
Melihat ruang luas yang dan memang dibuat untuk latihan tanding, Adam merasa agak rumit. Dia kemudian melihat ke arah sosok Rocky di sisi lain lalu menggelengkan kepalanya.
"Apakah anda benar-benar yakin untuk melakukan ini, Mr Rocky?"
"Tentu saja, Mr Owl! Saya sudah siap!"
Rocky menatap ke arah Adam dengan ekspresi tegas di wajahnya. Melihat sosok pemuda dengan pakaian serba hitam kecuali topeng merah yang menutupi wajah, dia merasa agak aneh.
"Apakah anda tidak perlu untuk mengganti pakaian anda, Mr Owl?"
Adam menggeleng ringan, masih tampak agak tak acuh.
"Seperti ini sudah cukup."
Sementara keduanya berbicara santai, di sebelah ruangan latihan, tampak sebuah ruangan untuk menonton yang hanya dipisahkan oleh dinding kaca khusus.
Di ruang lain, anggota dari Dark Wings dan Grey Stone menatap dengan serius. Selain mereka, tampak dua sosok cantik yang duduk sambil menatap ke arah Adam dan Rocky di ruangan lain. Mereka adalah Alicia dan Alexia dari Crimson Phoenix.
"Menurut anda, siapa yang akan menang, Ketua?" tanya Alexia.
"Aku tidak tahu apakah Mr Owl itu memang sekuat rumor sehingga bisa melawan Mr Rocky dengan santai."
"Menurut informasi, bukankah Mr Owl itu adalah pengguna pedang? Kenapa dia memilih untuk melawan dengan tangan kosong?" tanya Alexia.
"Hanya ada dua kemungkinan. Pertama, dia merasa kalau pedang yang ada di markas kita kurang cocok. Terakhir, dia merasa kalau tidak memerlukan pedang untuk melawan Mr Rocky. Namun ...
Aku lebih percaya yang terakhir."
"..."
Alexia menatap sosok ketuanya. Melihat wanita yang jarang tersenyum itu mengangkat sudut bibirnya, dia merasa agak heran. Alexia kemudian kembali menatap dua sosok yang saling berhadapan di ruangan lain.
Adam melemaskan lehernya sambil tetap menatap Rocky.
"Apakah kamu tidak berniat untuk menyerang, Mr Rocky?"
"Anda ... benar-benar tidak berniat untuk berganti pakaian atau membawa senjata, Mr Owl?"
"Tidak." Adam menggeleng ringan.
"Anda terlalu meremehkan orang lain, Mr Owl!"
Adam tersenyum lembut.
"Maju."
Meski marah, Rocky tidak kehilangan kewarasannya. Dia menatap ke arah Adam dengan ekspresi serius. Mendekat sambil mengamati kemungkinan Adam menyerang tiba-tiba, dia semakin mendekat.
Cukup dekat dengan Adam, Rocky langsung mengepalkan tangannya erat. Langsung meninju lurus ke arah wajah sosok bertopeng merah itu.
Swoosh!
Adam langsung memiringkan kepalanya untuk menghindari pukulan Rocky.
__ADS_1
"Apakah anda tidak berniat menggunakan kemampuan khusus anda, Mr Rocky?"
Mendengar suara tak acuh Adam, Rocky langsung melompat mundur. Dia kemudian menatap ke arah sosok bertopeng merah itu dengan lebih serius.
Memasang kuda-kuda, kedua lengan Rocky dilapisi dengan zat abu-abu. Beberapa saat kemudian, tangan pria itu benar-benar tampak seperti dibuat dari batu yang kuat.
Rocky langsung melesat maju dan membuat pukulan kuat.
Swoosh! BANG!
Di depan tatapan kaget semua orang, Adam mengangkat tangan kanannya. Dia membuka telapak tangannya dan menahan serangan Rocky secara tenang.
"..."
Rocky tampak terkejut. Namun langsung tenang beberapa saat kemudian. Menarik kembali tangannya, dia kemudian membuat pukulan bertubi-tubi dengan kedua tangannya.
Swoosh! Swoosh! Swoosh!
Adam yang melihat serangan putus asa Rocky terus mengelak dengan ekspresi tenang.
Beberapa waktu kemudian, sosok Rocky berhenti karena telah kehabisan napas. Dia terengah-engah dengan keringat yang mengalir deras di sekujur tubuhnya. Melirik ke arah Adam yang masih tenang, dia tampak sama sekali tidak percaya.
"Bagaimana bisa?"
"Apakah anda penasaran, Mr Rocky?"
"..."
"Kekuatan serangan dan pertahanan layaknya batu ... memang kuat."
"Lalu kenapa ... lalu kenapa aku sama sekali tidak bisa mengenai dan melukaimu?"
"Itu karena ..."
Sosok Adam melesat. Sebelum Rocky bereaksi, pemuda itu sudah muncul di depannya dengan tangan kanan mengepal.
Swoosh!
Pukulan Adam melewati samping wajah Rocky. Namun udara yang lewat langsung menggores pipi pria kekar tersebut.
Adam kembali menarik pukulannya. Dia kemudian berjalan mundur sambil tersenyum.
"Aku mengerti."
Menyeka noda darah di pipinya, Rocky menatap ke arah Adam dengan ekspresi penuh hormat.
Sementara itu, di ruangan lain.
"Apakah anda melihat gerakannya tadi, Ketua?"
Mendengar pertanyaan Alexia, Alicia mengangguk.
"Aku melihatnya. Namun tubuhku berbeda. Meski aku bisa melihat, kemungkinan tubuhku tidak akan bisa digerakkan karena kurangnya refleks."
__ADS_1
"Jadi ..."
"Ya." Alicia mengangguk. "Untuk beberapa pengguna kemampuan khusus tipe jarak jauh, melawan sosok Mr Owl itu bisa menjadi pilihan yang sangat berbahaya."
Alicia menatap Adam yang berada di ruangan lain dengan ekspresi serius. Namun tanpa sepengetahuan orang lain, matanya berkilat dengan cahaya misterius.
***
Keesokan harinya.
Setelah melakukan pertemuan, Adam dan rekan-rekannya beristirahat di hotel untuk satu malam sebelum kembali pada pagi di hari berikutnya.
Siang harinya, mereka akhirnya sampai di rumah tua dengan cat putih yang tampak akrab. Ya ... markas mereka, Departemen Misteri cabang Kota B yang sekarang diubah sebagai Dark Wings guild.
"Meski tidak sebagus markas Crimson Phoenix, rumah masih saja tetap lebih nyaman."
James yang memimpin bergegas menuju ke rumah. Ketika membuka pintu, dia melihat dua sosok yang berada di dalam.
Melihat Nam yang duduk sambil mengipasi Evan yang tak sadarkan diri, mereka tampak bingung.
"Apa yang terjadi di sini, Nam?"
Mendengar itu, Nam menoleh. Melihat sosok James dan anggota lainnya, dia tampak begitu lega. Turun dari kursi, dia langsung membungkuk hormat.
"Selamat datang kembali, Semuanya!"
Melihat Nam dan Evan, Adam yang baru saja datang merasa agak aneh.
"Apa yang terjadi dengan Evan, Nam?"
Nam yang melihat sosok bertopeng merah itu tampak bahagia.
"Anu ... Evan pingsan karena terkejut, Guru!"
"Terkejut? Kenapa dia bisa terkejut?"
"Basemen ... telur-telur milik anda yang ada di basemen telah menetas, Guru!"
"..."
Mendengar ucapan Nam, anggota Dark Wings lainnya langsung menatap Adam. Mereka menghirup udara dingin, tampaknya telah mendengarkan sesuatu yang tidak ingin mereka dengar ketika pulang.
Adam juga merasa agak rumit. Meski awalnya dia membawa sebagian besar telur kembali ke rumah, pemuda itu memutuskan untuk mengambil dan membawa kembali beberapa telur untuk ditaruh di basemen markas. Selain untuk mengingatkan ketika telur itu menetas kapan saja, Adam juga ingin membuat eksperimen dengan mereka.
Seolah mengingat sesuatu, ekspresi Adam menjadi lebih pucat.
Jika beberapa telur di basemen menetas, itu berarti puluhan telur di apartemen miliknya juga menetas. Membayangkan puluhan laba-laba merah darah seukuran bola kasti merangkak dari kegelapan dan menakut-nakuti Jennifer atau Bella, sudut bibir pemuda itu berkedut.
Membayangkan adegan horor semacam itu, Adam tidak bisa tidak merasa tertekan.
Ugh ... jika mereka menyalahkan ku, kelihatannya aku tidak bisa tidur di rumah malam ini.
>> Bersambung.
__ADS_1