Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Merusak Suasana


__ADS_3

Setelah pertempuran melawan dua saudara kembar dan berbicara dengan Mr Ryuuji, Adam akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumahnya.


Hotel, dalam ruang rapat.


Duduk di kursi utama, Mr Ryuuji melihat ruangan yang berantakan. Banyak perabot hancur, benar-benar rusak parah kecuali tempat dia duduk dan meja di depannya.


"Apakah anda benar-benar akan membiarkannya, Tuan?"


Salah satu sosok kekar berjalan ke arah tuannya sambil bertanya dengan ekspresi tertekan. Dia dan saudaranya tampak agak memalukan sekarang. Pakaian rapi sebelumnya benar-benar robek di sana-sini. Tidak hanya itu, banyak bagian tubuh mereka berdua dipenuhi luka. Bahkan mereka masih menggigil kedinginan.


"Seperti yang Nak Adam katakan, bahkan jika memang Bella adalah kerabat terakhir lelaki tua ini, gadis kecil itu sama sekali tidak mengenali lelaki tua ini.


Nak Adam juga bilang, kan? Bahwa dia tidak membutuhkan orang lain untuk mengurus masalah keluarganya."


Mr Ryuuji mengangkat bahu dengan senyum di wajahnya.


"Tapi, Tuanku ... Bukankah itu salah satu keinginan anda untuk—"


"Cukup!"


Mr Ryuuji menatap kedua pengawalnya.


"Kin ... Gin ... Bahkan jika itu keinginanku, itu juga tidak terlalu penting. Lagipula, aku masih memiliki kalian, kan? Bukankah kalian juga adalah putraku?"


Melihat senyum Mr Ryuuji, kedua saudara kembar berusia akhir tiga puluhan itu menyeka air mata mereka.


"Kami hanyalah anak yang anda pungut, Tuanku. Bahkan jika orang lain berpikir bahwa kami adalah Kultivator hebat, kami bukan apa-apa jika anda tidak mengulurkan tangan di hari itu.


Tanpa Anda, kami mungkin telah membusuk di jalanan. Jadi—"


"Cukup! Bukankah kalian Kultivator yang hebat? Berhentilah bersikap cengeng."


"..."


Melihat keduanya, Mr Ryuuji menggeleng ringan. Beberapa saat kemudian, ekspresinya menjadi lebih serius sebelum akhirnya berkata.


"Tentu saja, aku memiliki permintaan kepada kalian."


"Katakan, Tuanku!" ucap keduanya bersamaan.

__ADS_1


Menatap gemerlap malam di Kota B dari jendela, Mr Ryuuji berkata dengan dingin.


"Jika Nak Adam melanggar janjinya, bahkan jika bertaruh dengan nyawa kalian ...


Kalian harus membawa kembali gadis kecil itu!"


Gin dan Kin langsung berkata serempak.


"Kami mengerti, Tuan!"


***


Satu jam kemudian, di kediaman Adam.


"Ah! Anda sudah pulang, Kak Adam?"


Bella yang berada di dapur menatap ke arah Adam dengan senyum lembut di wajahnya.


Adam tidak mengatakan apa-apa. Pemuda itu berjalan menuju ke arah Bella. Sampai di depan wanita itu, dia langsung memeluknya dengan erat.


"Eh???"


"Apakah ada sesuatu yang terjadi, Kak Adam?" tanya Bella lembut.


"..."


Adam hanya memejamkan matanya. Setelah beberapa saat, pemuda itu membuka matanya lalu berkata lirih.


"Aku akan melindungimu, apapun yang terjadi."


Ucapan Adam membuat Bella bingung. Namun merasakan pelukan pria itu menjadi lebih erat, dia tersenyum manis. Bersandar di dada Adam, wanita itu membalas.


"Kalau begitu, tolong jaga aku, Kak Adam."


"Apakah ada seseorang yang dilupakan di sini?!"


Ketika keduanya berpelukan, suara wanita bernada tinggi tiba-tiba menyela. Adam dan Bella langsung menoleh ke sumber suara.


Di sana, tampak sosok Jennifer yang memakai piyama dengan rambut seperti sarang burung ... acak-acakan. Wanita itu menyilangkan lengannya dengan ekspresi kesal, membuat Adam dan Bella saling memandang lalu tersenyum.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Bukankah kalian tidak adil? Nona polisi ini juga butuh perlindungan dan pelukan hangat, kalian tahu?"


Melihat Jennifer yang berpura-pura marah, Adam menggelengkan kepalanya. Pemuda itu akhirnya membuka tangannya dan berkata.


"Kemarilah."


"Yah ... Jika kamu memaksa."


Pura-pura marah, Jennifer juga segera ikut terjun ke pelukan Adam. Namun ketika ketiganya berpelukan, ekspresi wanita itu langsung berubah.


"Bukankah kamu bilang kamu melakukan pertemuan, Sayang? Kenapa kamu penuh dengan debu? Belum lagi, ini bau rokok dan alkohol!


Lepaskan aku ... Aku sudah mandi!"


Melihat Jennifer yang ingin melepaskan diri, Adam malah memeluknya lebih erat. Melihat wanita itu menggertakkan gigi, dia terkekeh.


"Bukankah kamu tidak ingin ditinggalkan, Sayang?"


Mendengar Adam menggodanya, Jennifer memutar matanya dengan ekspresi jengkel. Namun dia berhenti berjuang dan berkata.


"Hmph! Hanya kali ini!"


Adam tersenyum ketika melihat Jennifer. Meski mulutnya keras, sebenarnya tubuhnya benar-benar jujur.


Adam tiba-tiba mengecup kening kedua wanita itu satu per satu.


"Aku mencintai kalian."


"Hmph! Mulut manis," ucap Jennifer sinis. Namun senyum masih muncul di wajahnya.


Sementara itu, Bella yang pemalu juga berkata.


"Aku juga mencintaimu, Kak Adam. Aku sangat menyayangi keluarga kita, termasuk Saudari Jennifer, dan mungkin saudari lainnya."


Mendengar ucapan "saudari lainnya", ekspresi Jennifer langsung stagnan. Sementara itu, Adam tersenyum masam.


"Kamu benar-benar merusak suasana, Bell."


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2