
Setelah melihat itu, Adam teringat sesuatu dan segera mencoba mengecek harga beberapa item di inventory miliknya.
[ Abyss Jade ]
40 Spirit Bead (bronze)
…
Melihat itu, ekspresi Adam menjadi agak suram. Ukuran Abyss Jade jelas bisa digunakan untuk membuat lima liontin, tetapi harganya sama hanya dua kali lebih banyak.
Pemuda itu kemudian menyimpulkan, kenapa Abyss Jade bisa dijual lebih mahal mungkin karena telah diproses melalui metode tertentu.
Melihat dua item yang bisa dijual itu, ekspresi Adam menjadi lebih rumit. Jika dirinya menjual keduanya, pemuda itu bisa meningkatkan salah satu Spirit Beast miliknya ke tingkat silver.
Hanya saja, Adam merasa agak enggan. Ada dua alasan.
Pertama, itu karena Adam lebih memilih untuk belajar memproses Abyss Jade terlebih dahulu sebelum menjualnya. Terakhir, karena banyak kasus kegilaan yang tiba-tiba … dia merasa bukan hanya satu liontin giok yang bisa menjadi penyebabnya.
Pada akhirnya, Adam memutuskan untuk menyimpan Abyss Jade yang belum diproses dan menjual Refined Abyss Jade. Setelah mendapat 20 Spirit Bead (bronze), dia segera kembali ke apartemen miliknya.
Setelah masuk ke ruang latihan miliknya, Adam kemudian menaikkan level Yuki dan Kyoko. Menggunakan 15 Spirit Bead (bronze), Yuki naik ke level high-bronze. Sedangkan Kyoko naik ke level mid-bronze setelah menggunakan 5 Spirit Bead (bronze).
Skill yang Adam miliki tidak meningkat, tetapi kedua makhluk itu jelas menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Ya … meski masih tidak bisa diandalkan dalam pertarungan yang sebenarnya.
“Karena sudah selesai, waktunya untuk-”
Adam terdiam ketika mendengar ponselnya berbunyi. Dia mengeluh dalam hati.
“Siapa yang menelepon di waktu seperti ini?” gumam Adam.
Melihat bahwa yang menelepon adalah Jennifer, pemuda itu malah merasa heran.
“Halo?”
“Syukurlah kamu belum tidur …”
“Ada apa?”
“Aku tidak tahu harus menghubungi siapa lagi. Menurutku kamu cukup bisa diandalkan, jadi bantu aku!”
“Eh?” Adam memiringkan kepalanya. “Membantu? Maksudnya?”
“Aku akan mengirim lokasinya. Kamu segera datang!”
“Tapi-”
Beep … beep … beep …
Mendengar suara telepon yang diputus, sudut bibir Adam berkedut. Menghela napas, dia segera bergantia pakaian. Pemuda itu tidak lupa membawa sarung tangan dan topeng putih miliknya.
Ketika hendak keluar, Adam mendengar suara pintu terbuka. Kelika menoleh, dia melihat Bella yang keluar dari kamar.
“K-Kak Adam … mau pergi?”
“Maaf, Bell. Aku harus pergi sebentar,” ucap Adam dengan senyum minta maaf.
Bella melihat cara Adam berpakaian, sarung tangan, dan topeng putih itu juga. Mengingat saat pemuda itu menyelamatkan dirinya, dia tersenyum lembut.
__ADS_1
“Kalau begitu hati-hati dan pastikan keselamatanmu, Kak Adam.”
Melihat senyum Bella, Adam mengangguk lembut.
“Aku berangkat.”
... ***
...
Setelah memarkir mobilnya di tempat parkir umur, Adam pergi ke taman kota di dekatnya.
Berhenti di salah satu pohon yang cukup rimbun, Adam segera memakai sarung tangan dan topengnya. Pemuda itu kemudian bergegas menuju lokasi yang Jennifer tunjukkan.
Sampai di lokasi yang tidak jauh dari taman kota, Adam melihat mobil polisi yang bersiap di sana. Pemuda itu berjalanan mendekat lalu mengangguk ringan.
Melihat sosok berpakaian serba hitam yang tertutup bahkan memakai sarung tangan dan topeng, Jennifer merasa curiga. Namun saat orang itu mengangguk, dia menjadi lega.
Keluar dari mobil, Jennifer segera menyapa.
“Apakah itu kamu, Adam?” tanya Jennifer.
“Ya.” Adam mengangguk.
“Penampilanmu mencurigakan,” ucap Jennifer sambil menggeleng.
“Ini untuk berjaga-jaga.” Adam menghela napas. “Jika ini ada hubungannya dengan kepolisian, aku tidak ingin terlibat.”
“Ayolah! Anggap saja sebagai permintaan maaf. Jika kamu membantu, aku tidak akan marah lagi.”
“...”
Permintaan maaf? Kenapa aku tidak merasa melakukan hal yang salah? Wanita ini …
Pemuda itu memandang Jennifer yang menatap dirinya dengan ekspresi penuh harap. Melihat itu membuatnya merasa tidak tega. Setelah menghela napas panjang, dia akhirnya berkata.
“Kali ini saja.”
“Bagus!” Jennifer mengangguk dengan senyum puas.
“Memangnya ada masalah apa?”
“Aku ingin kamu membantuku berburu orang.”
“Eh? Berburu orang? Serahkan tugas seperti itu pada anjing pelacak!” ucap Adam dengan nada jengkel.
”Bukan itu maksudku!”
“Setidaknya katakan dengan jelas.”
“Ini ada hubungannya dengan kasus orang yang menggila.
Entah bagaimana, salah satu pegawai Rumah Sakit Jiwa tiba-tiba melepaskan para orang yang tiba-tiba menggila itu lalu melarikan diri. Orang-orang itu kabur, benar-benar membahayakan keamanan publik. Jadi-”
“Berapa orang?” tanya Adam dengan ekspresi serius.
“Enam ornag termasuk pegawai Rumah Sakit Jiwa tersebut.”
__ADS_1
“Apakah tidak ada yang tertangkap? Ketika mengejar, kenapa tidak menembak mereka?” tanya Adam.
“Belum ada yang tertangkap. Salah satu tim mencoba menangkap satu, bahkan menembak kakinya. Namun anehnya, meski terluka, orang gila itu seperti tidak merasakan sakit dan mulai menyerang sampai melukai beberapa petugas.”
“Apakah para petugas selemah itu?”
“Tentu saja tidak! Orang-orang itu yang aneh! Selain tidak merasakan sakit, mereka benar-benar seperti memiliki kekuatan lebih!”
“...”
Adam curiga itu ada hubungannya dengan roh jahat. Karena wanita gila tadi segera dibawa sekaligus dirinya yang terlalu fokus pada liontin, pemuda itu tidak terlalu jelas tentang apa yang membuat mereka berubah menjadi sedemikian rupa.
“Kamu memintaku untuk membantu karena bisa dengan mudah menjatuhkan salah satu dari mereka?” tanya Adam.
“Tentu saja! Bahkan jika dekat, aku tidak akan meminta bantuanmu kalau dirimu terlalu lemah!”
Melihat ekspresi serius Jennifer, Adam tersenyum pahit di balik topengnya.
“Aku akan membantu.”
“Kalau begitu masuk ke mobil. Kita akan segera pergi.”
“Baik.”
Masuk ke dalam mobil, mereka pun akhirnya pergi berpatroli. Tentu saja, tidak mudah untuk mencari enam orang di Kota B yang luas dan padat.
Setelah beberapa kali berpatroli di area dalam penjagaan mereka, keduanya sama sekali tidak menemukan petunjuk.
“Ugh! Orang-orang itu sangat merepotkan!” gumam Jennifer.
Sementara Jennifer terus mengeluh, Adam hanya mendengarkan sambil fokus melihat enam potret orang yang mereka cari di tangannya.
Ring! Ring! Ring!
Mendengar suara ponsel, Adam menatap Jennifer sebelum berkata, “Ada telepon.”
“Aku mendengarnya!” balas Jennifer dengan nada tidak sabar.
Mengangkat telepon, wanita itu segera berkata dingin.
“Ada apa, Renald!”
“S-Senior Jennifer, salah satu buronan berlari menuju ke area kamu berpatroli! T-Tolong! Kami butuh bantuan!”
“Kerja bagus, tapi … lain kali berbicara lebih singkat dan jelas!”
Setelah mengucapkan itu, Jennifer langsung menginjak pedal gas. Dalam waktu singkat, mereka tiba di dekat taman dan melihat sosok orang gila yang berlari dengan cara aneh menuju ke area taman.
Jennifer segera menghentikan mebilnya.
“Adam, kita-”
Belum sempat menyelesaikan ucapannya atau turun dari mobil, Jennifer melihat sosok Adam yang telah turun dan berlari mengejar orang itu.
Melihat bagaimana Adam berlari lebih cepat dan ganas daripada cheetah yang mengejar zebra di padang savana, wanita itu tercengang.
Apakah itu … benar-benar masih manusia?
__ADS_1
>> Bersambung.