
Halaman belakang markas Dark Wings.
"Segera beristirahat, Nam. Apakah kamu tidak lelah?"
James yang duduk di ruang santai sambil menikmati kopi dan rokok menatap sosok Nam yang mengayunkan pedang kayu di halaman belakang. Ekspresi serius tampak di wajah bocah itu.
Meski tidak diawasi, Nam jelas tetap serius. Bocah itu bahkan tidak pernah bolos latihan walau lelah, atau tubuhnya sedang tidak dalam kondisi prima. Dia percaya, hanya dengan kerja keras ... dia bisa membalas kebaikan Adam kepada dirinya.
Melihat Nam yang masih fokus berlatih dan mengabaikan dirinya, James hanya bisa menghela napas panjang. Pria itu merasa tidak berdaya.
Nam bangun lebih awal. Bocah itu berolahraga sebentar sebelum membantu untuk menyapu rumah, dan juga menyiram bunga sebelum pergi ke sekolah. Pulang sekolah, dia bersantai sejenak lalu belajar mengulas pembelajaran sebelumnya dan mempelajari pelajaran yang akan dibahas besok di sekolah. Bocah itu menggunakan waktu di malam hari untuk berlatih.
Kecuali hari libur di mana dia terkadang bersantai atau bermain dengan temannya, Nam sama sekali tidak pernah mengendor.
Itu benar-benar membuat nurani James terluka!
Terkadang, James membandingkan dirinya yang hanya tidur larut, mabuk, merokok, dan bersenang-senang tanpa banyak bekerja dengan bocah itu. Merasa bahwa dirinya lebih buruk daripada bocah yang belum tumbuh bulu, James merasa agak tertekan.
"Apakah Guru tidak datang, Paman James?"
Pertanyaan itu menyadarkan James dari lamunannya. Melihat ke arah Nam yang baru saja selesai berlatih dan dipenuhi keringat, dia tidak bisa tidak mengerutkan kening. Bukan karena bau, tapi ...
"Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku Paman, Nam. Panggil aku Kak James."
"..."
Nam menatap ke arah James dengan ekspresi agak aneh. Lebih tepatnya agak bingung. Dia merasa, James terlalu aneh karena ingin dipanggil 'kakak' di usia seperti itu.
"Pfft ... seharusnya kamu bersyukur Nam tidak memanggilmu Kakek, James."
Menoleh, James melihat ke arah Douglas yang tersenyum bahagia. Hal itu membuatnya merasa ingin marah, tetapi akhirnya hanya bisa menghela napas panjang.
Melihat James mengabaikan dirinya, Douglas menatap ke arah Nam dengan ekspresi santai.
"Aku pikir gurumu, Mr Owl sedang sibuk. Kamu tidak perlu khawatir. Bukankah gurumu itu sangat kuat?"
Nam yang mendengar ucapan Douglas mengangguk.
"Anda benar, Paman Douglas. Guru pasti sedang sibuk. Beliau pasti baik-baik saja!"
Melihat Nam yang begitu yakin, James dan Douglas saling memandang.
Merasa agak penasaran, James tiba-tiba bertanya.
"Menurut kalian, apa yang sedang Mr Owl lakukan sekarang?"
Douglas mengelus dagu sebelum akhirnya menjawab.
"Mungkin sedang menyelidiki kasus besar. Lagipula, otak Mr Owl itu cerdas. Dia juga suka bermain sebagai detektif."
__ADS_1
Nam langsung menjawab dengan nada tidak setuju.
"Pasti guru sekarang sedang berlatih di tempat terpencil. Mungkin di bawah air terjun tertentu? Melatih energi Qi dan bersiap untuk menerobos!"
"..."
Melihat Nam yang bersemangat dan memiliki mata berbinar, James dan Douglas terdiam. Namun mereka memikirkan sesuatu yang sama.
'Bocah ini benar-benar pandai dalam menghayal!'
James sekali lagi menghela napas panjang. Melihat ke arah James dan Nam, pria itu kemudian berkata.
"Kalian terlalu naif. Menurutku, dia senang membuat obat dengan tenang. Bersiap menjual dalam banyak batch karena keuntungan sudah di depan mata!!!"
Melihat James yang bersemangat ketika menyebutkan uang, Douglas dan Nam saling memandang lalu menggelengkan kepala mereka.
Mereka sudah menyerah untuk menyadarkan Fire Imp yang terlalu serakah terhadap uang itu!
***
Sementara itu, dalam kamar pribadi sebuah rumah kosong tiga lantai.
Slash! Slash! Slash!
Puluhan benang merah menari di udara, mencabik-cabik akar-akar yang mencoba menyerang Adam.
Sosok pemuda itu bergegas maju tanpa memedulikan kondisi tubuhnya. Mengayunkan lengan kirinya yang dipenuhi asap dan beberapa luka bakar, puluhan benang merah langsung membentuk sebuah jaring ...
"Mati!" ucap Adam dingin.
Crash!!!
Suara kayu letupan terdengar. Benang merah langsung memotong dan melukai sosok wanita itu. Namun, ekspresi Adam tiba-tiba berubah ketika melihat bahwa dibalik tubuh bagian bawah wanita itu yang tampak seperti pohon ...
Ternyata ada sepasang kaki putih pucat.
'Bukankah seharusnya wanita ini adalah roh jahat seperti dryad? Kenapa—'
Belum sempat berpikir jernih, Adam merasakan rasa kritis.
Tanpa menunggu lama, pemuda itu langsung berguling di lantai. Namun saat itu juga, dia merasakan luka di bahu kirinya.
Menggertakkan gigi, Adam memilih untuk mundur dan mengamati.
Pemuda itu merasa agak heran. Jika tidak bisa menghindari tepat waktu, kemungkinan lehernya telah dilukai oleh serangan sebelumnya. Menatap ke depan, tubuh Adam sedikit gemetar.
Tap ... tap ... tap ...
Suara langkah kaki lembut terdengar.
__ADS_1
Tampak sosok wanita cantik dengan gaun hitam dan berkulit pucat berdiri beberapa meter di depan Adam.
Ya. Dibandingkan dengan sosok setengah tanaman sebelumnya, wanita itu benar-benar tampak seperti manusia seutuhnya. Hanya saja, kulitnya tampak pucat, dan iris matanya ... merah delima.
Adam melihat banyak Spirit Bead yang berserakan di lantai.
Pada saat itu, dia sadar, kalau ternyata dirinya telah melakukan sebuah kesalahan besar. Karena sosok yang awalnya dia kira sebagai dryad, sejak awal merupakan dua makhluk yang berbeda. Dengan kata lain ...
'Ternyata aku begitu bodoh karena memecahkan segel?'
Merasakan rasa sakit di tangan kirinya, Adam menggigit bibirnya.
Berhenti menggunakan skill Blood Threads, pemuda itu malah menggunakan skill Ice Control untuk membekukan tangan kirinya sendiri. Dia kemudian mengeluarkan beberapa pil lalu menelannya. Sambil mengamati sosok wanita yang hanya diam saja di sana, Adam merasa agak bingung.
Tanpa sadar, Adam menatap sosok wanita itu.
Dari usia, tampaknya wanita itu sama sekali tidak jauh lebih tua dibandingkan Adam. Dia bahkan memiliki penampilan yang begitu cantik, sedikit lebih cantik daripada dua kekasihnya sendiri. Hanya saja ... pemuda itu mengetahui kalau sosok yang di depannya jelas bukan manusia.
"Kamu ... yang menyelamatkan aku?"
Suara yang begitu merdu membuat Adam nyaris tersihir. Namun pemuda itu masih berdiri di tempatnya dengan ekspresi serius, menatap ke sosok wanita di depannya dengan waspada.
Wanita itu menatap Adam dengan ekspresi bingung. Dia memiringkan kepalanya, tampak agak bingung.
"Sepertinya ... aku mengenalmu?"
"..."
Mendengar nada bingung wanita itu, Adam merasa sedikit janggal. Dia bahkan tidak bisa membedakan apakah itu benar atau salah. Hal itu membuatnya semakin waspada.
"Elbert? Kamu ... kamu Elbert, kan?"
Wanita itu menatap sosok Adam dengan ekspresi terkejut, bahagia, bahkan memiliki tatapan penuh kerinduan di wajahnya.
Wanita cantik itu berlari dengan agak canggung dengan ekspresi bahagia. Namun baru beberapa langkah, dia tiba-tiba jatuh di lantai sambil memegangi kepalanya.
"Elbert ... Elbert sudah mati? Lalu ..."
Wanita itu mendongak, menatap Adam dengan wajah terdistorsi.
"Kamu siapa?!"
Mendengar pertanyaan itu, Adam sekali lagi merasakan krisis.
Pemuda itu langsung melompat mundur dengan. Detik berikutnya, seekor ular dengan tubuh sebesar paha orang dewasa tiba-tiba muncul dari bayangan wanita itu.
Langsung menabrak lantai di mana Adam sebelumnya berdiri!
Melihat ke arah wanita dengan ekspresi gila di wajahnya, Adam bergumam.
__ADS_1
"Kelihatannya aku benar-benar dalam masalah."
>> Bersambung.