
Mencoba mengabaikan Nix si ayam sombong, Adam menarik napas dalam-dalam.
Setelah tenang, dia kemudian membuka panel status.
***
[ Spirit Hunter System ]
Name : Adam Bladefield
Level : Silver Spirit (High)
Cultivation Technique : Golden Sun and Silver Moon
Battle Skill : Autumn Sword (proficient), Spring Sword (proficient), Weapons Art of Bladefield (novice), Martial Art of Bladefield (novice)
Other Skill : Elemental Seal (competent), Basic Alchemy Art (proficient), Limitless Bladefield (-)
Spirit Beast :
- Golden Chicken (Low-Golden)
- Shadow Beast (Mid-Silver)
- Lesser White Sneak (High-Silver)
- Five Colored Blood Spider (Mid-Silver)
Beast Skill :
- Suzaku’s Cry (Gold), Suzaku’s Golden Talons (Gold), Flame Control (Gold-Locked)
- Shadow Stealth (Silver), Shadow Clone (Silver)
- Ice Control (Silver), Seiryuu’s Azure Scales (Silver)
- Blood Threads (Silver), Anti-VP (Silver)
Items Bag :
...
***
Ekspresi Adam berubah menjadi lebih buruk ketika melihat nama Golden Chicken, karena daripada makhluk kuat ... rasanya malah terdengar seperti nama makanan!
'Kenapa tidak sekalian Crispy Golden Chicken? Ayam dibalur tepung yang digoreng sampai keemasan?'
Adam bingung apakah harus menangis atau tertawa. Pemuda itu pikir, akan banyak perubahan ketika Spirit Beast miliknya naik ke level Gold. Lagipula, bahan untuk evolusi benar-benar sangat mahal dan menguras kantong!
Adam menatap ke arah Nix yang masih tampak begitu sombong. Dia tidak bisa tidak mengeluh.
"Kenapa kamu masih begitu sombong? Kamu masih seekor ayam! Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Suzaku!"
Nix sama sekali tidak memedulikan teriakan tuannya. Dia menyisir bulu emasnya dengan ekspresi penuh penghargaan, bahkan sombong. Terlalu sombong untuk seekor ayam!
Adam menarik napas dalam-dalam. Menatap ke arah Nix, pemuda itu kembali berkata.
"Jadi bagaimana kalau bulumu itu terbuat dari emas murni? Apa yang aku butuhkan adalah kemampuan bertarung!
Aku ingin kamu menjadi setinggi dua meter. Mengendarai keturunan Suzaku diselimuti api dengan gagahnya!"
Mendengar ucapan tuannya, Nix yang sedang menyisir bulunya tercengang. Dia menatap tuannya dengan pandangan aneh.
__ADS_1
'Apakah kamu bodoh, Tuan? Aku seekor ayam! Bagaimana bisa setinggi dua meter dan terbang di langit seperti rajawali? Kalau boleh, aku juga ingin melakukannya!
Berhenti mengeluh dan terima saja kalau aku seekor ayam!'
Merasakan tatapan Nix dan tahu maksudnya, sudut bibir Adam berkedut. Menghela napas, pemuda itu akhirnya memaksakan diri untuk tersenyum.
"Karena tidak bisa menjadi petarung handal, setidaknya kamu harus jadi pekerja keras, kan? Seperti domba yang diambil bulunya ...
Tampaknya lebih baik aku mencabuti bulumu, melelehkannya lalu menjualnya ke pengrajin emas.
Tenang saja, setelah itu aku akan memberikanmu lebih banyak makanan sehat agar bulumu tumbuh cepat. Ya ... tentu saja untuk diambil lagi."
Mendengar ucapan Adam, Nix langsung membayangkan kalau dirinya berjalan-jalan tanpa bulu, mirip daging ayam siap dimasak tetapi dengan kulit dan daging hitam.
Mata ayam itu terbelalak. Dia merasa tubuhnya dingin.
Nix menatap ke arah tuannya lalu menunjuk pemuda itu dengan sayapnya. Dia kemudian membuat gerakan menepuk dada dengan ekspresi meyakinkan. Maksudnya jelas ...
'Tenang saja, Bos! Meski penampilan seperti ini, aku memiliki bakat bagus dalam bertarung.'
Melihat Nix yang menjilat, sudut bibir Adam berkedut. Pemuda itu bertanya dengan curiga.
"Benarkah???"
Mendengar pertanyaan Adam, Nix mengangguk dengan serius. Dia kemudian menarik kepalanya ke belakang sambil menghirup napas panjang.
Kata 'Flame Control' langsung muncul dalam benak Adam.
Sadar kalau mereka ada di dalam rumah dan mungkin membakar rumah, Adam buru-buru berkata.
"Tunggu, Nix!"
Namun Adam terlambat. Si ayam langsung membuka paruhnya sambil membuat gerakan menyembur, lalu ...
Semburan api sebesar api korek gas muncul dari mulut Nix.
"..."
Adam yang bersiap untuk kabur atau mematikan api jika bisa terkendali tiba-tiba terdiam di tempatnya. Dia kehilangan kata-katanya.
"..."
Api di dalam paruh Nix akhirnya padam. Si ayam kemudian menatap ke arah Adam dengan tatapan sombong, seolah sedang berkata.
'Bagaimana? Keren, bukan?'
"..."
Tidak tahu harus berkata apa, Adam akhirnya duduk di kursinya lalu menghela napas panjang. Benar-benar tampak sangat tertekan.
Mengamati panel status miliknya dengan cermat, Adam melihat kata 'Gold-Locked'.
Membaca penjelasannya, Adam paham kalau skill Flame Control tidak bisa dia gunakan sebelum dia naik ke level Golden Spirit. Untung saja dua skill awal telah ditingkatkan kekuatannya, jadi dia tidak menderita kerugian total.
Ya ... meski sangat minim, paling tidak masih ada pengembalian.
Sebenarnya Adam sangat kecewa. Jika dia tahu akan seperti ini, dia akan menaikkan level Yuki terlebih dahulu. Meski perubahannya tidak bisa diharapkan, paling tidak skill Ice Control dan Seiryuu's Azure Scales akan mengalami banyak peningkatan dalam kegunaan.
Menghela napas, Adam berkata.
"Lupakan. Aku tidak akan mencabut bulumu. Namun sebagai gantinya, kamu harus lebih rajin belajar menggunakan Flame Control.
Pertama kali menggunakan Ice Control saja, aku bisa memadatkan es batu untuk membuat minuman dingin. Jadi sebagai keturunan Suzaku, daripada bangga ...
__ADS_1
Seharusnya kamu malu!
Karena aku tidak merokok, aku tidak membutuhkan api kecil seperti itu!"
Mendengar keluhan Adam, Nix menjadi lega. Meski harus berlatih lebih banyak dan kehilangan berat badan, setidaknya bulunya yang indah masih selamat.
Setelah Nix membiasakan diri, Adam menyuruhnya untuk kembali ke samudera jiwa karena pemuda itu berniat untuk kembali ke Kota B.
***
Keesokan harinya.
Ring! Ring! Ring!
Adam yang telah bangun tidur agak terkejut ketika mendengar ponselnya berdering.
Itu karena sekarang masih jam empat pagi!
"Halo?"
"Hah? Menginap di Cafe Starlight?"
"Aku akan memastikan telepon terlebih dahulu, lalu menelepon beberapa anak yang tinggal di Cafe."
"..."
Selesai menutup telepon, Adam kemudian menelepon temannya yang tinggal di Cafe Starlight.
Ketik tersambung, Adam segera bertanya.
"Apakah Yui menginap di Cafe Starlight?"
"Hah? Kemarin dia tidak masuk kerja? Berkata kalau sedang ada kepentingan keluarga?"
"..."
Mendengar penjelasan dari temannya, Adam benar-benar merasa bingung.
"Terima kasih, aku tutup panggilannya."
Adam kemudian segera memanggil Hikari. Mendengar berita darinya, wanita itu langsung menangis dan panik.
"Aku akan mencarinya. Kamu bisa tenang. Yui adalah gadis cerdas. Dia pasti tidak apa-apa."
Setelah mengatakan itu, Adam segera pergi mandi. Dia segera berganti pakaian, siap untuk pergi.
"Tadi siapa, Kak Adam?"
Bella yang telah bangun menatap Adam dengan mata sayu. Tampaknya masih mengantuk karena telah berolahraga sampai larut malam.
"Salah satu pegawaiku tidak pulang ke rumah. Ibunya menelepon dan menanyakan apa yang terjadi.
Aku akan pergi untuk membantunya mencari. Lagipula, gadis itu izin kepada ibunya tidak pulang dengan alasan menginap di Cafe Starlight. Jadi aku masih bisa dilibatkan jika sampai terjadi sesuatu."
"Kalau begitu hati-hati di jalan, Kak Adam."
Adam menghampiri Bella lalu memeluknya. Mengecup lembut keningnya, dia kemudian berkata.
"Aku berangkat."
Keluar dari apartemennya, Adam segera pergi ke tempat parkir. Masuk ke dalam mobilnya, pemuda itu menyalakan mesin. Sambil menunggu mesin panas ... dia tidak bisa tidak bergumam.
"Gadis ceroboh itu ..."
__ADS_1
>> Bersambung.