Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Mencoba Melewati Malam?


__ADS_3

Mengamati sekeliling ruangan, Adam sama sekali tidak melihat sesuatu yang aneh atau janggal. Sebaliknya, dia merasa itu tampak begitu normal, bahkan terlalu normal.


Adam mengalihkan pandangannya ke arah Kevin yang sedang tertidur. Pemuda itu kemudian menepuk lembut bocah itu sembari berkata dengan nada tenang.


"Bangun, Kevin."


Mendengar ucapan Adam, Kevin membuka matanya. Namun melihat warna hitam bak tinta dalam pandangannya, bocah itu menjadi panik.


"Paman Owl? Paman Owl?!" panggil Kevin.


"Aku di sini. Tenang saja, semuanya akan—"


Pyarrr!!!


Pada saat itu juga suara barang jatuh dan pecah terdengar dari luar kamar. Hal itu membuat Kevin menjadi panik. Bocah itu langsung mencari ke sekeliling. Ketika menggapai coat Adam, dia memegangnya dengan erat.


"Tidak apa-apa ... tidak apa-apa. Aku di sini."


Adam yang masih bisa melihat cukup jelas membantu Kevin duduk. Dia berada di samping bocah itu tanpa banyak berkata. Pemuda itu malah mengawasi sekitar dengan ekspresi serius. Benar-benar siap dengan segala kemungkinan.


Apakah 'Dia' akan segera muncul? Dari mana? Jendela? Kolong tempat tidur? Langit-langit?


Pada saat Adam memikirkan itu, suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.


Tap ... tap ... tap ...


Suara langkah kaki terdengar perlahan tapi pasti. Semakin lama semakin jelas. Mendekat ... semakin mendekat.


Mendengar suara itu, jantung Kevin berdebar-debar. Bocah itu tampak pucat.


Sementara itu, Adam menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan. Pemuda itu langsung meraih bokken yang dia bawa sebelumnya.


Adam kemudian mengangkat Kevin dengan tangan kirinya dan membuatnya duduk di samping ranjang. Tempat di mana jauh dan tidak terlihat dari pintu atau jendela jika 'Dia' muncul dari sana.


"Kamu tenang di sini, Kevin. Aku tidak akan kemana-mana. Apapun yang terjadi, kamu tidak boleh asal muncul atau melarikan diri kecuali aku menyuruhnya," bisik Adam.


Mendengar ucapan Adam, Kevin yang menahan diri untuk tidak menangis terus mengangguk sambil menjawab pelan.


"En."


"Semuanya akan baik-baik saja, okay? Kamu tidak perlu khawatir," bisik Adam sambil meyakinkan.


Meski suara Adam lembut, itu tidak membantu sama sekali. Tubuh Kevin masih menggigil ketakutan. Bocah itu hanya bisa duduk di sana tanpa mengucap sepatah kata.


Adam sendiri berdiri di tengah kamar sambil memegang erat bokken di tangan kanannya. Sesekali pandangannya akan menyapu sekitar, memastikan tidak ada sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi.


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan di pintu terdengar. Mata pemuda itu menyempit. Menarik napas dalam-dalam, dia bertanya dengan nada dingin.


"Siapa?"


"Mr Owl! Kevin! Apakah kalian ada di sana?!"


Mendengar suara Thomas, Adam tampak sedikit lega. Namun dirinya tidak langsung membuka pintu, tetapi malah kembali bertanya.

__ADS_1


"Kenapa anda tidak berada di kamar dan malah pergi kemari, Mr Thomas? Apakah anda lupa dengan ucapan saya sebelumnya?"


"Linda dan saya khawatir dengan Kevin, Mr Owl!"


"Oh? Jadi ... Mrs Linda juga ada di sana? Jika benar, tolong katakan sesuatu."


"Ini saya, Mr Owl. Kami benar-benar ingin bertemu dengan Kevin."


Mendengar ucapan Linda, Adam agak terkejut. Namun mendengar suara yang lembut itu, ekspresi pemuda itu menjadi lebih serius.


Tidak peduli apa yang terjadi, Adam berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan mudah percaya dengan perkataan orang lain. Khususnya pada saat seperti sekarang.


"Kalian boleh kembali ke kamar, Kevin aman bersama denganku."


"Tapi kami ingin bersama dengan Kevin! Kami memiliki hak untuk—"


Blar!


Pintu kamar meledak dan cahaya emergency led menerangi kamar. Adam menghunus pedang ke depan. Tampak sedikit terkejut ketika melihat pasangan suami-istri yang jatuh ketakutan di lantai.


Adam sengaja menghancurkan pintu dan hendak menyerang, memberi 'Dia' serangan kejutan. Namun tidak menyangka bahwa yang berada di depan kamar ternyata benar-benar Thomas dan Linda.


Sementara itu, Thomas dan Linda sangat terkejut ketika pintu tiba-tiba meledak menjadi beberapa potongan dan serpihan. Melihat sosok bertopeng putih yang menghunus pedang, mereka bingung harus merasa senang atau justru marah.


"Apa yang anda lakukan, Mr Owl?!" tanya Thomas dengan senyum pahit di wajahnya.


"Jangan salahkan saya. Saya hanya tidak mempercayai bahwa itu benar-benar kalian."


"Bagaimana jika salah satu dari kami memiliki penyakit jantung?"


"Tapi—"


"Kemarilah, Kevin. Ini benar-benar ayah dan ibumu."


Mendengar suara Adam, Kevin yang bersembunyi di balik ranjang langsung berlari menuju mereka dengan wajah berlinang air mata.


Kevin langsung lari ke dalam pelukan ibunya. Adam menatap sosok Linda dengan ekspresi bingung sekaligus aneh.


Bukankah wanita ini sebelumnya berbicara dengan dingin kepadaku? Kenapa tiba-tiba merubah nada bicaranya? Tidak tahukah dia hal semacam itu berbahaya!


Adam mengeluh dalam hati. Menatap sosok Linda dengan dingin. Benar-benar cukup marah karena sikap wanita itu yang membuatnya jengkel.


Sementara itu, Linda yang merasakan tatapan Adam malah menunduk. Wajahnya merah, tetapi tidak jelas karena cahaya redup di dalam rumah.


Apakah Mr Owl menatapku? Apakah dia mengkhawatirkan diriku?


Mengabaikan Linda yang menunduk, Adam mengalihkan pandangannya ke arah Thomas.


"Apakah benda yang pecah tadi adalah perbuatan kalian?" tanya Adam.


"Benar." Thomas mengangguk. "Apakah ada yang salah?"


"Tentu saja." Adam berkata dingin. "Kenapa kalian begitu sembrono? Itu juga alasan Kevin menjadi lebih ketakutan? Tidakkah kalian tidak bisa lebih berhati-hati?"


Mendengarkan pertanyaan demi pertanyaan dari Adam, Thomas merasa agak malu. Dia menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi canggung. Tampak menyesali perbuatannya.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Pada saat itu suara ketukan pintu kembali terdengar, tetapi kali ini bukan dari salah satu pintu kamar, melainkan dari pintu depan rumah. Hal itu membuat Thomas, istri dan putranya panik.


Adam menatap mereka sebentar lalu menggelengkan kepalanya dengan ringan. Sedikit terbawa emosi, pemuda itu berkata dengan nada dingin.


"Tunggu di sini."


Setelah mengatakan itu, Adam langsung berjalan turun ke lantai pertama. Tentu saja, dia juga mengawasi sekelilingnya. Pemuda itu sama sekali tidak menurunkan kewaspadaannya.


Tok! Tok! Tok!


Mendengar ketukan di pintu masuk rumah, Adam berjalan dengan tenang. Tangannya yang awalnya agak rileks kembali mencengkeram bokken lebih erat.


"Siapa?" tanya Adam dingin.


"Maaf, Pak. Pohon tumbang telah membuat listrik di area sekitar mati. Sekarang sedang diperbaiki.


Kemungkinan akan selesai pada jam 3 pagi. Kami selaku pengurus meminta maaf sebesar-besarnya."


"En?"


Mendengar itu, Adam mengerutkan keningnya. Tidak seperti di dunia sebelumnya, memang akan ada pernyataan resmi dari pengurus jika ada masalah yang terjadi di sekitar.


Baik itu pencurian, kebakaran, banjir, bahkan mati listrik.


Padahal, menurut Adam, mati listrik di malam hari tidak perlu juga dilaporkan. Namun dia sendiri juga tahu bahwa ada sebagian yang mengerjakan tugas kuliah, pekerjaan kantor, atau banyak hal di malam hari.


Pernyataan semacam itu memang bisa dianggap tanggung jawab yang baik.


Mendengar itu, Adam menghela napas panjang.


"Terima kasih atas laporannya, Petugas."


"Ah! Sama-sama. Kalau begitu kami akan memberitahu yang lainnya."


Mendengar petugas yang pergi, Adam kembali ke lantai dua. Melihat ketiga orang yang menunggu dengan patuh, dia menjelaskan.


"Mati listrik karena pohon tumbang."


"Jadi begitu ..." Thomas tampak lega.


Mereka akhirnya memutuskan untuk menunggu di ruang keluarga dengan emergency led yang menerangi ruangan. Mereka berempat tidak banyak bicara, Adam sendiri juga sibuk mengawasi sekitar.


Pada pukul 3 pagi, listrik benar-benar kembali menyala. Hal itu membuat Thomas, istri dan putranya tampak lega. Bahkan Adam sendiri juga menjadi lebih rileks.


Malam ini, mereka melewatinya dengan aman. Mentari pagi akhirnya datang. Namun bukannya membawa kehangatan, tetapi membuat mereka berempat merinding.


Di kamar tamu, di bawah teka-teki dari 'Dia' terlihat tulisan lain yaitu '-1' yang sama dengan tulisan di sebelahnya. Sebuah tulisan yang muncul setelah salah satu pemain gugur.


Tulisan -1 dan -1, berarti -2 ... dua pasang pemain dinyatakan meninggal.


Pagi itu, Thomas benar-benar mendapatkan telepon yang mengatakan ... teman Kevin dan ayah dari anak itu dinyatakan meninggal.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2