
"Ayolah, Ketua. Bukankah rasanya kamu menganggap kebijaksanaan orang dahulu itu konyol? Itu agak berlebihan, bukan?"
Mendengar Adam menganggap orang-orang itu seperti tikus tanah, Matt berkata dengan nada bercanda.
"Aku tidak menghina kebijaksanaan orang dahulu. Aku merasa itu juga persembunyian yang baik. Hanya saja ...
Aku sudah terlalu banyak menemukan hal seperti ini, jadi rasanya agak aneh. Karena, walau aman ... tetap saja itu kurang kreatif."
Mendengar dan memahami sudut pandang Adam, kelima orang lainnya merasa agak aneh dan heran. Bagi mereka, asalkan aman, bahkan jika tempat persembunyian itu sederhana bukanlah masalah. Namun pemuda itu tampaknya menginginkan sesuatu yang lebih menarik.
"Bagaimana kalau kita langsung turun dan mengakhiri semuanya, Ketua?"
Shawn memberi saran kepada Adam. Tampaknya dia tidak ingin berlama-lama di tempat ini.
"Tunggu."
Adam bertanya dengan ekspresi tak acuh. Dia kemudian melihat jalan ke bawah dengan saksama. Pemuda itu bahkan mengeluarkan koin lalu melemparnya ke bawah.
Melihat tidak terjadi apa-apa, Adam bergumam.
"Bahkan tidak ada jebakan."
Mendengar gumaman Adam, kelima orang lainnya merasa tidak bisa berkata-kata. Tampaknya, daripada menghadapi masalah serius, Adam malah bertingkah seperti anak yang pergi ke taman bermain.
"Kalau begitu ayo turun."
Setelah mengatakan itu, mereka pun turun dengan hati-hati.
Tanpa terasa, satu jam berlalu begitu saja.
'Mungkinkah ini yang dimaksud dengan mulut gagak?'
Memandang ke arah Adam, Matt menatap dengan curiga. Pada awalnya, setelah turun ke bawah, mereka baik-baik saja. Namun semuanya berubah menjadi semakin aneh.
Mereka terus melewati lorong yang agak sempit. Setelah mencoba berbagai jalan dan persimpangan, mereka kembali ke tempat awal. Tampaknya, jalur bawah tanah itu seperti labirin!
Ruang bawah tanah langsung menjadi lebih sulit daripada apa yang mereka bayangkan!
"Apakah ini hanya labirin tanpa arah tujuan? Tampaknya hanya membuat orang menghabiskan waktu mereka."
Matthew yang ikut berkeliling akhirnya mengeluh. Pria itu menghela napas panjang karena tidak menemukan jalan yang mengarah ke tempat lain.
"Belum lagi, bau di bawah tanah ini terlalu buruk. Mungkinkah karena di atas kita rumah bordil?"
Matthew menambahkan dengan ekspresi tak berdaya.
Berbeda dengan lima orang lainnya yang kebingungan dan sama sekali tidak menemukan petunjuk, Adam tampak berpikir keras. Pemuda itu belum menemukan jalan, tetapi dia menemukan sedikit petunjuk.
__ADS_1
"Haruskah kita pergi mencari ke tempat lain atau bagaimana, Kak Adam?"
Bella yang biasanya diam akhirnya juga berbicara.
"Sepertinya aku menemukan sesuatu."
Adam berkata dengan tenang. Meski masih agak ragu, dia masih berjalan ke depan. Lina orang lain juga mengikutinya.
Mereka kemudian sampai di lorong lurus cukup panjang. Karena pencahayaan hanya dengan lentera di kanan kiri dinding, ditambah dengan kelembaban dan aroma tidak sedap ... tempat itu benar-benar tampak gelap dan suram.
"Lihat di bawah lentera ke empat di sisi kiri. Meski tidak terlalu jelas, dibandingkan dengan bayangan lain, bayangan di bawahnya agak berbeda."
Setelah mengatakan itu, Adam berjalan ke sana. Dengan ekspresi datar di wajahnya, dia menyentuh dinding di bawah lentera. Pemuda itu pertama-tama mengetuknya.
"Tampaknya ada rongga kosong."
Setelah mengatakan itu, Adam mulai meraba-raba. Dalam beberapa saat, bersamaan dengan bunyi klik, sebuah pintu batu bergeser menyamping, menunjukkan anak tangga lain menuju ke bawah.
"..."
Melihat anak tangga itu, bukannya senang, enam orang termasuk Adam terdiam. Mereka benar-benar merasakan firasat buruk ketika melihat tangga itu.
"Apakah labirin lain?" tanya Matt dengan senyum masam.
"Belum tentu."
Dalam satu setengah jam, Adam dan lima orang lainnya melewati dua labirin lain. Mereka kembali menemukan jalan ke bawah.
Melihat anak tangga menuju ke tempat gelap, ekspresi keenam orang itu tampak muram. Mereka jelas mengutuk dan memarahi orang yang merancang tempat ini!
"..."
Tanpa banyak bicara, Adam memimpin kelima orang lain untuk turun. Hanya saja, berbeda dengan labirin rumit sebelumnya, mereka malah dihadapkan dengan lorong lurus.
Setelah berjalan cukup jauh, mereka akhirnya melihat tiga jalan. Adam kemudian melirik ke arah teman-temannya, setelah beberapa saat berpikir, dia berkata.
"Tempat ini berbeda dari tiga labirin sebelumnya. Jika aku tidak salah menebak, tiga jalan ini akan menuju ke tempat-tempat penting milik kelompok lawan.
Masalahnya, kita tidak tahu jalan mana yang menuju ke arah pemimpinnya. Sedangkan untuk memeriksanya satu per satu, itu akan terlalu memakan waktu dan melelahkan. Jadi, aku sarankan kalau kita akan dibagi menjadi tiga kelompok.
Aku akan pergi dengan Bella, Randy dengan Brock, dan Shawn dengan Matt.
Apakah ada yang keberatan?"
"Tidak!" ucap mereka berlima.
"Kalau begitu, Matt dan Shawn ... kalian pilih jalan terlebih dahulu. Kemudian Randy dan Brock memilih jalan. Sedangkan aku dan Bella akan menggunakan jalan yang tersisa.
__ADS_1
Akan tetapi, sebelum itu aku akan memberitahu kalian beberapa trik untuk menghindari jebakan. Selain itu, ada juga beberapa hal uang hadis kalian perhatikan."
Setelah mengatakan itu, Adam mulai menjelaskan kepada mereka. Tampaknya pemuda itu benar-benar menganggap serius masalah ini.
Adam menjelaskan hal-hal secara mendetail. Pemuda itu tidak ingin rekannya terkena jebakan dan mati dengan konyol. Pada saat itu, dia juga menegaskan.
"Jika menghadapi musuh yang kuat bahkan sulit dilawan dengan senjata api, aku harap kalian segera lari. Jika dikejar, kalian harus segera keluar.
Tidak perlu gengsi atau menahan diri. Jika tidak kuat, tidak perlu takut diejek. Setidaknya, kalian harus hidup dan tidak mati dengan cara bodoh.
Ingat, selama kalian hidup, tidak ada kata terlambat untuk membalas dendam di kemudian hari.
Apakah kalian mengerti?"
"Kami mengerti!" jawab mereka serempak.
"Kalau begitu pilihlah."
"Karena biasanya yang tengah mengarah ke bos musuh, kami memilih sisi kanan."
Shawn berkata dengan santai. Saat itu, Matt juga mengangguk. Setelah pamit, mereka akhirnya berjalan menuju ke lorong paling kanan.
"Kami tidak setuju dengan Shawn, biasanya jalur lurus (tengah) adalah jalur yang panjang tapi berisi kroco lemah, jadi kami memutuskan untuk jalan memilih ini."
Setelah mengatakan itu, Randy memimpin Brock berjalan menuju ke lorong tengah.
Melihat mereka pergi, Adam melirik ke arah lorong paling kiri. Dia menatap ke arah Bella sebelum berkata,
"Kalau begitu kita juga pergi, Bella."
Mendengar ucapan Adam, ekspresi Bella menjadi lebih serius. Dia berjalan mengikuti Adam, tangannya memegang eram gagang bokken yang menggantung di pinggangnya. Berjalan ke dalam, suara iringan lonceng yang lembut perlahan memudar.
***
Waktu berlalu dengan cepat, di jalan kanan, Shawn dan Matt akhirnya sampai di sebuah ruang luas.
Di sisi lain, ada sebuah pintu kayu besar. Sementara di ruangan luas itu sendiri, ada beberapa tumpukan kotak kayu. Tampaknya, ini adalah gudang dimana mereka menyimpan kebutuhan pokok.
Hanya saja, ruangan itu tidak begitu sepi. Di dekat pintu, ada sebuah meja cukup besar. Ada juga lima kursi yang mengelilingi meja, dan ... ada orang duduk di masing-masing kursi. Tentu saja, orang-orang itu langsung merasakan kedatangan mereka berdua.
Matt menatap ke arah Shawn degan senyum bercanda.
"Lima orang Kultivator, tidak tahu levelnya, paling tidak lebih kuat daripada para tentara bayaran elit. Itu berarti ..."
Matt terkekeh.
"Tampaknya kita kurang beruntung, Shawn."
__ADS_1
>> Bersambung.