
Kota D, markas Crimson Phoenix.
Duduk di kursi ketua, Alicia menerima telepon dari profesor cantik di pangkalan militer Kota B.
"Sudah aku bilang, aku tidak akan ikut campur urusan lain.
Aku tidak peduli siapa yang muncul dan sekuat apa dia. Aku juga tidak peduli apakah dia mendapatkan julukan Ice Dragon, Ice Phoenix, atau Ice Emperor!
Jika tidak ada hubungannya dengan Blood Owl, tolong jangan menghubungiku. Karena, sebagai pemimpin Crimson Phoenix, aku juga memiliki kesibukan tersendiri."
Berkata dengan nada dingin, Alicia menutup telepon. Dia kemudian melihat ke arah bangunan-bangunan kota di luar jendela kaca. Setelah beberapa saat, wanita itu menghela napas panjang.
"Apakah kamu baik-baik saja, Ketua?"
"Oh, Alexia."
Melihat wakil sekaligus sahabatnya datang, Alicia memaksakan diri untuk tersenyum.
Sudah cukup banyak waktu berlalu. Namun, efek pengkhianatan Blood Owl masih membekas jelas dalam benak wanita itu. Sampai sekarang, Alicia masih tidak percaya kalau pria yang dia anggap baik sekaligus harapan bagi departemen misteri tiba-tiba berbalik pergi tanpa alasan yang jelas.
"Tidak apa-apa."
Melihat wanita itu memaksakan diri untuk tersenyum, Alexia tidak bisa tidak merasa khawatir. Bahkan jika dirinya tertarik kepada Mr Owl, dia tidak akan begitu memikirkannya. Sebaliknya, itu adalah sebuah alasan dimana dia bisa membuat alasan untuk dirinya sendiri agar bisa melupakan orang itu.
"Jika itu masalah Mr Owl, aku rasa—"
"Aku bilang aku tidak apa-apa, Alexia!"
Tanpa sadar, Alicia berteriak keras. Melihat ke arah sahabatnya dengan ekspresi bersalah, wanita itu kembali berkata.
"Maaf, jika tidak ada yang lain, bisakah kamu meninggalkanku sendiri, Alexia?"
Melihat penampilan Alicia, Alexia menghela napas panjang.
"Baik."
Setelah Alexia pergi, Alicia bersandar pada kursinya. Memejamkan matanya, dia memiliki ekspresi menyakitkan di wajahnya. Tampaknya, karen suatu alasan, kata pengkhianatan menjadi sesuatu yang sangat membekas dalam hatinya.
***
Sementara itu, di markas Wings of Freedom.
"Karena kamu telah berencana untuk membeli bukit di tempat terpencil. Haruskah kita juga membeli tanah luas tidak jauh dari sana, Ketua?"
Mendengar pembicaraan Adam, keempat orang lainnya juga ingin membeli tanah. Tentu saja, mereka bisa membedakan, bukit yang Adam beli sendiri jelas tidak ada hubungannya dengan Wings of Freedom. Lagipula, mereka masih bisa membedakan urusan kelompok dan urusan pribadi.
Hanya saja, mereka mendapatkan inspirasi ketika Adam berbicara dengan santai.
"Tidak perlu."
Adam langsung langsung menolak.
"Lebih baik kita mengembangkan Wings of Freedom dengan cara lain. Lagipula, akar kita di Kota B masih belum terlalu dalam. Ada banyak pekerja rumah yang harus kita lakukan.
Pertama, markas kita sekarang sudah mulai sempit. Bahkan setelah membeli beberapa rumah, kita malah tampak berkerumun dan kurang tertata rapi. Jadi, sebelum berpikir yang lain, lebih baik kita membeli rumah dan tanah di sekitar lalu merenovasinya.
Lagipula, banyak anggota kita yang membutuhkan tempat tinggal tetap. Aku merasa kalau kita bisa membeli sebuah lahan kosong di sebelah, lalu membangun asrama khusus untuk mereka tinggal. Tidak perlu memiliki ruang besar, tetapi kita bisa mendapatkan banyak kamar.
Tidak seperti White Wings, kebanyakan anggota Black Wings memiliki kehidupan sulit. Oleh karena itu, aku ingin fokus memperbaiki kehidupan mereka.
Sedangkan White Wings, banyak bisnis yang baru diakuisisi. Kita perlu memanajemen dengan baik agar bisa menghasilkan lebih banyak dan membuat kualitas lebih baik.
__ADS_1
Jadi, daripada fokus ke luar. Kami harus mengurus masalah internal terlebih dahulu."
Mendengar jawaban Adam, keempat orang itu sadar. Dibandingkan dengan pemikiran pemuda itu, mereka tampak terlalu santai.
Jika dipikirkan kembali, Wings of Freedom lebih mirip penjajah yang merampas wilayah dan memulai berbisnis di sana. Jika mereka tidak membuat tempat untuk tinggal dan persiapan jangka panjang, mereka bisa saja dilengserkan oleh kelompok lain.
Saat itu, tanpa adanya pondasi kokoh, Wings of Freedom akan bubar dan menjadi gelandangan. Tentu saja, banyak anggota yang masih akan hidup nyaman, hanya saja, bagi para anggota yang sebelumnya tidak memiliki rumah, mereka benar-benar akan jatuh ke bawah lagi.
Rasanya, semua itu hanya akan menjadi mimpi yang sirna dalam sekejap mata.
"Kamu benar, Ketua. Black Wings memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Bisakah aku mengatakan semua ini kepada orang-orang di bawah, Ketua? Meski ini rencana pengembangan yang bersifat cukup rahasia, aku rasa ini bisa memotivasi mereka agar bisa berlatih dan bekerja lebih giat untuk masa depan yang lebih cerah."
Adam yang melihat ke arah Randy membalas dengan santainya.
"Ini sama sekali bukan rahasia. Hanya dalam beberapa waktu, ketika kita berkembang, kelompok lain akan mengetahui apa yang coba kita lakukan.
Jadi, jika menurutmu berguna, kamu bisa mengatakannya kepada mereka."
"Terima kasih, Ketua."
"Aku percayakan Black Wings kepadamu. Aku tahu pasti akan banyak masalah dan terasa berat. Namun ingatlah, masa depan banyak orang ada di pundakmu, Randy."
Setelah mengatakan itu, Adam menatap ke arah Brock sebelum melanjutkan.
"Kamu juga harus membantu Randy, Brock. Walau kamu tidak begitu pintar, kamu tahu apa yang benar dan salah. Jadi, ketika Randy hampir tersesat ...
Pukul dan seret dia kembali ke jalannya."
"Aku mengerti, Ketua."
Brock mengangguk dengan ekspresi serius.
Shawn merasa dirinya dan Matt telah diabaikan, jadi pria itu menunjuk ke arah dirinya sendiri sambil memasang ekspresi kosong.
"Untuk White Wings," Adam mengelus dagu. "Hasilkan lebih banyak uang."
"Hanya itu?!"
Shawn tercengang.
"Tentu saja, aku juga memiliki tugas untuk kalian."
"Apa itu, Ketua?"
"Kumpulkan uang dan intelejen."
"Eh?"
Melihat Shawn tidak begitu paham, Adam mulai menjelaskan.
"Kebanyakan Black Wings berasal dari kalangan paling bawah. Tanpa memiliki banyak kecerdasan atau modal, mereka harus mengandalkan kedua tangan dan kaki untuk bertahan hidup. Mereka akan lebih dikhususkan dalam hal pertarungan.
Sedangkan White Wings, dengan latar belakang kuat, kalian bisa membangun bisnis besar. Soal kenapa kita perlu banyak uang, kalian pasti tahu fakta kejam tapi tak terbantahkan.
Uang tidak bisa membeli segalanya, tetapi uang bisa digunakan untuk melakukan banyak hal.
Aku ingin White Wings memiliki uang yang cukup untuk menjaga kestabilan Wings of Freedom. Selain itu, aku berharap kalian juga bisa mengumpulkan data seluruh pejabat dan orang penting di kota B.
Selain uang yang cukup untuk membungkam mereka, kita juga harus memiliki data agar memegang kelemahan mereka. Jadi, White Wings memiliki bagian yang sangat penting.
__ADS_1
Apakah kalian mengerti?"
"Kami mengerti, Ketua!"
Shawn dan Matt menjawab secara bersamaan.
Melihat bahwa Wings of Freedom terus tumbuh dengan baik, Adam mengangkat sudut bibirnya. Merasa cukup puas dengan perkembangan saat ini.
***
Sementara itu, dalam ssbuah gubuk kecil desa dekat dengan Kota B.
Tok! Tok! Tok!
Sosok gadis dengan pakaian sederhana mengetuk pintu. Jika Adam melihat gadis itu, dia pasti akan mengenalinya. Lagipula, itu adalah gadis yang telah Adam selamatkan sebelumnya.
"Masuk."
Suara lelaki tua terdengar dari dalam gubuk kecil. Mendengar ucapan tersebut, gadis itu membuka pintu dan masuk ke dalam gubuk.
Ketika dia melihat ke dalam, gadis itu melihat sebuah ruangan kecil. Hanya ada sebuah ranjang, satu meja, dan satu kursi. Bahkan tidak ada dapur atau ruang lainnya.
Tampak seorang lelaki tua dengan jenggot tebal serta memakai pakaian kuno. Rambutnya telah memutih dan tubuhnya penuh dengan keriput. Apa yang paling mencolok adalah, lelaki tua tersebut kehilangan tangan kirinya.
Orang itu sebenarnya tidak begitu asing. Dia adalah pemilik dari Rose Pattern Blood Spider dan orang yang membuat tempat budidaya jamur khusus.
Lelaki tua yang membunuh orang tua Nam sekaligus mencoba membunuh anak itu.
"Apakah ada yang salah?" tanya lelaki tua tersebut.
"Orang itu benar-benar datang, Tuan Dong."
"Jadi, ular piton sisik hijau yang aku lepaskan benar-benar menarik perhatiannya?"
"Benar. Dia menyelamatkan saya dan membunuh piton dengan mudah."
"Jadi begitu." Old Dong mengangguk. "Bagaimana dengan dua anak dari Sekte Thunder Fang?"
"Kebetulan mereka bertemu dengan pria tersebut. Tampaknya mereka saling kenal."
"Lalu?"
"Mereka pergi untuk membicarakan sesuatu, benar-benar langsung meninggalkan saya."
"Apakah Sekte Thunder Fang mengundang orang itu? Dari gesekan yang terjadi antara Kultivator dan orang-orang biasa akhir-akhir ini, hal itu memang mungkin.
Hanya saja, menurut informasi yang aku cari, seharusnya orang itu tidak menerima tawaran mereka.
Ya. Intinya, aku tahu bagaimana memancing orang itu keluar. Benar-benar kabar yang baik."
Lelaki itu berjalan ke arah gadis sebelumnya dengan senyum ramah di wajahnya.
"Bisakah anda membantu saya menolong harimau itu, Tuan Dong? Makhluk malang itu pasti akan dalam masalah jika dia ditemukan orang-orang desa."
"Tidak perlu khawatir, orang-orang desa tidak akan menemukannya."
Old Dong mengulurkan tangannya dan langsung meraih leher gadis itu. Merasa tercekik, gadis itu berusaha berjuang, tetapi semuanya sisa-sisa.
Bersamaan dengan suara klik, gadis itu berhenti bergerak.
Memiliki senyum lembut di wajahnya, Old Dong berkata dengan nada lembut.
__ADS_1
"Terima kasih atas kerja kerasmu, aku akan menangani sisanya."
>> Bersambung.