Spirit Hunter System

Spirit Hunter System
Ruangan Hitam


__ADS_3

Melihat ratusan, bahkan mungkin ribuan ular hitam melata membuat kulit kepala Adam mati rasa. Dia kemudian melihat ke arah keempat Spirit Beast miliknya, langsung memaksa mereka kembali sebelum memutuskan untuk memanggil mereka lagi ketika terdesak.


Ular-ular tersebut terus menutupi seluruh ruangan, dari mulai lantai, menuju ke empat dinding, bahkan menutupi langit-langit. Membuat pintu dan jendela tertutup ... menjadi sebuah ruang hitam dan gelap.


Suara gemerisik yang disebabkan oleh ular-ular kecil saling bergesekan lambat lain menghilang, membuat ruang gelap itu menjadi sunyi sampai-sampai Adam tidak bisa mendengar suara embusan angin.


Pada saat indera penglihatan dan pendengaran Adam serasa dimatikan secara paksa, dia merasa ketiga indera lain menjadi lebih tajam. Khususnya indera perasa dan penciuman.


Berbeda dengan bau daging busuk, cat kering, dan jamur ... Adam malah mencium aroma bunga dan tanah. Lebih tepatnya, seperti aroma hujan yang mengguyur kebun bunga di musim semi.


'Aneh ...'


Itulah yang terlintas dalam benak Adam ketika merasakan sensasi dalam ruang gelap itu.


Adam sama sekali tidak merasakan niat jahat atau hal-hal lain, seolah pertarungan yang dia lakukan sebelumnya hanyalah ilusi semata. Meski demikian, pemuda itu juga tahu bahwa apa yang dia lalui jelas bukan ilusi. Karena rasa sakit yang dia rasakan benar-benar nyata.


'Atau mungkin ... sekarang aku sedang dalam ilusi atau semacamnya?'


Adam jelas merasa agak aneh. Dibandingkan dengan kamar tidur utama yang cukup luas, dia merasa kalau ruang hitam ini sangat luas. Sangat luas sampai pemuda itu bingung apakah ada batas atau sama sekali tidak.


"Eh? Kamu siapa? Kenapa kamu ada di sini?"


Pada saat Adam mendengar suara itu, dia langsung menoleh ke belakang sambil menghunus katana miliknya. Namun ekspresinya berubah ketika sadar bahwa sekarang dia kembali mendapatkan panda inderanya.


Adam bisa melihat tubuhnya sendiri, dan ruang hitam. Itu membuatnya bingung, karena seharusnya tanpa cahaya, ruangan akan menjadi gelap.


Di sini Adam tidak bisa menggunakan penglihatan dalam gelap (night vision). Dia bahkan merasa bahwa sekarang sulit untuk menghubungi keempat Spirit Beast miliknya. Seolah sekarang pemuda itu berada di dalam sebuah ruang isolasi yang sangat jauh dari dunia nyata.

__ADS_1


Adam kemudian menatap ke sumber suara, lalu melihat sosok gadis cantik yang familiar.


"Kamu ... siapa?"


Adam menatap sosok gadis itu dengan penuh keraguan.


"Bukankah aku yang bertanya terlebih dahulu? Sudahlah ..." Gadis itu menggelengkan kepalanya. "Namaku Melly. Siapa kamu? Dan kenapa kamu bisa sampai di tempat ini?"


"Adam ..."


Adam berkata dengan nada singkat. Dia masih sangat waspada karena sosok yang dia lihat jelas sangat mirip dengan roh jahat yang dia lawan sebelumnya.


"Ini dimana?"


"Tidak tahu."


Mendengar ucapan gadis bernama Melly itu, Adam terdiam sejenak. Dia memandang ke arah gadis itu dengan ragu. Namun ekspresinya menjadi lebih kompleks ketika melihat hal aneh dari gadis itu.


Ada sebuah lubang sebesar mangkuk di dadanya.


Melihat bagaimana Adam memandang ke arah dadanya, Melly tampak heran.


"Aku tidak tahu berapa lama, tetapi aku merasa sudah dikurung di sini sangat lama.


Apakah ... kamu tidak dikurung dan dimasukkan ke dalam tempat ini sama sepertiku?"


"Tidak." Adam menggeleng dengan wajah tegas. "Aku sama sekali tidak tahu bagaimana sampai ke tempat ini. Juga, tidak sepertimu ... aku masih hidup."

__ADS_1


"Hidup???"


Melly memiringkan kepalanya dengan ekspresi aneh, lalu tertawa sambil menutup mulutnya. Merasa kalau apa yang Adam katakan itu lucu.


"Itu aneh. Seharusnya makhluk hidup tidak bisa sampai ke tempat ini, kan?"


Mendengar ucapan Melly, Adam mengerutkan keningnya.


"Ini dimana? Sebenarnya kamu siapa?"


Menatap ke arah Adam, Melly yang awalnya tertawa tiba-tiba menggelengkan kepalanya.


"Aku benar-benar tidak tahu ini di mana. Yang pasti, aku hanya tahu bahwa aku telah mati ... dan ada yang sengaja menempatkan aku di sini."


"Siapa?" tanya Adam.


"Aku tidak tahu." Melly menggelengkan kepalanya. "Selain mengingat namaku sendiri, aku benar-benar tidak mengingat hal lainnya. Lagipula, aku juga telah berada di tempat ini begitu lama. Satu hal yang aku tahu ..."


Mendengar ucapan Melly, Adam menjadi lebih serius.


Sosok Melly menatap ke arah Adam dengan ekspresi campur aduk. Ada rasa kasihan, ejekan, tetapi juga senang.


"Yang aku tahu, sekali kamu masuk ke tempat ini ..."


Melly tersenyum manis.


"Kamu tidak akan pernah bisa keluar lagi."

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2