Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Dua Bunga


__ADS_3

Chapter sebelumnya telah diedit, silahkan baca ulang sebelum membaca chapter ini.


---


TENG! TENG! TENG!


Suara lonceng membuat Adam tertegun. Apa yang dia ingat adalah mulut raksasa yang dipenuhi dengan ratusan pasang gigi setajam belati. Namun ketika dia membuka matanya, pemuda itu sedang bersandar pada dinding dekat jendela.


Adam langsung merasakan cahaya yang menyilaukan matanya. Ketika sadar, dia sedang berada di dalam kelas.


Banyak murid yang bangkit dari kursi mereka. Mereka menyapa guru lalu segera pulang. Namun, ada sosok yang masih tinggal di tempat duduknya.


Adam melihat seorang gadis duduk. Dia memiliki kulit seperti gandum, tubuh agak gemuk, memakai kacamata dan memiliki beberapa bekas jerawat di kedua pipinya. Rambutnya berwarna cokelat bergelombang, tampak agak berantakan.


Gadis itu tampak pendiam. Dia tampak masih fokus membaca buku kimia. Benar-benar fokus dan mengabaikan orang-orang yang mulai pulang.


"Kamu benar-benar tidak berubah, Roxanne."


Suara lembut terdengar. Adam menoleh ke sumber suara, tapi langsung terkejut melihat sosok remaja cantik dengan seragam sekolahnya.


'Guren?'


Ya. Apa yang Adam lihat adalah sosok Guren yang masih berada di masa sekolahnya. Dia tampak sangat anggun dan cantik, padahal masih remaja.


"Ah! Maafkan aku, Guren. Aku benar-benar lupa."


Gadis yang dipanggil Roxanne berbicara dengan suara agak serak. Dia menatap ke arah Guren dengan ekspresi minta maaf.


"Hmmm ..." Guren mengangguk dengan senyum di wajahnya.


"Apakah kamu tidak ada ekskul menari, Guren?" tanya Roxanne dengan wajah bingung.


"Apakah kamu bahkan melupakan hari?"


Guren menyentil dahi Roxanne lalu tertawa. Gadis gemuk itu menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi canggung, tapi juga tampak bahagia.


Melihat keduanya lalu ke arah dirinya sendiri, Adam sadar kalau situasinya sama ketika dia melihat kenangan Pak Ozzie. Jadi, dia hanya bisa mengikuti mereka.


Keduanya pergi keluar kelas. Dalam perjalanan pulang, mereka berdua melihat banyak siswa-siswi yang menatap mereka semua.


"Lihat, itu Guren dan si buruk rupa."


"Hehehe. Itik benar-benar berteman dengan angsa."


"Tahukah kamu, nama Roxanne sebelumnya adalah Rosa. Namun aku dengar, namanya diganti ketika dia lulus SD."


"Hah? Serius?"


"Memang benar. Rosa dan Guren, dua bunga dari SMA Blue Rose. Hahaha."


"Guren berarti teratai merah, kan? Rosa ... mawar? Gadis sepertinya disebut mawar? Bukankah lebih mirip bunga bangkai?"


"Hahaha! Kamu benar-benar membuatku tertawa, Bung."


"Hahaha ..."

__ADS_1


Banyak murid yang iri dan cemburu kepada Roxanne karena berteman dengan Guren, bunga paling indah di SMA Blue Rose.


"Jangan dengarkan mereka," bisik Guren dengan senyum lembut di wajahnya.


"Aku mengerti."


Roxanne mengangguk, berusaha tetap tenang dan tersenyum. Namun Adam melihat jelas, kedua tangan gadis itu mengepal begitu erat.


Adegan tiba-tiba berubah.


Adam melihat sosok Roxanne duduk di depan cermin, dalam kamarnya yang gelap. Berbeda dengan Guren, tampaknya gadis itu terlahir di keluarga kaya.


"Apakah orang-orang itu benar? Mungkinkah Guren berteman denganku hanya karena dia ingin menjelekkan diriku?


Tidak! Guren bukan gadis seperti itu!"


Adam terus berada di sekitar Roxanne dan menjalani hari-harinya. Di sana, dia tahu kalau gadis tersebut stress dan tertekan secara mental.


Kedua orang tuanya sama sekali tidak peduli kepada dirinya, mereka hanya terus memberi uang dan kebutuhan sehari-hari termasuk pakaian, kendaraan, dan semacamnya. Namun, mereka sama sekali tidak memberi sedikit pun kasih sayang.


Satu hal lain yang Adam ketahui. Roxanne adalah jenius di bidang fisika dan kimia!


Setiap hari Adam melihat gadis itu bermain dengan rumus yang membuat dia sakit kepala.


Adam sendiri sangat baik di masa sekolahnya (karena dia mengulang kehidupan kedua). Meski nilai kimia dan fisika baik, dia tidak terlalu mendalaminya karena tidak berniat untuk menjadi ilmuwan atau dokter.


Adam terus mengikuti Roxanne. Dia terkejut setelah melihat kalau hubungan gadis itu dan Guren adalah sahabat yang sangat dekat.


Sampai suatu hari, Roxanne memenangkan lomba sains dan membuat banyak orang terkejut. Meski begitu, mereka bersikap seolah tak peduli, termasuk dengan keluarganya sendiri.


Guren tersenyum lembut ketika menyerahkan sebuah syal merah. Syal yang tampaknya dirajut oleh gadis itu sendiri.


"Kamu selalu mengabaikan kesehatanmu. Kamu harus menjaga diri, lagipula, kamu juga seorang gadis." Guren berkata dengan penuh perhatian.


"Terima kasih ... Terima kasih banyak, Guren."


Roxanne menerima syal tersebut dengan air mata yang mengalir di wajahnya. Dengan demikian, persahabatan mereka benar-benar menjadi lebih dalam. Namun, semuanya berubah ketika ada sosok lelaki yang ingin berbicara dengan Roxanne.


Remaja tampan itu adalah orang yang disukai oleh Roxanne, tetapi dia malah meminta gadis itu untuk mencoba memperkenalkan dirinya kepada Guren.


Roxanne merasa sakit hati. Seperti remaja yang biasanya jatuh cinta, dia benar-benar kehilangan rasionalitasnya.


Semuanya mulai berubah ketika banyak gadis yang menghasut Roxanne.


"Kamu hanya dimanfaatkan, Roxanne. Guren hanya menganggap kamu sebagai pesuruh. Dia hanya menargetkan uangmu. Ya ... lagipula, dia hanya siswi miskin yang mengandalkan beasiswa."


"Aku curiga dia masuk ke sekolah dan bertahan karena jalur belakang."


"Jalur belakang?"


"Kamu tahu maksudku, kan? Lagipula dia cantik dan memiliki tubuh seperti itu. Hehehe ... siapa yang tahu kalau dia menggoda guru atau para siswa itu."


"..."


Dihasut oleh siswi-siswi di kelasnya, Roxanne yang memiliki bibit kebencian karena merasa cowoknya direbut oleh sahabatnya mulai menjauhi Guren. Dia menolak undangan Guren dan semakin menjauhinya. Malah bergaul dengan para siswi lain, membuat Guren yang nyaris sempurna itu semakin dikucilkan.

__ADS_1


Hal itu terjadi cukup lama. Beberapa bulan kemudian, Roxanne tidak menyangka kalau hal mengerikan benar-benar terjadi.


Ya ... Guren akhirnya bunuh diri karena tekanan yang diterimanya.


Pada saat itu juga, Roxanne mendapatkan surat dari Guren.


'Aku tidak tahu jika aku tidak sengaja menyakitimu, Roxanne. Namun jika aku memang melakukannya, aku minta maaf.


Aku merasa senang karena kamu akhirnya bisa memiliki banyak teman. Namun, kamu juga harus ingat dengan mimpi-mimpimu. Kamu masih ingin menjadi ilmuwan hebat, kan?


Jangan lupa untuk terus menjaga kesehatanmu. Jangan lupa makan karena terus fokus membaca buku favoritmu. Terima kasih pernah mau berteman dan menjadi sahabatku, Rosa.


Penuh kasih, Guren.'


Roxanne awalnya tidak terlalu memikirkannya. Namun baru beberapa hari setelah Guren meninggal, dia melihat para siswa-siswi yang awalnya berteman dengannya mulai menjauhinya. Pada saat itu juga, Roxanne mulai mengingat senyuman gadis menawan yang selalu muncul ketika dia sedih dan berada di bawah.


Akan tetapi, bukan hanya tidak bersalah ... siswa-siswi itu malah menganggap kematian Guren sebagai lelucon.


Pada saat itu juga, Roxanne sadar kalau dia telah kehilangan sahabatnya yang paling berharga.


Di malam yang begitu dingin tanpa bulan dan bintang di langit, Roxanne berjalan menuju ke sekolah. Dia pergi menuju ke gedung olahraga tempat Guren bunuh diri.


Gadis itu membawa syal merah pemberian sahabatnya.


Sampai di depan pintu, dia kemudian berlutut di lantai sambil menangis keras.


"Maafkan kebodohanku, Guren. Maaf karena aku tidak peka dan malah selalu cemburu kepadamu! Maafkan aku!


Aku ... Aku hanya memilikimu, tetapi aku malah dengan bodoh membuangmu. Aku benar-benar bodoh!


Aku janji ..."


Roxanne meletakkan syal merah itu di lantai lalu membenturkan kepalanya ke lantai.


"AKU JANJI AKAN MEMBUAT ORANG-ORANG ITU MENDAPATKAN BALASANNYA!!!"


Mendengar ucapan yang dipenuhi kemarahan dan rasa benci, Adam langsung merinding.


Pada saat itu, Adam bisa melihat sosok roh Guren yang masih lemah dan mengenakan pakaian sekolahnya yang biasa.


'Aku tidak apa-apa. Hentikan itu, Roxanne. Kamu harus hidup dengan baik. Kamu tidak perlu melakukan hal-hal bodoh semacam itu.'


Namun, tampaknya Roxanne tidak bisa mendengar apalagi melihat Guren. Dia berdiri dengan dahi dipenuhi dengan darah.


Ekspresi gadis itu tampak kejam, sebelum akhirnya berbalik pergi.


'Hentikan itu, Roxanne! BERHENTI MELAKUKAN HAL-HAL BODOH ...'


Guren berlutut di lantai dengan wajah dipenuhi air mata. Dia berusaha menggapai Roxanne, tetapi gadis tersebut tidak bisa meninggalkan tempat itu.


'KUMOHON! JANGAN LAKUKAN HAL ITU ... ROSA!!!'


Di malam itu, Adam hanya bisa mendengar teriakan putus asa Guren yang memenuhi malam tanpa cahaya.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2