
"Yah ... kalau begitu tidak ada waktu untuk main-main."
Adam mendengus dingin. Pada saat itu juga, para Spirit Beast miliknya langsung muncul. Hampir semua muncul kecuali sosok Zircon yang memiliki efek kurang jika harus bertarung dalam kondisi seperti itu.
Nix yang baru saja muncul menatap gumpalan daging itu dengan ekspresi tercengang. Melirik ke arah tuannya, dia benar-benar merasa harus protes. Setiap kali muncul, dirinya benar-benar harus melawan makhluk yang semakin lama menjadi semakin aneh!
"Jangan ceroboh, musuh berada di level Golden Spirit, bahkan berada di puncak! Karena bentuk dan ukurannya, tampaknya dia memiliki gerakan yang tidak terlalu cepat.
Jadi, kita akan mencoba untuk mendekat dan mengambil celah."
Mendengar ucapan Adam, para Spirit Beast tampak serius. Namun saat itu juga, hal aneh muncul pada makhluk yang mengambang belasan meter di depan mereka.
Gumpalan daging itu menggeliat, banyak lubang seperti pori-pori raksasa muncul. Dari setiap lubang, cairan hitam berbau seperti darah muncul dan menetes ke lantai.
Tidak berhenti di sana, gumpalan daging itu terus bergetar. Dalam beberapa saat, muncul tulang-tulang dengan bentuk aneh dari dalam lubang. Membuat gumpalan daging itu seperti landak yang dilapisi oleh banyak duri.
"En? Mode pertahanan? Atau—"
Ekspresi Adam langsung berubah. Tangan kirinya terulur ke depan, dia langsung berteriak.
"Yuki, dinding es!"
Ketika Adam berteriak, dia juga langsung membuat dinding es setinggi dan lebar dua meter, dengan ketebalan sepuluh centimeter. Tampak kuat dan kokoh. Yuki juga langsung membuat dinding yang sama di depan dinding es yang Adam buat.
Swoosh! Swoosh! Swoosh! Crack!
Ketika dinding es muncul, puluhan tulang tajam langsung ditembakkan. Benda-benda itu langsung menembus lapisan pertama dinding es dan menancap ke lapisan kedua dinding es.
Melihat itu, ekspresi Adam menjadi lebih serius.
Meski hanya dinding es, tetapi menurutnya, ini hanya sedikit lemah dibandingkan dengan kaca anti peluru. Seharusnya masih bisa menahan tembakan peluru pistol biasa. Bahkan menahan serangan dari senjata seperti assault rifle untuk sementara. Itu berarti ...
Serangan makhluk itu benar-benar lebih kuat daripada peluru. Bahkan tajam dan lebih berat!
"Yuki, dinding es!"
Adam langsung berteriak. Pada saat itu, dua lapisan dinding es ditambahkan.
Pemuda itu hanya mengawasi gumpalan daging yang terus menembakkan tulang tajam. Setelah beberapa waktu, makhluk itu tiba-tiba menggeliat. Seluruh lubang seperti pori-pori tiba-tiba kembali tertutup. Menyisakan wajah yang terus berteriak, dan organ-organ dalam yang terus bergerak.
"Sekarang!"
Adam berteriak. Dia langsung bergegas menuju ke depan. Dinding es langsung lenyap, pemuda itu langsung bergegas ke arah 'Mereka'.
"Gunakan Blood Threads!"
Bukannya menebas, Adam langsung mengembalikan katana ke inventori. Benang merah darah muncul dari sepuluh ujung jarinya. Bersama dengan Five Colored Blood Spider di yang melompat ke dinding, tampak puluhan benang merah menyala, lalu menari di udara.
Swoosh! Swoosh! Swoosh!
__ADS_1
Celepuk ... Celepuk ... Celepuk ...
Puluhan benang merah langsung memotong. Kepala jatuh, potongan tangan terlempar, banyak potongan daging dan organ dalam langsung terciprat ke lantai dan dinding.
"AYAM BODOH!!!"
Adam berteriak. Benang di tangannya menghilang, api merah dengan garis emas menyelimuti kedua tangannya. Kedua api langsung memadat menjadi dua cakar mirip cakar elang raksasa.
Pada saat itu, Nix juga telah melesat ke depan. Dia melompat ke udara dan membuat gerakan menendang, yang dia pikir elegan, tetapi malah tampak tidak meyakinkan.
"Suzaku's Golden Talons!!!"
BANG!!!
Tiga cakar yang dilapisi api kuat langsung menabrak makhluk aneh itu. Ledakan api yang cukup kuat langsung tercipta di lantai tiga gedung utama. Cahaya merah keemasan langsung menerangi area sekolah yang awalnya gelap gulita.
Api kemudian menghilang, mengembalikan sekolah ke dalam warna gelap seperti sebelumnya.
"..."
Adam dan para Spirit Beast telah mundur. Mereka menatap gumpalan daging yang telah banyak terpotong dan terbakar itu.
"Hiks ... Hiks ..."
"Sakit ..."
"Panas!"
"Aku takut ..."
"..."
Puluhan suara terucap dari wajah-wajah dalam gumpalan daging itu. Dari suara gadis ketakutan, pemuda marah, sampai tangisan.
Adam hendak maju, tetapi saat itu ... sesuatu yang aneh kembali terjadi.
Dari banyak gumpalan daging, puluhan pasang tangan yang berotot dengan cakar tajam muncul. Tangan-tangan itu mulai merobek bagian daging yang terbakar. Tangan-tangan itu juga mengambil potongan daging yang terciprat di dinding dan lantai. Lengkap dengan bagian-bagian tubuh lainnya.
Pada saat itu, puluhan tangan tersebut langsung menjejalkan daging-daging terbakar dan kotor itu ke mulut wajah-wajah terdistorsi dan ketakutan itu. Memaksa mereka untuk menelan benda-benda menjijikkan itu.
Beberapa detik kemudian, bagian-bagian gumpalan daging itu kembali menggeliat. Bagian yang rusak dan terpotong menggeliat lebih kuat. Dalam beberapa saat ...
Makhluk itu tampak kembali ke wujud semula. Hanya dengan puluhan tangan tambahan.
"..."
Melihat itu, Adam merasa tercengang sekaligus mual.
'Tampaknya benda ini benar-benar lebih sulit dihadapi daripada wanita itu! Apakah ini abadi? Benar-benar tidak bisa terluka?'
__ADS_1
Sebelum Adam banyak berpikir, dia tiba-tiba melihat puluhan kepala yang menoleh dan menatapnya dengan ekspresi marah, sedih, bahkan dipenuhi kebencian.
"Rencana terakhir!"
Tidak ingin membuang banyak waktu untuk bertarung tanpa kepastian, Adam langsung berbalik pergi bersama Spirit Beast miliknya. Nix sempat tercengang, tetapi juga berhasil menyusul tuannya.
Ketika sampai di lantai dua, suara keras tiba-tiba terdengar.
Bang! Bang! Bang!
Puluhan tangan mengetuk dinding transparan yang membatasi antara tangga dan lantai dua. Retakan demi retakan muncul, tetapi pulih dalam beberapa saat.
Gumpalan daging yang memengaruhi seluruh tangga itu menatap ke arah Adam dengan puluhan pasang mata yang dipenuhi kebencian. Mereka meraung marah, benar-benar tampak ingin mencabik-cabik dan menghancurkan Adam.
Membuat pemuda itu menjadi salah satu bagian dari mereka.
"..."
Merasakan tatapan mata yang membuatnya tidak nyaman, Adam akhirnya memutuskan untuk segera pergi. Pemuda itu segera pergi dan bergegas menuju ke gedung olahraga.
Baru menginjakan kaki di sana, suara lonceng dan kabut kembali muncul seperti sebelumnya.
"Tampaknya kamu telah bertemu dengan mereka, Anak Muda."
Mendengar suara lembut dan tenang itu, Adam yang awalnya tampak lelah menjadi lebih muram.
"Siapa mereka? Apa hubunganmu dengan mereka? Makhluk macam apa mereka?!"
Mendengar Adam benar-benar marah, Guren yang baru saja muncul menatap ke arah pemuda itu dengan ekspresi kosong.
"Mereka teman-teman sekelasku. Serta banyak siswa di tahun yang sama denganku."
Mendengar jawaban itu, ekspresi Adam menjadi pucat.
"Jangan bilang ... Kamu membalas dendam atas kematianmu dan membunuh mereka semua?!"
Melihat Adam begitu marah dan penuh keraguan, Guren menggeleng ringan.
"Mereka korban kebakaran di tahun itu."
"Kebakaran yang menyebabkan sekolah tutup?"
Ekspresi Adam menjadi lebih buruk.
"Ya. Kebakaran yang membuat sekolah tutup, atau lebih tepatnya."
Guren menatap ke arah mata Adam.
"Kasus pembunuhan berencana yang sampai sekarang tidak pernah terungkapkan."
__ADS_1
>> Bersambung.