan tempat tersebut untuk melakukan hal-hal semacam itu."


Mendengar jawaban Adam, Mr Donaldson menghela napas panjang. Dia tampak lega.


"Sepertinya ada dua atau tiga, coba aku cari terlebih dahulu."


"Baik."


Adam mengangguk setuju.


Setelah hampir dua jam, Adam akhirnya keluar dari mansion milik Mr Donaldson. Merasakan suhu dan melihat mulai banyak awan di langit, pemuda itu bergumam.


"Sepertinya hujan akan segera datang."


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2