
"Kamu bisa memanggil Bu Nancy, Nona Carole. Kalian boleh masuk."
Mendengar ucapan Adam, Carole segera menurutinya.
Beberapa saat kemudian, Carole dan pasangan paruh baya itu masuk ke dalam kamar. Melihat Nasya yang bersandar di ranjang dengan ekspresi lebih baik, mereka bertiga terlihat amat terkejut.
"Nasya!" Bu Nancy langsung menghampirinya dan memeluk putrinya itu.
"Maaf membuatmu khawatir, Bu."
"Tidak apa-apa. Sama sekali tidak apa-apa, Putriku! Apakah kamu baik-baik saja? Apakah ada yang sakit?"
"Aku hanya sedikit lemas dan lapar. Terima kasih kepada Fukurou-sama, dia membantu mengusir roh jahat yang mengacaukannya pikiranku."
"Fukurou-sama?" Bu Nancy tampak bingung.
"Fukurou berarti Owl, Bu Nancy."
Adam berkata dengan ramah. Namun suaranya menjadi lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
"Tapi, memanggil anda dengan cara seperti itu ..."
"Bukan masalah, bagaimana saya dipanggil. Itu hanyalah kode."
"Terima kasih banyak telah menyelamatkan putri kami, Mr Owl!"
Kali ini bukan Bu Nancy, tetapi suaminya yang menghampiri dan membungkuk dengan sopan.
Melihat keluarga berisi tiga orang yang berterima kasih dengan tulus, Adam merasa cukup menyesal.
Tidak bisakah kalian lebih biasa saja? Hati nuraniku terluka sekarang karena sudah menipu kalian!
Adam berseru dalam hati. Sebenarnya Nasya sama sekali tidak terpengaruh oleh roh jahat atau semacamnya. Gadis itu hanya stress dan depresi karena kehilangan cinta untuk pertama kalinya.
Adam hanya memberinya sedikit bimbingan. Bimbingan itu mengalir lebih mudah karena dia menggunakan Suzaku's Cry. Tidak kurang, tidak lebih.
Dianggap seolah selesai bertarung hebat dengan iblis yang kuat seperti sekarang, Adam merasa agak tidak tertahankan.
Pemuda itu menyangkut-pautkan semua dengan keberadaan roh jahat karena dia dari Departemen Misteri. Adam hanya berniat berkata bahwa ini masih dalam lingkup pekerjaannya. Sama sekali tidak ada yang lain.
Merasa semakin tidak tahan, Adam segera berkata dengan nada lembut.
"Karena misi telah selesai, kami akan kembali terlebih dahulu."
"Eh? Anda tidak mampir terlebih dahulu?" tanya Bu Nancy dengan ekspresi terkejut.
"Tidak. Pekerjaan kami telah selesai, kami harus kembali."
"Benar-benar tertib, sangat patut dicontoh." Bu Nancy tampak takjub.
Sementara itu suaminya tiba-tiba batuk.
Pada saat itu juga, Bu Nancy yang terpesona teringat sesuatu lalu berjalan ke arah Adam. Wanita itu kemudian mengeluarkan amplop dan meletakkannya di tangan pemuda bertopeng itu.
"Jika ditanya soal biaya, kami tahu anda pasti bicara itu tidak perlu karena kami telah membayar pajak dan kalian sudah dibayar oleh pihak pemerintah.
Namun, ini sedikit tanda ucapan terima kasih oleh kami. Meski tidak banyak, kalian bisa memperlakukannya sebagai uang bensin dan makan."
"Kami—"
__ADS_1
"Tolong jangan menolaknya, Mr Owl! Hati nurani kami tidak kuat jika hanya bisa menerima terlalu banyak kebaikan anda!"
Tapi kalau begini hati nuraniku yang terluka!
Adam berteriak dalam hati. Menerima amplop itu, dia merasa cukup tertekan. Pemuda itu pada akhirnya hanya bisa menghela napas panjang.
"Terima kasih banyak kalau begitu."
"Sama-sama, Mr Owl! Mrs Oni!"
Setelah berpamitan, Adam kemudian kembali ke markas bersama dengan Carole. Ya ... Kembali dengan perasaan yang begitu rumit.
***
Sekitar pukul 2 siang.
"Kami kembali!"
James berkata ketika kembali bersama dengan Jasmine dan Douglas. Dia tampak agak jengkel karena suatu alasan.
Melihat sosok Adam dan Carole yang duduk di sofa ruang keluarga, James agak terkejut.
"Kalian juga sudah kembali?"
"Ya. Belum lama ini kami kembali," jawab Adam santai.
"Apakah orang-orang itu juga merepotkan kalian, Mr Owl?"
"En?" Adam memiringkan kepalanya. "Merepotkan apanya?"
"Maksudku misinya. Apa lagi?"
"Ya. Tidak perlu terlalu dipikirkan, orang-orang kalangan atas memang selalu seperti itu." James menghibur.
"..."
Adam tidak menjawab. Ketiga orang itu kemudian duduk di sofa lalu menghela napas panjang. Kelihatannya lelah karena sesuatu.
Douglas yang baru saja duduk melihat ke arah Carole yang terus bergumam. Agak penasaran, pria itu bertanya.
"Ada apa, Nona Carole?" tanya Douglas.
"Ah!" Tersadar dari lamunannya, Carole menggaruk belakang kepalanya. "Maaf. Saya hanya masih terkejut. Saya tidak menyangka, bonus yang saya dapat kurang dari setengah hari kerja lebih banyak dari gaji kotor selama satu minggu bekerja sebelumnya."
"Maksud anda???" tanya Douglas bingung.
"Karena misi kami selesai, keluarga korban memberi kami uang 2500 dollar aliansi.
Saya tidak melakukan apa-apa, tetapi masih mendapat 1000 dollar aliansi. Ah! Sebenarnya Mr Owl ingin memberi 1250 dollar aliansi, tetapi saya menolak.
Sebenarnya saya tidak enak. Mr Owl yang bekerja, tetapi saya masih diberi sebagian bonus.
Terima kasih banyak, Mr Owl!"
"Bukan masalah, Nona Carole. Itu gunanya rekan satu tim."
"..."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Carole, tiga anggota lain tampak terkejut. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau misi yang dijalankan oleh Adam dan Carole berjalan begitu lancar.
__ADS_1
"Apakah anda serius, Nona Carole?" tanya Douglas dengan heran.
"Saya sangat serius." Carole menganggukkan kepalanya dengan ekspresi tegas.
"Anda masih mendapatkan uang 1000 dollar aliansi?"
"Ya." Carole mengangguk. "Karena mulai sekarang saya akan tinggal di sini, tidak perlu lagi biaya kos. Uang 1000 dollar aliansi ini bisa digunakan untuk membeli makan dan membeli dekorasi kecil, meski bukan yang mahal."
Melihat Carole yang bersemangat, Douglas dan Jasmine tampak cukup iri. Mereka tidak bisa tidak melihat ke arah James.
Bukankah kamu ketuanya? Di mana seorang ketua tidak sebaik wakilnya?
Merasakan tatapan keduanya, James mendengus dingin.
"Aku yang menunjukkan pekerjaan ini. Kalian masih saja kurang bersyukur!"
"Bukan begitu, Ketua ..." Douglas tersenyum pahit.
Pria itu tahu bahwa mereka mendapatkan pekerjaan dengan upah tinggi seperti ini karena James. Hanya saja, mereka merasa bahwa ketua mereka berbeda dengan penampilan ketika merekrut.
"Ini juga bukan salahku! Aku bilang semua ini tidak ada hubungannya dengan kasus yang harus ditangani Departemen Misteri!
Mereka malah bilang bahwa kita tidak berguna! Omong kosong apa!" ucap James marah.
"Memangnya apa masalahnya?" tanya Adam yang penasaran.
"Seorang bocah Chuunibyou."
Chuunibyou?
Adam mengelus dagu. Hal itu bisa dianggap sebagai sindrom kelas delapan. Seorang remaja yang berpikir bahwa dirinya adalah inkarnasi penguasa kegelapan, penyihir hebat, atau hal-hal semacam itu.
Intinya, mereka menganggap fantasi liar mereka itu nyata. Ya ... Paling mudah dianggap seperti itu.
"Chuunibyou yang bagaimana?" tanya Adam memastikan.
"Anak kecil itu memiliki jiwa psiko! Dia kelas melukai teman-teman sekolahnya, tetapi tidak merasa bersalah dan tidak mau mengaku.
Bocah itu malah berkata tangannya bergerak sendiri! Lalu apa???
Jangan bilang ada naga hitam jahat yang tersegel di tangannya!"
Melihat bagaimana James begitu marah, Adam menggeleng ringan. Dia sama sekali tidak terlalu peduli dengan kemarahan orang itu. Sebaliknya, dia merasa aneh.
"Mungkinkah itu kerasukan?" tanya Adam
"Tidak. Bocah itu bilang dirinya masih sadar. Dia hanya terus berkata bahwa tangannya bergerak sendiri!"
"Sudah diperiksa oleh dokter?" tanya Adam.
"Sudah. Semuanya normal, jadi jelas ... dia perlu menemui psikiater!"
"Jadi begitu ..."
Meski kedengarannya bocah yang disebut oleh James itu memang agak aneh, Adam sendiri merasa ada sesuatu yang janggal. Memejamkan matanya sebentar, pemuda itu kemudian berkata dengan lembut.
"Aku akan mengambil kasus ini."
>> Bersambung.
__ADS_1