
“Ada apa, Kak Adam?”
Pertanyaan dari Bella membauat Adam yang selesai menelepon menoleh ke arah gadis itu. Dia tersenyum lembut sebelum berkata.
“Tidak apa-apa. Hanya masalah kecil.”
“Masalah? Apakah anda yakin baik-baik saja, Kak Adam?”
“En.” Adam mengangguk ringan sebagai jawaban.
“Apakah itu masalah beberapa pasien Rumah Sakit Jiwa yang lolos, Adam?”
Kali ini Jennifer yang bertanya. Wanita itu tampak begitu serius. Dia menatap Adam lekat-lekat, sangat menantikan jawaban dari mulut pemuda itu.
“Bukan tentang mereka, tetapi masih ada hubungannya.”
“Maksud kamu?” tanya Jennifer.
“Bukan apa-apa.”
Adam menggeleng ringan, tidak berniat untuk membeberkan perkara Abyss Jade kepada wanita itu. Selain karena memang tidak ada hubungannya dengan Jennifer, dia yakin bahwa masalah ini tidak sesederhana di permukaan.
“Apakah kamu benar-benar malakukan penyelidikan itu secara pribadi, Adam? Ini semua adalah tugas polisi serta lembaga masyarakat yang bersangkutan!”
“Lalu … apakah aku harus menunggu polisi yang begitu slow respond untuk mengurus masalah ini? Kemudian aku akan bertanya, mana yang lebih penting?
Gengsi polisi atau keselamatan orang-orang yang tidak bersalah?”
“...”
Mendengar pertanyaan Adam, Jennifer langsung terdiam. Dia memang lebih menginginkan pihak polisi untuk menyelesaikan semua masalah tersebut. Hanya saja, wanita itu juga tahu para polisi tidak pandai dalam berurusan dengan makhluk-makhluk aneh yang Adam sedang buru.
Agak mengecewakan, tetapi mereka memang masih inferior daripada warga sipil bernama Adam itu!
“Sebenarnya kamu itu apa, Adam?” tanya Jennifer dengan ekspresi lelah.
“Apakah kalian akan percaya, kalau sebenarnya aku adalah Kultivator seperti dalam cerita?”
“...”
Mendengar jawaban Adam yang agak sembrono, Bella dan Jennifer saling memandang lalu mengangguk seperti burung pelatuk.
Melihat itu, Adam yang hanya bercanda langsung terdiam. Dia jelas mengetahui bahwa dirinya memang bisa dianggap sebagai Kultivator. Hanya saja, pemuda itu memiliki Spirit Hunter System yang membantunya untuk naik level serta memberinya banyak manfaar seperti teknik pedang, teknik alkemis, dan sebagainya.
Daripada Spiritualist dari tiga kubu terkenal seperti Pendeta Tao, Onmyoji, dan Exocist … Adam hanya bisa dianggap sebagai Kultivator ulung!
__ADS_1
“Huh …” Adam menghela napas panjang. “Memang, aku bisa dianggap sebagai Kultivator.”
Mendengar pengakuan Adam, kedua perempuan itu terkejut. Meski mereka berdua telah menduga, tetapi perkataan pemuda itu membuat mereka terkejut.
“Apakah kamu bisa terbang sambil menginjak pedang?” tanya Jennifer dengan ekspresi bersemangat.
“Kamu terlalu banyak membaca novel,” jawab Adam secara langsung.
“Apakah hal itu mustahil?” Jennifer tampak agak kecewa.
“Aku tidak tahu apakah tingkatan itu bisa dicapai. Namun, aku belum pernah melihat Kultivator di level itu.”
Ya … lebih tepatnya aku belum pernah bertemu Spiritualist lain.
Jika tahu apa yang dipikirkan oleh Adam, kedua wanita itu pasti akan langsung curiga.
“Lalu … sekarang kamu di level mana?” tanya Jennifer. Bahkan Bella juga menatap pemuda itu dengan ekspresi penasaran.
“Bagaimana menggambarkannya …” gumam Adam. “Untuk fisik, bisa dibilang aku telah melewati batas manusia normal. Mungkin kemampuan fisik seperti prajurit super atau semacamnya. Sedangkan yang lainnya, aku cukup baik dalam ilmu pedang.”
Adam jelas tidak akan mengakui bahwa dirinya memiliki Spirit Beast dan mampu mendapatkan kemampuan mereka, karena itu rahasia paling besar yang dia miliki. Bahkan pemuda itu masih tidak berbicara tentang teknik pedang yang menggunakan Qi.
“Prajurit super …” gumam Bella dengan rona merah di wajahnya. Kelihatannya mengingat beberapa momen yang membuatnya merasa malu.
Sebagai tanggapan, Adam hanya mengangkat bahu dengan ekspresi santai di wajahnya. Pada saat itu, Jennifer kembali bertanya kepada dirinya.
“Bukankah hal itu seharusnya dirahasiakan?” tanya Jennifer heran.
“Memang.” Adam mengangguk ringan.
“Aku tahu kamu bisa mengatakannya kepada Bella. Namun, kenapa kamu juga mengatakannya kepadaku, Adam?”
“En?” Adam mengangkat alisnya. “Bukankah kamu sekarang juga bagian dari kami?”
Mendengar itu, wajah Jennifer langsung memerah seperti apel. Tidak berani menatap Adam secara langsung, dia memalingkan wajahnya. Wanita itu kemudian bergumam pelan.
“Bagaimana bisa kamu mengatakan hal memalukan semacam itu dengan ekspresi lurus … Bodoh!”
...*-*-*
...
Beberapa hari berlalu, tanpa sadar malam minggu telah tiba.
“Aku menyesal membuat janji dengan mereka.”
__ADS_1
Adam bergumam pelan ketika menatap cermin. Sekarang dia berpakaian rapi, memakai kaost turtleneck berwarna hitam dibalut dengan coat berwarna biru navy. Pemuda itu juga memakai celana panjang dan sepatu hitam. Rambutnya disisir lebih rapi, bahkan memakai jam tangan.
“Apakah ini tidak terlihat berlebihan, Bell?”
Melihat penampilannya sendiri lewat cermin, Adam merasa tidak berdaya. Sebenarnya cara dia berpakaian masih cukup sederhana, tetapi pemuda itu masih merasa agak berlebihan.
“Sama sekali tidak, Kak Adam. Kamu terlihat tampan.”
“...”
Melihat Bella yang memujinya dengan ekspresi malu-malu, Adam menggeleng ringan dengan senyum di bibirnya. Dia kemudian memeluk gadis itu sebelum berkata dengan nada lembut.
“Maaf tidak bisa menemani kamu di malam minggu, Bell. Aku akan berusaha pulang sesegera mungkin.”
“Kalau begitu saya akan menunggu, Kak Adam.” Bella mengangguk ringan.
“Istirahat lebih awal. Aku tahu kamu sedang senang belajar menggunakan mesin jahit baru itu, tetapi istirahat juga sangat penting.”
“En.” Bella sekali lagi mengangguk.
“Kalau begitu aku berangkat.”
Setelah pamit dengan Bell, Adam pergi dari apartemen miliknya. Hari ini adalah jadwal pertemuan antara kelompok Wings of Freedom dengan kelompok lain yang disebut Black Mamba.
Setelah mengemudi cukup lama, Adam akhirnya sampai di lokasi.
Melihat sebuah klub di depannya, Adam tersenyum pahit. Dia hanya berjanji kepada Shawn dan lainnya bahwa dirinya bersedia untuk ikut datang dalam pertemuan. Hanya saja, pemuda itu tidak menyangka tempat pertemuan itu ada di salah satu klub bernama Silver Dove.
Masuk ke dalam klub, Adam disambut dengan lampu remang-remang khas diskotik serja DJ yang memainkan musik. Mencium aroma para parfum dan keringat yang bercampur dari para pemuda bergairah, dia menggeleng ringan. Mengabaikan suasana di sekitar, pemuda itu pergi menuju ke lokasi yang ditentukan.
Melihat lokasi yang berada di tempat yang tidak mencolok dan dijaga ketat, Adam merasa kalau pertemuan ini tidak sesederhana yang dia pikirkan. Pada saat dia mendekat, pemuda itu dihentikan oleh dua orang penjaga.
“Di sini adalah tempat yang sudah dipesan, Kawan. Tolong cari tempat lain.”
“Ah! Akhirnya kamu tiba, Kak Adam!” seru Shawn yang sudah berada di sana dengan yang lainnya.
Melihat ke arh Shawn, Adam mengangguk. Dia kemudian melihat sosok pria botak kekar dengan setelan jas. Pria itu memiliki janggut yang dipangkas rapi. Setelan yang dia kenakan tidak bisa menutupi sosok besar tubuhnya. Selain itu, tato terlihat jelas di lehernya.
Menurut informasi, dia adalah ketua dari Kelompok Black Mamba!
Namun apa yang membuat Adam fokus bukan pria itu, melainkan wanita berpakaian glamor di sisinya. Karena di leher wanita itu …
Ada liontin yang terbuat dari Abyss Jade!
>> Bersambung.
__ADS_1