Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Setiap Orang Punya Cerita


__ADS_3

"Menyerah saja."


Beberapa menit bertarung, Adam menatap Lei Kong dengan tak acuh.


Dari orang-orang di Sekte Thunder Fang yang sempat Adam temui, kecuali Tetua Feng, dia merasa kalau yang lainnya sebenarnya tidak begitu kuat. Tentu saja, pemuda itu yakin pasti ada yang lebih kuat daripada Tetua Feng.


Hanya saja, karena Tetua Feng juga terluka parah, Adam merasa tidak ada yang perlu begitu ditakuti. Namun dia juga masih waspada, berjaga-jaga jika ada beberapa Tetua yang bisa menyembunyikan kekuatan asli mereka.


Jadi sejak awal, Adam mau bertarung dengan Lei Kong karena pria itu begitu baik mengirimkan ginseng berusia ratusan tahun secara gratis kepadanya.


"Jangan meremehkan ku!"


Lei Kong berteriak. Energi ungu langsung menyelimuti pedangnya.


"Thirteen Thunder Fangs ... gerakan ke-4."


Lei Kong muncul di belakang Adam. Membuat gerakan sapuan sambil memutar tubuhnya, dia langsung mengincar pinggang pemuda itu.


Swoosh! KLANG!


Suara keras benturan logam terdengar.


Orang-orang melihat Adam menangkis gerakan Lei Kong dengan mudah. Pedang di tangan pemuda itu diselimuti oleh energi berwarna hijau yang tampak begitu samar.


"Seperti yang diharapkan dari Sekte Thunder Fang, energi Qi petir mereka tidak hanya cepat ... tetapi juga kuat."


Adam kemudian melompat mundur dengan begitu santai lalu menyarungkan pedangnya. Memegang sarung pedang dengan tangan kiri dan gagang pedang dengan tangan kanan, Adam langsung membungkuk, benar-benar merubah gayanya dari gaya bertarung bebas menjadi gaya bertarung seorang ahli Kendo tradisional.


Melihat perubahan gerakan Adam, Lei Kong langsung memegang gagang pedang dengan kedua tangannya. Energi Qi berwarna ungu menyelimuti bilah pedang. Dia benar-benar fokus untuk menahan serangan pemuda bertopeng itu.


Adam memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam.


"Autumn Sword ..."


Pada saat orang-orang berkedip, Adam menghilang dari tempatnya dan muncul tiga atau empat meter di belakang Lei Kong sambil membuat gerakan menyarungkan kembali pedangnya.


"Flowing Wind."


Bersamaan dengan suara Adam, bagian tubuh pedang di tangan Lei Kong tiba-tiba jatuh, hanya menyisakan gagang pedang yang masih pria itu pegang.


Glup!


Melihat sosok Adam yang menghilang dan bergerak layaknya embusan angin, para penonton tanpa sadar menelan ludah.


'Satu detik!'


Dua kata tersebut yang langsung terpatri dalam pikiran mereka. Jika Adam mengincar leher, mungkin bukan bilah pedang, tetapi kepala Lei Kong yang sekarang jatuh ke tanah.


Bruk!


Lei Kong jatuh berlutut di tanah. Dia tampak begitu terkejut. Tubuhnya gemetar, banyak keringat dingin membasahi tubuhnya.


Pria itu benar-benar ketakutan!


"Aku ... Kalah ..."


Lei Kong berkata dengan suara yang nyaris tidak terdengar.


"Kamu tidak perlu terkejut. Meski tampak hebat, gerakan itu tidak bisa dengan mudah digunakan dalam pertarungan nyata.


Aku bisa menggunakannya karena ini adalah duel, dan kamu memberiku kesempatan untuk melakukannya. Jika kamu mencoba menggangguku ketika belum siap, aku tidak akan sempat melakukan gerakan itu.


Tentu saja, jika kamu melakukannya, aku akan menyerangmu dengan gerakan lain."

__ADS_1


Adam berkata dengan santai. Pemuda itu berjalan ke arah Lei Kong. Berhenti di depan pria itu, dia mengulurkan tangan.


"Kamu memiliki kemampuan hebat, hanya terlalu percaya diri karena sudah sering berada di depan rekan-rekanmu.


Pertandingan yang bagus."


Melihat ke arah Adam, Lei Kong tersenyum masam. Meraih tangan Adam, pria itu ditarik dan dibantu berdiri.


Menghela napas panjang, Lei Kong menatap ke arah Adam.


"Kalah tetap saja kalah. Aku terlalu puas dengan pencapaianku sendiri." Pria itu menggeleng ringan sebelum melanjutkan, "Kamu benar-benar monster, Mr Owl."


Melihat kedua orang itu saling berjabat tangan, para penonton bertepuk tangan dengan meriah.


Mereka sama sekali tidak meneriaki atau menyalahkan Lei Kong. Meski kalah, para murid tahu kalau guru mereka itu juga kuat. Hanya saja, lawannya benar-benar jauh di luar ekspektasi mereka semua.


"Guru ..."


Lei Na berkata dengan ekspresi penuh keraguan.


Tetua Feng mengangguk dengan ekspresi serius. Dia menatap ke arah Adam di kejauhan sembari berbisik.


"Mr Owl memang berada di puncak tingkat Spiritualist Master. Sama dengan tingkatku. Namun ...


Aku yakin dia pasti bisa mengalahkanku, bahkan jika aku dalam kondisi sehat."


Tetua Feng menatap ke arah Lei Na yang terkejut dan tidak bisa berkata-kata, sebelum akhirnya kembali berkata.


"Kemungkinan besar dia bisa bersaing dengan Patriak. Tentu saja, belum bisa menang.


Walau jaraknya kecil, Master dan Grandmaster memiliki tembok yang sulit ditembus. Karena itu juga, aku terjebak di tempat ini sampai sekarang.


Energi Qi tipe angin, bergerak cepat tanpa suara ...


Julukan Owl memang pantas dia sandang."


Itu berarti ... 'Burung Hantu' itu benar-benar berada di luar ekspektasinya.


***


Malam harinya, di rumah Tetua Feng.


"Makanlah. Di kota pasti jarang memakan makanan tradisional seperti ini, kan? Nikmati saja, anggap rumah sendiri."


Tetua Feng, Lei Fan, Lei Na, dan Adam makan bersama. Beberapa hidangan nikmat seperti sup ayam dengan biji teratai, dan beberapa hidangan tradisional lain tersaji.


Melihat keramahan mereka, Adam tersenyum lembut.


"Terima kasih banyak atas keramahannya, Tetua Feng."


"Hahaha! Tidak perlu sungkan ... tidak perlu sungkan ..."


Mereka berempat kemudian makan bersama dengan gembira.


Selesai makan, Tetua Feng tiba-tiba berkata.


"Lei Fan, ambil anggur yang guru simpan."


Mendengar ucapan gurunya, Lei Fan tampak terkejut.


"Bukankah kamu sakit, Guru? Tidak baik jika minum anggur pada saat seperti ini, kan?"


"Lakukan saja!"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Tetua Feng menatap ke arah Adam.


"Kamu mau menemani lelaki tua ini minum kan, Mr Owl?"


Mendengar ucapan Tetua Feng, meski agak enggan, Adam hanya bisa menerimanya.


Tetua Feng melihat Adam mengangguk ringan. Pria paruh baya itu tersenyum puas.


Dia mengajak Adam untuk pergi ke halaman belakang. Duduk bersama di sana sambil minum anggur dan melihat bintang. Tetua Feng bahkan mengusir Lei Fan dan Lei Na.


Pada saat Adam menyesap anggur, dia sedikit terkejut.


"Kadar alkoholnya tidak terlalu tinggi, tapi anggur buah yang diseduh secara tradisional tidak buruk juga, kan?"


Mendengar ucapan Tetua Feng, Adam mengangguk. Memang, dibandingkan dengan rasa anggur biasanya, anggur buah ini sedikit masam dan agak pahit. Namun juga nikmat dan menyegarkan.


Adam melihat ke arah Tetua Feng yang sedang menatap langit malam sambil menyesap anggur.


"Apakah ada yang ingin anda bicarakan dengan saya, Tetua Feng?"


Tidak langsung menjawab, Tetua Feng malah balik bertanya.


"Apakah kamu lahir di klan pembunuh, Mr Owl? Meski tidak semua orang menyadarinya, aku tahu kamu telah membunuh banyak orang.


Hal itu berbeda dengan moto Kultivator di jalan yang benar."


"..."


"Kamu tidak perlu waspada. Aku tahu kamu bukan Kultivator Jahat, atau yang biasa disebut Kultivator Iblis.


Oleh karena itu, aku bertanya kepadamu. Karena ... biasanya hanya klan pembunuh yang biasanya melakukan pembunuhan begitu berat padahal juga di jalur benar."


"Saya bukan bagian dari mereka."


"..."


Mendengar jawaban Adam, Tetua Feng agak terkejut. Meski merasa agak tidak sopan, dia masih bertanya.


"Jadi orang tuamu bukan Kultivator?"


"Saya yatim piatu."


Mendengar jawaban Adam, Tetua Feng kembali terkejut. Dia langsung membayangkan kisah seorang bocah yang menjadi Kultivator untuk membalas dendam. Melewati banyak rintangan, melawan banyak musuh, dan berjalan di jalur pembunuhan.


Melihat ke arah Adam yang begitu tenang, tampak tidak normal bagi lelaki seusianya, Tetua Feng menghela napas berat.


"Aku tahu hidupmu berat. Mungkin kamu tidak memiliki tempat untuk kembali, tapi jika kamu mau ...


Kamu boleh menganggap tempat ini sebagai rumahmu sendiri."


"..."


Mendengar ucapan Tetua Feng, kali ini Adam yang tercengang. Melihat bagaimana lelaki paruh baya itu memandangnya dengan rasa iba, dia tidak bisa berkata-kata.


Melihat bagaimana Adam tidak menjawab, Tetua Feng kembali menambahkan.


"Tidak apa-apa. Setiap orang memiliki masa lalu dan cerita mereka. Apapun masa lalu yang pernah kamu alami ...


Itu tidak begitu penting sekarang."


"..."


Adam ternganga. Benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa.

__ADS_1


Dia hanya merasa kalau pria itu terlalu banyak menonton drama wuxia!


>> Bersambung.


__ADS_2