Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Teka-teki Untuk Owl


__ADS_3

Melirik ke arah Kevin yang tertidur pulas, Adam tersenyum lembut. Dia kemudian bangkit dari tempat tidurnya sebelum akhirnya keluar dari kamar perlahan tanpa membangunkan bocah itu.


Keluar dari kamar, Adam menajamkan indera pendengarannya. Mencari sumber suara tersebut.


Apakah selain tebak-tebakan, 'dia' juga suka bermain petak umpet?


Menjelajahi rumah yang gelap karena seluruh lampu telah dimatikan, Adam terus berjalan perlahan sambil mengamati sekeliling. Dia sama sekali tidak melewatkan sejengkal pun dan memeriksa dengan teliti.


Pergi ke ruang keluarga, Adam mengamati sudut-sudut di mana biasanya makhluk semacam itu suka bersembunyi.


"Tidak ada," gumam Adam dengan ekspresi serius.


Pemuda itu kemudian berjalan menuju ke dapur. Tempat yang dia anggap paling berbahaya.


Alasan kenapa Adam menganggap tempat itu berbahaya adalah film-film yang dia tonton di kehidupan sebelumnya. Pemuda itu sering menonton film dimana kejadian pisau terbang dan menikam orang-orang sampai mati terjadi.


Pisau, garpu, tusuk daging yang terbuat dari logam, dan banyak lagi.


Sampai di dapur, Adam menjadi lebih serius. Namun ketika menyadari suara itu juga tidak berasal dari sana, dia menjadi semakin bingung.


"Sebenarnya dari mana suara itu berasal?" gumam Adam dengan ekspresi semakin tertekan.


Menggeleng ringan, pemuda itu akhirnya berjalan kembali ke kamar. Namun saat itu, suara samar kembali terdengar di telinganya.


Sadar bahwa suara itu ternyata berasal dari lantai dua, Adam segera berjalan perlahan menuju ke lantai dua.


Mungkinkah Thomas dan istrinya menyembunyikan sesuatu? Kenapa aku merasa sikap mereka agak mencurigakan?


Membayangkan beberapa film di mana seorang bocah dikorbankan untuk kekayaan atau semacamnya membuat Adam kurang nyaman. Dia berharap semua itu hanya angan-angan yang tidak jelas dari emosi negatif miliknya saja.


Sampai di lantai dua, Adam mendengar suara semakin jelas. Meski sama sekali tidak keras, pemuda itu masih bisa mendengarnya. Dia kemudian berjalan ke sumber suara sampai pada akhirnya ...


Adam sampai di depan pintu kamar mandi.


Pada saat itu, ekspresi Adam tampak buruk. Bahkan agak pucat. Itu karena tanpa sengaja, bukannya menangkap roh jahat ... pemuda itu malah mendengar sesuatu yang tidak sepantasnya dia dengar.


Melakukan hal semacam itu tengah malam di kamar mandi. Dasar wanita aneh ....


Pikir Adam ketika dirinya memilih turun ke lantai pertama.


Istri Thomas sebenarnya tidak bisa disalahkan. Lagipula, wanita modern yang menahan diri sekitar dua tahun ... kemungkinan besar harus memiliki caranya sendiri untuk melampiaskan rasa yang ada.


Jika Adam mengetahui ceritanya, dia pasti akan bingung menilainya. Wanita yang melakukan itu mungkin kurang baik, tetapi dibandingkan yang mencari lelaki lain untuk melampiaskan rasa ... istri Thomas jelas lebih baik.


"Pendengaran yang terlalu sensitif itu ternyata tidak terlalu baik," gumam Adam yang telah kembali ke lantai pertama.


Menyadari bahwa suara yang dia dengar ternyata bukan suara roh jahat, Adam merasa agak tertekan. Pada akhirnya, pemuda itu memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Namun setelah dia kembali ke kamar ...


Ekspresi Adam berubah total.


"Ini ..."


Melihat jendela yang sedikit terbuka dan sebuah tulisan merah di dinding membuatnya menjadi cukup marah.


'Kelinci abu-abu adalah kelinci abu-abu ...'


'Apa fungsi kelinci abu-abu dalam lomba berburu?'

__ADS_1


Pada saat itu, itu Adam merasa aneh. Pemuda itu kemudian langsung melepas sarung tangan kanannya.


Melihat sebuah tanda merah darah seperti angka 3, Adam terkejut.


"Bagaimana tanda ini bisa muncul begitu saja?"


Adam bergumam dengan ekspresi tidak percaya di balik topengnya.


***


Pagi harinya, Adam yang duduk di tepi ranjang melihat Kevin bangun.


Pemuda itu telah menunggu satu malam penuh, tetapi sosok yang Kevin bicarakan sama sekali tidak muncul sama sekali. Melihat ke arah tanda aneh di punggung tangannya, dia menghela napas panjang.


"Karena berhasil memberiku kutukan, kelihatannya 'Dia' sama sekali tidak berada di level yang sama denganku. Mungkinkah berada di level Gold?" gumam Adam.


Pemuda itu kemudian menggeleng ringan. Jika musuh ada di level Gold (Spiritualist Grand Master), dia menduga pihak lain akan membunuhnya secara langsung daripada bermain dengan dirinya.


"Silver (High), kah? Atau Gold ... tapi psiko gila yang suka bermain dengan mangsanya?" Adam bergumam pelan.


"Paman Owl?" tanya Kevin.


"En?" Sadar dari lamunannya, Adam menatap ke arah Kevin. "Ada apa, Kevin?"


"Tulisan di dinding itu—"


"Kamu tidak perlu memikirkannya."


"Kenapa?"


"..."


Mendengar itu, Kevin terkejut. Bocah itu kemudian tampak gugup.


"Apakah kamu baik-baik saja, Paman?"


"Aku tidak apa-apa."


Adam menggelengkan kepalanya. Pemuda itu tampak tak acuh. Melihat ke Kevin dan kepada teka-teki di dinding, dia menghela napas panjang.


Tok! Tok! Tok!


Mendengar ketukan di pintu yang terburu-buru, Adam berkata dengan nada tak acuh.


"Masuk."


Setelah ucapan Adam terdengar, pintu kamar terbuka dan sosok Thomas yang pucat memasuki kamar.


"Apakah kalian baik-baik saja?"


"Kami baik-baik saja," ucap Adam. "Memangnya ada apa?"


"Katakan pada Ayah, apa yang sebenarnya terjadi, Kevin!" seru Thomas kepada putranya.


Kevin terkejut ketika mendengar ayahnya membentak dirinya. Selama ini, dia tidak pernah merasakan dibentak oleh sang ayah. Bocah itu tidak bisa tidak menjadi gugup.


"T-Tidak ada apa-apa, Ayah."

__ADS_1


"Jangan berbohong! Aku mendengar kabar duka. Hari ini sekolahmu diliburkan karena salah satu temanmu dan ibunya meninggal!"


"..."


Kevin tercengang. Dia kemudian memegangi kepala dengan kedua tangan. Bocah itu tampak takut dan bingung.


"Lihatlah ke belakang, Mr Thomas."


Mendengar ucapan Adam lalu menoleh dan melihat di dinding, Thomas kemudian tampak terkejut.


"Coba tanyakan kepada korban. Apakah ada tulisan yang sama pada dinding rumah mereka," ucap Adam dengan tenang. "Juga ... Kevin, katakan saja kepada ayahmu. Kamu tidak boleh merahasiakan hal semacam ini."


"B-Baik." Kevin yang gugup menjawab dengan suara lesu.


"..."


Setelah itu, Kevin menceritakan semuanya kepada ayahnya. Pada saat mendengar keseluruhan cerita, ekspresi wajah Thomas berubah-ubah. Pada akhirnya, dia tampak sangat marah.


"KEVIN!!!" seru Thomas sambil mengangkat tangan kanannya.


Adam berdiri di depan Thomas lalu menghentikan pria itu.


"Cukup Mr Thomas. Anda tidak perlu khawatir."


"Apakah anda telah menemukan solusinya, Mr Owl?"


"Tidak."


"Lalu kenapa menyuruh saya untuk tenang?"


"Tidak ada gunanya anda marah. Selain itu, menurut dugaan saya ... Anda beserta istri anda seharusnya aman."


"Bagaimana bisa?" tanya Thomas dengan ekspresi terkejut.


"Teman Kevin. Yang meninggal adalah teman dan ibunya, bukan seluruh keluarga. Kemungkinan, selain satu anak ... hanya akan ada tambahan satu korban."


"Bahkan jika itu benar, salah satu dari kami—"


"Tidak." Adam menggeleng ringan. "Tadi malam aku mendapat tanda. Itu berarti, jika saya gagal memecahkan masalah ini ... saya dan Kevin yang akan menjadi korbannya."


"Bagaimana bisa???" tanya Thomas dengan ekspresi terkejut.


"Kemungkinan besar karena dibandingkan dengan kalian berdua, selama Kevin mendapatkan tanda kutukan ... dia lebih dekat denganku.


Anda sibuk bekerja? Istri anda juga sibuk? Tidak ada yang merawat Kevin secara dekat selama beberapa waktu terakhir, kan?


Apakah takut Kevin tiba-tiba mengambil pisau dan menikam kalian?"


"..."


Mendengar ucapan Adam, Thomas merasa cukup malu.


Sementara itu, Adam menghela napas panjang. Melihat ke arah tanda di punggung tangannya, dia bergumam pelan.


"Aku harus memecahkan masalah ini."


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2